• Sinopsis


    SLIDER
    Gambar 1. Museum Nasional Tampak Depan

    Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) yaitu dimana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.

    Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan 'Ten Nutte van het Algemeen' (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

    Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu JCM Radermacher, menyumbang-kan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Kecuali itu ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna; sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

    Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811 – 1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung 'Socièteit de Harmonie'). Bangunan ini berlokasi di Jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung Sekretariat Negara, di dekat Istana Kepresidenan.

    Jumlah koleksi milik BG terus meningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau 'Sekolah Tinggi Hukum' (pernah dipakai untuk markas Kenpetai di masa pendudukan Jepang, dan sekarang Departemen Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868.

    Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya 'Gedung Gajah' atau 'Museum Gajah' karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Kadang kala disebut juga 'Gedung Arca' karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

    Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar 'koninklijk' karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya".

    Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/O/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

    Kini Museum Nasional bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Nasional mempunyai visi yang mengacu kepada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan yaitu Museum Kebudayaan Indonesia bertaraf internasional melalui insan dan ekosistem yang berkarakter dengan dilandasi semangat gotong royong".

    Dalam rangka mencapai visi tersebut Museum Nasional Indonesia tidak pernah berhenti mengembangkan diri. Setelah mengalami dua kali pemindahan koleksi 1811 dan 1862, serta penambahan Gedung B dari tahun 1996 s.d 2007, Museum Nasional Indonesia sejak tahun 2013 hingga kini sedang melakukan revitalisasi museum yang dalam prosesnya akan menutup Gedung A selama 1,5 tahun (2017-2018), menambah gedung baru (gedung C) yang sedang dalam taraf pembangunan, dan memperbaharui seluruh atau alur kisah museum yang rencananya semua akan selesai tahun 2019.

  • Pengantar

    • Tujuan / Indikator
    • Pengenalan
    • Tujuan / Indikator :


      Setelah selesai mempelajari materi atau konten budaya tentang "Museum Nasional" ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan:

        a. Keberadaan Museum Nasional beserta ruangan dan koleksi yang ada hingga saat ini;
        b. Sejarah bangunan Museum Nasional;
        c. Sejarah Indonesia; dan
        d. Keanekaragaman Kebudayaan Indonesia melalui koleksi koleksi Museum Nasional.
    • Pengenalan atau Informasi singkat tentang Museum Nasional


      Apakah yang Anda ketahui tentang Museum Nasional?

      Museum Nasional sebagai sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif, mempunyai kewajiban menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 141.899 benda, terdiri atas 7 jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Penyelamatan dan pelestarian budaya ini pada hakekatnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat, diinformasikan melalui pameran dan penerbitan-penerbitan katalog, brosur, audio visual juga website. Tujuannya agar masyarakat tahu dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian warisan budaya bangsa.

  • Isi

    • Deskripsi
    • 1.
    • 2.
    • 3.
    • 4.
    • 5.
    • Deskripsi Gedung Museum Nasional


      Bagaimana Penataan Pameran Tetap Museum Nasional?

      Mengenai pameran tetap Museum Nasional, Museum Nasional terdiri dari 3 gedung yaitu gedung A yang disebut sebagai gedung Gajah (Gedung Lama) di bangun tahun 1862 dan diresmikan tahun 1868, gedung B yang disebut sebagai gedung Arca dibangun mulai tahun 1996 dan diresmikan oleh Presiden ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudoyono tahun 2007 dan Gedung C yang sekarang sedang di bangun dan direncanakan akan diresmikan tahun 2019. Adapun sistem penataan pameran Museum Nasional adalah sebagai berikut :

    • 1. PENATAAN PAMERAN DI GEDUNG A ATAU GEDUNG GAJAH (GEDUNG LAMA).


      Penataan pameran di gedung lama (Unit A) berdasarkan pada jenis-jenis koleksi, baik berdasarkan keilmuan, bahan, maupun kedaerahan, antara lain:

      PAMERAN KOLEKSI PRASEJARAH

      SLIDER
      Gambar 2. Gambar Ruang Pameran Tetap Koleksi Prasejarah

      Prasejarah merupakan suatu kurun waktu pada saat manusia belum mengenal tulisan. Di Indonesia, masa Prasejarah dimulai sejak keberadaan manusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu hingga dikenalnya tradisi tulisan pada abad ke-5 Masehi, yaitu ketika ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Peninggalannya berupa fosil, tulang-belulang manusia dan binatang serta artefak, yaitu benda-benda yang pernah dibuat manusia atau dipakai sebagai alat oleh manusia.

      Berdasarkan bahan dasar pembuatan alat atau teknologinya, secara umum masa prasejarah dibagi menjadi dua jaman, yaitu jaman batu dan jaman logam. Jaman batu menghasilkan artefak paleolitik dan mesolitik (untuk berburu dan mengumpulkan makanan) serta artefak neolitik (untuk bercocok tanam). Sedangkan jaman logam (paleometalik) menghasilkan artefak perunggu dan besi.

      Museum Nasional memiliki berbagai jenis koleksi Prasejarah berupa replika tengkorak manusia purba, artefak paleolitik, mesolitik, neolitik dan artefak logam (paleometalik) serta benda-benda yang berkaitan dengan kepercayaan kepada nenek moyang. Koleksi-koleksi tersebut antara lain berupa kapak genggam dari batu gamping kersikan, beliung-belincung dari batu kalsedon, kalung manik-manik dari kaca serta kapak-kapak upacara dari perunggu.


      PAMERAN KOLEKSI ARKEOLOGI

      SLIDER
      Gambar 3. Gambar Ruang Pameran Tetap Koleksi Arkeologi

      Koleksi Arkeologi meliputi benda-benda budaya hasil kegiatan manusia dari masa Hindu Buddha dan lebih dikenal dengan sebutan masa Klasik Indonesia. Masa ini berlangsung dari awal abad ke 5-15 Masehi, dimana berkembang kebudayaan lokal dipengaruhi oleh kebudayaan India.

      Koleksi Arkeologi di Museum Nasional terdiri dari arca dewa-dewa Hindu, arca Buddha, arca perwujudan, arca binatang, perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, mata uang, prasasti, dan lain-lain. Koleksi-koleksi tersebut terbuat dari emas, perak, perunggu, batu, dan tanah liat yang dibakar.

      Koleksi Arkeologi sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya temuan emas yang sangat bernilai dari desa Wonoboyo, Jawa Tengah; arca batu Prajñaparamita dari Singosari, Jawa Timur. Selain itu juga memiliki koleksi-koleksi penting lainnya, seperti prasasti tertua di Indonesia, yaitu prasasti Yupa dari Muara Kaman, Kutai Kalimantan Timur; prasasti-prasasti dari kerajaan Tarumanegara; dan prasasti-prasasti yang berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Arca Bhairawa Buddha dari Padang Roco, Sumatera Barat juga merupakan koleksi Arkeologi yang cukup menarik perhatian dilihat dari ukurannya yang sangat besar.

    • 2. PENATAAN PAMERAN DI GEDUNG B ATAU GEDUNG ARCA (GEDUNG BARU)


      Gedung B Museum Nasional terdiri dari 7 lantai terdiri dari lt. 1 sd 4 di gunakan sebagai ruang pameran tetap dan lt. 5 sd. 7 sebagai laboratorium, ruang penyimpanan dan ruang kantor. Penataan pameran gedung B Museum Nasional memiliki tema yang berdasarkan aspek-aspek kebudayaan yang mana manusia diposisikan sebagai pelaku dalam lingkungan tempat tinggalnya. Tema pameran yang berjudul "Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan" ini terdiri dari beberapa subtema antara lain:

      Manusia dan Lingkungan

      Pameran Manusia dan lingkungan pada lantai dasar gedung B Museum Nasional menyajikan informasi tentang manusia serta lingkungannya yang hidup pada kurun waktu jutaan tahun yang lalu hingga akhir masa prasejarah. Penataan pameran di lantai dasar ini, terdiri dari sub-sub tema sebagai berikut :Geomorfologi dan Migrasi Manusia - Fauna, Manusia Purba, Persebaran Situs-Situs Hominid, Lingkungan Alam Cekungan Solo 900.00 Tahun Yang Lalu, Kehidupan Gua, Akhir Prasejarah dan Temuan, Fosil Ras-ras Manusia.

      SLIDER
      Gambar 8. Ruang Pameran Tetap Manusia dan Lingkungan

      Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi

      Di lantai 2 dipamerkan berbagai koleksi budaya materi yang menyingkapkan berbagai pengetahuan umat manusia, Khusus nya manusia Indonesia, juga teknologi yang menyangkut pengetahuan terapan yang bersifat teknis. Yang juga penting adalah kegiatan ekonomi, salah satu aspek kehidupan manusia yang terfokus pada kegiatan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang serta pelayanan jasa. Pameran dengan judul ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi ini memiliki sub-subtema sebagai berikut: [1] Aksara dan Bahasa, [2] Hukum di Indonesia, [3] Arsitektur, [4] Astronomi dan Navigasi, [5] Pengobatan dan Pengolahan Makanan, [6] Alat Perlindungan, [7] Alat Produksi, [8] Alat Komunikasi, [9] Alat Transportasi, dan [10] Ekonomi.

      SLIDER
      Gambar 9. Ruang Pameran Tetap Ilmu Pengetahuan, Teknologi & Ekonomi

      Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman

      Di dalam kehidupan masyarakat terdapat pengorganisasian untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pengorganisasian yang paling mudah dilihat adalah dari strata-strata yang membedakan status seseorang dengan orang lainnya. Perbedaan itu dapat jelas terlihat misalnya dalam cara berpakaian, perhiasan yang digunakan, pembagian pekerjaan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

      SLIDER
      Gambar 10. Ruang Pameran Tetap Organisasi Sosial & Pola Pemukiman
    • 3. GEDUNG C (MASIH TAHAP PEMBANGUNAN)


      Gedung Unit C yang pembangunannya telah dimulai tahun 2013 dan direncanakan akan selesai pada tahun 2019 untuk melengkapi Museum Nasional dengan beberapa fasilitas penunjang sabagi pelayanan kepada Masyarakat yang berkunjung ke Museum Nasional antara lain ruang storage, kantor dan berbagai fasilitas publik seperti teater, ruang pameran temporer, Ruang Edukasi, Kids Corner, Discovery Room, perpustakaan dan ruang komersial area seperti café, artshop dll.

      PENGEMBANGAN RUANG PAMERAN MUSEUM NASIONAL: tak sekedar informatif, ruang pameran tetap Museum Nasional Indonesia nanti juga sebagai upaya memaknai keindonesiaan.

      Dalam rangka pengembangan ruang pameran tetapnya, Museum Nasional Indonesia berencana akan memperbaharui story line atau alur kisah museum. Rencananya mulai tahun 2019 Alur Kisah MNI akan terbagi menjadi tiga sub-tema: Menjadi Indonesia, Pusaka Nusantara, dan Lestari Indonesia.

      Perubahan alur kisah ini nantinya diharapkan dapat memberikan cuplikan gambaran perjalanan panjang dan warisan sejarah kebudayaan bangsa Indonesia dalam proses pembentukan identitasnya. Pada akhirnya, warisan budaya inilah yang menjadi sumber kekayaan dan kekuatan budaya bangsa yang dapat dikembangkan bagi kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang.

      Ruang pameran tetap di gedung B pun semakin luas. Ruang perkantoran yang sebelumnya di lantai 7, laboratoriun dilantai 6, dan ruang penyimpanan dilantai 5 juga akan dipindahkan ke gedung C, sehingga ketujuh lantai gedung b akan dimanfaatkan sepenuhnya sebagai ruang pameran tetap koleksi MNI dan ruang pameran temporer. Taman Sunken pun akan menjadi pintu masuk pengunjung yang baru, menggantikan lobi gedung A pada tahun sebelumnya.

      SLIDER
      Gambar 11. Denah Lokasi Museum Nasional
    • Koleksi Prasejarah, Museum Nasional Indonesia


      Koleksi Prasejarah adalah koleksi yang berasala dari jaman prasejarah yaitu jaman dimana manusia belum mengngenal tulisan, Koleksi Prasejarah di Museum Nasional terdiri atas fosil tengkorak, manusia purba, binatang purba, serta berbagai artefak seperti kapak genggam, beliung-belincung, gerabah, manik manik serta berbagai peralatan upacara dari perunggu dan lain lain, koleksi nya antara lain :

      Cetakan Otak Homo Erectus Progresif

      SLIDER
      Gambar 12. Cetakan Homo Erectus Progresif

      Cetakan Otak Homo Erectus Progresif Cetakan otak ini dibuat berdasarkan fosil tengkorak Homo soloensis IV yang ditemukan di Ngandong, Solo, awa Tengah. Dengan volume otak sebesar 1.100 cm3, Manusia Ngandong merupakan jenis manusia purba paling maju atau progresif dalam tingkatan evolusi Homo erectus arkaik dan tipik, hanya mempunyai ukuran volume otak antara 900-1000 cm3.

      Kapak Genggam

      SLIDER
      Gambar 13. Kapak Genggam

      Batu

      Pacitan, Jawa Timur

      Masa Paleolitik

      P. 21,2 cm, L. 15,2 cm, Tb. 7 cm

      No. inv. 4074

      Kapak genggam ini banyak ditemukan di Pacitan, dibuat dengan teknik sederhana dan digunakan sebagai alat berburu binatang.

      Bukit Kerang "Kjokkenmondinger"

      SLIDER
      Gambar 14. Kerang "Kjokkenmondinger"

      Kerang

      Pantai Timur Sumatera

      Masa Mesolitik

      P. 28,3 cm, L. 16,5 cm, Tb. 9 cm

      No. inv. 4074

      Kjokkenmondinger adalah bukit kerang yang terbentuk akibat penumpukan kulit-kulit kerang yang merupakan limbah makanan masyarakat masa mesolitik.

    • Koleksi Arkeologi, Museum Nasional Indonesia


      Koleksi Aekeologi adalah koleksi yang berasal dari masa Hindu-Budha di Indonesia abad 5 – 15 M yang dikenal dengan sebutan masa klasik Indonesia, dimana berkembang kebudayaan lokal yang dipengaruhi oleh kebudayaan India, jenis koleksi Arkeologi Museum Nasional antara lain prasasti, arca dewa-dewa Hindu dan Budha, arca perwujudan , arca binatang, perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, dan mata uang, yang terbuat dari emas, perak, perunggu, batu dan tanah liat yang dibakar. Koleksi tersebut berasal dari seluruh wilayah Indonesia, namun sebagian besar merupakan temuan dari situs-situs Hindu Budha di Jawa. Koleksi Koleksi tersebut antara lain :

      Prasasti Yupa

      SLIDER
      Gambar 15. Prasasti Yupa

      Prasasti tertua yang ditemukan di Indonesia adalah Prasasti Yupa, ditemukan di Muara Kaman, Kutai, Kalimantan Timur, berasal dari abad ke-4 M. Prasasti dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta ini menyebutkan kebesaran dan kemuliaan Raja Mûlawarmman yang telah mengadakan selamatan dan memberikan hadiah kepada para Brahmana. Disebutkan juga silsilah raja Mûlawarman, mulai dari kakeknya, Kudungga, kemudian ayahnya Aswawarman yang memiliki 3 orang putra.

      Prasasti Tugu

      SLIDER
      Gambar 16. Prasasti Tugu

      Prasasti Tugu merupakan salah satu peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanagara. Prasasti ini bertuliskan aksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta, abad ke-5 M. isinya mengenai Raja Purnawarman yang memerintahkan menggali saluran air yang melewati lahan istananya. Prasasti ini di ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, Jakarta Utara. Isinya mengenai penggalian dua buah kanal (sungai) atas perintah Raja Purnawarmman. Raja ini memerintahkan penggalian sungai sepanjang ± 12 km bernama Gomati, melanjutkan pekerjaan kakakeknya, Rajadhirajaguru, yang terlebih dahulu menggali sungai Candrabhaga. Penggalian ini dapat diselesaikan dalam tempo 21 hari saja.

      Replika Prasasti Ciaruteun

      SLIDER
      Gambar 17. Replika Prasasti Ciaruteun

      Fiber

      Sungai Ciaruteun, Ciampea, Bogor, Jawa Barat

      Pertengahan abad ke-5 Masehi

      No. inv. 568.4544 / 04358

      Prasasti ini berisi tentang puji-pujian kepada Raja Purnawarman Kerajaan Tarumanegara abad-ke 5 M yang tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu. Juga ditemukan sepasang pahatan tapak kaki, laba-laba, dan tulisan 'ikal' yang belum dapat dibaca. Beraksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang masih dapat dikategorikan kepada jenis aksara Pallawa awal.

      Harihara

      SLIDER
      Gambar 18. Harihara

      Batu

      Candi Sumber Jati, Blitar, Jawa Timur

      Abad ke-14 M

      Tinggi 200 cm

      No. inv. 256/ 103a

      Harihara adalah penggambaran Śiwa (Hara) dan Wişņu (Hari) dalam satu individu. Diduga arca inilah yang disebutkan dalam Nāgarakŗtāgama sebagai arca Śiwa dari candi Simping yang didirikan untuk memperingati Kŗtarājasa Jayawarddhana, gelar dari Raden Wijaya setelah menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit. Sosok yang anggun ini bukanlah arca potret atau perwujudan fisik dari raja Kŗtarājasa, melainkan perlambangan roh raja yang sudah meninggal bersatu dengan dewa yang dipujanya. Arca semacam ini dibuat pada pelaksanaan upacara ‘sraddha’ (upacara pelepasan roh dari ikatan keduniawian) yang diadakan 12 tahun sesudah seseorang meninggal.

  • Penutup


    Museum Nasional Indonesia merupakan museum yang terbesar di Indonsia dan bahkan di Asia Tenggara dan juga merupakan museum yang memiliki koleksi terlengkap yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia, sehingga menjadi jendela budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Selain itu Museum Nasional juga museum yang tertua di Indonesia. Museum Nasional telah mengalami perubahan yang cukup signifikan baik dalam aset fisik, koleksi, maupun aktifitas teknisnya demikin pula dalam aspek apresiasi masyarakat terhadap Museum Nasional menunjukan hal yang menggembirakan dengan ditandai adanya peninkatan jumlah pengunjung dari tahun ketahun.

    Melalui nilai-nilai yang dikandung yang terdapat pada koleksi-koleksi Museum Nasional, terdapat beberapa sikap yang perlu ditumbuh kembangkan pada diri generasi muda, yaitu (1) menghargai sejarah dan budaya bangsa, (2) mencintai peninggalan sejarah dan Budaya bangsa, (3) mengenal peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya bangsa, dan (4) kerja sama dan toleransi.

    Manfaat yang dapat diperoleh setelah selesai membaca konten budaya tentang Museum Nasional adalah(1) terciptanya rasa ingin melestarikan peninggalan sejarah, (2) meningkatkan minat pada sejarah dan Budaya bangsa Indonesia, (3) membangkitkan rasa nasionalisme atau kebangsaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Dan (4) cinta dan bangga menjadi bangasa Indonesia yang memiliki sejarah dan budaya yang adi luhung dan selalu lesatari sepanjang masa.

  • Referensi


    DaftarPustaka :

    • Buku panduan Museum Nasional Gedung B tahun 2015.

    • Leaflet Museum Nasional tahun 2007