PULAU GALANG

SIPNOSIS

SIPNOSIS

Keberhasilan Indonesia menangani para pengungsi Vietnam yang lebih dikenal sebagai “boat people” (manusia perahu) pada periode 1975-1996 merupakan salah satu keberhasilan/ kesuksesan politik luar negeri Indonesia pada umumnya, dan khususnya di kawasan perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

Keprihatinan dan kepedulian terhadap masalah-masalah kemanusiaan termasuk para manusia perahu (pengungsi Vietnam) yang berjumlah ratusan ribu telah mendorong Indonesia berinisiatif untuk menyelamatkan mereka dari ketidakpastian yang terkatung-katung di tengah laut dan terdampar di berbagai pulau di Kepulauan Riau.

Tidak hanya sebatas upaya penyelamatan para pengungsi, tetapi Indonesia juga telah berhasil memproses pemberangkatan mereka ke negara ketiga untuk menempuh kehidupan baru.

Selain Indonesia, Thailand dan Hongkong juga memberikan responsif positif terhadap penanganan para pengungsi Vietnam.

Upaya penyelamatan yang telah dilakukan dilanjutkan dengan penyiapan atau pembekalan para pengungsi di Pulau Galang sebelum diproses pemberangkatan mereka ke berbagai negara lainnya, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Australia.

Berbagai upaya pembekalan yang dilakukan Indonesia terhadap para pengungsi Vietnam selama berada di Pulau Galang adalah pemenuhan kebutuhan akan sandang dan pangan, pemberian pendidikan yang dibutuhkan anak-anak dan keterampilan bagi orang dewasa.

Kondisi penanganan manusia perahu di Pulau Galang apabila dibandingkan dengan beberapa kamp pengungsi lainnya seperti yang terdapat di Hongkong dan Thailand, maka kamp pengungsi yang dikelola Indonesia di Pulau Galang adalah yang terbaik.

Hal ini dapat ditandai atau dilihat dengan tersedianya sarana air, listrik, jalan, dan tempat ibadah yang baik.

JUDUL

JUDUL

PULAU GALANG WAJAH HUMANISME INDONESIA

PENANGANAN MANUSIA PERAHU VIETNAM 1979-1996

PENGANTAR

Tujuan:

Setelah selesai mempelajari program ini diharapkan mereka yang memanfaatkan program ini dapat menjelaskan:

1) letak geografis pulau Galang;

2) sejarah Pulau Galang sampai menjadi Kamp Pengungsi;

3) kehidupan manusia perahu di Pulau Galang;

4) bangunan–bangunan yang didirikan untuk kepentingan para pengungsi di Pulau Galang; dan

5) peranan Indonesia, organisasi dan para tokoh dalam penanggulangan manusia perahu Vietnam.

|.

Manfaat:

Manfaat yang diperoleh mereka yang memanfaatkan konten budaya tentang Pulau Galang adalah:

1) tersedianya wahana (bertambahnya sumber belajar) untuk menelusuri proses sejarah penempatan pengungsi Vietnam di Pulau Galang;

2) meningkatnya sikap apresiatif, semangat persatuan dan kesatuan bangsa, baik di kalangan generasi sekarang maupun generasi penerus bangsa; dan

3) berlangsungnya proses pewarisan nilai-nilai sejarah dan budaya dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

|.

Jatuhnya kota Saigon tanggal 30 April 1975 menandai berakhirnya perang Vietnam dan dimulainya salah satu tragedi kemanusaian abad XX yaitu eksodus lebih sejuta orang yang meninggalkan negeri mereka dengan menggunakan perahu. Pengungsi pertama berjumlah 75 orang mendarat di Indonesia di pulau Laut dan kepulauan Natuna Utara, pada tanggal 22 Mei 1975. Selanjutnya perahu-perahu berikutnya mendaratkan pengungsi di berbagai pulau di Kabupaten Riau Kepulauan, yaitu Kepulauan Natuna, Kepulauan Anambas dan pulau Bintan. Jumlah pengungsi yang semakin bertambah yang pada awalnya diterima sangat baik oleh masyarakat pada akhirnya timbul ketegangan dengan penduduk setempat. Sebagai solusinya pemerintah mengumpulkan mereka di satu Pulau yaitu Pulau Galang sebagai kamp pengungsian.

|.

dikenal sebagai “boat people” (manusia perahu) pada periode 1979-1996. Mereka yang semula tersebar di berbagai pulau di Indonesia, akhirnya ditempatkan menjadi satu di pulau ini.

ISI

Letak Geografis Pulau Galang

Jika Anda mengunjungi Batam, sempatkan untuk melihat bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Kota Batam terletak di Pulau Batam, namun jangan dibayangkan Anda harus menyeberang laut menggunakan feri atau perahu untuk menuju ke Pulau Galang. Kini Pulau Batam, Barelang dan Galang sudah terhubung dengan jembatan, yang disebut jembatan Barelang.

Sepanjang perjalanan dari Batam menuju Galang, kita akan menikmati pemandangan yang asri di samping landmark Batam Jembatan Barelang. Pulau Galang merupakan salah satu pulau di Kepulauan Riau, yang terletak sekitar 350 m di sebelah Tenggara pulau Rempang, dan di sebelah barat Pulau Bintan.

Luas wilayah 80 Km2 sama dengan 13% Luas Singapura. Koordinat wilayah Pulau Galang: 104”14’ Bujur Timur dan 0”38’ Lintang Utara.

|.

Legenda Singkat Pulau Galang

Berdasarkan cerita yang beredar di kalangan masyarakat, Galang memiliki arti yang bermakna landasan. Pulau tersebut dikenal sebagai sebuah pulau yang memiliki potensi kayu seraya yaitu bahan dasar untuk membuat perahu atau kapal yang memiliki kualitas baik. Dikisahkan bahwa pada abad ke 16 Sultan Malaka memerintahkan pembuatan lancang (bahtera raja).

Sampailah pasukan di pulau yang memiliki banyak pohon seraya. Saat membuat kapal, datang seorang penduduk setempat yang bernama “Canang”. Namun, para pembuat kapal mengusirnya agar tidak menganggunya. “Canang“pun bersumpah bahwa lancang tersebut tidak akan bisa turun ke laut. Agar bisa turun kelaut, perlu landasan tujuh orang wanita yang sedang hamil anak pertama.

Ketujuh wanita itulah kemudian yang menjadi landasan turunnya “lancang” ke laut. Maka, selanjutnya pulau itu disebut dengan Galangan dalam arti landasan yaitu manusia dijadikan galang. Dalam perkembangannya, penyebutan pulau itu menjadi pulau Galang saja.

|.

SEJARAH PULAU GALANG SEBAGAI CAMP PENGUNGSI

Dibangun dan ditempatinya Galang oleh pengungsi Vietnam membuka sejarah baru pulau tersebut. Pulau Galang dipilih sebagai tempat pemrosesan pengungsi Vietnam ke negara ketiga. Saat itu, dengan ditempatkannya pengungsi Vietnam di Pulau Galang, maka hanya pulau Galang di kawasan kepulauan Riau yang telah menggunakan jaringan lampu dan fasilitas Rumah Sakit yang cukup modern. Keberadaan atau penampungan para pengungsi Vietnam di wilayah Kepulauan Riau dapat dibagi ke dalam 3 periode waktu, yaitu: Periode pertama pada tahun 1975-1978, sejumlah 24 orang pengungsi Vietnam mendarat di Kepulauan Riau pada tanggal 22 Mei 1975 sebulan setelah jatuhnya Saigon. Mereka tiba di Pulau Laut, ditampung di rumah-rumah penduduk setempat atau di berbagai bangunan yang disediakan oleh pemerintah daerah;

Sejarah Pulau Galang sampai menjadi Kamp Pengungsi Periode tahun 1979-1989, jumlah pengungsi Vietnam meningkat secara massif sehingga diperlukan penanganan secara khusus yaitu menempatkan mereka di sebuah pulau yakni di Pulau Galang.

Periode ketiga, setelah tahun 1989, ditetapkannya kebijakan baru (sekrening) yang sifatnya lebih ketat terhadap penampungan para pengungsi Vietnam. Dasar pertimbangannya adalah karena latar belakang mereka bermigrasi bukan lagi karena alasan politik di dalam negerinya tetapi lebih cenderung karena alasan yang bersifat ekonomi atau kebutuhan untuk mencari kehidupan yang lebih baik; memperhatikan perkembangan yang sedemikian ini, maka dilakukan kebijakan baru yang lebih ketat dalam melakukan sekrening sejak 1989.

Akhirnya Pulau Galang sebagai kamp pengungsi di tutup pada Tahun 1996.

Manusia Perahu

Kehidupan Manusia Perahu di Pulau Galang

Selama menetap di Pulau Galang, dinamika kehidupan masyarakat pun dialami oleh para pengungsi. Mereka tinggal di barak-barak.

Setiap hari, mereka mendapat makan dengan menerima ransum. Kehidupan para pengungsi diisi dengan kegiatan seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Ada pula sekelompok pengungsi yang mengisi kegiatannya dengan menerima jahitan atau membuka usaha cetak foto.

Keputusasaan mulai menghinggapi sebagian pengungsi karena ketidakjelasan nasib. Bahkan kekecewa mulai dirasakan karena teman-teman mereka sudah berangkat ke negara ketiga, sedangkan mereka masih tetap di kamp.

