Asal Usul Nama Wilayah di Jakarta (Kemayoran, Kampung Senen, Jatinegara Kaum, Jembatan Lima)

SINOPSIS

Jakarta sebagai kota metropolitan, memiliki nama-nama tempat dimana penamaannya berdasarkan lingkungan fisik dan lingkungan social, nama hari, berkaitan dengan pengukuran, kepemilikan lahan, dan sebagainya. Beberapa nama tempat yang akan disajikan berikut ini dikaitkan dengan lokasi penduduk betawi yang tinggal pada beberapa tempat berikut, yaitu: Kemayoran, Kampung Senen, Jatinegara Kaum, dan Jembatan Lima.

 

Pengantar

Batavia, awalnya adalah sebuah kota pelabuhan yang didirikan pada tahun 1619 sebagai benteng dan pos dagang, oleh Pieterszon Coen. Asal mula nama Jakarta yaitu Jayakarta merupakan wilayah taklukan Banten. Nama tersebut penuh dengan perlambang dan cita-cita dibalik nama tersebut (jaya berarti kemenangan dan karta berarti dalam damai dan tidak terganggu). Pada pertengahan abad ke-18, Batavia masih dikelilingi rawa-rawa dibagi ke dalam empat afdeeling, yaitu:

Penamaan wilayah di Jakarta yang didasarkan pada lingkungan fisik diantaranya yang berkaitan dengan topografi, diantaranya:

  1. Nama-nama yang yang berkaitan pembentukan tanah alami dataran tinggi, misalnya Bukit Duri.
  2. Nama-nama kampung atau wilayah yang berkaitan dengan dataran rendah, misalnya Rawasari, Pulogadung.
  3. Penamaan yang berkaitan dengan tanjung dan teluk, misalnya Tanjungpriuk.
  4. Penamaan yang berkaitan dengan kolam, danau, sumur dan tanah, misalnya Kampung Sumurbatu.
  5. Penamaan yang berkaitan dengan aspek fisik lainnya adalah penggunaan tanah atau lahan oleh manusia, misalnya Sawahbesar.
  6. Penamaan yang berkaitan dengan tumbuhan (flora) dan hutan, misalnya Gambir, Menteng, Jatinegara.
  7. Penamaan wilayah yang berkaitan dengan nama hewan (fauna), biasanya untuk nama jalan seperti Gelatik.
  8. Nama-nama tempat yang berkaitan dengan kejadian, kondisi yang terjadi di tempat tersebut, misalnya Kampung Pecahkulit.
  9. Nama-nama tempat yang berkaitan dengan administrasi, hubungan hukum, pemilik tanah dan perkebunan, misalnya Cawang, Kemayoran.
  10. Nama-nama tempat yang berkaitan dengan perdagangan, pasar, profesi, misalnya Kampung Senen, Pasar Rebo

ISI

Sejarah Kemayoran

Batavia en Omstreken 1897 Batavia 1897, Koleksi Koninklik Institute voor de Troopen

Wilayah Kemayoran meliputi Serdang, Sumur Batu, Utan Panjang, Kebon Kosong, Kepu, Gang Sampi, Pasar Nangka dan Bungur. Di sini terdapat kali buatan hasil sodetan dari Kali Ciliwung, memanjang dari Kwitang mengalir melalui belakang Grand Hotel, Senen, Adilihung, Pasar Nangka dan terus masuk Kemayoran. Kegunaannya pada waktu itu ialah untuk mengairi sawah-sawah.

Pemberian nama Kemayoran berasal dari kata mayor, yaitu suatu jabatan yang diberikan oleh Pemerintah Belanda kepada orang-orang yang telah berjasa membantu Pemerintah Belanda. Jabatan mayor tersebut tidak hanya diberikan kepada orang-orang Belanda tetapi juga kepada orang-orang Tionghoa. Mereka diberi tugas oleh Pemerintah Belanda untuk menarik pajak dari penduduk. Penarikan pajak tersebut dilakukan dari tanggal 1 sampai dengan 10 setiap bu-lannya. Jabatan itu membuat mereka kaya dan memiliki tanah-tanah yang luas, sehingga mereka disebut sebagai tuan tanah. Salah satu tuan tanah yang terkenal adalah Isaac de Saint Martin. Isaac de Saint Martin tergolong pemilik tanah yang sangat luas tersebar di beberapa tempat, antara lain di pinggir sebelah timur Sungai Bekasi, Cinere (dahulu disebut Ci Kanyere) sebelah barat Sungai Krukut

|.

