Bangunan Cagar Budaya Pasar Ikan

Pendahuluan

Dibangun pada tahun 1631, bangunan Pasar Ikan berdiri di atas panggung beratap pada sisi timur sungai Ciliwung. Pusat perdagangan ikan pada masa kolonial ini kemudian dipindahkan ke sebelah barat sungai Ciliwung akibat pelebaran taman depan benteng (kasteel) pada 1636. Di lokasi baru ini selanjutnya dibangun dermaga. Pada tahun 1672, nelayan-nelayan yang berjualan di Pasar Ikan bukanlah orang Batavia asli Mereka datang dari daerah pantai Utara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Cirebon serta Cina.


Gambar 1 Suasana Pasar Ikan Luar Batang Sekarang
Sumber: http://blog.act.id/melihat-sejarah-luar-batang-dan-pasar-ikan


Pasar Ikan Luar Batang merupakan tempat para nelayan berjualan hasil tangkapannya. Para pembeli umumnya adalah pemilik rumah itu sendiri. Sejak pagi hari, Pasar ikan ini sudah penuh sesak oleh para pembeli, padahal aktifitas jual beli ikan ini biasanya dimulai pukul 10.00 wib pagi hingga pukul 13.00 wib. Nelayan datang lagi ada pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB aktifitas jual beli kembali dilakukan, hingga akhirnya dibersihkan pada pukul 17.00 WIB.

Ikan yang tidak laku kemudian dibawa ke pasar malam atau pasar Borong yang terletak di seberang sungai. Ikan-ikan yang disenangi orang Batavia dan banyak dijual di Pasar Ikan adalah ikan barong, ikan kakap, ikan kerapu ikan kurau, dan aneka jenis siput laut. Tahun 1846 pasar ini dipindahkan ke gedung yang terletak di seberang penginapan (Standsherberg) sampai tahun 1935 hingga sekarang.

Pasar Ikan dibangun pada tahun 1920 masa kolonial Belanda oleh perusahaan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) oleh seorang arsitek bernama Ir. G. Jobst. Pada saat ini Pasar ikan dikelola oleh PD. Pasar Jaya. Dahulunya Pasar Ikan (Vischmarkt) bernama Pasar Pelelangan Ikan, namun sekarang lebih dikenal dengan nama Pasar Ikan.

Dalam perkembangannya, kawasan permukiman di dekat pelabuhan Sunda Kelapa, muncul akibat adanya pelabuhan tua yang sudah digunakan sejak zaman kolonial dulu. Kawasan ini kemudian makin berkembang pesat dan ramai. Pada tahun 1739, seorang tokoh di kampung ini membuat sebuah mushola bangunan ini kemudian diperluas menjadi masjid untuk kepentingan ibadah dan kegiatan sosial di tengah kampung ini.

Di dalam masjid ini ada sebuah makam keramat salah satu khatib keturunan Arab yang menetap lama di Kampung Luar Batang, yakni Sayid Husein bin Abubakar bin Abdilah Al-Aydrus (1758). Sampai hari ini, walaupun pemukiman Luar Batang sudah digusur, masjid ini masih menjadi salah satu wisata religius Kampung Luar Batang.

Indikator

Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat:

  1. Memahami nilai sejarah pusat perkembangan dan peradaban Indonesia, khususnya Kota Jakarta
  2. Melestarikan dan menjaga aset sejarah cagar budaya Indonesia, khususnya Kota Jakarta
  3. Meningkatkan kebanggaan dan kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa Indonesia

Mengenal

Pasar ikan merupakan titik awal perkembangan kota Jakarta. Peranannya yang sangat penting, dimulai pada abad ke-16 sebagai pelabuhan kerajaan Tarumanegara dan pelelangan ikan. Keberadaanya telah melewati perjalanan waktu yang diisi dengan campur tangan berbagai bangsa, seperti Portugis, Belanda dan Inggris. Tak lepas pula upaya-upaya kerajaan nusantara (Demak) untuk menguasainya. Belanda kemudian membangun gudang-gudang Nassau dan Mauritius pada 1617, yang pada masa selanjutnya menjadi benteng Jakarta (Fort of Jacarta). Pada perkembangan selanjutnya kawasan Pasar Ikan menjadi pelabuhan utama urat nadi perekonomian yang sangat penting. Namun kemudian kegiatan pendaratan ikan melalui pelabuhan Sunda Kelapa ditutup, dan dihentikan aktivitasnya melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 268 Tahun 1977, sehingga tempat pelelangan ikan tidak lagi melakukan bongkar muat dan pelelangan ikan dari jalur laut.


Gambar 2 Suasana Pasar Ikan Luar Batang Sekarang
Sumber: http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/n
!@file_skripsi/Isi2325493018943.pdf

Lokasi Cagar Budaya

Wilayah Jakarta Utara terletak di muara Sungai Ciliwung dan merupakan pusat dari kegiatan masyarakat dari abad ke-5 sampai saat ini. Hal ini dikarenakan letaknya yang strategis pada pesisir pantai menjadikannya sebagai pintu masuk utama Jakarta. Inilah alasan mengapa banyak bangunan pemerintahan dan gudang-gudang yang dibangun di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Kawasan Jakarta Utara pada masa Kolonial Belanda dijadikan sebagai pusat kota dan sekarang dikenal sebagai kawasan Kota Tua.

Pasar Ikan Luar Batang terletak di Jalan Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Bangunan ini didirikan di atas lahan seluas 27.749 m2. Wilayahnya berbatasan dengan kampung padat penduduk Luar Batang dan Pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah utara, di sebelah Selatan berbatasan dengan Menara Syahbandar, pada bagian Timur berbatasan dengan Muara Sungai Ciliwung, dan di bagian Barat berbatasan dengan Museum Bahari.

Sejak adanya pelebaran taman di depan benteng (kasteel) tahun 1636, pasar tersebut dipindahkan ke sebelah barat Sungai Ciliwung dan dibangun sebuah dermaga. Dua kanal yang berbatasan dengan pasar ini adalah Maleischegracht dan Kali Besar, keduanya penuh dengan berbagai jenis perahu dan rakit yang membawa ikan segar dalam keranjang.

Animasi Peta Lokasi Pasar Ikan

Sumber: http://peta-jalan.com/jl-jalan-pasar-ikan-penjaringan-jakarta/

Sejarah Pembangunan Pasar Ikan


Gambar 5 Museum Bahari
Sumber: http://update.ahloo.com/2016/04/11/

Kawasan Pasar Ikan merupakan salah satu kawasan bersejarah di Jakarta yang berada pada daerah pesisir Kecamatan Penjaringan dan letaknya di muara Sungai Ciliwung. Pada saat itu Pasar Ikan merupakan daerah pelabuhan penting di Jawa Barat karena digunakan sebagai pelabuhan utama kerajaan Pakuan Pajajaran dan Batavia. Pasar Ikan juga pernah menjadi lokasi peperangan antara kerajaan lokal, yaitu Kekaisaran Portugis dan Hindia Belanda karena daerah Muara Angke (daerah pantai Penjaringan, hanya untuk sebelah barat Batavia lama) dianggap sebagai wilayah yang strategis. Pelabuhan Sunda Kelapa juga diperebutkan dari kekuasaan Portugis oleh Kesultanan Banten dan Kesultanan Demak.

Pada masa dahulu, Kelurahan Administrasi Penjaringan merupakan area berlabuhnya kapal pada era kolonial Belanda. Banyak gudang-gudang dibangun di kawasan ini sejak abad ke-17 dan beberapa masih berdiri hingga sekarang. Salah satunya adalah pelabuhan utama dari jaringan perdagangan rempah-rempah komersial di Asia yang sekarang dijadikan sebagai Meseum Bahari.


Gambar 6 Pasar Ikan
Sumber: http://www.jakarta.go.id/web/system/jakarta2011/public/images


Sejak tahun 1672, nelayan-nelayan yang berjualan di Pasar Ikan bukan orang Batavia, Para pendatang ini berasal dari daerah pantai utara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Cirebon, sehingga mereka dinamakan “orang-orang wetan”. Orang-orang Cina juga berjualan di pasar ini dan memiliki tempat khusus untuk berjualan sendiri. Mereka wajib membayar 2 (dua) Rijedaalders kepada Kompeni sebagai sewa tempat tersebut.