Akibat keputusasaan ini, beberapa pengungsi mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Diantara pengungsi juga terjadi kriminalitas.

Kriminalitas yang paling menonjol selama pengungsian adalah pemerkosaan, pencurian bahkan pembunuhan. Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh.

Oleh karena itulah sebuah penjara juga dibangun di tempat ini. Penjara ini digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal tersebut, juga untuk menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri.

Pembangunan berbagai sarana bagi pengungsi di Pulau Galang

Terdapat benda-benda peninggalan para pengungsi yang dibuat semasa proses seleksi pengungsi Vietnam di pulau Galang seperti bangkai perahu tradisional, museum, tempat ibadah berbagai agama, taman, rumah sakit, gedung perkantoran. Jika bangunan penting di kamp pengungsi Vietnam ini tidak segera diselamatkan, bukan tidak mungkin lambat laun akan hancur ditelan waktu.

Pos Penjaga

Pos penjaga terletak di bagian depan areal eks Kamp pengungsi Vietnam. Dua puluh tahun lalu, pos ini dijaga para tentara, tidak setiap orang bisa keluar-masuk.

Pos Penjaga saat ini berfungsi untuk memungut retribusi atas nama Otorita Batam untuk setiap pengunjung.

Humanity Park

Humanity Park atau ‘Sacre of Humanity’, dibangun untuk mengenang seorang gadis pengungsi Vietnam bernama Tinh Nhan Loai yang meninggal dunia akibat korban kekerasan seksual oleh pemuda pengungsi Vietnam pada tahun 1985. Karena malu, akhirnya ia bunuh diri.

Untuk mengenang peristiwa tragis itu, para pengungsi membuat Patung Taman Kemanusiaan ini.

RUMAH TAHANAN

Rumah Tahanan digunakan untuk membina para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal, seperti mencuri, pemerkosaan atau pembunuhan.

Rumah tahanan juga berfungsi untuk menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri.

Tempat Ibadah

Untuk kepentingan pengembangan dan pembinaan kehidupan kerohanian/keagamaan pengungsi dibangunlah dua bangunan Gereja Katholik yakni Ta On Duc Me Chatolic Church dan Nha To Duc Me Vo Nhiem Khatolic Church. Bangunan gereja kedua dihiasi dengan Patung Bunda Maria di bagian atas kapal pengungsi.

Bagi penganut agama Kristen Protestan dapat melaksanakan ibadah digereja tersendiri yaitu di Tinh Lanh Church.

Semua bangunan rumah ibadah terbuat dari bahan kayu, dicat warna-warni, memiliki gerbang yang besar dan artistik.

Vihara Quan Am Tu

Vihara Quan Am Tu didirikan pada Tahun 1992 untuk kepentingan pengungsi Vietnam yang beragama Budha.

Didalam Vihara, terdapat tiga patung berukuran besar dengan warna-warna yang mencolok. Di depannya terdapat patung naga raksasa yang seakan menjaga ketiga patung.

Salah satu dari ketiga patung ini adalah Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Di bawah kaki patung sang dewi, terdapat plakat yang menceritakan bahwa dewi ini dapat memberikan hoki, jodoh, keharmonisan dalam rumah tangga, kepintaran serta mengabulkan cita-cita bagi anak-anak.

Jika ingin mendapat berkat dari Dewi Guang Shi Pu Sha, pengunjung berdoa dan memohon kepada sang dewi agar berkenan mengabulkan permintaan.

Setelah selesai berdoa dilanjutkan dengan melemparkan koin ke patung dewi tersebut.

Kompleks Pemakaman Ngha Trang Grave

Kompleks pemakaman Ngha Trang Grave merupakan tempat pemakaman 500 lebih pengungsi.

Sebagian besar mereka meninggal dunia karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas.

Gedung Bekas Kantor UNHCR

Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR.

Memasuki gedung ini, kita dapat melihat foto ribuan wajah pengungsi yang pernah tinggal di pulau tersebut dan foto-foto berbagi peristiwa yang terjadi pada orang-orang Vietnam ini selama masa pengungsian.

Gedung ini, kini difungsikan sebagai kantor resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung terdapat pernak-pernik berbau Vietnam, seperti patung, miniatur rumah ibadah, dan contoh kerajinan tangan.

Rumah Sakit

Rumah sakit PMI ini didirikan pada tahun 1980 atas bantuan Australia. Tenaga medis, baik dokter maupun para medis dari Dinas Kesehatan Angkatan Laut diperbantukan untuk bertugas memberikan layanan kesehatan kepada para pengungsi di rumah sakit PMI ini.

