Museum Sejarah Jakarta

Sinopsis

Sinopsis

Kota Jakarta memiliki banyak gedung bersejarah yang perlu diketahui oleh masyarakat. Diantara gedung-gedung bersejarah yang bisa dijadikan tempat wisata sejarah, yaitu wilayah kota tua yang memiliki beberapa gedung bersejarah atau museum. Salah satu museum yang perlu diketahui oleh para siswa dan masyarakat umum yaitu Museum Sejarah Jakarta atau dikenal pula dengan Museum Fatahillah. Dalam museum ini menceritakan tentang sejarah perkembangan kota Jakarta serta koleksi-koleksi yang terdapat di dalamnya.

Pengantar

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah merupakan salah satu dari sejumlah bangunan cagar budaya yang keberadaaannya perlu dilestarikan. Gedung Museum Sejarah Jakarta memiliki sejarah Kota Jakarta yang diperlukan untuk pendidikan dan diharapkan pula dapat menjadi sarana pembinaan bagi masyarakat.

Sejarah Gedung

A. Sejarah Gedung

Dari catatan sejarah yang ada, pembangunan gedung Stadhuis dilakukan sebanyak tiga kali pada kurun waktu yang tidak bersamaan.

Pembangunan pertama dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen pada 1620, dan hanya bertahan 6 tahun. Kemudian diganti dengan Balai Kota kedua (1627 - 1707), yang dibangun pada sisi selatan halaman utama kota Batavia, di lokasi sekarang ini.

Tahun 1629, pasukan Sultan Agung berhasil membakar gedung Stadhuis tersebut.

Tahun 1649, dibangun lima buah sel di bawah gedung.

Tahun 1665, gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur.

Tanggal 25 Januari 1707, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn mulai membangun gedung baru. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putrinya, yang bernama Petrolina Willhelmina van Horn. Pembangunannya baru selesai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck dan diresmikan pada 10 Juli 1710.

Gedung Museum Sejarah Jakarta dulu
Gedung Museum Sejarah Jakarta sekarang

Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai "Raad van Justitie" (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942, gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

|.

B. Sejarah Museum Sejarah Jakarta

Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik pada sejarah kotanya. Tahun 1930 didirakan sebuah yayasan yang bernama Out Batavia (Batavia Lama) yang mempunyai maksud untuk meneliti dan mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Tahun 1936 diresmikan Museum Out Batavia yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara NO. 27 oleh Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenborg.

Pada tahun 1968 Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI.

Pada tahun 1970 Gubernur DKI Ali Sadikin mencanangkan proyek pemugaran Jakarta Kota dengan gedung Kodim sebagai Museum Sejarah Jakarta yang diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974.

Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg
Prasasti peresmian Museum Sejarah Jakarta

|.

C. Bagian Bangunan Gedung

1. RUANG GUBERNUR DKI JAKARTA

Ruang Gubernur DKI Jakarta

Terletak di samping kanan dari pintu masuk utama. Di ruang ini dipamerkan foto-foto moda transportasi dan para gubernur DKI Jakarta. Diperagakan pula becak yang sempat menjadi sarana transportasi kebanggaan warga jakarta


2. RUANG SIDANG DEWAN PENGADILAN

Ruang Sidang Dewan Pengadilan

Kantor pemerintahan terpenting di dalam bangunan Balai Kota adalah Dewan kotapraja (College van Schepenen) dan Dewan Pengadilan (raad van Justitie). Dewan Pengadilan merupakan dewan pengadilan tertinggi pada masa VOC.

Tahun 1798 Dewan Pengadilan berganti nama menjadi Hooge Raad van Justitie.

Tahun 1819 pemerintah Belanda mendirikan beberapa Dewan Pengadilan (Raaden van Justitie) di beberapa kota dan di Batavia suatu Pengadilan Tinggi (Hooggeregtshof) untuk seluruh daerah jajahannya.

Tahun 1870 - 1942 Dewan Pengadilan untuk kota Batavia memakai gedung Paleis van Justitie, yang sejak tahun 1976 menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.