Pada masa tersebut, beberapa desa kemudian muncul selama era Kolonial Belanda. Beberapa desa ini terletak di pelabuhan Batavia yang pada masa selanjutnya merupakan cikal bakal Kampung Luar Batang sebagai tempat tinggal mereka sementara di Pasar Ikan. Kehidupan nelayan didaerah tersebut penuh dengan penderitaan, karena hasil tangkapan ikan yang mereka dapatkan dijual ke seorang tuan tanah dengan harga yang sangat minim. Selain itu, daerah ini juga kurang memenuhi syarat kesehatan dan sering terjadi wabah, sehingga angka kematian nelayan sangat tinggi.

Pendiri Pasar Ikan


Gambar 7 Pasar Luar Batang
Sumber: http://pembaca.harianterbit.com

Pasar Ikan dibangun pada tahun 1920 pada masa Belanda oleh perusahaan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) oleh seorang arsitek bernama Ir.G.Jobst. Pada saat ini Pasar ikan dikelola oleh PD. Pasar Jaya. Dahulunya bernama Pasar Pelelangan Ikan, namun sekarng lebih di kenal dengan nama Pasar Ikan. Sejak tahun 1672, Pasar Ikan sudah tidak lagi diisi oleh nelayan yang berasal dari Batavia, mereka yang berjualan datang dari berbagai wilayah pantai utara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Cirebon. Orang-orang dari Cina pun juga berjualan di pasar ini.

Fungsi Pasar Ikan

Pasar Ikan Luar Batang berfungsi sebagai pasar pelelangan ikan hasil tangkapan laut. Pasar yang dibangun pada tahun 1920 ini bisa dikatakan sebagai pusat kegiatan pelelangan atau pemasaran ikan di Jakarta sejak tahun 1920 sampai tahun 1975. Sejak ditutup pada tahun 1975 hingga saat ini, status pasar ikan berubah fungsi menjadi Pos Retribusi Pemasaran Ikan.

Dahulunya Pasar Ikan dibuka dua kali sehari dari pukul 10.00 wib sampai 13.00 WIB siang, Pada pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB digunakan oleh pengelola untuk membersihkan tempat berjualan ikan, dan kemudian dibuka kembali di sore hari sejak pukul 15.00 WIB sampai 17.00 WIB. Ikan yang dijual biasanya dibawa oleh nelayan dari Cirebon (Wetaners). Kebanyakan para nelayan tersebut bukanlah penduduk dari Jakarta, walaupun mereka tinggal sementara di daerah sekitar Luar Batang.

Pasar ikan Luar Batang saat ini mulai beroperasi pukul 06.00 WIB - 20.00 WIB dan dikelilingi oleh pedagang kios di depan area pasar ikan


Gambar 8 Pasar Luar Batang
Sumber :http://www.pasarjaya.co.id

Struktur Bangunan

Arsitektur yang terdapat pada pasar ikan bergaya tradisional dengan klasifikasi bangunan klasifikasi
A. Letaknya tepat di belakang Menara Syahbandar Museum Bahari di Jalan Pakin.

ANIMASI Kawasan Sekitar Pasar Ikan

Sumber: http://daytimesarch.blogspot.co.id/

Kawasan pasar Ikan berdampingan dengan Museum Bahari dan Menara Syahbandar. Jika dilihat dari pencitraan tampak atas, terlihat jelas denah lokasi Pasar Ikan dan Museum Bahari.

Pada masa kini, kawasan pasar ikan ini sudah tidak digunakan sebagai tempat jual beli ikan. Masyarakat setempat memilih memanfaatkannya menjadi pasar menjajakan oleh-oleh bagi wisatawan yang datang berkunjung ke Museum Bahari. Selain itu, di pasar ini juga dijual peralatan berlayar serta menjaring ikan. Ikan yang hanyalah ikan dalam bentuk kering, atau disebut juga sebagai ikan asin.

Untuk bangunan yang diberi tanda melingkar berwarna ungu merupakan bangunan kosong yang saat ini sudah tidak berfungsi lagi. Pada bagian dalam kawasan hanya terdapat kios-kios yang menjual kebutuhan sehari-hari serta menjual ikan kering (ikan asin).

Nilai-nilai Budaya


Gambar 9 Perahulu nelayan sedang bersandar
Sumber:http://nisa-arsitek.blogspot.co.id/

Pasar Ikan Luar Batang merupakan salah satu Cagar Budaya yang dimiliki Kota Jakarta yang bernilai sangat penting. Bangunan bersejarah ini merupakan saksi bisu pertumbuhan aktivitas perekonomian masyarakat pada masa kolonial Belanda. sehingga kemudian kawasan ini dikenal sebagai “Pasar Ikan”.

Jika dikaji dari nilai historisnya, sebetulnya memang kawasan Luar Batang atau Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara ini punya sejarah yang panjang bagi perkembangan Kota Jakarta, atau yang sebelumnya dikenal sebagai Batavia. Pasar Ikan, atau Kampung Luar Batang, ini adalah tembok kota bagian Utara Batavia. Ribuan kapal datang setiap harinya dari Eropa dan Asia menuju Batavia untuk berdagang rempah, kain, sutra, keramik dan bermacam barang dagangan lainnya komoditas utama perdagangan pada sekitar abad 16 sampai dengan abad 19.

Kota Batavia pada masa lalu adalah Kota Bandar Utama, Kota Bandar atau kota pelabuhan ini jadi satu titik paling sentral yang menghubungkan ekonomi seluruh Pulau Jawa. Batavia merupakan penghubung perairan nusantara dari barat ke timur.

Perkembangan Kota Batavia yang demikian pesat kemudian menjadikan Batavia penuh dengan bermacam masyarakat dari berbagai bangsa. Pendatang dari Eropa, pribumi kaya, Cina, atau Arab pun mendiami pemukiman. Bangsa-bangsa ini bermukim secara berkelompok, hingga kemudian terciptalah kantong-kantong pemukiman arab, pemukiman cina atau pecinan, kawasan india, dan sebagainya

Status Bangunan

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa suatu benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan menjadi Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya, apabila memenuhi kriteria berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka Bangunan Pasar Ikan DKI Jakarta dapat dikategorikan sebagai Cagar Budaya. Penetapannya dikukuhkan melalui Keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tanggal 29 Maret 1993 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 237/M/1999 tanggal 4 Oktober 1999. Bangunan ini juga telah terdaftar dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor registrasi RNCB.19991004.02.0000063. Pengelolaannya saat ini berada di bawah kewenangan Dinas Kebudayaan Provinsi Yogyakarta.


Gambar 8 Pasar Luar Batang
Sumber: http://konfrontasi.com

Pelestarian Bangunan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, disebutkan bahwa pelestarian Cagar Budaya bertujuan untuk melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia, meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya, memperkuat kepribadian bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional. Pelestarian yang dimaksud bisa melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya. Pelestarian ini menjadi tanggung jawab bersama dan harus dilakukan secara sinergis antara Pemerintah, Pemerintah Daerah (dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi DKI Jakarta), serta masyarakat dan berbagai pihak terkait lainnya.

Pelestarian Bangunan Pasar Ikan dapat dilakukan melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Upaya tersebut bisa berupa revitalisasi atau menghidupkan kembali fungsi lamanya. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah melalui adaptasi dengan menyesuaikan fungsi bangunan melalui penambahan ruang-ruang baru, namun tetap selaras dengan prinsip-prinsip pelestarian seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Hal ini sangat perlu segera dilakukan, mengingat hampir 70% dari keseluruhan bangunan di Pasar Ikan sudah tidak difungsikan lagi. Bahkan, banyak bangunan lain yang kosong dan terabaikan.


Gambar 11 Pasar Ikan Tahun 1940-an
Sumber: http://www.jakarta.go.id/jakv/



Gambar 12 Pasar Ikan lama sebelum di pugar oleh Pemprov DKI Jakarta
Sumber: http://www.jakarta.go.id/web/system/jakarta2011/public/images



Gambar 13 Pasar Ikan saat ini setelah di bangun oleh Pemprov DKI Jakarta
Sumber: http://www.jakarta.go.id/jakv1/application/


Penutup

Sebagai generasi penerus, sikap yang perlu ditanamkan sebagai upaya pelestarian cagar budaya Pasar Ikan, yaitu:

  1. Memelihara dan melindungi tempat bersejarah agar tetap lestari karena kawasan Pasar Ikan hampir 75% tidak terpelihara dengan baik
  2. Menjadi rekomendasi bagi para pihak berwenang terkait pengelolaan dan pelestarian Bangunan Pasar Ikan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

Manfaat yang bisa didapatkan dengan mengetahui dan memahami sejarah Pasar Ikan adalah dapat menumbuhkan rasa kebanggan terhadap masa kejayaan bangsanya dalam sektor perikanan sebagai komoditas perdagangan dan perekonomian serta terciptanya rasa menghargai dan rasa ingin melestarikan peninggalan budaya khususnya Kota Jakarta.


Tautan Terkait:

  1. http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/n!@file_skripsi/Isi2325493018943.pdf
  2. http://eprints.undip.ac.id/7555/1/PASAR_IKAN_DAN_PASAR_FESTIVAL_IKAN.pdf
  3. http://news.detik.com/berita/3183114/melihat-foto-pasar-ikan-luar-batang-tempo-doeloe
  4. http://www.jakarta.go.id/v2/news/2010/01/Pasar-Ikan#.WQfB6dxS3IU
  5. http://www.jakarta.go.id/v2/news/2016/05/penataan-pasar-ikan-dki-gandeng-arkeolog#.WQfB5txS3IU
  6. http://www.jakarta.go.id/v2/encyclopedia/detail/3510/Vischmarkt, diakses 5 Mei 2017
  7. http://daytimesarch.blogspot.co.id/
  8. https://ndangcerung.wordpress.com/2016/04/26/angkutan-umum-luar-batang-yang-panas-ngentang-ngentang-dan-es-palu-buntung-yang-menyegarkan/
  9. http://www.beritajakarta.id/read/39958/pemugaran-gedung-cagar-budaya-pasar-ikan-dimulai-2017#.WQYKkNxS3IU
  10. http://www.beritajakarta.id/read/5438/gedung-cagar-budaya-pasar-ikan-memprihatinkan#.WQYRPtxS3IU
  11. https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_bangunan_dan_struktur_kolonial_di_Jakarta
  12. http://peta-jalan.com/jl-jalan-pasar-ikan-penjaringan-jakarta/
  13. http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/n!@file_skripsi/Isi2325493018943.pdf
  14. http://news.detik.com/berita/3183114/melihat-foto-pasar-ikan-luar-batang-tempo-doeloe
  15. https://konservasidasciliwung.wordpress.com/ciliwung-tempoe-doeloe/galeri-foto-tempo-doeloe-3/
  16. https://id.pinterest.com/pin/515240013593691554
  17. http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/n!@file_skripsi/Isi2325493018943.pdf
  18. http://www.jakarta.go.id/web/system/jakarta2011/public/images/encyclopedia/3ce8a38c179e50f9110fe607bb99c852.jpg
  19. http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/n!@file_skripsi/Isi2325493018943.pdf
  20. http://www.jakarta.go.id/jakv1/application/public/download/bankdata/Dokumentasi_Undian_Lapak.pdf
  21. https://news.files.bbci.co.uk/vj/live/idt-images/image-slider-museumbahari_exterior_Indonesian/museum-bahari-exterior---before_6j2nx.jpg
  22. https://3.bp.blogspot.com/-3b_Tog_MyYg/WKIBU_bG_TI/AAAAAAAALKY/1VTbU96MZV8iou767N5-1tLPEbiTsOKjQCLcB/s1600/IMG_7060.JPG
  23. http://sp.beritasatu.com/media/images/original/20160330174434174.jpg

Tim

Penulis    :    Irwan Kustiawan
Pengkaji Materi    :    Shalihah Sri Prabarani
Pengkaji Media    :    Syarif Hidayatullah