• Pendahuluan


    Rumah Kaki Seribu

    Rumah Kaki Seribu merupakan rumah adat asli dari suku Arfak di Papua, tepatnya di kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari terletak di geografis Papua Barat. Rumah adat khas suku Arfak tersebut juga dikenal bernama Mod Aki Aksa atau Igkojei, bentuknya berupa rumah panggung. Rumah panggung suku Arfak ini mempunyai banyak tiang pondasi rumah yang tersebar di seluruh bagian bawah rumah dan menjadi tumpuan utama bangunan, sehingga mendapat sebutan Rumah Kaki Seribu.

    Lokasi suku Arfak berada di kaki pegunungan Arfak Papua, tepatnya di kabupaten Manokwari, yang secara geografis terletak di Papua Barat. Berikut adalah peta lokasi suku arfak:


    Peta Lokasi
    Peta Lokasi Suku Arfak
    Sumber: http://www.travellers.web.id/
  • Tujuan

    Tujuan/Indikator:

    Setelah mempelajari topik berjudul Rumah Kaki Seribu, pengguna diharapkan dapat:

      1. Menjelaskan mengenai Rumah Kaki Seribu.
      2. Menjelaskan Sejarah Rumah Kaki Seribu tersebut dan Tokoh-Tokoh di dalamnya.
      3. Menjelaskan bagaimana Perkembangan dan Pelestarian Rumah Kaki Seribu.
      4. Mengetahui nilai yang terkandung dalam Rumah Kaki Seribu.
  • Uraian Materi

    • 1
    • 2
    • 3
    • Sejarah Rumah Kaki Seribu

      Rumah Kaki Seribu, merupakan sebutan dari masyarakat suku Arfak untuk rumah adat kebanggaan mereka. Suku Arfak tinggal di kaki Pegunungan Arfak Manokwari, Papua Barat. Rumah adat "Rumah Kaki Seribu" sekilas memang telihat sangat sederhana, namun kenyamanan dan ciri khas itu terasa manakala telah berada dalam masyarakat suku Arfak. Rumah adat panggung ini tidak memiliki penyangga besar yang pada umumnya terletak di bagian sudut sudut rumah, namun begitu banyak tiang sebagai penyangga dari kayu-kayu pohon yang berukuran kecil tersusun sedemikian rapat, sehingga kolong rumah tidak bisa dimanfaatkan sebagai ruang. Rumah kaki seribu hampir sama dengan rumah panggung pada umumnya yang ada di daerah lain. Yang membedakan dan bisa dibilang unik bukan terletak pada tiangnya yang banyak saja, namun juga pada pintunya yang hanya ada dua buah, depan dan belakang dan tidak ada jendela. Rumah kaki seribu ini dindingnya terbuat dari kulit pohon butska, dan atapnya terbuat dari tumpukan daun pandan. Lantai rumah kaki seribu terbuat dari pohon batang bambu yang ditata rapi di lantai.


      Rumah Kaki Seribu
      Rumah kaki seribu dan masyarakat suku arfak Papua
      Sumber: http://2.bp.blogspot.com/

      Seiring berkembangnya modernisasi dan para transmigran dari propinsi lain yang banyak berdatangan ke Papua Barat, Rumah Kaki Seribu sudah sangat jarang ditemui di kota besar. Masyarakat yang masih menggunakan rumah unik ini adalah penduduk asli Arfak dan biasanya berada jauh di pedalaman, terutama di bagian tengah sekitar Pegunungan Arfak. Memang sulit menghindar dari modernisasi, namun tradisi Rumah Kaki Seribu layak dan harus dilestarikan. Hal ini penting karena tradisi ini memiliki nilai-nilai positif kehidupan yang baik untuk dipelajari oleh generasi masa depan kelak.

    • Bentuk dan Stuktur Rumah Kaki Seribu

      Rumah Kaki Seribu mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan rumah panggung pada umumnya. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya cukup kuat karena terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. Dengan tinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8x6 meter, rumah ini cukup besar dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Tiang-tiang yang sangat banyak itu, mempunyai diameter 10 centimenter per tiangnya dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 centimeter antar tiang. Kerapatan inilah yang menjadikan rumah ini unik dan terlihat berkaki banyak.


      Pembangunan Kaki Seribu
      Pembangunan rumah kaki seribu
      Sumber: http://ekspedisinkri.com/

      Keunikan yang tidak kalah menariknya adalah, desain rumah yang hanya mempunyai 2 pintu tanpa ada pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada. Seperti halnya desain tiang penyangga rumah yang banyak, keunikan ini pun dibuat bukannya tanpa maksud. Tingginya rumah, banyaknya tiang pondasi, dan desain yang relatif tertutup ternyata dimaksudkan untuk menghindarkan keluarga yang tinggal dari hewan buas dan udara dingin serta bencana alam seperti badai. Terlebih dari itu, kondisi masyarakat yang sering bertikai pun menjadi alasan bentuk Rumah Kaki Seribu yang tampak tidak lazim ini. Maksudnya adalah agar mereka yang tinggal di rumah ini tetap aman dari ancaman musuh dengan pengawasan yang mudah karena rumah berada di tempat tinggi dan hanya memiliki 2 pintu sebagai akses masuk dan keluar.