2. Perkembangan Kemayoran

Kemayoran mengalami perkembangan yang cukup pesat, ketika pada tahun 1935 dibangun Bandar Udara Kemayoran. Hal ini membawa dampak bagi perekonomian penduduknya, tidak lagi mengandalkan sebagai petani namun sudah mulai menghidupkan perekonomian mereka melalui perdagangan.

Kemayoran juga terkenal dengan keroncongnya. Orkes Keroncong Kemayoran untuk pertama kalinya tampil dimuka umum pada tahun 1922. Mereka selalu mendapat panggilan dari orang-orang Belanda atau Tionghoa kaya untuk memeriahkan pesta perkawinan atau pesta ulang tahun di tempat kediaman mereka.

Coba perhatikan konsep Master Plan Kota Baru Kemayoran. Sangat terlihat semuanya adalah untuk bangunan-bangunan besar dan hanya menyisakan sedikit ruang hijau.

Ini adalah gambaran kawasan Kemayoran saat ini.

|.

1. Asal usul Kampung Senen

Senen merupakan salah satu kampung tua di wilayah DKI Jakarta. Semula luas wilayah Kampung Senen mencapai 150 ha meliputi daerah Pasar Baru, Kwitang, Senen dan Gunung Sahari. Dengan adanya perluasan dan perkembangan kota Jakarta, Senen secara administratif menjadi suatu kelurahan dengan luas wilayah 79,2 ha terdiri dari 4 RW dan 51 RT.

Menurut catatan sejarah, nama Senen diambil dari nama pasar yaitu Senin. Semula Daerah Senen berupa rawa dan belukar. Dengan adanya perkembangan perekonomian dan melimpahnya hasil-hasil perkebunan, maka timbulah niat Justinus Vinck untuk mendirikan pasar. Setelah mendapatkan ijin dari pemerintah Hindia Belanda melalui Gubernur Abraham Petrus pada tanggal 30 Agustus 1735 ta-nah tersebut dijual oleh Vinck kepada Jacob Mossel.

Di sekitar Pasar Senen dibuat sebuah kanal untuk menghindari banjir di daerah ini. Kanal tersebut sekarang terkenal dengan nama Kalilio. Setelah Mossel meninggal, Pasar Senen diambil oleh Gubernur Van der Parra, dan Pasar Senen semakin ramai. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kios-kios dan bangunan di dalam pasar sebanyak 228 petak bangunan terbuat dari bambu dan yang terbuat dari atap rumbia sejumlah 139 bangunan. Mula-mula hari pasarnya adalah Hari Senen, kemudian ditambah yaitu Hari Jum’at. Karena kemajuan serta perkembangan perekonomian yang semakin pesat maka Pasar Senen dibuka setiap hari.

2. Perkembangan Kampung Senen

Nama Senen mula-mula dari nama hari, berlanjut menjadi nama pasar, kemudian nama kampung, nama kelurahan, dan kini menjadi nama kecamatan yaitu Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Di daerah Senen selain dibangun pasar, juga dibangun komplek militer di sepanjang jalan Kenanga, Kwini hingga sampai ke Lapangan Waterloo yang sekarang dikenal dengan Lapangan Banteng. Di tempat itu juga didirikan perumahan opsir-opsir Belanda dan gedung-gedung milik tuan tanah. Sedangkan di Jalan Gunung Sahari, pejabat Hindia Belanda mendirikan bangunan di sepanjang Kali Ciliwung sebagai tempat peristirahatan. Hingga sekitar abad ke-18 wilayah tersebut merupakan daerah elit.

Adanya berbagai fasilitas tersebut daerah Senen mulai banyak didatangi orang dan diantaranya kalangan pedagang Tionghoa. Kemungkinan besar pedagang-pedagang Tionghoa itulah sebagai penghuni pertama Daerah Senen dan hal ini terlihat adanya beberapa nama jalan di daerah itu yang berbau nama Cina misalnya: seperti Gang Tjap Go Keng yang terletak di sebelah barat Proyek Senen Blok I. Masyarakat Senen terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain dari masyarakat Betawi terdapat pula masyarakat Tionghoa, India dan hampir semua suku di Indonesia ada di sini. Keragaman penduduk yang tinggal di Senen menyebabkan adanya keragaman sosial budaya masyarakatnya.

|.

1. Asal usul Jatinegarakaum

Penamaan Jatinegarakaum mempunyai unsur historis yang dihubungkan dengan peristiwa penaklukan Jayakarta oleh VOC. Pada waktu Jayakarta direbut oleh Belanda, Pangeran Jayakarta Wijayakrama (Bupati Jayakarta) menyelamatkan diri ke arah tenggara kota. Tempat pengasingan ini merupakan daerah hutan yang dipenuhi oleh pohon-pohon jati. Di tempat inilah beliau membuka hutan bersama pengikut-pengikutnya untuk dijadikan tempat pemerintahan dalam pengasingan. Selanjutnya pangeran menyebut daerah ini dengan nama Jatinegara. Nama ini dapat diartikan sebagai “negara yang sejati” atau pemerintahan yang sejati”.

Lama kelamaan sebutan Jatinegara meluas ke daerah sekitarnya. Untuk membedakan Jatinegara lama dengan Jatinegara hasil pengembangan kota, maka Jatinegara lama disebut Jatinegarakaum. Kata kaum dapat diartikan sebagai tempat pemukiman para santri sekitar masjid (pemeluk Islam yang taat). Tetapi sampai sejauh ini belum dapat dipastikan sejak kapan nama ‘kaum’ tersebut digunakan. Menurut informasi dari penduduk Tionghoa yang telah lama tinggal di wilayah tersebut, nama Jatinegara Kaum tidak dikenal yang dikenalnya hanyalah sebutan “Kampung Dalem”.

Sebutan dalem menunjuk pada bangunan keraton atau tempat bermukimnya para pembesar kerajaan. Pada tahun 1618, Jan Pieterszoon Coen meninggalkan Jayakarta menuju Maluku untuk menghimpun dan menata kekuatan armadanya. Benteng J.P. Coen di Jayakarta diserahkan kepada Pieter van den Broocke. Semua ini terjadi akibat permusuhan orang Jayakarta yang dipimpin oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama dan dibantu oleh Inggris terhadap orang-orang Belanda. Satu bulan setelah Jayakarta ditinggalkan J.P. Coen, benteng diambil alih oleh Pangeran Jayakarta dan Inggris. Pada bulan Mei 1619, J.P. Coen datang lagi ke Jakarta bersama armadanya yang sudah siap tempur. Terjadilah pertempuran sengit antara Belanda dan Jayakarta. Armada Belanda sempat membakar masjid dan keraton serta membumihanguskan Kota Jayakarta. Pada saat itu pulalah Jayakarta jatuh ke tangan Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Mei 1619. Kemenangan Belanda sekaligus mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

2. Perkembangan Jatinegarakaum

Pada masa Pemerintahan Pra Federal (1947-1949) Jatinegara (Kaum) masuk dalam Onderdistrik Pulo Gadung yang dibawahi lagi oleh Distrik Bekasi. Pada 1 Oktober 1966 Jatinegara Kaum menjadi kelurahan yang merupakan penggabungan dan pecahan Kelurahan Klender, Jatinegara, dan Rawaterate. Saat ini Jatinegara Kaum merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Luasnya 100,5 Ha dengan batas-batas di sebelah utara Kelurahan Pulo Gadung dan Jalan PT Dana Paint, sebelah timur Jalan Raya Bekasi dan Kelurahan Jatinegara, sebelah selatan Kelurahan Klender dan rel kereta api, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Cipinang, Jatirawamangun, dan Kali Sunter.

Tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakat Kampung Jatinegara Kaum mempunyai perbedaan dengan tradisi-tradisi yang ada di lingkungan kampung-kampung yang bercorak Betawi. Walaupun demikian sudah terlihat pula adanya saling mempengaruhi anatara tradisi yang ada dengan tradisi di sekitarnya yang bercorak Betawi. Bentuk campuran tradisi-tradisi dalam siklus kehidupan warga kempung tersebut masing-masing meliputi :

  • Upacara kehamilan 7 bulan (nujuh bulan) bagi seorang calon ibu, yaitu dimandikan oleh seorang dukun dengan air kembang sambil dibacakan Surat Yusuf;
  • Mengadzankan dan mengqomatkan seorang bayi yang baru lahir setelahnya dibersihkan;
  • Mengubur ari-ari bayi yang telah dibersihkan dan diberi bumbu-bumbu ramuan di depan halaman rumah dengan mempergunakan tempayan kecil, selama satu minggu diterangi oleh sebuah pelita;
  • Menyelenggarakan akikah bagi mereka yang mampu, yaitu memotong seekor kambing bagi kelahiran bayi perempuan dan dua ekor kambing bagi kelahiran bayi laki-laki;
  • Upacara khitanan bagi anak laki-laki yang sudah berusia 7 – 8 tahun yang sebelumnya terlebih dahulu diarak keliling kampung;
  • Upacara pernikahan yang sebelum pelaksanaannya melewati tahap-tahap berikut :
    • Saat pinangan diutus 4 – 5 orang dari pihak laki-laki kepada gadis yang akan dipinang untuk menanyakan status dari gadis tersebut. 2 atau 3 bulan sebelum pelaksanaan pernikahan kedua belah pihak mengadakan persiapan-persiapan begi pelaksanaan pernikahan mereka.
    • Saat pernikahan pihak laki-laki membawakan pihak perempuan dengan berbagai bawaan dan pengiringnya.
    • Sebelum pihak laki-laki memasuki rumah pihak perempuan, akan dibacakan sebuah syair.
    • Bagi para tamu undangan, makanan nasi dalam piring telah disiapkan, hanya tinggal mengambil lauk pauknya saja.
    • Saat ada kematian salah seorang warganya, penduduk yang lain akan segera memberikan bantuan baik dalam segi materi maupun moril.
    • Saat setelah jenazah dikuburkan, maka pada malam harinya di rumah duka diadakan pembacaan Al-Qur’an dan doa serta sedekahan pada setiap hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 harinya. Untuk hal itu tergantung pada keadaan ekonomi dari keluarga yang terkena musibah tersebut.

|.

1. Asal usul Kampung Jembatan Lima

Kampung Jembatanlima merupakan nama kampung yang sekaligus nama kelurahan yang ada di wilayah Jakarta Barat. Asal–usul nama Kampung Jembatanlima berasal dari adanya lima jembatan yang ada di daerah tersebut, yaitu jembatan yang ada di Jalan Petak Serani (Jl. Hasyim Ashari), jembatan yang ada di dekat Bioskop Deni (Jembatan Kedung), jembatan yang ada di Kampung Mesjid (sekarang Jalan Sawah Lio 2), dan jembatan yang ada di Kampung Sawah Gang Guru Mansur (Sawah Lio 1). Kelima jembatan itu sekarang sudah tidak ada, begitu juga dengan sungainya sudah tidak ada, karena sudah diuruk.

Jembatan yang ada di Jalan Sawah Lio 1 dahulunya merupakan jembatan yang terbesar. Selain sungai Jembatan Lima, kampung ini dialiri pula oleh Sungai Cibubur. Penamaan Cibubur berkaitan dengan kondisi sungai yang banyak lumpur hingga nampak seperti bubur. Pada masa pemerintahan Belanda, Kampung Jembatanlima masuk ke Kawedanan Penjaringan, Kelurahan Angke Duri, dengan Kepala Kampung Bek Akhir, Bek Latip dan Bek Marzuki.

Pada masa pendudukan Jepang kampung Jembatanlima masuk wilayah Penjaringan Son (kecamatan) dan Angke Duri Ken (kelu-rahan). Pada masa pendudukan Jepang yang menjadi kepala kampung ialah Bek Ramadan. Pada masa kemerdekaan wilayah Jembatanlima dibagi atas tiga kelurahan yaitu: Kelurahan Tambora, Kelurahan Jembatan-lima dan Kelurahan Pekojan. Adapun yang menjabat sebagai Kepala Kampung ialah Bek Salamun.

Dahulu Kampung Jembatanlima masih merupakan wilayah yang ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman yaitu pohon ke-lapa, bambu, jati, sawo, rambutan, mangga dan lain-lain. Penduduknya tinggal berkelompok-kelompok dan tidak jauh dari kebun mereka. Sehingga bertani dan berdagang buah-buahan merupakan mata pencaharian penduduk kampung ini. Wilayah ini dahulu masih sulit untuk dikunjungi orang-orang dari luar karena jalan-jalan yang ada disana masih berupa jalan setapak. Wilayah ini baru terbuka pada tahun 1920-an ketika orang-orang dari Banten memasuki wilayah ini. Orang-orang dari Banten ini tinggal di tanah wakaf yaitu di Gang Kiara. Mereka mencari nafkah dengan menjadi kuli panggul di Stasiun Angke Duri dan Beos atau di pasar-pasar.

2. Perkembangan Kampung Jembatan Lima

Setelah transportasi di Jembatanlima lancar karena adanya jalan raya yang menghubungkan daerah itu dengan tempat-tempat lain, maka wilayah ini mulai banyak dikunjungi orang-orang dari luar Banten yaitu dari Bogor, Cirebon, dan Tasikmalaya. Mereka mencari nafkah dengan berdagang makanan dan barang-barang kerajinan misalnya orang Bogor berdagang nasi dan kopi, orang Cirebon berdagang gado-gado, orang Tasikmalaya berdagang barang-barang kerajinan seperti payung, kelom geulis dan tas dan orang Tegal berdagang nasi.

Sejak adanya pesantren di Kampung Sawahlio yang dikelola oleh Kyai Haji Moch. Mansur, maka Kampung Jembatanlima mulai kedatangan orang-orang dari daerah Sumatra yaitu dari Lampung, Palembang dan Padang. Mereka datang ke Jembatanlima umumnya untuk menuntut ilmu di Pesantren K.H. Moch. Mansur. Orang Padang untuk menyambung hidupnya berjualan kopiah di Pasar Jembatanlima.

PENUTUP

NILAI BUDAYA:

Untuk mengenal suatu kawasan di Jakarta, masyarakat perlu mengetahui sejarah atau asal-usul nama tempat di mana mereka tinggal. Dengan mengenal sejarah perkembangan suatu wilayah, masyarakat di wilayah tersebut dapat melestarikan budaya yang pernah ada.

PENUTUP:

Mengacu pada banyaknya variasi penamaan suatu tempat di Jakarta maka perlu pengkajian lebih teliti terhadap nama-nama suatu kawasan. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa informasi tentang penamaan suatu tempat tersebut sering tidak masuk akal dan cenderung menghubungkan satu kasus dengan kasus yang lain yang kadang-kadang mengandung anakronisme. Hal ini terjadi karena dalam penelitian toponimi sumber yang paling mudah adalah cerita rakyat, legenda atau folklore, yang kadang-kadang untuk melakukan perbandingan dengan sumber tertulis mengalami kesulitan. Berbeda dengan nama-nama tempat yang dikukuhkan dengan surat keputusan, kesulitan pencarian sumber jarang ditemukan. Untuk itulah penulisan topinimi secara menyeluruh terhadap suatu kawasan harus dimulai dari masyarakat yang paling dekat dengan komunitas tempat tinggalnya dari kampong, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten dan seterusnya, kemudian dikumpulkan dalam bentuk kumpulan data toponimi.

REFERENSI: