Keraton Yogyakarta

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan terkenal yang ada di Indonesia. Keraton Yogyakarta merupakan bangunan istana resmi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Pada masa lalu, Keraton berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan kerabatnya. Namun kini fungsi Keraton beralih menjadi tempat wisata, museum pusat kebudayaan Jawa, dan sebagai tempat tinggal Sultan. Keraton Yogayakarta memiliki nilai-nilai sosial-budaya dan religi dalam pendirian maupun pemanfaatannya. Selain sebagai tempat tinggal raja dan museum pusat kebudayaan Jawa, Keraton Yogyakarta pun dijadikan sentra dan kiblat perkembangan budaya Jawa.

|.

Lokasi Keraton

Keraton Yogyakarta terletak di Jl. Rotowijayan 1, Desa: Kadipaten,

Kecamatan:Keraton

Kabupaten: Yogyakarta,

Provinsi: D.I Yogyakarta

luas lahan : 1.800.000 mē

luas buas Bangunan : 18.584 mē.

|.

Denah Keraton

Denah Keraton
Batasan Keraton Yogyakarta: Sisi Utara: Jl. Ibu Ruswo, Jl. Pekapalan, Kp. Kauman, dan Jl. Agus Salim Sisi Barat: Jl. Wachid Hasyim Sisi Selatan: Jl. Mayjend Sutoyo dan Jl. Letjen Haryono Sisi Timur: Jl. Brigjen Katamso Wilayah ini berada pada koordinat : X: 0429869 dan Y: 9137087

SEJARAH

Latar Belakang Sejarah

Perjanjian Giyanti menjadi latar belakang berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian terjadi pada tanggal 13 Februari 1755 M, yang menimbulkan perpecahan Kerajaan Mataram menjadi dua. Kerajaan pertama berpusat di Surakarta dan dikuasai oleh Susuhunan Paku Buwana III, Kerajaan kedua berpusat di Yogyakarta dan dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi menamai daerah kekuasaannya dengan nama Ngayogyakarta Adiningrat, dan Pangeran Mangkubumi diberi gelar Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Alaga. Sultan memerintahkan pembangunan istana, dengan lokasi di Pacethokan dekat Hutan Beringan, di antara Sungai Cobe dan Sungai Winongo. Pemkawasan dipimpin langsung oleh Sultan dan dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755. Keraton mulai bisa ditempati pada pada tanggal 7 Oktober 1756, Sultan beserta kerabatnya mulai menempati Keraton dan meninggalkan Pesanggrahan Ambarketawang. Penempatan Keraton diperingati dengan sengkalam memet dwi naga rasa tunggal yang bermakna angka tahun 1756 M. Pembangunan bangunan pendamping Keraton, seperti pembuatan benteng keliling, kompleks Tamansari, Pasar Gedhe dan Masjid Gedhe dilakukan secara bertahap karena kondisi keamanan yang labil.

|.

Sebagai sebuah pusat kebudayaan, terdapat wujud-wujud kebudayaan yang ditampilkan oleh Keraton Yogyakarta. Gagasan (wujud ideal) yang ada di Keraton Yogyakarta berupa pemikiran, filosofi, dan mitologi dalam pembangunannya, misalnya pemikiran mengenai penataan ruang, gagasan yang dituangkan dalam bentuk motif batik sebagai upaya pelestarian batik di tanah Jawa. Wujud kebudayaan berupa aktivitas tercermin dalam pergaulan sehari-hari di Keraton Yogyakarta yang harus menggunakan Bahasa Jawa sesuai tingkat usianya, pemberian sesajian di ruang yang dianggap keramat dan suci. Selanjutnya wujud kebudayaan yaitu artefak (karya), pada Keraton Yogyakarta ada bangunan beserta ruang-ruang yang di dalamnya disimpan benda-benda pusaka, berupa batik, keris, gamelan, kereta kuda, panji kebesaran Keraton Yogyakarta, dan lain-lainnya.

