Mengaji Sampai Tepi

Pendahuluan

Pendahuluan

Mengaji Sampai ke Tepi adalah ungkapan yang sering terdengar di daerah Lampung khususnya untuk masyarakat asli di sana. Mengaji samapi ke tepi artinya mempelajari Al Qurán hingga tamat sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan agar senantiasa berpegang teguh kepada ajaran agama.

Masyarakat suku asli Lampung yang memegang erat tradisi ini adalah Masyarakat Adat Pepadun dan Masyarakat Adat Sebatin. Masyarakat Adat Pepadun yang umumnya tinggal di daerah pedalaman Lampung, memiliki sub-suku lagi yang terdiri dari Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Pubian Telu Suku , Masyarakat Sungkay-WayKanan. Sedangkan Masyarakat Adat Sebatin tinggal di daerah pesisir barat dan selatan memiliki sub-suku Peminggir Paksi Pak dan Komering-Kayuagung.

Masyarakat Adat Pepadun dan Sebatin yang tinggal di daerah Lampung memiliki tradisi kemasyarakatan yang mengandung unsur kebudayaan Islam. Salah satu tradisi tersebut adalah orang tua memiliki rasa malu yang tinggi apabila anak mereka tidak mampu untuk membaca Al Qurán dengan lancar.

Kebiasaan yang ada pada Masyarakat Adat Pepadun dan Sebatin yang tinggal di daerah Lampung adalah anak-anak yang berusia 7 tahun sudah mahir membaca Al Qurán dan saat usia 10 tahun mereka sudah mampu untuk mengkhatamkan bacaan Al Qurán.

Sejarah

Sejarah

Dilihat dari aspek geografis, Lampung adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera memiliki luas 35.376,50 km2 terletak pada garis peta bumi: timur-barat di antara 105 45 serta 103 48 bujur timur utara selatan di antara 30 dan 45 dengan 60 dan 45 lintang selatan. Sedangkan dilihat dari aspek etnis Lampung merupakan suku yang mendiami sebagian besar wilayah provinsi Lampung saat ini. Suku Lampung sendiri terdiri atas dua sub-suku yakni Masyarakat Adat Pepadun dan Masyarakat Adat Sebatin. Masyarakat inilah yang merupakan penduduk asli dari Lampung.

Masyarakat suku asli Lampung awalnya memeluk agama Hindu, kemudian mendapat pengaruh dari Kerajaan Banten pada abad ke 16 untuk memeluk Islam. Sejak saat itu tradisi masyarakat adat di Lampung telah bercampur dengan unsur-unsur keislaman.

Masyarakat Adat di Lampung senang untuk membujuk anak mereka agar mau belajar mengaji. Anak-anak mereka biasanya mengaji kepada seorang guru ngaji di surau. Jika anak mereka malu atau takut maka orang tua dengan senang hati akan menunggui anaknya sampai selesai belajar mengaji.

|.

Sejarah

Aktivitas mengaji anak-anak di Lampung

Kegiatan menamatkan bacaan Al Qurán hingga khatam ini disebut dengan Butamat Al Qurán dalam masyarakat adat Lampung.

Hal ini sudah dilakukan turun temurun, dari saat penyebar islam pertama di Tanah Lampung. Metode pengajaran yang dilakukan oleh guru ngaji cukup berhasil untuk membuat anak-anak bisa membaca Al Qurán dengan baik dan benar secara cepat. Yaitu hanya dalam tempo kurang lebih tiga bulan saja.

Deskripsi Butamat Al Qur’an

Deskripsi Butamat Al Qur’an

Kegiatan menamatkan bacaan Al Qurán hingga khatam ini disebut dengan Butamat Al Qurán dalam masyarakat adat Lampung.

Peta Daerah Lampung

Kegiatan Butamat Al Qurán tidak memiliki waktu tertentu, asalkan ada peserta yang cukup untuk mengkhatamkan Al Qurán maka Butamat Al Qurán dapat dilaksanakan. Biasanya setahun bisa sampai tiga kali dilaksanakan tradisi ini.

|.