Rumah sakit PMI juga digunakan untuk merawat inap para pengungsi yang sakit. Fasilitas kesehatan yang berupa rontgen, laboratorium untuk mengecek darah, dan balai kesehatan untuk ibu dan anak disediakan untuk kepentingan para pengungsi.

Sekolah Bahasa

Berbagai upaya pembekalan yang dilakukan Indonesia terhadap para pengungsi selama berada di Pulau Galang terutama pemberian pendidikan yang dibutuhkan anak-anak dan keterampilan bagi orang dewasa.

Pada waktu masih aktif, sekolah ini dulunya digunakan UNHCR PBB untuk meningkatkan kemampuan bahasa para pengungsi.

Pada waktu itu para pengungsi di wajibkan untuk memiliki keterampilan berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris dan Prancis.

Peranan Organisasi dan para tokoh dalam Penagan Pengungsi Vietnam

Ada beberapa lembaga yang datang ke Kepulauan Riau untuk membantu para pengungsi yaitu :

1. Palang Merah Indonesia (PMI) Peranan penting PMI yaitu memberikan fasilitas layanan kesehatan bagi para pengungsi selain rumah sakit PMI yang didirikan atas bantuan Australia tahun 1980, terdapat juga speedboat PMI yang tersandar di Tanjung Pinang digunakan bila ada evakuasi pasien dari Rumah Sakit PMI di Galang ke Tanjung Pinang. PMI juga melakukan pencegahan penyakit menular melalui pembersihan barak, penyemprotan anti malaria dan pemburuan tikus di dalam kamp.

Peranan penting PMI lainnya adalah tracing dan mailing services untuk mencari keberadaan anggota keluarganya.

2. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Di bawah sidang umum PBB tanggal 14 Desember 1950 berdiri UNHCR untuk menanggulangi para pengungsi di dunia.

UNHCR menempatkan perwakilannya di Wisma Riau, Tanjung Pinang dan juga mendanai pembangunan kamp pemrosesan pengungsi di Galang

3. International Organization for Migration (IOM) Organisasi ini dibentuk diluar PBB dibiayai oleh Amerika Serikat dan sekutunya dengan tujuan untuk memulangkan kembali para pengungsi kenegaranya. Bertugas untuk memberikan tes kesehatan pada saat kedatangan dan sebelum keberangkatan pengungsi tersebut dari pulau Galang.

4. World Vision International Dengan kapal Sea Sweep nenangani pelayanan kesehatan dan keluarga berencana serta pengangkutan pengungsi dari Jemaja ke Galang. Selain itu ada lembaga lainnya seperti WHO, World Food Program dan Cap Anamur yang membantu para korban pengungsi dari lautan, memberikan bantuan makanan dan kesehatan.

Peranan Organisasi dan para tokoh dalam Penagan Pengungsi Vietnam

Adapun tokoh-tokoh yang ikut membantu dalam penanganan pengungsi Vietnam di Pulau Galang yaitu:

1. Bernard Kouchner Seorang dokter aktivis pendiri “Medecins sans Frontieres” yang memimpin “ kapal I’ile de Lumiere” pernah berkiprah dalam perbantuan kesehatan di berbagai ladang konflik seperti Afganistan, Amerika Latin, Irlandia dan Saigon. Beliau ikut dalam menyelamatkan para pengungsi yang terapung di tengah laut.

2. Jenderal L.B. Murdani Ketua Tim Penanggulangan dan Pengelolaan Pengungsi Vietnam (P3V) tahun 1979.

3. Letnan Kolonel Kunarto Adalah Komandan Satuan Pengamanan dan Perawatan Pengungsi Vietnam pulau Galang tahun 1979/1980.

4. Kunto Wibisono Pada saat itu menjabat Panglima Daerah Angkatan Laut II di Jakarta, Kunto Wibisono adalah sosok dibalik penangulangan pengungsi Vietnam di pulau Galang merupakan salah satu orang yang merintis pembukaan dan pembangunan fisik kamp pengungsi Vietnam yang digarap dan ditata menjadi sebuah “kot a kecil tersendiri” dalam tempo enam bulan.

PENUTUP

PENUTUP

Sikap yang perlu ditumbuh-kembangkan di kalangan generasi penerus bangsa adalah sikap apresiatif yang menghargai sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa yang terdapat di berbagai penjuru tanah air.

Secara lebih khusus, sikap apresiatif dan menghargai sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa yang dimaksudan di dalam program ini mencakup:

1) Sikap bangga sebagai bangsa Indonesia;

2) Semangat persatuan dan kesatuan bangsa;

3) Semangat kemanusaian; dan

4) Meningkatkan wawasan, kewaspadaan, dan komitmen untuk membuat sejarah ke depan lebih bermartabat khususnya bagi bangsa dan negara tercinta.