Mocopatan

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Mocopatan adalah seni melagukan atau menembangkan syair mocopat yang dilakukan oleh sejumlah orang secara bergiliran. Mocopat merupakan tembang yang dominan dipergunakan dalam segala jenis kesenian Jawa, seperti karawitan, wayang kulit, wayang orang, kethoprak, ludruk, jathilan, langen mandrawanara dan lain-lain. Sejak jaman Pajang hingga Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, sastra mocopat merupakan sastra Jawa yang paling dominan. Hal itu dibuktikan dengan selalu munculnya mocopat dalam setiap seni pertunjukan yang ada.

Pada umumnya mocopat diartikan sebagai moco papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membaca yang terhubung dengan tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti dari mocopatan. Definisi lain dari seorang pakar Sastra Jawa, Arps menguraikan beberapa arti lain di dalam bukunya Tembang in two tradition. Selain yang telah disebut di atas ini, arti lainnya ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan mocopat.

ASAL - USUL

ASAL - USUL

Lokasi Keberadaan Mocopatan

Mocopat sering disebut metrum puisi jawa pertengahan dan jawa baru, yang hingga kini masih digemari masyarakat, ternyata sulit dilacak sejarah penciptaanya. Purbatjaraka menyatakan bahwa mocopat lahir bersamaan dengan syair berbahasa jawa tengahan. Pigeud berpendapat bahwa tembang mocopat digunakan pada awal periode Islam. Pernyataan Pigeud yang bersifat informasi perkiraan itu masih perlu diupayakan kecocokan tahunnya yang pasti.

Sedangkan Karseno Saputra memperkirakan atas dasar analisis terhadap beberapa pendapat dan pernyataan. Apabila pola metrum yang digunakan pada tembang mocopat sama dengan pola metrum tembang tengahan dan tembang mocopat tumbuh berkembang sejalan dengan tembang tengahan, maka diperkirakan tembang mocopat telah hadir dikalangan masyarakat peminat setidak-tidaknya pada tahun 1541 masehi. Perkiraan itu atas dasar angka tahun yang terdapat pada kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J atau 1541 masehi.

|.

Ilustrasi Wali Songo

Dalam Mbombong manah I disebutkan bahwa tembang mocopat (yang mencakup 11 metrum) diciptakan oleh Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaran sari di Sigaluh pada tahun Jawa 1191 atau tahun Masehi 1279. Tetapi menurut sumber lain, tampaknya mocopat tidak hanya diciptakan oleh satu orang, tetapi oleh beberapa orang wali dan bangsawan. (Laginem, 1996 : 27). Para pencipta itu adalah Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra dan Adipati Nata Praja.

Namun berdasarkan kajian ilmiah ada dua pendapat yang memiliki sedikit perbedaan tentang timbulnya mocopat. Pendapat pertama bertumpu bahwa tembang mocopat lebih tua dibanding tembang gede dan pendapat kedua bertumpu pada anggapan sebaliknya. Kecuali pendapat itu ada pendapat lain tentang timbulnya mocopat berdasarkan perkembangan bahasa

JENIS TEMBANG

JENIS TEMBANG

Abdi Keraton Sedang Melakukan Mocopatan

Latar belakang dari tembang mocopat adalah untuk mendidik anak cucu agar tidak berbuat semaunya sendiri (tau diri dan peduli) dan syairnya berisi nasehat. Para raja Setiap malam selalu berdoa kepada sang khalik dalam bentuk sastra sastra yang dinyayikan.

Dalam tembang Mocapat dikenal beberapa istilah yang digunakan sebagai acuan dalam membuat/mengubah sebuah tembang. Adapun istilah-istilah beserta pengertian sederhananya adalah sebagai berikut:

  1. Wilangan/Guru Wilangan adalah Jumlah suku kata dalam sebuah kalimat
  2. Guru Lagu/Dhong-dhing adalah Huruf vokal/bunyi yang terdapat pada suku kata terakhir pada suatu baris kalimat lagu
  3. Gatra adalah Jumlah kalimat/baris yang terdapat dalam satu bait lagu
  4. Pupuh adalah Bait lagu

|.

JENIS TEMBANG

1. POCUNG

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 4 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (12u) (6a) (8e) (12a)

2. MASKUMAMBANG

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 4 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (12i) (6a) (8i) (8a)

3. GAMBUH

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 5 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (7u) (10u) (12i) (8u) (8o)

4. MEGATRUH

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 5 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (12u) (8i) (8u) (8i) (8o)

|.

JENIS TEMBANG

5. MIJIL

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 6 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (10i) (6o) (10e) (10i) (6i) (6u)

6. KINANTHI

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 6 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (8u) (8i) (8a) (8i) (8a) (8i)

7. PANGKUR

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (8a) (11i) (8u) (7a) (12u) (8a) (8i)

8. DURMA

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (12a) (7i) (6a) (7a) (8i) (5a) (7i)

|.

JENIS TEMBANG

9. ASMARADANA / ASMARANDANA

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (8i) (8a) (8e) (8a) (7a) (8u) (8u)

10. SINOM

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 9 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (8a) (8i) (8a) (8i) (7i) (8u) (7a) (8i) (12a)

11. DHANDHANGGULA

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 10 gatra

Guru wilangan dan Guru lagu: (10i) (10a) (8e) (7u) (9i) (7a) (6u) (8a) (12i) (7a)

PEMENTASAN

PEMENTASAN

Wiyosan Mocopat

Pementasan mocopatan sering dilakukan pada perayaan kebudayaan seperti jagong bayi di jawa. Adapun yang melakukan Mocopatan adalah Bapak-bapak yang datang pada “Jagong bayi”. Jagong bayi adalah kebiasaan untuk mengunjungi orang yang baru melahirkan putra/putrinya. Pada saat jagongan ini tuan rumah akan memberikan makanan dan nyamikan (jajanan), dan juga makan malam. Adapun duduknya para tamu lesehan (duduk di atas gelaran tikar di lantai).

|.

Lomba Mocopatan
Untuk generasi sekarang banyak komunitas yang mendalami tentang kesenian mocopat. Salah satunya dari kalangan mahasiswa di jawa tengah. Tidak hanya itu, mocopatan juga sering diadakan dalam bentuk lomba.

PENUTUP

PENUTUP

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut: Menghargai budaya sendiri. Salah satu bentuk Pelestarian Kesenian Mocopatan sering diadakan lomba dan pementasan di tingkat sekolah dasar (SD)dan lanjutan (SMP dan SMA)

Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut :

Mocopatan banyak mengandung unsur unsur budi pekerti luhur yang harus dilestarikan.

KEPUSTAKAAN/LINK :