PULAU MIANGAS

SIPNOSIS

Pulau Miangas atau Las Palmas (Palmas Island) memiliki keunikan dalam persoalan tapal-batas dua negara, yaitu antara Indonesia-Filipina. Miangas, pernah dipersengketakan antara dua negara besar yakni Amerika Serikat (yang kala itu masih menjajah Filipina) dengan Kerajaan Belanda (yang juga menjajah kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda).

Tak kunjung mendapat kata mufakat, sengketa tentang status kepemilikan Pulau Miangas ini berakhir di Mahkamah Arbitrase Internasional. Pada tanggal 4 april 1928, Hakim Dr. Max Hubert, arbitrator tunggal Mahkamah Arbitrase Internasional, menyatakan bahwa Miangas adalah bagian dari wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu, Pulau Miangas berarti menjadi milik kerajaan Belanda.

Pasca kemerdekaan masing-masing kedua negara (Republik Indonesia dan Filipina), keputusan Arbitrase Internasional tentang pulau Miangas tetap dipegang teguh, baik oleh Indonesia maupun Filipina. Pengakuan ini diperjelas lebih lanjut di dalam perjanjian Lintas Batas (Border Crossing Agreement) antara Indonesia dan Filipina yang ditandatangani pada tahun 1956.

Di dalam perjanjian ini, kedua negara mengakui bahwa Pulau Miangas merupakan pos lintas batas di pihak Indonesia. Keputusan Arbitrasi Internasional ini diperkuat oleh hasil penelitian dari 2 orang pakar hukum internasional, yaitu Willem Johan Bernard Versfelt dan Daniel-Eramus Khan.

JUDUL

JUDUL

PULAU MIANGAS

SEJARAH WILAYAH PERBATASAN INDONESIA - FILIPINA

PENGANTAR

Tujuan:

Setelah selesai mempelajari program ini diharapkan Anda dapat menjelaskan:

1) letak geografis pulau Miangas;

2) sejarah wilayah perbatasan Indonesia – Filipina;

3) tokoh-tokoh yang berperan dalam perjanjian damai; dan

4) nilai-nilai budaya yang dianut di kalangan masyarakat Pulau Miangas.

|.

Manfaat:

Manfaat yang diperoleh dari memanfaatkan konten budaya tentang Pulau Miangas adalah:

1) Tersedianya wahana (bertambahnya sumber belajar) untuk menelusuri proses sejarah status keberadaan pulau-pulau yang berada di perbatasan dengan berbagai negara, khususnya Pulau Miangas yang berada di perbatasan dengan Filipina;

2) Meningkatnya sikap apresiatif, semangat persatuan dan kesatuan bangsa, baik di kalangan generasi sekarang maupun generasi penerus bangsa; dan

3) Berlangsungnya proses pewarisan nilai-nilai sejarah dan budaya dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

|.

Tugu NKRI di Pulau Miangas

Mencuatnya kasus Pulau Sipadan dan Ligitan, yang berakhir pada ‘kekalahan’ pihak Indonesia oleh Malaysia di meja Arbitrase Internasional di Amsterdam, tiba-tiba Pulau Miangas mendapat perhatian media dibandingkan dengan dua pulau lain di perbatasan Indonesia dan Filippina, yaitu Pulau Marore dan Pulau Marampit. Pulau Miangas, sekalipun pulaunya kecil dan tidak terlalu dikenal, tetapi justru pulau Miangas yang paling banyak menarik perhatian dan dipermasalahkan karena nilai geo-politik yang melekat padanya.

Menteri luar negeri Hassan Wirajuda menegaskan pada tahun 2009 sangat jelas menyatakan bahwa tidak ada klaim dari pihak negara tetangga soal Pulau Miangas. “....dengan demikian pulau Miangas sudah jelas milik kita.

Tidak ada pihak lain yang menyoal hal itu”. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, pulau-pulau di perbatasan memiliki peran yang sangat vital. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982 pasal 47 ayat 1, negara kepulauan berhak menarik garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline) sebagai dasar pengukuran wilayah perairannya dari titik-titik terluar pulau-pulau terluarnya.

