Taman Sriwedari yang Mempesona

SINOPSIS

SINOPSIS

Taman Sriwedari merupakan sebuah kompleks taman di Kecamatan Lawiyan, Kota Surakarta. Sejak era Pakubuwana X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran.

Kampung Sriwedari terletak di tepi Jalan Slamet Riyadi atau di sebelah Timur Kampung Penumping. Nama Sriwedari diambil dari cerita pewayangan, yang saat itu digunakan sebagai tempat hiburan bagi para istri Prabu Harjuna Sasrabahu.

Sriwedari yang ada sekarang dibangun atas perintah Sunan Pakibuwono X untuk tempat hiburan rakyat, abdi dalem, dan sentana dalem.

Dalam rentang tahun 1905 hingga 1917 terdapat berbagai pemugaran dan ubah fungsi, terdapat kebun binatang, bioskop, pentas wayang orang dan wayang kulit. Kini Sriwedari lebih dikenal oleh masyarakat sebagai taman, Taman Segaran Sriwedari.

Menurut sejarah sebelum dibangun Taman Sriwedari, daerah di sekitar tempat itu dikenal sebagai Desa Talawangi, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kadipolo, di mana batas utara adalah Jalan Besar Purwosari (sekarang Jalan Slamet Riyadi), sebelah barat berbatasan dengan Jalan Mangunjayan (sekarang Jalan Bayangkara), batas sebelah timur adalah Jalan Pasar Kembang (sekarang Jalan Honggowongso), dan sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Besar Baron (sekarang Jalan Dr. Rajiman).

Jalan Dr. Rajiman merupakan jalan tertua yang ada di Kota Solo sebelum dibangun Jalan Slamet Riyadi. Jalan tersebut dibuat ketika akan dilakukan pindahan Kraton Kartasura ke kraton yang baru di Desa Sala (Solo).

PENGANTAR

PENGANTAR

Kamu tahu, dimana letak Taman Sriwedari? Ayo! Kita cari tahu…. Apa saja yang ada di Taman Sriwedari? Diantaranya:

1. Stadion R. Maladi (Stadion Sriwedari).

2. Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan sebelum dipindah ke Kentingan.

3. Ggedung wayang orang

4. Bioskop,sekarang menjadi Gedung Kesenian Solo

5. Taman Hiburan Rakyat (THR).

6. Museum Radyapustaka

7. Telaga buatan yang diberi nama segaran dalam bahasa Jawa berarti lautan.

Pembuatan Taman Sriwedari tersebut menghabiskan biaya ribuan gulden, lantaran di dalamnya dipelihara binatang hasil buruan yang beraneka warna digolong-golongkan berdasarkan jenisnya. Begitu juga tanamannya yang berwarna-warni dengan keindahan tanaman bunganya.


Adapun bentuk tanah yang ditempati Taman Sriwedari berbentuk persegi panjang yang membujur dari barat ke timur. Yang sebelah barat dulu berbentuk taman, yang sekarang telah berubah menjadi Stadion R. Maladi (Stadion Sriwedari). Di sebelah barat daya, dibuat Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan sebelum dipindah ke Kentingan. Bagian tengah menjadi taman hiburan, yang terdiri dari gedung wayang orang (1911), bioskop (sekarang menjadi Gedung Kesenian Solo) maupun Taman Hiburan Rakyat (THR). Di sebelah timur dari utara ke selatan, ada Museum Radyapustaka, telaga buatan yang diberi nama segaran (dalam bahasa Jawa berarti lautan). Di tengah segaran terdapat punthuk seperti gumuk membentuk pulau, yang diberi bangunan panggung yang ditembok melingkar dengan dihiasi kaca yang berwarna-warni dan diberi ukir-ukiran.

ISI

ISI

Mau tahu, asal mula Taman Sriwedari? ...Ayo, simak baik-baik…

Menurut sejarah sebelum dibangun Taman Sriwedari, daerah di sekitar tempat itu dikenal sebagai Desa Talawangi, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kadipolo

Pada saat pindahan kraton dari Kartasura menuju Solo (Surakarta) pada tahun 1745, di Solo masih banyak tanah yang luas dan lebar. Namun setelah memasuki zamannya Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono X (1839-1939) sudah ramai.

Sedangkan yang menjalankan pemerintahan kala itu adalah Pepatihdalem Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Sang Patih yang bertanggung jawab menjalankan roda pemerintahan memikirkan kemajuan serta keuntungan bagi pemerintah, maka memerintahkan menggarap tanah Talawangi yang sampai bertahun-tahun masih menjadi lahan luas yang belum didayagunakan.

Tanah Talawangi ini sudah dikenal para abdidalem supranatural di Kraton Kartasura bahwa tanah Talawangi yang dianggap  angker tersebut pantas menjadi milik raja. Setelah dibersihkan lalu dibuatlah taman, yang diberi nama Taman Sriwedari. Banyak orang yang menyebut Kebon Rojo atau Kebun miliknya raja.

Pembuatan Taman Sriwedari tersebut menghabiskan biaya ribuan gulden, lantaran di dalamnya dipelihara binatang hasil buruan yang beraneka warna digolong-golongkan berdasarkan jenisnya. Begitu juga tanamannya yang berwarna-warni dengan keindahan tanaman bunganya.

|.

Adapun bentuk tanah yang ditempati Taman Sriwedari berbentuk persegi panjang yang membujur dari barat ke timur. Yang sebelah barat dulu berbentuk taman, yang sekarang telah berubah menjadi Stadion R. Maladi (Stadion Sriwedari).
Di sebelah barat daya, dibuat Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan sebelum dipindah ke Kentingan. Bagian tengah menjadi taman hiburan, yang terdiri dari gedung wayang orang (1911), bioskop (sekarang menjadi Gedung Kesenian Solo) maupun Taman Hiburan Rakyat (THR). Di sebelah timur dari utara ke selatan, ada Museum Radyapustaka,


telaga buatan yang diberi nama segaran (dalam bahasa Jawa berarti lautan). Di tengah segaran terdapat punthuk seperti gumuk membentuk pulau, yang diberi bangunan panggung yang ditembok melingkar dengan dihiasi kaca yang berwarna-warni dan diberi ukiran-ukiran.

 

|.

Di sepanjang paruh abad ke-20 M, khususnya selama masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, diadakan acara perayaan besar di Sriwedari pada setiap peringatan ulang tahun Susuhunan.

Sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi Malam Selikuran. Dalam bahasa Jawa, Malam Selikuran berarti malam ke-21 pada bulan Ramadhan. Pada setiap malam yang sering disebut juga sebagai malam Lailatul Qadar ini, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan warga Solo menggelar tradisi berupa Kirab Seribu Tumpeng. Kirab ini dimulai dari pelataran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berakhir di Taman Sriwedari.

Seribu tumpeng yang diarak tersebut kemudian diperebutkan oleh warga di Taman Sriwedari karena dipercaya mengandung berkah. Inilah yang disebut Malam Selikuran dan tradisi ini masih dijalankan hingga sekarang. Tradisi Malam Selikuran diyakini sudah muncul sejak zaman para wali, kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Demak, Mataram, Kartasura, hingga kemudian Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

|.

Peresmian Taman Sriwedari dilakukan dengan meriah. Siang diadakan sedekah dari PB X yang dijadikan rebutan bagi pengunjung. Malam harinya di putar film (bioskop) dan wayang orang dengan diselingi kembang api. Peresmian tersebut memang dilakukan dengan besar-besaran dengan mengundang perwakilan dari bangsa lain.

Peresmian Taman Sriwedari diberi sinengkalan “Luwih Katon Estining Wong”, tahun Dal 1831 atau tahun 1899.

PENUTUP

PENUTUP

Sejak zaman kerajaan, memang sangat diperlukan sebuah tempat yang berfungsi sebagai refreshing. Kalangan istanapun saat itu memerlukannya, baik raja maupun kerabat serta “pegawai”nya. Pelestarian dan penghijauan sebuah kota atau daerah sejak dahulu sangat diperhatikan oleh kalangan pemerintahan atau kerajaan. Lahan hijau sebagai jantung kota dan harmoni udara bersih Apapun namanya, Sriwedari merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan mengisinya dengan kebudayaan asli Indonesia, hingga generasi yang akan datang.