Situs Bawomataluo (Nias)

SINOPSIS

SINOPSIS

Nias memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satu desa adat yang cukup popular di Pulau Nias adalah Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan. Pemukiman Bawomataluo mempunyai nilai yang sangat tinggi yang bersifat universal yang dapat dilihat dari budaya dan lingkungannya yang masih utuh dan terjaga.

Oleh karena itu Pemukiman Bawomataluo memiliki potensi untuk dijadikan Word Heritage sesuai dengan kriteria dalam Operational Guidelines for the Implementation of the Word Heritage Convention. Kehidupan di Desa Bawomataluo masih sangat asli, lengkap dengan tradisi-tradisinya, seperti rumah adat, tradisi lompat batu, tarian perang, dan budaya peninggalan megalitikum.

Kali ini kita akan mengenal lebih jauh tentang Situs Bawomataluo

Perkampungan di Situs Bawomataluo

Pengantar

Tujuan

Setelah membaca topik Situs Bawomataluo ini diharapkan dapat: ·

|.

Situs Bawomataluo (Nias)

Situs Bawomataluo (Nias)
Kali ini kita akan berkunjung ke Situs Bawomataluo di Nias. Pernahkah kalian mengunjungi Situs Bawomataluo di Nias? Apa yang kamu ketahui tentang kawasan Situs Bawomataluo di Nias?

|.

Ada yang tahu dimana tepatnya lokasi Situs Bawomataluo (Nias)?

Peta PulauNias
Perkampungan Bawomataluo berlokasi di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, provinsi Sumatera Utara. Luas areal ± 5 Ha, dengan ketinggian 270 meter di atas permukaan laut. Lintang dan bujur atau koordinat UTM : 00º 36’ 831” LU dan 097º 46’ 173” BT

|.

Keadaan Geografis

Bagaimana keaadaan geografisnya?

Perkampungan Bawomataluo

Perkampungan Bawomataluo berada pada ketinggian 270 meter di atas permukaan laut. Perkampungan ini, berada di atas perbukitan sangat aman dari ancaman gelombang tsunami, meskipun jaraknya dari laut hanya 4 km.

Untuk masuk ke dalam kompleks rumah ini melalui tangga beton yang menyerupai punden berundak-undak dengan jumlah anak tangga teras pertama 7 buah sedangkan teras kedua berjumlah 70 buah. Rumah-rumah ini saling berhadapan dengan jarak 4 meter. Pada bagian tengah kompleks terdapat halaman yang terbuat dari susunan batu yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat dan ritual.

|.

Waktu Berdirinya Situs Bawomataluo (Nias)

Apakah kamu tahu kira-kira kapan waktu dibangunnya Situs Bawomataluo (Nias) ini?

Perkampungan Bawomataluo
Tidak diketahui kapan berdirinya situs Bawomataluo, namun jika dilihat dari peninggalan bebatuan yang ada diperkirakan berumur ribuan tahun yang lalu. Sedangkan Pemukiman Bawomataluo diperkirakan dibangun pada abad ke-18

ISI

sejarah situs bawomataluo ?

Bagaimana sejarah situs bawomataluo ?

Dalam bahasa setempat, Bawomataluo berarti Bukit Matahari. Situs ini merupakan perkampungan tradisional yang pada masa lalu merupakan bagian dari rangkaian upacara dalam tradisi megalitik yang sampai saat ini masih dapat disaksikan sisa peninggalan dan tradisi budayanya. Perkampungan Bawomataluo merupakan pemukiman semi makro yang terletak di atas bukit datar dengan orientasi tenggara – barat laut. Megalitik-megalitik di Bawomataluo terbagi menjadi megalitik yang diletakkan dalam posisi mendatar (horizontal) yang disebut daro-daro dan yang diletakkan dalam posisi tegak (vertikal). Megalitik dalam posisi vertikal disebut dengan naitaro.

|.

Menuju Kompleks Rumah Tradisional Bawomataluo, harus melalui tangga naik di sebelah Utara yang diapit oleh patung berkepala harimau. Pada teras tangga pertama terdapat satu buah batu berbentuk tong berada sebelah kanan tangga dengan nama Niotumba yang disimboliskan sebagai tabur beras dan 2 buah meja batu (daro-daro) sebelah kiri sebagai tempat duduk, serta tiang batu sebagai tempat meletakkan topi raja.

Pada tangga pertama ini juga terdapat hiasan patung kera sebanyak 2 buah (kiri dan kanan). Setelah menaiki anak tangga tersebut, terdapat pintu gerbang yang diapit oleh 2 buah batu tegak yang oleh masyarakat setempat disebut "Batu baluse" yang berbentuk pipih persegi empat dengan pola hias sulur florasistis yang menonjol dan perisai 2 buah. Di samping batu baluse terdapat batu bulat senbanyak 2 buah yang disebut dengan lasara yang diyakini sebagai pelindung dan pemberi kekuatan pada rumah mereka.

|.

Rumah Raja (Kepala Suku)

Rumah Raja (Kepala Suku)

Rumah Raja (Kepala Suku) yang berbentuk panggung berdenah segi empat dengan pola huruf U, dengan ukuran 22 x 12 m, serta tinggi kurang lebih 30 m. Rumah tersebut memiliki pintu masuk pada sisi tenggara, dan tangga masuk berada di bawah kolong rumah dengan jumlah anak tangga 7 buah.

Rumah ini ditopang oleh 70 tiang tegak berbentuk bulat dengan diameter 85 cm dan 52 buah tiang penyangga miring yang berbentuk bulat dengan diameter 70 cm.

Atap rumah terbuat dari seng dan memiliki tolak angin bersusun 5. Bagian depan atap terdapat tiang bubungan dan 2 buah lobang yang merupakan bagian dari atap tersebut yang berfungsi sebagai jendela.

Ruangan di bagian dalam rumah terdiri dari ruang yang telah disekat-sekat, ruang depan sebagai ruang tamu, ruang tengah terdiri dari dapur dan ruang untuk menyimpan barang- barang serta terdapat ruang permaisuri. Ruang depan merupakan ruang terbuka dengan tempat duduk dari papan kayu yang dibuat bertingkat.

|.

Bagian-Bagian Rumah Raja

Rumah Raja (Kepala Suku)
Bagian lantai Rumah Raja terbagi tiga bagian. Lantai I (terasI) merupakan tempat berkumpul rakyat biasa, teras II adalah tempat duduk tamu-tamu raja, dan teras III merupakan tempat duduk para ketua-ketua adat (siila) serta teras IV (paling atas) merupakan tempat duduk raja bilamana dilaksanakan musyawarah atau upacara-upacara pesta dalam kampung ini. Dihadapan tempat duduk raja terdapat sebuah tiang pembantu yang terletak di tengah bagian depan ruang yang berbetuk payung dengan pola hias tumpal, lingkaran memusat dan lambang tersebut oleh masyarakat Nias disebut Holo-Holo (tanda kebesaran rumah raja). Di ruang depan masih terdapat pola hias yang dipahat dengan bentuk perahu nelayan, ikan, buaya dan kera yang menggantung, singgasana raja dan permaisuri lengkap dengan payung kebesarannya, pola hias kalung raja dan permaisurinya juga masih terdapat pola hias burung elang.

|.

Tradisi Megalitik Pada Perkampungan Tradisional Bawomataluo

Rumah Raja (Kepala Suku)

Di dalam kompleks ini terdapat beberapa jenis peninggalan tradisi megalitik dan yang paling besar adalah yang terdapat di hadapan rumah raja. Pada pintu gerbang atau pada sisi tenggara terdapat jalan masuk ke rumah raja diapit oleh 2 buah meja batu berbentuk perahu dengan ukuran panjang 346 cm, lebar 194 cm, tebal 39 cm, dan memiliki ornamen berupa bunga, sulur daun, dan manusia dalam posisi telungkup.

Selain itu terdapat meja batu berbentuk bulat yang ditopang oleh empat buah tiang batu berbentuk pilar dengan ukuran tinggi 134 cm dan diameter 120 cm. Meja batu yang berbentuk perahu berfungsi sebagai tempat upacara peringatan meninggalnya raja pertama dan pada sisi kanan (barat daya) merupakan tempat upacara meninggalnya raja kedua, sewaktu-waktu roh raja menjelma kembali dan duduk di meja batu tersebut untuk menengok anak cucunya

|.

Peninggalan megalit yang ada di depan rumah raja ini antara lain :

Peninggalan megalitik

1. Batu Nitaruo

Batu ini berbentuk segi empat pipih berukuran tinggi 500 cm, panjang 60 cm, dan lebar 40 cm, yang diletakkan di kiri dan kanan jalan masuk rumah raja, sebagai lambang kebangsawanan.

2. Nitaruo Niwoli-woli

Batu ini seperti batu tegak yang pada bagian atasnya berbentuk melingkar seperti tunas pakis yang melambangkan wanita, dan merupakan pasangan dari batu Nitaruo.

3. Batu segi empat pipih polos

Batu ini berukuran tinggi 180 cm, lebar 60 cm, tebal 20 cm, berjumlah empat buah

|.

Meja batu dan ornamen disekitarnya

4. Meja batu Meja ini berjumlah 2 buah yang bentuk ujungnya menjorok ke luar menyerupai kapal, yang diganjal dengan empat buah balok kayu. Batu ini di letakkan di sebelah kiri dan kanan jalan masuk rumah raja, dengan ukuran masing-masing panjang 404 cm, lebar, 21 cm, dan tinggi 60 cm. Pada batu ini terdapat ornamen berupa gambar manusia menangkap ikan dan kombinasi dengan hiasan sulur-suluran, gambar orang memegang tas dan senjata perang serta gambar yang melambangkan perhiasan. Disebelah kiri hiasan menyerupai jangkar kapal dan gambar orang sedang menimbang. Selain itu juga masih terdapat dua buah meja batu yang bentuk dan ukurannya bervariasi antara lain :

|.

Meja batu dan ornamen disekitarnya

5. Batu Datar

Batu ini berbentuk menyerupai kapal, yang diletakkan langsung di atas tanah sebanyak 3 buah dengan ukuran panjang 250 cm, lebar, 80 cm dan tinggi 60 cm.

6. Nifotakula

Nifotakula adalah batu tegak yang pada ujung atas berbentuk bulat sebagai tempat menyangkutkan topi raja yang terletak di sebelah kiri jalan masuk rumah, dengan diameter 25 cm, dan tinggi 190 cm.

7. Tangga Batu

Tangga batu adalah sebuah tangga menuju Balai Adat dengan bentuk bulat panjang bercabang sebagai tempat pijakan kaki

|.

Batu Lompat

Tinggalan megalitik ini juga terdapat di depan rumah-rumah tradisional yang lain di dalam kompleks ini seperti :

|.

Tradisi Lompat Batu

Tradisi Lompat Batu

Tradisi melompat batu atau yang biasa disebut oleh orang Nias sebagai fahombo batu adalah pada mulanya dilakukan oleh seorang pemuda Nias untuk menunjukan bahwa pemuda yang bersangkutan sudah dianggap dewasa dan matang secara fisik. Lebih jauh dari itu bila sang pemuda mampu melompati batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan 40 cm dengan sempurna maka itu artinya sang pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya samu’i mbanua atau la’imba hor, jika ada konflik dengan warga desa lain.

Lompatan ini harus dilakukan oleh yang ahli dengan banyak latihan, karena jika gagal lompat atau salah teknik mendarat, bisa mengalami cedera kaki. Di masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing, yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

|.

Tari Perang

Tari Perang

Tari Perang yang disebut Tari Fataele tidak bisa dipisahkan dengan tradisi Lompat Batu Nias, karena lahirnya berbarengan dengan tradisi Homo Batu. Dahulu kala Suku Nias sering berperang antarkampung. Biasanya pemicu perang adalah perebutan lahan atau bahkan merebut kampung orang lain. Dalam menarikan tarian ini, penari mengenakan pakaian warna warni terdiri dari warna hitam, kuning dan merah, dilengkapi dengan mahkota di kepala. Layaknya kesatria dalam peperangan penari juga membawa Tameng, pedang dan tombak sebagai alat pertahanan dari serangan musuh. Tameng yang digunakan terbuat dari kayu bebentuk seperti daun pisang berada di tangan kiri yang berfungsi untuk menangkis serangan musuh. Sedangkan pedang atau tombak berada di tangan kanan berfungsi untuk melawan serangan musuh. Kedua senjata ini merupakan senjata utama yang digunakan kesatria nias untuk berperang.

Ketika dipertunjukkan prosesi tarian ini dipimpin seorang komando layakya prosesi dalam perang yang dipimpin oleh seorang panglima. Kemudian dia akan mengomando penari untuk membentuk formasi berjajar panjang yang terdiri dari empat jajar. Posisi komando berada di depan menghadap kearah penari. Tarian kemudian dimulai dengan gerakan kaki maju mudur sambil dihentakkan ke tanah dan menerikkan kata-kata pembangkit semangat. Makna gerakan ini adalah kesiapan pasukan untuk maju ke medan perang dengan penuh semangat kepahlawanan. Kemudian diikuti dengan formasi melingkar yang bertujuan untuk mengepung musuh, setelah musuh terkepung para kesatria akan dengan mudah untuk melumpuhkan mereka.

Gerakan tari ini sangat dinamis, hentakan kaki yang diiringi oleh musik dan gerakan mengayunkan tombak dan pedang menggambarkan semangat dari para pejuang dalam mempertahankan kampung mereka dari serangan musuh. Tidak hanya itu saja, suara yang dikelurkan oleh para penari juga merupakan ekspresi ketangkasan dan kepahlawanan para kesatria.

|.

Pelestarian

Setelah melihat nilai sejarah yang terdapat pada Situs Bawomataluo (Nias), menurut kamu upaya pelestarian seperti apa yang sebaiknya kita lakukan? Program pelestarian Situs Bawomataluo (Nias) yang bisa dilakukan yaitu:

|.

Nilai-nilai Budaya

Nilai-nilai Budaya yang dapat diambil yaitu:

Penutup

Sikap apa saja yang perlu teus ditumbuhkan pada generasi muda sekarang?

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya yang terkandung dalam Situs Trowulan yaitu:

Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut:

Referensi: