Legenda Minangkabau

Pendahuluan

Pendahuluan

Suku Minangkabau

Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Menurut Legenda Tambo Alam Minangkabau daerah-daerah yang terbagi di daratan Padang saat ini dimulai sejak masa kekuasaan Ninik Sri Maharaja Diraja yang merupakan putra dari Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain). Matrilineal adalah sistem yang terkenal di dalam suku Minangkabau yang menurut sejarah tercipta karena siasat cerdik Datuk Padang dalam menghadapi serangan kerajaan Majapahit.

Tujuan mempelajari sejarah dan nilai budaya dari legenda Minangkabau adalah agar para masyarakat khususnya generasi muda dapat mengenali dan juga mengapresiasi keberagaman budaya yang di Indonesia khususnya suku Minangkabau. Banyak sekali nilai positif dari sejarah kehidupan masyarakat Minangkabau diantaranya adalah para lelaki dalam suku Minangkabau sudah dibiasakan hidup mandiri di masjid sejak remaja. Hal ini diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada para remaja untuk dapat menjadi insan yang kuat dan sadar akan kodrat nya untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri, keluarga serta masyarakat.

Sejarah

Sejarah

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo. Dari tambo disebutkan bahwa pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut.

Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, yang berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau). Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut. Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.

Pertarungan 2 Kerbau

Legenda Minangkabau

Legenda Minangkabau

Tambo Alam Minangkabau menceritakan negeri pertama di Minangkabau adalah Nagari Pariangan yang terletak di kaki Gunung Merapi, salah satu gunung api di Pegunungan Bukit Barisan. Ada banyak versi soal nenek moyang pertama ini. Salah satu versi tambo adalah, bahwa Nagari ini dibangun oleh Maharaja Diraja, putra dari Iskandar Zulkarnain atau Alexander the Great. Ketika bumi dilanda banjir besar, Maharaja Diraja ini berlayar sampai mendarat di Puncak Gunung Merapi. Saat banjir surut, Maharaja dan pengikutnya kemudian turun mencari daerah bermukim yang kini disebut Nagari Pariangan. Dari Pariangan inilah, kebudayaan Minangkabau menyebar ke tiga penjuru. Ke sisi barat Gunung Merapi, ada Luhak Agam; ke sisi utara, Luhak 50 Koto dan sisi selatan, Luhak Tanah Datar.

Tokoh

Tokoh Legenda Minangkabau

Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain)

Menurut legenda Minangkabau yang disampaikan dalam Tambo Alam Minangkabau, persebaran suku Minangkabau di pelopori oleh Maharaja Diraja yang menurut legenda merupakan putra dari Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain).

Lokasi

Lokasi Minangkabau

Negeri pertama suku Minangkabau adalah Nagari pariangan. Suku Minangkabau tersebar di 3 daerah yaitu Luhak Agam, Luhak koto dan Luhak Tanah Datar.

Luhak Tanah Datar merupakan Luhak yang pertama kali didirikan, sehingga disebut Luhak Nan Tuo yang berarti Luhak yang tua. Luhak Tanah Datar terdiri dari daerah : Pariangan Padangpanjan : Pariangan, Padangpanjang, Sungaijambu, Lubuak Atan, Guguak, Sikaladi, Sialahan, Koto Tuo, Batu Basa, Sumabua, Balimbiang, Simawang. Limo kaum Duo baleh Koto : Tabek Boto, Saloganda, Baringin, Koto Baranjak, Lantai Batu, Bukik Gombak, Sungai Ameh, Tanjuang Barulak, Rajo Dani, Ngungun, Panti, Cubadak, Sipanjang, Pabalutan, Sawah Jauah, Padang Magek, Labuah, Palambahan, Sawah Tangah, Rambatan. Sungaitarab Salapan Batua : Sungaitarab, Koto Tuo, Pasia Laweh, Koto Panjang, Selo, Sumaniak, Patia, Situmbuak, Gurun, Ampalu, Sijangek, Kumango, Rao-rao, Padang Laweh, Talang Tangah, Talang Dusun, Koto Baru, Salimpauang, Supayang, Mandahiliang, Tabek Patah, Tanjuang Alam, Tungka, Barulak. Tanjuang nan Tigo : Tanjuang Alam, Tanjuang Sungayang, Tanjuang Barulak. Lubuak nan Tigo : Lubuak Sikarah, Lubuak Simauang, Lubuak Sipunai. Langgam nan Tujuah : Labuatan, Sungai Jambu, Batipuah, Tanjuang Balik, Sulik Aia, Singkarak, Saniang Baka, Silungkakng, Padang Sibusuak, Sumaniak, Saruaso. Lintau Sambilan Koto : Batu Bulek, Balai Tongah, Tanjuang Bonai, Tapi Selo, Lubuak Jantan, Buo, Pangian, Taluak Tigo Jangko. Batipuah Sapuluah Koto : Sumpu, Malalo, Pitalah, Tanjuang Barulak, Jaho, Tambangan, Pandai Sikek, Koto Laweh, Gunuang, Paninjauan. Talawi Tigo Tumpuak : Talawi, Kolok, Sijantang, Kubang, Sawah Lunto. Kubuang Tigobaleh disabuik juo Tanah Data nan di Ilia : Kubuang, Solok, Salayo, Kinari, Muaro Paneh, Cupak, Gantuang Ciri, Guguak, Sungai Lasi, Taruang-taruang, Tigo Baleh, Koto Baru. Alam Surambi Sungaipagu : Sariak Alam Tigo, Talang Babungo, Tanjuang Lolo, Surian, Pasia Talang, Muaro Labuah, Koto Baru, Tanjuang Gadang, Lubuak Malako, Bidar Alam, Abai Sangie, Sungai Kunik. Sapuluah Koto di Ateh : Singkarak, Saniang Baka, Sumani, Koto Sani, Panyinggahan, Kacang, Tanjuang Balik, Sulik Aia, Aripan, Bukik Kanduang. Nilam Payuang Sakaki : Sirukam, Supayang, Koto Anau, Bukik Sileh, Panyangkalan, Air Tumbuak, Alahan Panjang, Sungai Nanam, Salimpat, Air Dingin.