Dengan kata lain, pulau-pulau kecil ini turut menentukan batas-batas kedaulatan NKRI. Jika Pulau Miangas lepas, Indonesia akan kehilangan wilayah laut yang luas berikut sumber daya yang terkandung di dalamnya.

|.

Letak Geografis

Pulau Miangas:

Luas: 3,15km2 atau 210 Ha

• Kecamatan: Nanusa

• Kabupaten: Kepulauan Talaud

• Provinsi : Sulawesi Utara Wilayah ini berada pada koordinat : 05° 34' 02" U - 126° 34' 54" T/ 05° 33' 57" U - 126° 35' 29" T

 

* sesuai PP No. 38 Tahun 2002 Tentang Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia

|.

Sejarah Perbatasan Wilayah Indonesia-Filipina

Pulau Miangas

Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk kedalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Untuk menjangkau Pulau Miangas, kita dapat terbang dari Jakarta ke Manado (± 2,5 jam) dan melanjutkan penerbangan ke Pulau Tahuna (± 1 Jam). Dari Pulau tahuna, perjalanan dilakukan dengan menggunakan kapal perintis yang singgah setiap 2 minggu.

Perjalanan dengan kapal perintis ke Pulau Miangas membutuhkan waktu sekitar 14 jam.

|.

Sejarah Perbatasan Wilayah Indonesia-Filipina

Pulau Miangas

Pulau kecil ini sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16. Dapat ditelusuri baik dalam catatan-catatan pelayaran maupun peta serta dokumen-dokumen kolonial. Pulau ini tercantum dalam peta Asia Tenggara yang digambar oleh Gerard Mercator pada tahun 1569.

Tercantum dalam peta itu sebuah pulau kecil yang dinamai y(slas) de Cocos berada di ujung tenggara Mindanao dan utara timur laut pulau-pulau Talao alijs Tarrao infule.

Gerard Mercator

Peta Gerard Mercator

|.

Peta Abraham Ortelius

Sebutan y(slas) de Cocos dengan letak dan koordinat yang sama juga ditemukan dalam peta Asia dari Abraham Ortelius, 1570.

Selanjutnya, peta yang dipublikasikan oleh Antonio de Hera y Tordesillas (1601), Descripcion de las Indias del Poniente, tergambar sebuah pulau di bagian tenggara pulau Mindanao dan bagian utara el Maluco (Halmahera), bernama ysla de Palmas (Isla de las Palmas).

Sebutan serupa yang dapat ditemukan dalam dokumen Belanda adalah Palmas eiland yang digunakan secara bersamaan dengan sebutan Pulau Miangas.

|.

Pulau Miangas Dalam tradisi lisan- terutama tradisi bahari yang menggunakan “bahasa sasahara” dalam pelayaran-tidak menggunakan sebutan Miangas atau Palmas, tetapi sebutan Tinonda” dan “Poilaten”.

Kata Tinonda merupakan penanda yang digunakan untuk memaknai keberadaan warga atau penduduk pulau Miangas yang berasal dari gugusan pulau-pulau Nanusa.

Secara harafiah, kata “Tinoda” dan “Poilaten” berarti mereka yang ditempatkan dipulau yang agak terpisah dari tempat asalnya.

Sedangkan kata Poilaten adalah kosakata bahasa sasahara yang digunakan oleh pelaut yang berarti di sana kampung halaman atau pulau kita.

|.

Kasus Pulau Miangas masuk ke Pengadilan Internasional pada tahun 1932. Dua negara yang mengajukan Kasus Tersebut adalah Amerika dan Belanda. Kasus Miangas menjadi salah satu kasus paling berpengaruh terkait dengan konflik wilayah kepulauan.

Miangas pada saat diperebutkan adalah pulau yang mempunyai nilai ekonomis sangat rendah namun mempunyai lokasi strategis. Lokasi Miangas berada di perbatasan Indonesia dan Philipina, tepatnya sebelah Selatan Mindanao Philipina yang masuk wilayah protektorat Amerika dan di sebelah Utara Pulau Nanusa Indonesia yang masuk wilayah Netherlands East Indies.

Video mengenai miangas: http://www.youtube.com/watch?v=bma-CXuvGGs

|.

Pada tahun 1989, Spanyol menyerahkan Filipina sebagai akibat kekalahan Spanyol dalam Perang Spanyol-Amerika. Ke Amerika melalui Perjanjian Paris 1989 di mana Miangas masuk dalam wilayah Philipina. Namun pada tahun 1906, Amerika mengetahui bahwa Belanda juga mengklaim Miangas.

Kemudian kedua belah pihak setuju untuk membawa kasus tersebut ke Pengadilan Arbitrase Internasional. Kedua negara meminta Pengadilan Arbitrase Internasional untuk memutuskan apakah Miangas masuk ke dalam wilayah Belanda ataukah Amerika.

Adapun isu hukumnya adalah apakah Miangas menjadi hak milik penemu pertama (Spanyol) meskipun tidak menunjukan otoritas ‘kekuasaan’ nya terhadap wilayah tersebut, ataukah Miangas menjadi wilayah negara yang secara berkelanjutan menunjukkan kedaulatan terhadapnya.

Hasil putusan Pengadilan Arbitrase adalah menyatakan Miangas masuk ke dalam Wilayah Belanda/Indonesia.
Bunyi pasal III Traktat Paris (Paris Treaty)


http://avalon.law.yale.edu/19th_century/sp1898.asp

|.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam perjanjian damai

Jenderal Leonard Wood adalah Gubernur Propinsi Moro pertama wilayah selatan Filipina meliputi pulau Mindanao dan pulau-pulau Sulu di bagian selatannya sebagai satu wilayah administratif pada tahun 1903. Rombongan kunjungan resmi pertama Gubernur Moro ini disambut dengan kibaran bendera triwarna (merah-putih-biru). Hasil laporan ini kemudian yang menjadi persoalan yang akhirnya sepakat membawa masalah ini ke Makamah Arbitrase Internasional yang berkedudukan di Den Haag.

|.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam perjanjian damai

Dr. Max Huber menangani “The Island of Palmas Case (or Miangas) selama kurang lebih tiga tahun. Jangka waktu tersebut terhitung sejak tercapainnya Special Agreement, 23 Januari 1925 sampai dengan keluarnya Keputusan tertanggal 4 April 1928 di mana Pulau Palmas atau Miangas seluruhnya adalah bagian dari wilayah Hindia-Belanda. Pernyataan keputusan ini tercantum sebagai alinea terakhir di dalam dokumen setebal 40 halaman dan ditandatangani di Den Haag.

|.

Ketika dua negara bertetangga Indonesia-Filipina lepas dari penjajahan dan sebagai negara yang berdaulat menyatakan wilayah teritorialnya, keduanya mewarisi tinggalan-sejarah di wilayah perbatasan. Persoalan ‘tapal-batas” kedua negara kala itu belum dipandang penting namun setelah adanya Deklarasi Juanda pada tahun 1957.

Pemerintah kedua negara ini menyadari bahwa dalam menjalankan pemerintahannya, keduanya menghadapi kenyataan di daerah perbatasan mengenai masalah warganegara masihg-masing wilayah yang mondar-mandir ke wilayah pihak lainnya.

Untuk itu, ditandatangani perjanjian yang menetapkan empat buah pos keluar masuk yakni Marore dan Miangas di pihak Indonesia, Mabila dan Balut di pihak Filipina.

|.

Kondisi Masyarakat Pulau Miangas

Asal mula penduduk pulau Miangas sebagian besar berasal dari pulau-pulau Nanusa (Marapit dan Karatung), dan ada juga yang berasal dari daratan Mindanao dan kawin mawin dengan penduduk pulau Miangas.

Hal ini menunjukkan adanya pertalian kekerabatan yang erat antara warga yang mendiami pulau-pulau di perbatasan dengan etnis (asli) di Mindanao dengan etnis Sulawesi Utara.

|.

Kondisi Masyarakat Pulau Miangas

Pulau Miangas yang terletak di tepi Samudera Pasifik, membuat pulau tersebut bagaikan terisolasi.

Jika gelombang laut sedang tinggi, masyarakat hanya bisa berdiam di pulau. Begitu juga sebaliknya, kapal-kapal pun urung merapat ke sana. Bahkan kalau air pasangnya tinggi bisa menjangkau hingga 200 meter ke daratan. Padahal warga Miangas harus berlayar ke kota untuk berbelanja kebutuhan hidup.

Mereka harus menempuh semalaman suntuk jika ingin berbelanja ke Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dan kalau ingin berbelanja ke Manado, mereka bisa menghabiskan waktu hingga empat hari. Alternatifnya, warga yang kebanyakan nelayan itu pun berbelanja di Filipina sembari mencari ikan.

|.

Nilai-nilai budaya yang dianut di kalangan masyarakat Pulau Miangas

Adat di pulau Miangas mengenal adanya Eha atau larangan, semacam Eha untuk Manami, seperti Mane’e di pulau Kakorotan.

Eha ini melarang orang menangkap ikan pada lokasi tertentu lalu pada saat eha dibuka, masyarakat melakukan penangkapan ikan besar-besaran dan melakukan pesta syukuran desa dengan makan bersama.

Manami terjadi saat orang tua dahulu berkeinginan ada kebersamaan dan tamasya melalui adat Eha, hasil tangkapan dibagi dan dimakan bersama. Pada bulan Januari sampai Maret, dilarang masuk lokasi/ tangkap ikan, yang melanggar pinggir pantai akan dikenakan denda Rp. 100.000, kalau menangkap ikan dendanya Rp. 500.000.

Dua hari sebelum hari puncak acara dibuat tali yang panjang. Pada hari puncak semua laki-laki diturunkan ke pantai lokasi manami yakni dari tanjung Ondene dan Libuang, mereka saling melingkar, ujungnya ketemu menjadi dua lingkaran, saat bersamaan posisi air laut sudah surut, dan ikan dikumpulkan dengan mudah.

Hasil ikan tersebut dibagi-bagikan kepada pimpinan adat, pemerintah, masyarakat dan para tamu. Para tamu berada di bangsal utama yang disediakan, masyarakat di pondokan kecil atau sabuah-sabuah.

Ikan untuk masyarakat sebagian dibakar atau dimasak pada masing-masing sabuah. Setelah semua siap, diadakanlah makan bersama dengan diiringi pagelaran seni budaya setempat.

|.

Struktur pemerintahan adat masih dipelihara yakni dipimpin seorang Ratumbanua atau Mangkubumi I dengan wakilnya Inanguanua atau Mangkubumi II. Kemudian di bawahnya ada 12 kepala suku yang membawahi masing-masing kelompok keluarga besar.

Pemimpin-pemimpin adat ini tidak memiliki periode tetap, tetapi apabila melakukan kesalahan atau mengundurkan diri maka bisa diganti, yang melakukan pergantian adalah masyarakat.

Kepala suku diangkat oleh masyarakat oleh anak-anak kepala suku dan Ratumbanua tidak bisa memberhentikan kepala suku. Kalau kepala desa dipilih oleh masyarakat, dalam pemilihan kepala desa, warga lebih melihat figur calon kepala desa meskipun dari suku kecil.

|.

Aktivitas warga Miangas umumnya adalah nelayan, pedagang dan petani. Mereka menganyam tikar dari daun pandan dan ini adalah salah satu industri rumah tangga yang paling utama di pulau ini. Warga Miangas sering berhubungan dagang dengan orang-orang Mindanao, membawa tikar-pandan serta menukarnya dengan tembakau, beras, jagung , dan lain-lain.

PENUTUP

PELERSTARIAN

1) Dalam rangka menyosialisaikan sejarah keberadaan dan kepemilikan Pulau Miangas serta perbatasannya dengan Filipina perlu dikembangkan berbagai program sosialisasi/publikasi, baik melalui media elektronik maupun media lainnya, baik di lingkungan internal Indonesia maupun untuk konsumsi internasional.

2) Keberadaan Pulau Miangas sebagai bagian dari Kepulauan Nusantara haruslah tampak terurai di dalam peta geografis Indonesia dan sekaligus menjadi bagian dari program pengenalan sejarah kepualuan Nusantara di sekolah.

Nilai-nilai Budaya

1) Sejarah wilayah perbatasan Indonesia dengan negara-negara lain.

2) Semangat persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.