3. RUANG SIDANG DEWAN KOTAPRAJA

Ruang Sidang Dewan Kotapraja

Ruangan ini dahulu dipakai Dewan Kotapraja (College van Shepenen) untuk bersidang tiga kali dalam satu minggu.

Tahun 1620 dibentuk Dewan Kotapraja terdiri dari lima warga kota yang diangkat oleh pemerintah ditambah empat pejabat kompeni.


4. RUANG PENJARA

Penjara yang berada di bawah wewenang Dewan pengadilan berada di bagian timur gedung dan dipakai untuk tahanan VOC. Sedangkan penjara yang berada di bawah Dewan Kotapraja berada di bagian barat dan dipakai untuk tahanan warga kota Batavia yang bukan pegawai VOC.


5. MENARA BANGUNAN

Menara bangunan berbentuk segi delapan (oktagonal) ini terletak persis di tengah-tengah gedung. Di ruang menara terdapat lonceng dan jam besar.

Jam besar dipasang oleh pemerintah Inggris saat berkuasa di Batavia (1811 - 1815) dan dibuat oleh Aynswth Thurutus Clekkenwell London Clockmaker tahun 1788 untuk East India Company (Kongsi Dagang Inggris).

Lonceng dibuat tahun 1742 oleh Lempke, seorang pandai besi dan tembaga di perkampungan tukang dari tahun 1731 - 1752.

Koleksi

A. Masa Prasejarah

Keberadaan masa prasejarah di Jakarta dibuktikan dengan adanya penemuan benda-benda yang sederhana. Tinggalan arkeologis tersebut berupa peralatan batu, peralatan logam, gerabah, dan perhiasan. Bukti-bukti tersebut diperoleh dari hasil survey dan penggalian arkeologi di beberapa tempat antara lain: sepanjang tepi sungai Ciliwung (Condet, Pasar Minggu, Kampung Kramat), Buni, Kelapa Dua, Bukit Kucong.

PERALATAN BATU:

SERPIH BILAH

Alat ini terbuat dari batuan tufa, kapur kersikan, dan batuan endap. Digunakan sebagai serut atau pisau grudi (alat serpih) dan penusuk (alat bilah lancip). Ditemukan dari situs Kelapa Dua, Condet, dan Pejaten


BELINCUNG

Belincung adalah beliung berpunggung tinggi berpenampang lintang segitiga, segilima, atau setengah lingkaran. Blincung penampang lintang setengah lingkara dan agak cekung disebut beliung perisai. Kedua beliung ini dipergunakan untuk mengerjakan kayu. Ditemukan dari situs Kelapa Dua, Pejaten, Kampung Kramat, Condet, dan Buni.


BELIUNG PERSEGI

Bentuknya persegi empat dengan bagian permukaan yang sudah dihaluskan. Digunakan sebagai alat kerja sehari-hari seperti mencangkul dan memotong kayu. Sejak awal abad 18, masyarakat Jakarta menyebutnya sebagai Gigi Gledek, karena masyarakat percaya bahwa gigi beliung ini merupakan gigi Dewa Petir yang tanggal dan jatuh ke bumi. Ditemukan dari situs Kelapa Dua, Pejaten, Buni, Condet, Kampung Kramat dan daerah tepian sungai Sunter serta Sungai


BATU ASAHAN

Alat ini dipergunakan untuk mengasah beliung agar permukaannya halus dan mengkilap. Dibuat dari batu pasir, bubuk pengasah, dan bambu sebagai pengupam. Ditemukan dari situs Kelapa Dua.


PERALATAN LOGAM:

KAPAK PERUNGGU

Kapak perunggu digunakan untuk memotong dan membelah, terutama kayu. Ditemukan dari situs Kampung Kramat dan Pejaten. Dua situs ini diyakini sebagai sentra pembuatan kapak perunggu karena berdasarkan penelitian, ditemukan terak logam dan alat cetakan logam.


CETAKAN PERUNGGU

Alat ini terbuat dari tanah liat bakar (terakota) dan biasanya berupa cetakan setangkup. Ditemukan dari situs Pejaten dan hanya merupakan pecahan, sehingga tidak diketahui dengan jelas cetakan ini digunakan untuk membuat benda apa.


GERABAH:

KENDI, PERIUK, PEDUPAAN

Kendi, periuk, dan pedupaan dari tanah liat ditemukan di Condet, Kampung Kramat, dan Buni (Bekasi). Pedupaan mengisyaratkan adanya upaya manusia pra sejarah untuk berhubungan dengan roh/makhluk halus.

|.

B. Masa Klasik

Disebut juga sebagai masa sejarah, dimana manusia sudah mengenal tulisan, atau masa Hindu-Budha. Budaya tulis di Indonesia diperkenalkan oleh orang-orang India yang datang sekitar abad 4 atau 5 M, yang juga membawa budaya dan agama (Hindu dan Budha). Masa klasik berlangsung sejak abad 5 M hingga awal abad 16 M (runtuhnya Majapahit dan mulai menyebarnya pengaruh Islam di Indonesia).

Jejak masa klasik di Jakarta, dibuktikan dengan adanya prasasti, catatan dari sumber asing, serta bidang seni pahat. Berikut ini beberapa prasasti dan patung peninggalan masa klasik di Jakarta:

PRASASTI CIARUTEUN

Ditemukan di Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, kabupaten Bogor pada 1863. Tahun 1893 terjadi banjir besar sehingga prasasti ini terseret beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertuliskan menjadi terbalik posisinya. Tahun 1903 dikembalikan ke tempat semula. Tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalah Sejarah dan Purbakala Depdikbud mengangkat dan memindahkan prasasti ini ke dekat prasasti Kebon Kopi. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki, dan laba-laba.


PRASASTI TUGU

Ditemukan tahun 1878 di wilayah yang kini bernama Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Pada 1911 atas prakarsa P.de Roo de la Faille Prasasti ini dipindahkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional), kemudian menjadi koleksi Museum Sejarah Jakarta. Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yang pada ujungnya dilengkapi semacam trisula.


TUGU PADRAO

Tugu Padrao (dibaca Padrong, dalam Bahasa Portugis berarti batu peringatan) merupakan tanda peringatan atas perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis yang dibuat pada 21 Agustus 1522. Isi perjanjian tersebut adalah Portugis diizinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Tugu ini berbentuk persegi panjang dengan panjang/tinggi 150 cm dan lebar 30 cm. Pada batu terdapat pahatan gambar bola dunia disertai tulisan dan angka tahun, lambang penemuan yang dipergunakan oleh raja Manuel dari Portugis (1495 - 1591). Tugu ini ditemukan di sudut antara Jalan Cengkeh dan Jalan Nelayan Timur, jakarta Kota tahun 1819.


|.

C. Masa Islam

Periode Islam ditandai dengan direbutnya Sunda Kalapa dari tangan Kerajaan Sunda dan Portugis pada 22 Juni 1527 oleh pasukan muslim gabungan Cirebon dan Demak yang dipimpin Fatahillah. Tanggal ini kemudian dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta. Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.

Keberadaan masa Islam di Jakarta dibuktikan dengan peninggalan arkeologi berupa mesjid-mesjid tua seperti Masjid Marunda, Masjid Angke, Masjid Luar Batang, dan Masjid Bandengan (Kampung Baru). Selain itu terdapat pula nisan-nisan kubur, perlengkapan ibadah, keramik asing yang menunjukkan ciri ke-Islaman.

MERIAM CIREBON

Terbuat dari perunggu, jenis logam terbaik untuk membuat meriam pada saat itu. Meriam ini termasuk jenis Coak. Berukuran panjang 234 cm, lebar 76 cm, dan tinggi 79 cm.


MIMBAR MASJID KAMPUNG BARU

Mimbar ini berasal dari Masjid Kampung Baru/Masjid Bandengan yang terletak di selatan Ammanusgracht sekarang Jl. Bandengan selatan. Mimbar ini dibuat pada pertengahan abad ke 18, dari kayu jati. Ukiran mengikuti gaya VOC yang umum pada jaman itu.

|.

D. Masa Kolonial

Masa Kolonial merupakan suatu masa di mana Indonesia kedatangan bangsa-bangsa Eropa, terutama Belanda, dan memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan dan budaya bangsa Indonesia. Penguasaan Belanda dimulai di Jakarta pada tanggal 30 Mei 1619, dimana Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen merebut dan membumihanguskan Sunda Kalapa yang saat itu berada di tangan muslim pimpinan Pangeran Jayakarta Wijayakrama. JP Coen memberi nama kota yang baru direbutnya dengan sebutan Batavia.

Peninggalan-peninggalan masa Kolonial di Jakarta merupakan peninggalan paling banyak dibanding masa-masa sebelumnya. Peninggalan-peninggalan itu berupa benteng, sisa Tembok Kota Batavia, Gereja, perlengkapan Perang, senjata, gedung-gedung, perlengkapan rumah tangga, dan lain-lain.

1. Lukisan Gubernur Jenderal

Jan Pieterszoon Coen

Dibuat tahun 1929 oleh BW Weyers untuk memperingati hari kematian Jan Pieterszoon Coen yang ke-300. Lukisan ini merupakan kopi dari lukisan yang dibuat tahun 1625 oleh Jacob Weben, yang ada di Wesfries Museum, Hoorn, Belanda.


Daendels

Daendels lahir di Hattem, Prancis, 21 Oktober 1762 dengan nama lengkap Herman Willem Deandels. Ia tiba di Batavia 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur Jenderal Albertus Wiese.

Semasa menjadi Guberur Jenderal Batavia (1808 - 1811), Deandels memindahkan pusat kota dari Batavia lama ke Weltevreden (Lapangan banteng) sekaligus membangunnya. Kemudian kastil Batavia dihanculkan dan diganti dengan benteng di Mester Cornelis (Jatinegara).

Proyek utamanyaadalah jalan pos dari Anyer sampai Panarukan.


2. Lukisan penyerangan Mataram ke Batavia

Menggambarkan tentang penyerangan pasukan Sultan Agung dari Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Lukisan ini dibuat oleh S. Sudhohono pada tahun 1973 dan selesai bulan April 1974.


3. Lemari Sketsel

Penyekat ruangan (sketsel) ini pernah digunakan dalam sidang Dewan Hindia di Benteng Batavia. Pada bagian atas, di bawah mahkota terdapat enam lambang kota yang membentuk VOC; pada bagian tengahnya terdapat lambang kota Batavia (pedang dengan ujungnya menembus daun salam). Figur pada bagian tengah menggambarkan seorang pria muda memakai baju zirah, kakinya agak pendek, membawa perisai dengan hiasan kepala Medusa.


4. Lemari Buku Besar

Dibuat tahun 1748 untuk Dewan Pengadilan yang semula berkantor di kasteel Batavia dan kemudian pindah ke ruang sidang balai kota Batavia. Kehadiran lemari bersejarah ini berawal ketika Dewan membicarakan keadaan mereka yang tidak memiliki tempat untuk arsip dan perpustakaan dalam suatu rapat tanggal 23 Maret 1747. Pada rapat tanggal 1 Juni 1747 diputuskan memesan lemari buku baru dan selesai tahun 1748.


5. Pedang Eksekusi

Dipakai untuk mengeksekusi orang yang telah mendapat (vonis) hukuman mati oleh Dewan Pengadilan. Panjang pedang 106 cm dan lebarnya 5,5 cm. Bagian pegangan dibungkus kawat tembaga supaya genggaman kuat.


6. Patung Singa

Terbuat dari batu dan berasal dari abad 18. Patung ini menggambarkan seekor singa yang tengah memegang perisai dengan lambang Batavia di tengah perisai. Lambang Batavia terdiri atas pedang yang menembus rangkaian daun salam. Singa, pedang, dan untaian daun melambangkan kebesaran dan kekuasaan kerajaan Belanda di Batavia. Lambang Batavia ini digunakan selama 286 tahun (1619 - 1905).


7. Patung Dewa Hermes

Hermes adalah dewa pembawa pesan dalam mitologi Yunani, dikenal pula sebagai dewa perdagangan dan pembawa keberuntungan. Patung Hermes yang ada di Museum ini dibeli tahun 1920an oleh seorang pedagang Jerman yang menjadi warga negara Belanda bernama Karl Wilhelm Stolz. Patung ini dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta pada tahun 2000.


8. Meriam Si Jagur

Meriam ini terkenal karena bentuknya yang unik dan bersejarah, juga karena banyak kisah mistis yang melingkupinya.

Meriam si Jagur dibuat oleh orang Portugis, Manoel Tavares Bocarro di Macau, Cina. Di Macau, meriam ini oleh Portugis ditempatkan di benteng St jago de Barra (st Jago = nama orang suci, de Barra = dekat pantai, karena itu kemudian mendapat julukan "Si Jagur").

Ketika Portugis menguasai Malaka di awal abad 16, si Jagur dipindahkan dari Macau ke Malaka. Kemudian dibawa ke Batavia oleh Belanda setelah merebut malaka pada 1641. Pada awalnya oleh VOC meriam tersebut ditempatkan di Benteng Batavia, untuk menjaga pelabuhan. Kemudian dipindahkan ke magasin artilery dekat Jalan Tongkol. Sesudah magasin ini dibongkar tahun 1810, meriam si Jagur ditinggalkan.


|.

E. Etnografi Betawi

Betawi adalah sebutan bagi penduduk pribumi (suku) yang mendiami kota Jakarta. Kata Betawi sendiri diyakini banyak ahli berasal dari Batavia yang diucapkan menjadi Betawi oleh penduduk lokal. Ada yang menyebut suku Betawi berasal dari para budak yang didatangkan ke Batavia oleh Belanda. Ada yang bilang suku Betawi merupakan suku asli (berasal dari kerajaan Sunda). Mereka berasal dari multietnis sehingga budaya yang dihasilkan merupakan perpaduan antar etnis. Terlepas dari perdebatan tentang asal usul suku Betawi, kota Jakarta dan sekitarnya sudah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam. Jejak arkeologis yang berasal dari masa Prasejarah begitu banyak ditemukan, utamanya di sekitar aliran Sungai Ciliwung.


1. Alat musik betawi

Musik Betawi terdiri dari Gambang Kromong, Tanjidor, Keroncong Tugu, Orkes Gambus, Rebana, dan Orkes Samrah. Gambang Kromong merupakan perpaduan antara musik lokal dan Cina, Rebana berasal dari alat musik Arab, Keroncong berasal dari Portugis, Tanjidor berlatar belakang alat musik Eropa.

Instrumen musik Betawi pada gambang kromong antara lain gambang, kromong, kemor, kemor, kecrek, gendang, kempul dan gong. Kesenian gambang kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitar Tangerang.

Alat musik tanjidor terdiri dari trombone, terompet, klarinet, dram, dan bedug. Hanya bedug yang merupakan unsur lokal pada tanjidor, selebihnya merupakan alat musik Eropa.


2. Pakaian adat Betawi

Pakaian adat Betawi merupakan unsur perpaduan dari beragam etnik, yang menonjol adalah etnik Cina dan Arab. Pakaian Betawi banyak ragamnya, ada pakaian sehari-hari, pakaian resmi, dan pakaian pengantin.

Pakaian pengantin Betawi mendapat pengaruh dari Arab, Cina, Eropa, dan Melayu. Pakaian pengantin laki-laki biasa disebut “dandanan care haji”, berupa jubah dan tutup kepala sorban yang disebut alpie. Sementara pakaian pengantin perempuan biasa disebut “rias besar dandanan care none pengantin cine”, bajunyla model blus Shanghai bahan saten atau lame ber warna cerah, baju bawah atau rok disebut “kun” melebar ke bawah dengan motif hiasan burung hong dari mute atau manik dan benang emas.


Penutup

Koleksi museum bukanlah benda mati yang sengaja dipajang di ruang pamer, tetapi merupakan benda budaya yang sarat akan makna. Setiap koleksi yang dipajang di dalam museum memiliki kisah tersendiri, yang tidak akan pernah sama antara satu koleksi dan koleksi lainnya. Kendati demikian, bisa jadi antara satu koleksi dan koleksi lainnya memiliki benang merah dalam suatu untaian kisah sejarah dan budaya yang sama.

Koleksi-koleksi museum Sejarah Jakarta yang disajikan dalam bentuk multimedia ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat umum untuk mengetahui sejarah Kota Jakarta khususnya dan sejarah Indonesia pada umumnya.