WARISAN BUDAYA

Warisan Budaya

Warisan Budaya

Kebudayaan Keraton Yogyakarta atau yang memiliki nama lengkap Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bukti bahwa Indonesia pernah menggunakan kesultanan sebagai pusat pemerintahannya. Meskipun kini kesultanan sudah tidak berlaku lagi di republik ini, namun segala macam tradisi dan budaya kesultanan masih banyak yang dijalankan di Keraton ini. Keraton Yogyakarta juga kini masih menjadi tempat tinggal Sultan beserta para Abdi Dalemnya.

Dilihat dari segi bangunan yang khas sekali dengan budaya Jawa, dengan balairung-balairung yang mewah, paviliun yang luas, daun pintu yang terbuat dari kayu jati yang tebal, di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Secara keseluruhan arsitektur ini bergaya Joglo, joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Atap joglonya berbentuk trapesium, saat melihat dinding-dindingnya maka warna putih akan terlihat sekali mendominasi.

|.

1. Upacara Sekaten

Upacara Sekaten
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Upacara ini sudah dilakukan sejak jaman kerajaan Demak. Sebenarnya tujuan utama upacara ini adalah dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw (Maulid Nabi). Sekaten sendiri berasal dari istilah credo yang dalam agama Islam berarti Syahadatain. Upacara Sekaten ini ditandai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, KK Guntur Madu dan KK Nagawilaga dari keraton untuk ditempatkan di Pagongan Selatan dan Utara di depan Masjid Gedhe (Masjid di dalam komplek Keraton). Selama tujuh hari, mulai hari ke-6 sampai ke-11 bulan Mulud, kedua perangkat gamelan tersebut ditabuh secara bergantian.
Upacara Sekaten

|.

2. Upacara Siraman Pusaka dan Labuhan

Upacara Siraman Pusaka dan Labuhan

Dalam bulan pertama kalender Jawa yaitu bulan Suro, Keraton Yogyakarta memiliki upacara tradisi khas yaitu Upacara Siraman Pusaka dan Labuhan, maksudnya adalah untuk membersihkan maupun merawat Pusaka Kerajaan yang dimiliki. Upacara ini di selenggarakan di empat tempat dan lokasinya juga tertutup untuk umum dan hanya diikuti oleh keluarga kerajaan.

Sedangkan Labuhan adalah upacara sedekah yang dilakukan di dua tempat yaitu Pantai Parang Kusumo dan Lereng Gunung Merapi. Di kedua tempat itu benda-benda milik Sultan seperti nyamping (kain batik), rasukan (pakaian) dihanyutkan. Benda-benda tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat

|.

3. Upacara Garebeg

Upacara Garebeg
Setiap tiga kali dalam satu tahun kalender Jawa upacara Garebeg diadakan, tepatnya tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ke-3), tanggal satu bulan Sawal (bulan ke-10) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan ke-12). Pada hari-hari tersebut Sultan berkenan mengeluarkan sedekahnya kepada rakyat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.

|.

4. Upacara Tumplak Wajik

Upacara Tumplak Wajik
Ini merupakan acara pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa). untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg, dua hari sebelum upacara Garebeg tepatnya. Upacara ini dihadiri oleh pembesar Keraton. Musik-musik khas budaya Jawa pun terdengar dalam prosesi upacaranya, seperti musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi), kenthongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan pembuatan pareden.

PENUTUP

PENUTUP

Sebagai salah satu pusat kebudayaan asli Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial-budaya dan religi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta merupakan warisan luhur budaya nasional yang luhur, maka perlu kiranya dijaga kelestariannya.

Selain sebagai pusat pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Keraton merupakan cagar budaya yang harus dilestarikan karena masih mempertahankan fungsinya hingga saat ini. Keraton Yogyakarta juga memiliki manfaat lain dalam pengembangan kawasan wisata yang dapat menambah pengetahuan mengenai kekhasan Daerah Istimewa Yogyakarta.

|.

KEPUSTAKAAN

Sumber foto: