Tana Toraja

Sinopsis

Sinopsis

Kita tentu sudah mengetahui kalau Indonesia memiliki banyak tujuan wisata budaya. Banyak nilai-nilai keindahan hingga nilai kemanusiaan yang dapat kita pelajari dari setiap tempat. Salah satu yang dapat dipelajari adalah Tana Toraja yang terletak di Sulawesi Selatan. Budaya setempat yang khas dan menarik untuk dipelajari adalah upacara pemakaman di Tana Toraja. Berwisata sekaligus mempelajari kekayaan budaya bangsa menjadi bekal bagi generasi penerus untuk mengenal ragam karakter bangsa.

|.

Sinopsis

Teaser mengenai adat istiadat Tana Toraja, arsitektur, dan suasananya

Pengantar

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Mengunjungi Tana Toraja ini, kamu dapat:

  1. Mengenal kekayaan budaya nusantara yang ada di Tana Toraja
  2. Mengenal rumah Tongkonan
  3. Mengenal upacara pemakaman yang terkait dengan kepercayaan masyarakat Tana Toraja

Tahukah kamu di mana Tana Toraja? Ya, kamu benar! Tana Toraja berada di propinsi Sulawesi Selatan. Jarak Tana Toraja dari kota Makassar adalah sekitar 320 km dengan jarak tempuh perjalanan darat kurang lebih 8 - 9 jam. Masyarakat asli Tana Toraja memiliki tradisi unik yaitu upacara pemakaman yang berkaitan dengan kepercayaan kuno masyarakatnya secara turun temurun. Selain mempelajari kondisi geografis dan kekayaan alam Tana Toraja, kita juga dapat mengenal tradisi setempat yang mungkin jauh di luar kebiasaan kita sehari-hari.

Pallawa

Pallawa

Pallawa adalah sebuah komplek perumahan adat masyarakat Tana Toraja atau disebut Tongkonan. Komplek Tongkonan Pallawa ini berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Letaknya sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao. Di komplek Pallawa ini ada 11 Tongkonan. Apa yang menurutmu paling khas dari Tongkonan? Bisa jadi atapnya yang melengkung menyerupai perahu. Lengkungan atap Tongkonan ini terdiri atas susunan bambu, namun saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng.

Tongkonan berasal dari kata tongkon yang artinya duduk bersama-sama. Apa saja yang menarik? Tongkonan Pallawa ini didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau berderet di bagian depan. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (strata sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut alang. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (bangah), yang saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.

Di sini dapat kita lihat bahwa masyarakat adat Toraja masih menjalankan ritual adat dan kehidupan sehari-hari secara harmonis.

Londa

Londa

Bila kamu ingin melihat Londa, maka kamu harus pergi ke Desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggalai yang berada sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao. Londa mudah dicapai dengan kendaraan umum sekalipun.

Londa adalah bebatuan curam yang memiliki gua alam yang dijadikan makam. Apa yang menarik dari makam Londa ini? Di dinding tebing sekitar gua, kamu akan melihat deretan patung kayu (tau-tau) di tebing batu yang dipahat serupa etalase tanpa kaca bagi patung-patung tersebut. Tau-tau adalah kayu yang dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dikubur di sana. Bahkan dibuat dengan sangat detail hingga terlihat garis kerut wajah atau kulit leher yang kendur. Di sekitar barisan tau-tau, tampak peti-peti mati (erong) yang disangga oleh kayu sedemikian rupa hingga peti-peti tersebut aman berada di atas tebing. Inilah makam gantung yang menjadi daya tarik lain dari Tana Toraja. Peti mati (erong) tersebut adalah peti mati kaum bangsawan atau yang kedudukannya terhormat. Semakin tinggi letak petinya maka semakin tinggi derajat jenazah yang dikubur di sana. Bagaimana, menarik bukan?

Kete Kesu

Kete Kesu

Kete Kesu adalah suatu desa adat dan wisata di Tana Toraja yang di dalamnya terdapat perkampungan tradisional, tempat kerajinan ukiran, hingga kuburan. Di mana letak Kete Kesu? Kete Kesu terletak 4 Km di bagian tenggara Rantepao

Berikut ini beberapa objek dan tradisi menarik yang dapat dipelajari saat kamu mengunjungi Kete Kesu:

  1. Rumah adat tongkonan yang sebagian berumur 300 tahun dengan lumbung padi di depannya
  2. Tongkonan yang juga museum berisi koleksi benda adat kuno Toraja seperti ukiran, senjata, keramik, dan patung. Museum ini juga menjadi pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu
  3. Tanah seremonial dengan 20 batu menhir (bangunan megalith)
  4. Peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang berusia 500 tahun lebih. Letaknya 100 m di belakang perkampungan. Kubur batu bergantung ini diletakkan di tebing atau gua dengan memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari dengan harta yang dimilikinya. Sehingga beberapa makam ditutup jeruji besi untuk mencegah pencurian harta milik jenazah.
  5. Desa ini adalah kawasan wisata tempat menjual berbagai pahatan, ukiran, dan suvenir khas Toraja. Selain itu merupakan kawasan cagar budaya pusat berbagai upacara adat Toraja seperti pemakaman adat (Rambu Solo) atau upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka).

Bila ingin menyaksikan berbagai upacara dan perayaan adat Toraja, sebaiknya kamu mengunjungi Kete Kesu pada bulan Juni hingga Desember.

Batutumonga

Batutumonga

Kalau kamu ingin menikmati indahnya pemandangan Tana Toraja dan sekitarnya dari ketinggian yang sejuk, maka kamu dapat mengunjungi Batutumonga.

Kawasan Batutumonga terletak di daerah lereng Gunung Sesean (yang merupakan gunung tertinggi di Tana Toraja) dengan ketinggai 1300 Meter dari permukaan laut. Letak Batutumonga sekitar 2 km dari Lokomata.

Selain merupakan tempat beristirahat dan berwisata yang sejuk, tenang, dan memiliki pemandangan indah, ada situs menarik yang dapat dikunjungi di Batutumonga. Di kawasan ini kamu dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu-batu menhir ini memiliki ketinggian sekitar 2 sampai 3 meter. Batu menhir merupakan bangunan megalith yang pada zaman prasejarah merupakan pusat tempat pemujaan sesuai kepercayaan masyarakat pada zaman dahulu.

Untuk mengunjungi Batutumonga tidak ada waktu-waktu khusus, kamu bisa mengunjunginya kapan saja.

Lemo

Lemo

Mengunjungi Tana Toraja, tidak lengkap jika kita tidak mengunjungi Lemo, yaitu sebuah kuburan yang dibuat di bukit batu. Bukit ini dinamakan Lemo karena bentuknya bulat menyerupai buah jeruk (limau). Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 dan awalnya menjadi makam kepala Suku Toraja Kuburan batu Lemo ini terletak di Desa Pangden, sebelah utara Makale, Kabupaten Tana Toraja.

Di bukit ini terdapat sekitar 75 lubang kuburan dan tiap lubangnya merupakan kuburan satu keluarga dengan ukuran 3 x 5 M. Untuk membuat lubang ini diperlukan waktu 6 bulan hingga 1 tahun dengan biaya cukup mahal.

Tahukah kamu, tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kamu dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui Upacara Ma Nene. Biasanya upacara ini dilakukan pada bulan Desember.

Banyak filosofi mengenai kematian dan kehidupan setelah mati menurut kepercayaan adat Toraja.

Kambira

Kuburan Bayi Kambira

Saat kamu di Tana Toraja, pergilah ke Desa Kambira yang terletak tidak jauh dari Makale. Apa yang menarik di Desa Kambira? Di sini, kamu bisa mengunjungi objek wisata Kuburan Bayi Kambira, yaitu tempat khusus memakamkan bayi-bayi yang meninggal sebelum tumbuh giginya.

Mengapa tradisi di pemakaman Kambira ini berbeda? Di sini, jenazah bayi yang masih dianggap suci dikuburkan di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon Tarra’. Pohon Tarra’ dipilih sebagai tempat penguburan bayi, karena pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu.

Pohon Tarra’ memiliki diameter sekitar 80 – 100 cm dan lubang yang dipakai untuk menguburkan bayi ditutup dengan ijuk dari pohon enau. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada di rahim ibunya.

Pemakaman ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Berdasarkan kepercayaan mereka, dengan menguburkan di pohon ini, para bayi seperti dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir kemudian.

Rambu Solo

Upacara Adat Rambu Solo

Terkait dengan kepercayaan masyarakat Toraja mengenai kematian, maka upacara Rambu Solo adalah puncak ritual terhadap orang-orang yang sudah meninggal. Bila kamu ingin menyaksikan Rambu Solo, datanglah ke Kampung Bonoran Desa Kete Kesu, Kecamatan Kesu Tana Toraja. Di lapangan desa inilah diadakan berbagai ritual dan atraksi masyarakat Toraja ‘memakamkan’ mereka yang meninggal.

Tahukah kamu di Toraja, Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Puncak dari Rambu solo ini berupa beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.

Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Jumlah kerbau yang dikurbankan akan tergantung pada tingkat strata sosial dan kemampuannya. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga”.

Upacara Rambu Solo ini biasanya diadakan pada bulan Juni hingga Desember. Bulan-bulan tersebut merupakan waktu kunjungan wisata yang paling ramai. Nah, kamu setuju bukan, kalau Indonesia memiliki tradisi budaya yang begitu kaya?

Penutup

Penutup

Adat dan tradisi di Indonesia berdasarkan suku bangsa maupun daerahnya sangatlah beragam. Banyak tradisi yang yang masih bertahan hingga saat ini, walaupun zaman semakin modern. Salah satu tradisi daerah yang menarik dan menjadi salah satu kekayaan Nusantara adalah tradisi pemakaman di Tana Toraja dan masih berlangsung hingga saat ini. Anak-anak perlu mengenal nilai budaya yang terkandung di dalamnya agar bisa diselaraskan dengan nilai masa kini. Kekayaan budaya bangsa perlu dilestarikan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Bagaimana caranya? Langkah-langkah kecil yang dapat kita lakukan antara lain:

  1. Mengenal kekayaan adat istiadat dan budaya bangsa
  2. Menghargai perbedaan dan kekayaan nilai budaya
  3. Meningkatkan kualitas dan mengelola budaya lokal dengan baik