Sungging wayang

PENDAHULUAN

Wayang

Banyak sumber yang menjelaskan berbagai versi munculnya wayang. Beberapa menyebutkan wayang berasal dari India, Thailand dan tentunya Indonesia, khususnya Jawa. Namun berdasarkan keputusan UNESCO (United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization) tahun 2003, wayang ditetapkan menjadi warisan budaya dunia asli dari Indonesia. Hal ini menunjukkan kebudayaan wayang Indonesia mendapatkan apresiasi tinggi dimata Internasional.

SEJARAH

Keraton Solo

Sejarah terciptanya sungging wayang di Desa Gendeng (huruf “e” dibaca seperti tulisan “semen”) terletak di Kalurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Proses ini berawal sejak Dusun Karangasem masih bernama Pucung. Dahulu masyarakat Pucung belum memiliki mata pencaharian sebagai pengrajin. Pekerjaan masyarakat Pucung awalnya sebagai petani dengan penghasilan yang sangat minim. Dahulu, daerah Pucung dikenal sebagai daerah sarang penjahat. Karena letak geografisnya yang dikelilingi oleh perbukitan yang menjadikan Pucung cocok untuk dijadikan sebagai tempat pelarian yang aman untuk para penjahat tersebut.

Meski begitu, warga masyarakat sendiri merasa tidak nyaman dengan keberadaan para pelarian penjahat tersebut. Ini menyebabkan Kepala Lurah Pucung pada waktu itu memutuskan untuk mengadakan sebuah sayembara untuk mengusir penjahat yang ada di Pucung.

Tahun 1917, mbah Glemboh atau mbah Atmo Karyo datang ke pucung untuk mengikuti sayembara tersebut. Mbah Glemboh adalah seorang kerabat dari keraton Solo yang tidak setuju dengan kebijakan Keraton Solo yang memihak Belanda yang memutuskan untuk lari ke Jogja dan tetap melawan Belanda. Setelah mendengar adanya sayembara tersebut, Mbah Glembohpun datang ke Pucung demi mengikuti sayembara untuk mengusir penjahat itu.

|.

Warga Pucung sedang menyunging wayang

Sampai pada tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang dengan dibantu oleh empat orang temannya beserta anak-anak mereka. Hingga tahun 1970 Sarinah datang ke Jogja dan tertarik pula dengan hasil karya mereka. Rasa tertarik Sarinah membawa pelanggan baru, dan Sarianah menjadi pemesan tetap wayang karya mereka hingga kini. Berkembangnya usaha membuat wayang mereka menjadi mata pencaharian, mendorong tetangga-tetangga yang lain untuk ikut mendalami usaha pembuatan wayang ini.

Sebelumnya warga Pucung ini hanya dapat membuat kerajinan dari kulit dalam bentuk wayang , belum dapat membentuknya menjadi barang atau souvenir lain. Sampai akhirnya pada tahun 1980-an, ketika Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2 membuka expo non migas mereka mendapat kesempatan untuk memamerkan wayang karya mereka. Ketika itu banyak pengunjung baik domestik maupun internasional yang tertarik dan meminta mereka untuk membuat desain kerajinan baru dan hal itupun disanggupi oleh mereka. Sejak saat itulah, warga Pucung mulai memproduksi kerajinan kulit dengan desain baru seperti yang telah disebutkan diatas sebelumnya.

Unsur Sungging

Wayang yang sudah disunggih

Mewarnai wayang atau disebut sebagai sungging, memiliki dasar-dasar tahapan sesuai dengan kaidah menyungging. Dasar-dasar tersebut antara lain berupa tata pembuatan bahan pewarna, membuat warna pokok, membuat pencampuran warna, membuat lapisan dasar, membuat gradasi warna hijau, merah dan biru, mewarnai bagian muka, rambut, dan badan. Pewarnaan disusun berlapis dari warna muda hingga warna yang lebih tua. Selanjutnya membuat drenjeman (titik-titik), sawutan/cawi (pola garis sejajar), dan balesan/waleran (garis batas antar pola) untuk mempercantik warna wayang

|.

Unsur Sungging

Dalam hal ini ada beberapa unsur dalam sungging wayang

yaitu tahapan menyungging wayang terdiri atas:

Wayang yang sudah disunggih

 

|.

Unsur Sungging

Mendasari
Menghitam
Mrada

Mepesi
Menjambon
Menguningkan

|.

Unsur Sungging

Menghijaukan
Membirukan dan Mengapurantakan
Mentuakan

Drenjemi
Angraupi
Ngulat-ngulati

Karakteristik

Karakteristik

Sungging wayang memiliki karakteristik tertentu dalam pembuatannya, seperti bentuk, mulut, mata, hidung dan aksesoris lainnya menjadi sebuah ciri khas dalam sungging wayang, berikut beberapa tokoh dan karakter tokoh tersebut dengan tehnik sungging ini

Cara Membuat

Tahapan pembuatan sungging wayang

Selanjutnya kita akan melihat proses membuat suatu wayang kulit yaitu memerlukan beberapa tahapan kerja, di antaranya yaitu :

Pembelian kulit

Kulit yang digunakan untuk membuat wayang kulit terdiri dari beberapa macam, yaitu kulit mentah dan kulit split. Kulit mentah adalah kulit yang langsung digunakan untuk proses pembuatan wayang kulit tanpa melalui proses kimiawi. Sedangkan kulit split adalah kulit yang sudah melalui proses kimiawi di pabrik. Kulit yang digunakan untuk membuat wayang kulit biasanya berasal dari kulit kerbau, sapi, dan kambing. Sebagian besar kulit diperoleh dari daerah Magetan (Jawa Timur), Sukoharjo, Solo, Segoroyoso (Yogyakarta) dan Magelang.

Pengolahan kulit

Direndam dengan air selama satu hari sampai lunak. Kemudian direntangkan atau dipentangkan dengan menggunakan tali dan pigura kayu yang kuat. Selanjutnya kulit tersebut dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering. Kulit yang sudah kering segera ditipiskan dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah bagian rambut (bagian luar) dan sisa-sisa daging yang masih melekat (bagian dalam).

|.

Kulit dikerok dengan menggunakan pisau atau pethel sedikit demi sedikit secara hati-hati. Kulit bagian dalam dikerok terlebih dahulu dan lebih banyak dikurangi agar diperoleh kulit yang berkualitas. Setelah itu, baru dilanjutkan pengerokan kulit bagian luar. Pengerokan kulit bagian luar hanya sedikit saja karena bila dilakukan pengurangan terlalu banyak maka kulit yang dihasilkan akan menjadi mudah patah bila dilipat. Bila perlu, pada bagian ini hanya dihilangkan rambut-rambutnya saja dan dibersihkan dengan air.

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mempermudah pengerokan rambut pada kulit, seperti merendam kulit dengan air mendidih, dan dengan menggunakan air kapur sebelum dipentangkan. Torehan pisau pada proses pengerokan hanya dilakukan satu arah dari atas ke bawah. Setelah kulit ditipiskan, sisa-sisa kerokan dibersihkan dengan air dan bagian yang dikerok dihaluskan dengan amplas. Selanjutnya, dijemur di panas sinar matahari lagi hingga kering secara merata.

Proses pengerokan kulit Gambar
Kulit hewan yang telah dikerok

Setelah kering, kulit dilapisi dengan warna dasar untuk menutup pori-pori kulit agar permukaannya rata. Kemudian mulai dibentuk sketsa di permukaan kulit. Setelah itu, tepi sketsa ditatah sehingga diperoleh bentuk dasar.

 

|.

Tahap selanjutnya adalah memperhalus tatahan dasar dan membuat kombinasi yang indah dalam terawangan cahaya. Setelah terbentuk wayang secara kasar, maka bagian muka dan detail lainnya di bagian sketsa dalam mulai ditatah. Proses ini sangat penting karena berpengaruh pada karakter wayang yang dihasilkan. Setelah melalui tahap ini, wayang yang dihasilkan tersebut dinamakan putihan karena belum diwarnai.

Proses tatah kulit.

Putihan tersebut diwarnai dengan menggunakan pewarna sintetis, yaitu cat Sandy Colour, dan menggunakan perekat rakol (lem Fox). Setelah selesai dicat dan disempurnakan, wayang kulit diberi penyangga dengan menggunakan tanduk kerbau atau bambu.

Proses pewarnaan wayang kulit (Sungging)

Sisa potongan kulit yang dinamakan dengan leresan umumnya dapat digunakan sebagai bahan rambak (krupuk kulit) dan sebagai dipupuk organik.

PENUTUP

PENUTUP

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut

Pembaca mampu memahami sejarah hingga tata cara sungging wayang. Selain itu, diharapkan mampu mengambil nilai-nilai positif dari sungging wayang, seperti kehati-hatian, kecermatan, kreativitas dan kesabaran.

Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut :

Wayang sungging memiliki manfaat dalam memperkaya khasanah kerajinan wayang kulit. Dengan diakuinya oleh UNESCO atas wayang kulit, mempunyai potensi besar dalam bidang perekonomian dan diplomasi budaya antar bangsa.