Deskripsi Butamat Al Qur’an

Foto Anak Mengaji Butamat Al Qurán

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam tradisi Butamat Al Qurán ini antarai lain adalah Ketua Adat, Ketua Suku, Masyarakat, Bujang dan Gadis serta tak lupa anak-anak yang menjadi peserta utama dari tradisi ini. Inilah yang membedakan acara khatam Al Qurán di daerah Lampung dengan daerah lain di Indonesia. Yaitu keterlibatan tokoh-tokoh adat.

Tokoh-Tokoh Yang Terlibat Dalam Butamat Al Qurán

Tata Cara Butamat Al Qur’an

Tata Cara Butamat Al Qur’an

Tata cara pelaksanaaan Butamat Al Qurán ini diawali dengan persiapan sehari sebelumnya, dimulai dengan Ibu-ibu yang memasak di rumah ketua adat dibantu oleh bapak-bapak yang mengumpulkan kayu bakar sebagai bahan bakar utnuk memasak, dimana bahan-bahan yang dimasak merupakan hasil yang dikumpulkan dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, ibu-ibu juga bertugas untuk menghias dinding rumah dengan kedung dan tirai serta hasil tenunan masyarakat desa itu sendiri.

Talam dan barang antik warisan leluhur hanya keluar saat upacara Butamat Al Qurán. Sementara itu bujang dan gadis membantu menyalakan obor di surau. Esok hari saat pelaksaan upacara, anak-anak peserta Butamat Al Qurán akan mandi di sungai untuk membersihkan hadas. Butamat Al Qurán ini diikuti oleh mereka yang telah khatam Al Qurán atau khusus untuk anak-anak yang sudah tamat juz ámma.

Peserta berpakaian rapi, sebelum berkumpul di rumah ketua adat, jadi mereka akan berangkat bersama-sama menuju surau. Upacara pembukaan butamat qurán diawali dengan pantun, ini merupahkan prosesi serah terima dari ketua adat kepada panitia penyelenggara Butamat Al Qurán. Puncak dari acara Butamat Al Qurán adalah demonstrasi membaca Al Qurán, biasanya di awali dengan surat Ad Dhuha dan di akhiri dengan surat An Nas.

|.

Tata Cara Butamat Al Qur’an

Pelaksanaan Butamat Al qur’an

Selain sebagai acara khatam Al Qurán, Butamat Al Qurán juga dapat dijadikan sebagai pelengkap acara lain seperti upacara adata perkawinan. Dimana kedua mempelai diminta untuk membaca Al Qurán terlebih dahulu sebelum melangsungkan akad nikah.

Makna yang terkandung dari Butamat Al Qurán itu sendiri adalah sebagai tuntunan hidup agar senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Islam yang di baca melalui ayat-ayat suci Al Qurán.

Penutup

Penutup

Sebagai sebuah tradisi keagamaan yang baik, seyogyanya generasi muda harus mampu melestarikan kebudayaan ini. Agar tetap menjadi tuntunan bagi kehidupan mereka kelak yang berlandaskan Islam sesuai dengan ayat-ayat Al qurán.

Sebagai falsafah hidup bahwa belajar mengaji tidak hanya sekedar dengan menamatkan bacaan Al qurán. Namun lebih dari itu, Butamat Al Qurán dapat dijadikan langkah awal untuk memperdalam ajaran Islam sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan. Satu hal yang mesti diingat bahwa upacara Butamat Al Qur’an bukanlah tanda perpisahan dengan Al Qurán, namun pada hakekatnya adalah sebuah perjalanan panjang. Upacara Butamat Al Qurán ini adalah dermaga tempat bertolak untuk selanjutnya mengarungi samudera Ilmu Al Qur’an yang maha luas.