Ni Ketut Reneng

Pendahuluan

Pendahuluan

Ni Ketut Reneng

Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia dengan ibukota Denpasar dan dikenal dengan sebutan Pulau Dewata. Tidak hanya keindahan daerahnya saja yang menarik bagi wisatawan namun juga keaneka ragaman kesenian serta kebudayaan yang ada di Bali pun menarik untuk dikenal lebih jauh oleh para wisatawan. Keindahan kebudayaan yang dimiliki oleh Bali antara lain seni lukis, seni pahat, seni kerajinan, seni sastra, seni suara, dan seni tari.

Ni Ketut Reneng merupakan seorang legenda seniwati tari berasal dari Bali. Bakatnya di bidang seni tari tradisional membuat ia dikenal hingga mancanegara. Keahlian dia dalam menari membuat seni tari tradisional Bali memukau banyak orang tak terkecuali turis-turis mancanegara sehingga membuat mereka ingin belajar menari. Bakat dan keahlian Ketut Reneng dalam menari membuat tari tradisional daerah ini terangkat dan terekspos sehingga mendapatkan apresiasi.

Sejarah

Sejarah

Ni Ketut Reneng merupakan seorang seniman tari asal Bali yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk melestarikan kesenian tari tradisional Bali. Ni Ketut Reneng lahir di Kedaton kurang lebih pada tahun 1909 dari pasangan suami istri Ni Wayan Sempok dan I Wayan Winter yang berasal dari masyarakat biasa. Kedua orang tua Ni Ketut Reneng meninggal sejak Ni Ketut Reneng masih kecil sehingga Ni Ketut Reneng tak pernah tahu siapa orang tuanya. Semenjak kematian kedua orang tuanya beliau mengabdikan dirinya di Geria Punia, kediaman seorang pendeta. Di sana dia mempelajari beberapa keahlian seperti bagaimana menjadi seorang pembantu yang baik, bagaimana membuat sesaji, menari, dan main gamelan. Keahlian ini kemudian berguna ketika dia menari di pura.

Sebagaimana umumnya masyarakat Bali, kehidupan Ni Ketut Reneng juga tidak lepas dari kegiatan menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Ni Ketut Reneg juga merupakan salah satu dari pencipta tarian khas Bali yaitu tari Pendet. Bersama I Wayan Rindi mereka memutuskan untuk membuat satu macam tarian dengan mengambil pakem tari Pendet Wali sebagai roh tariannya. Tarian ini sekarang digunakan oleh masyarakat bali untuk menyambut tamu yang datang ke daerah mereka.

Ni Ketut Reneng

|.

Sejarah

Perundingan yang begitu alot antara dua orang pelaku tari terkemuka, adalah kesepakatan untuk menamai tarian baru itu dengan nama Tari Pendet Pujastuti. Kurang lebih mengandung arti sebagai lambang penyambutan para Dewata yang turun ke alam dunia. Penyambutannya diperagakan di rumah peribadatan umat Hindu. Sementara terma pendet, boleh disebut sebagai bentuk persembahan dalam bentuk tarian upacara. Pendet dapat diperankan oleh setiap orang; mulai dari pemangku pria dan wanita, kaum wanita, sampai gadis desa. Proses pengajarannya pun begitu sederhana, yakni cukup dengan mengikuti gerakan yang jarang dilakukan secara banjar-banjar. Seumpama para gadis muda yang cukup mengikuti gerakan para wanita yang lebih senior dan mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi tari "ucapan selamat datang" yang ditujukan terhadap setiap tamu dari mancanegara yang sengaja menikmati eksotisme Pulau Dewata. Meski demikian, dari generasi ke generasi, para seniman tidak mengabaikan ke-sakral-an dan religiusitas tarian yang diubahnya. Modifikasi terhadap Tari Pendet terjadi lagi pada tahun 1961, yang mana beberapa seniman seperti I Wayan Beratha mengubah pola jumlah penari yang asalnya empat orang ditambah menjadi lima orang penari. Tak kurang luar biasa lagi pada tahun 1962, I Wayan Beratha menyuguhkan Tari Pendet dengan jumlah penari yang tidak sedikit.

Tokoh Berpengaruh

Tokoh Berpengaruh

Ni Ketut Reneng dan Ida Pedanda Karta

Ida Pedanda Kerta Gambuh merupakan sosok dibalik kesukesan yang diraih oleh Ni Ketut Reneng. Ida Pedanda Kerta Gambuh merupakan guru dari Ni Ketut Reneng yang mengajarkan Ni Ketut Reneng pandai menari. Pada usia enam tahun Reneng sudah mulai belajar tari oleh Ida Pedanda Kerta Gambuh, latihan tari yang dilaluinya sangat keras dan dilakukannya di sela-sela pekerjaannya sebagai pengasuh. Meskipun sering menangis saat latihan ia tidak menyerah belajar dan menjadi penari yang sangat baik pada usia 11 tahun.

Ida Pedanda Kerta tertarik melihat kecerdasan Ni Ketut Reneng sebagai penari gambuh dengan memanggil beberapa guru tari yang terkenal pada zaman itu seperti Anak Agung Ngurah Jambe, Salid Rangis atau Kesiman. Setelah belajar dari Ida Pedanda Kerta Ni Ketut Reneng belajar menari condong dan legong dari guru tari Ida Bagus Buda dari Banjar Kaliungu kaye dan Nyalikan Siade dari Denpasar. Adapun guru yang mengajarkan ekspresi kepadanya adalah Ida Bagus Rai Surya dari Denpasar, ketiga guru ini merupakan guru yang dipilih oleh raja Denpasar.

Keahlian

Keahlian

Ni Ketut Reneng Menari

Ida Pedanda Kerta, seorang yang sangat ketat dan disiplin. Setelah ia melihat bakat yang begitu besar di dalam diri Ni Reneng ia memanggil tiga ahli tari untuk mengajarkan tari Gambuh, yaitu salah satu tarian klasik yang dulu hanya ditarikan untuk upacara di pura. Ni Reneng masih ingat tentang tiga orang guru ini, mereka bahkan lebih ketat dibandingkan dengan Ida Pedanda Kerta. Berkat didikan yang ketat dari guru-gurunya membuat Ni Reneng menjadi seorang seniman sejati. Menginjak usia sebelas tahun Ni Reneng sudah menjadi seorang penari yang mengagumkan hingga membuat kelompok legong Banjar Kedaton menjadi terkenal.

Dia sangat piawai menarikan tarian klasik pelegongan seperti Legong Playon, Lasem, Kuntir, Kuntul, Bapang, Jobog, Guak Macok, Condong, dan Legod Bawa. Sejak saat itu dia diijinkan untuk menari di pura. Pada masa muda Reneng pernah mendirikan kelompok Janger di Banjar Kedaton bersama I Made Karedek, yang mempopulerkan dirinya. Tahun 1921 Ni Ketut Reneng keluar dari rombongan kesenian yang ia bentuk dan masuk ke Puri Anyar. Di Puri ini ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau wang jero Anak Agung Istri.

|.

Keahlian

Selain menjadi pembantu rumah tangga Ni Ketut Reneng juga berkesempatan untuk belajar tembang, kekidung dan kakawi. Selain itu Pura juga menjadi tempat pembinaan seni sastra, alhasil selain menari Ni Ketut Reneng pun dapat diketengahkan dalam bidang seni suara daerah. Kepindahan Ni Ketut Reneng ke Puri Anyar dibantu oleh pamannya yang bekerja sebagai Sedahan Puri. Meski tidak sekolah dan tidak bisa baca tulis ia adalah penari yang sangat pintar.

Empu tari Sriada Agung Ngurah Jambe dan Ida Bagus Bodha membentuknya sebagai penari Legong yang melegenda. Ia selalu memberikan petuah bahwa menari bukan untuk memenuhi kebutuhan materi melainkan untuk mengabdi pada masyarakat dan Tuhan. Salah satu tarian karya Ni Ketut Reneng yang paling dikenal adalah Tari Pendet yang merupakan hasil kerja sama dengan I Wayan Rindi. Pendet asal mulanya adalah salah satu bentuk tari pemujaan yang kerap ditampilkan dalam ritual-ritual persembahyangan umat Hindu Bali. Meski demikian, baik Rindi maupun Reneng, sama-sama tidak menghilangkan unsur gerak dan bentuk kostum tari yang menjadi pakem tari sebelumnya (Tari Pendet Wali).

Ni Ketut Reneng

Legenda Tari

Legenda Tari

Ni Ketut Reneng

Menari merupakan bagian hidup yang paling berarti bagi Ni Ketut Reneng. Sepanjang hidupnya Ni Ketut Reneng seakan sudah menyatu dengan tari, terutama tari Legong Kraton. Pengabdiannya yang tulus dalam seni tari menempatkan dirinya sebagai empu tari terkemuka dan disegani. Ni Reneng adalah tokoh tari Legong satu-satunya, empunya Legong di Bali. Reneng bisa menari Legong itu dengan ungkapan, dengan ekspresi, yang oleh orang Bali itu di sebut Taksu. Dia bisa menghayati, bisa memahami tari dengan baik. Dalam menari Reneng sangat ketat mempertahankan pakem-pakem tariannya. Saat ia menari ia seolah-olah menjadi pusat semesta di mana seluruh gerak bertumpu pada nafasnya. Saat ia merasa Tuhan ada dalam pikirannya, bergerak tanpa merasa apa pun sehingga badanya menjadi sangat ringan. Sikap dan konsistensi Reneng dalam berkesenian menempatkan dirinya sebagai teladan. Keahliannya menari dan integritas pribadinya diakui banyak kalangan di dalam dan di luar negeri.

Penutup

Penutup

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut :

Seni tari merupakan salah satu identitas dari suatu daerah oleh karenanya diperlukan langkah-langkah pelestarian. Sikap menghargai budaya bangsa sendiri dan melestarikan budaya tersebut merupakan langkah yang tepat untuk melestarikannya.

Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut :

Dengan adanya seni tari ini, bangsa Indonesia akan mendapatkan banyak perhatian dari negara lain terutama dari segi pariwisata. Hal ini akan mengakibatkan naiknya pendapatan suatu daerah tertentu.

|.

Penutup

Referensi Gambar :

http://www.michellechin.net/images/writings/cenik/cenik1.jpg

http://www.michellechin.net/images/writings/cenik/cenik3.jpg

http://www.michellechin.net/images/writings/cenik/cenik2.jpg

Cuplikan Video Kebudayaan Pustekom


Referensi Video :

Video Kebudayaan Pustekom


Referensi Materi :

http://www.jagatbali.com/in/bali-biography/ni-ketut-reneng.html

Video Kebudayaan Pustekom