      Keunikan Kaki Seribu
      Keunikan Rumah Kaki seribu
      Sumber: http://ekspedisinkri.com/

      Data hasil penelitian Tim Ekspedisi NKRI Subkorwil-4/Manokwari Selatan bidang pengabdian masyarakat (yang telah melakukan penelitian terhadap rumah kaki seribu pada bulan April 2016), menyebutkan bahwa membangun rumah kaki seribu membutuhkan waktu yang cukup lama hampir 2-3 tahun dari membangun pondasi awal sampai finishing akhir.

    • Perkembangan dan Pelestarian Rumah Kaki Seribu


      Keberadaan rumah kaki seribu di suku Arfak, berdampak pada tingkat keakraban masyarakat Papua terutama suku Arfak dalam membangun hidup berdampingan di masyarakat dengan prinsip kembali ke alam. Masyarakat bukan menutup diri dari perkembangan peradaban yang telah begitu pesat di daerah kota dari Kabupaten Manokwari sendiri, melainkan mereka mampu memfilter budaya yang masuk kedalam lingkungan suku mereka dengan tetap mempertahankan kebersamaan yang bisa dicerminkan dengan masih dipertahankannya pelaksanaan upacara-upacara adat pada setiap event di masyarakat.


      Tari diatas Rumah Kaki Seribu
      Tarian di atas rumah tradisional kaki seribu, Pegunungan Arfak, Papua
      Sumber: http://tabloidjubi.com/

      Keakraban suku Arfak, selain terlihat pada saat mengikuti upacara-upacara adat, juga pada saat mencari makan. Dalam mencari makan mereka kompak, bersama-sama mencari hewan tangkapan di hutan sekitar pegunungan dengan berburu menggunakan panah, tombak, sekaligus membawa parang sekiranya dibutuhkan. Mengandalkan kekayaan alam yang masih sangat berlimpah, para kaum pria cenderung mencari makanan dengan berburu hewan seperti: rusa, babi, ataupun mencari ikan disungai menggunakan tombak atau alat tradisonal lainnya. Sedangkan para kaum wanita cenderung bercocok tanam dan memasak di rumah sambil menunggu hasil tangkapan atau hasil buruan yang diperoleh suami serta anak mereka untuk nantinya dimasak dan dimakan bersama-sama.

      Budaya suku Arfak dengan Rumah Kaki Seribunya menunjukkan makna kenusantaraan bukan hanya dari segi bangunan, namun bagaimana masyarakat mampu mengolah bentuk bangunan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya atau nilai-nilai leluhur yang telah lebih dahulu ada dipadukan dengan dukungan dari alam sekitar mereka tinggal.

  • Penutup

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut:

      1. Nilai kebersamaan dalam bermasyarakat yang cukup tinggi perlu dijadikan cermin bagi kehidupan bermasyarakat,
      2. Sikap gotong royong dalam membangun sebuah rumah kaki seribu, perlu dicontoh dan dikembangkan oleh generasi muda, dan
      3. Bangunan rumah kaki seribu peninggalan nenek moyang suku arfak yang ramah lingkungan, perlu terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu bangunan yang bernilai sejarah.

    Manfaat yang diperoleh:

    Rumah Kaki Seribu bisa menggambarkan salah satu warisan budaya nenek moyang suku arfak di Papua yang bernilai sejarah. Keistimewaan Rumah Kaki Seribu, selain sebagai tempat tinggal, juga mampu menggambarkan budaya masyarakat yang memilki rasa kebersamaan cukup tinggi. Makna yang terkandung dalam Rumah Kaki Seribu bisa menjadi sebuah cermin bagi bangsa Indonesia dalam membangun kebersamaan bermasyarakat. Oleh karena itu pelestarian budaya rumah kaki seribu ini penting dalam menjaga warisan kebudayaan Indonesia pada umumnya.

  • Daftar Pustaka:

      - http://ekspedisinkri.com/rumah-kaki-seribu-suku-arfak/
      - http://tabloidjubi.com/2015/11/17/festival-arfak-ajang-promosi-wisata-pegaf/
      - https://www.youtube.com/watch?v=xLLz9GIwzfU
      - http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/04/18/o5u7lq284-rumah-kaki-seribu-diharap-terdaftar-di-unesco
      - http://berlibur.org/uniknya-rumah-kaki-seribu-di-papua
      - http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/rumah-kaki-seribu-khas-suku-arfak
      - http://www.travellers.web.id/wp-content/uploads/2012/09/Peta-Wisata-Provinsi-Papua-Barat-Indonesia.gif