Perahu Phinisi

Sinopsis

Sinopsis

Tentu kamu sudah mengetahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam keistimewaan. Kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia sangat beragam, termasuk kekayaan budayanya. Sebagai negeri dengan wilayah bahari yang luas, maka kita memiliki banyak budaya yang terkait kelautan. Pernahkah kalian mendengar tentang perahu Phinisi? Perahu kebanggaan karya suku Bugis yang dikenal sebagai pelaut handal ini memiliki kisah sejarah yang menarik. Ayo kita pelajar bersama-sama mengenai sejarah dan nilai budaya dari perahu Phinisi ini. Mengenali ragam budaya bangsa akan menjadi bekal generasi muda untuk membangun bangsa.

Pengantar

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Perahu Phinisi ini, kamu dapat:

  1. Mengetahui sejarah pembuatan Perahu Phinisi
  2. Mengenal bagian-bagian Perahu Phinisi
  3. Mengetahui fungsi Perahu Phinisi

|.

Ingatkah kamu lagu anak-anak yang mengisahkan tentang nenek moyang bangsa kita yang merupakan pelaut yang tangguh? Lagu tersebut sepertinya menceritakan mengenai suku-suku bangsa bahari di Indonesia. Salah satunya adalah suku Bugis yang bermukim di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Bulukumba.

Suku Bugis terkenal piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan nusantara maupun dunia. Perahu yang mereka gunakan adalah Perahu Phinisi yang merupakan buatan tangan dan masih dikerjakan secara tradisional. Yuk kita pelajari sejarah pembuatan perahu Phinisi, bagian-bagian perahu Phinisi, hingga fungsi dari perahu Phinisi.

Sejarah

Sejarah

Apakah kamu tahu sejarah awal pembuatan perahu Phinisi? Begini kisahnya.. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, Perahu Phinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut kisah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum pohon itu ditebang, terlebih dahulu dilaksanakan upacara khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Singkat cerita, Sawerigading berhasil memperistri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok, Sawerigading rindu kepada kampung halamannya. Dengan menggunakan perahunya yang dulu, ia berlayar ke Luwu. Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu, tiba-tiba gelombang besar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunya terdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo. Oleh masyarakat dari ketiga kelurahan tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadi sebuah perahu yang megah dan dinamakan Perahu Phinisi.

Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen Perahu Pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut, terutama di Kelurahan Tana Beru. Ketika berada di Pusat Kerajinan Perahu Pinisi di Tana Beru, para pengunjung akan berdecak kagum melihat kepiawaian para pengrajinnya membuat Perahu Phinisi. Mereka mampu membuat perahu yang sangat kokoh dan megah hanya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari nenek moyang mereka, tanpa menggunakan gambar atau kepustakaan tertulis.

Pembuatan Perahu

Tahap Pembuatan Perahu Phinisi (1)

Pembuatan Perahu Phinisi masih dilakukan dengan cara-cara tradisional. Ada perhitungan-perhitungan tersendiri yang dimiliki Suku Bugis dalam menentukan tiap tahapnya. Ada tiga tahap utama yang dilalui.

Langkah pertama dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari kayu (bahan baku). Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan yang sedang berjalan. Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle'na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle'na, yang berarti selalu mendapat rezeki.

Ada empat jenis kayu yang biasanya digunakan, yaitu kayu besi, kayu bikti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati.

|.

Tahap Pembuatan Perahu Phinisi (2)

Setelah melalui tahap pertama, maka selanjutnya kamu dapat mengikuti tahap yang kedua. Perhatikan baik-baik cara pembuatan perahu di tahap kedua ini. Ada beberapa langkah, dan ada keunikan tersendiri saat melakukannya.

Tahap kedua ini terdiri dari menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar.

Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

|.

Tahap Pembuatan Perahu Phinisi (3)

Setelah melalui beberapa langkah yang panjang dan membutuhkan waktu selama berbulan-bulan, kini kita memasuki langkah terakhir dari pembuatan perahu Phinisi. Apa saja yang menarik dari tahap terakhir ini?

Tahap terakhir adalah peluncuran perahu ke laut. Setiap tahap selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Di tahap terakhir ini, sebelum perahu Phinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan penyembelihan binatang. Jika Perahu Phinisi itu berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor sapi.

|.

Bagian-Bagian Perahu Phinisi

Anjong (segitiga penyeimbang), yang berada pada bagian depan kapal

Sombala (layar utama), yang berukuran besar mencapai 200 m

Tanpasere (layar kecil) berbentuk segitiga ada di setiap tiang utama.

Cocoro pantara (layar bantu depan).

Cocoro tangnga (layar bantu tengah).

Tarengke (layar bantu di belakang)

|.

Fungsi Perahu

Di masa sekarang ini, perahu Phinisi sebagai kapal barang berubah fungsi menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun ekspedisi yang di biayai oleh investor lokal maupun asing.

Perahu Phinisi di buat dengan interior mewah di perlengkapi peralatan menyelam, permainan air untuk wisata bahari dan awak yang terlatih dan di perkuat dengan teknik modern. Salah satu contoh kapal pesiar mewah terbaru adalah Silolona berlayar di bawah bendera Kapal Pesiar Indonesia.

|.

Jenis Perahu

Saat ini ada dua macam perahu Phinisi, yaitu :

  1. Phinisi Lamba/Lambo yaitu Phinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel.
  2. Phinisi Palari, merupakan bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamba.

Penutup

Penutup

Adat dan tradisi di Indonesia berdasarkan suku bangsa maupun daerahnya sangatlah beragam. Begitu pun dengan produk hasil budaya. Banyak produk dan tradisi yang yang masih bertahan hingga saat ini, walaupun zaman semakin modern. Salah satu tradisi daerah yang menarik dan menjadi salah satu kekayaan Nusantara adalah pembuatan dan pemanfaatan perahu Phinisi oleh suku Bugis di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Anak-anak perlu mengenal nilai budaya yang terkandung di dalamnya agar bisa diselaraskan dengan nilai masa kini. Kekayaan budaya bangsa perlu dilestarikan, sebagai jati diri bangsa Indonesia. Bagaimana caranya? Langkah-langkah kecil yang dapat kita lakukan antara lain:

  1. Mengenal kekayaan adat istiadat dan budaya bangsa
  2. Menghargai perbedaan dan kekayaan nilai budaya
  3. Meningkatkan kualitas dan mengelola budaya lokal dengan baik
  4. memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dengan arif dan bijaksana