Luhak yang kedua adalah Luhak Agam. Luhak Agam terdiri dari daerah :

Angkatan Paratamo mambuek nagari : Biaro, Balaigurah, Lambah, Panampuan. Angkatan Kaduo mandirikan nagari : Canduang, Kotolaweh, Kurai, Banuhampu. Angkatan Katigo mandirikan nagari : Sianok, Koto Gadang, Guguak, Tabek Sarajo. Angkatan Kaampek mambangun pamukiman nagari : Sariak, Sungaipua, Batagak, Batu Palano. Lawang nan Tigo Balai : Matua Palembayan, Malalak, Sungai Landie. Nagari sakaliliang Danau Maninjau : Maninjau, Sungai Batang, Sigiran, Tanjuang Sani, Bayua, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Mlintang, Paninjauan, Batu Kambang, Lubuak Basuang, Manggopoh.

Luhak yang ketiga adalah Luhak Lima Puluah Koto. Luhak ini terdiri dari daerah :

Luhak di Air Tabik Minyak Salabu: Suayan, Sungai Balatiak, Sariak Laweh, Tambun Ijuak, Batuhampa, Koto Tangah, Babai, Durian Gadang, Aia Tabik, Sungai Kamuyang, Situjuah, Limbukan, Padang Karambia, Sicincin, Aua Kuniang, Tiaka Payobasuang, Mungo, Andaleh, Taram, Bukik Limbuku, Batu Balang, Koto Nan Ampek, Koto Nan Gadang. Ranah di Talago Gantiang : Gantiang, Koto Laweh, Suliki, Sungai Rimbang, Guguak, Tiaka Balai Mansiro, Talago, Balai Talang, Kubang, Taeh, Simalanggang, Piobang, Sungai Baringi, Gurun, Lubuak Batingkok, Tarantang, Sarilamak, Harau, Solok Bio-bio, Padang Laweh. Lareh di Sitanang Muaro Lakin : Gaduik, Tabiang Tinggi, Sitanang, Muaro Lakin, Halaban, Ampalu, Surau, Labuah Gunuang. Sandi di Payo Kumbuah : Koto Nan Gadang, Koto Nan Ampek. Hulu di Situjuah Bandanyo Dalam : Padang Laweh, Sungai Patai, Suliki, Gunuang Sago, Labuah Gunuang, Balai Koto Tinggi.

|.

Pulau Jawa Sumatera Zoom in Ke daerah Sumatera Barat dan Padang Gunung Marapi

Sistem Matrilineal

Sistem Matrilineal

Museum Adityawarman

Sejarah sistem Matrilineal di suku Minangkabau sudah terjadi sejak zaman kerajaan. Awal mulanya kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Adityawarman datang ke Padang untuk menjajah. Demi kemaslahatan rakyat para datuk menyusun strategi agar perang dapat dihindari. Saat pasukan kerajaan Majapahit datang mereka bukan disambut oleh tentara perang melainkan dengan acara penyambutan tamu kerajaan. Ternyata alih-alih penyambutan tersebut adalah untuk menjodohkan Adityawarman dengan putri datuk yang bernama Puteri Jamilan. Melihat sikap Adityawarman yang menunjukkan penerimaan maka para datuk menyusun strategi lain yaitu agar semua warisan tidak jatuh ke tangan Adityawarman melainkan ke Puteri Jamilan agar warisan tersebut dapat dibagikan keseluruh keluarga kerajaan Padang. Jadilah hal tersebut mendarah daging dimasyarakat yaitu sistem Matrilineal yaitu suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu

Penutup

Penutup

Khazanah budaya Indonesia harusnya dikenalkan kepada generasi muda. Salah satunya adalah budaya Minangkabau. Satu diantaranya, adalah penanaman nilai kemandirian pada anak lelaki di Suku Minangkabau sehingga banyak kita jumpai anak rantau dari Minangkabau. Sejarah peperangan antara Majapahit dan kerajaan Padang juga membuahkan sebuah nilai yang patut di contoh, demi kemaslahatan masyarakat agar tidak menjadi korban perang maka para datuk bertindak gesit dan cerdik sehingga peperangan dapat dihindari.

Manfaat yang diperoleh dari kebudayaan legenda Minangkabau adalah masyarakat Indonesia dapat mengenali salah satu keragaman kebudayaan yang ada di Indonesia. Sekedar mengenali tidaklah cukup tetapi kita khususnya generasi muda harus berupaya untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Banyak sekali nilai kebudayaan yang dapat dicontoh seperti kemandirian anak lelaki suku Minangkabau dan sifat religius dari masyarakat Padang antara Majapahit dan kerajaan Padang juga membuahkan sebuah nilai yang patut di contoh, demi kemaslahatan masyarakat agar tidak menjadi korban perang maka para datuk bertindak gesit dan cerdik sehingga peperangan dapat dihindari.

Pustaka

Pustaka