Komunitas Batu

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Istilah suiseki berasal dari bahasa Jepang yaitu, sui dan seki. Sui berarti air, sedangkan seki berarti batu. Jadi suiseki secara utuh memiliki arti batuan air. Batuan yang digunakan untuk kesenian suiseki terbentuk sejak jutaan tahun lalu, melalui berbagai proses alamiah kemudian suiseki mengalami pembentukan dan perbedaan variasi bentuk, warna dan ukuran.

Batuan air tak hanya berkembang di Jepang, melainkan juga di Cina dan Korea. Suiseki menjadi benda bernilai seni yang tinggi di kalangan kerajaan Cina saat itu. Para raja ingin memiliki batuan yang indah di istana mereka namun dalam ukuran yang kecil. Sejak itulah masyarakat di Cina mulai berburu batuan cantik yang berukuran kecil sehingga bisa dinikmati di dalam rumah.

SEJARAH

SEJARAH

Peta Korea dan Peta Jepang

Meskipun istilah suiseki berasal dari bahasa Jepang, namun salah satu negara yang menjadi awal mula berkembangnya suiseki adalah negeri Tiongkok. Bangsa Tiongkok dikenal memiliki kecintaan pada alam dan kehidupan, salah satunya adalah kecintaan pada tanaman dan pepohonan. Ribuan tahun lalu, para raja di kerajaan Tiongkok mulai memiliki keinginan untuk membuat keindahan tanaman dan pepohonan yang ada di alam agar dapat dinikmati di dalam rumah atau istana mereka. Keinginan tersebut diwujudkan dengan membuat miniatur tanaman atau pepohonan yang memiliki bentuk menarik, atau dikenal dengan istilah bonsai.

Keindahan alam lain yang dapat dinikmati di dalam rumah yaitu batuan alam. Batuan alam yang umumnya berukuran besar dan sulit dipindahkan, kemudian dibuat miniatur dari batuan tersebut layaknya membuat bonsai tanaman dan pepohonan.

Istilah suiseki masih belum dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia, namun tidak demikian halnya bagi masyarakat Jepang, Tiongkok, maupun Korea yang sudah terbiasa mendengar dan mengetahui adanya kesenian batuan air atau suiseki ini. Di negara-negara tersebut, istilah batuan air hadir dengan berbagai nama, misalnya di Korea, suiseki disebut Su-Seok yang artinya ‘batu berumur tua’. Di Tiongkok, suiseki dikenal dengan istilah shang-sek yang berarti ‘batu-batu indah.’ Masing-masing istilah menggambarkan keindahan batuan air yang bernilai seni tinggi ini.

Tiongkok yang juga dikenal dengan nama Cina merupakan negara di mana suiseki mengalami perkembangan pesat. Seni batuan air ini muncul kira-kira 1.500 tahun lalu, sekitar tahun 618 sampai 907 Masehi pada masa kerajaan Dinasti Tan dan Sung. Konon, pada masa itu ada seorang rakyat biasa yang menemukan sepotong batu. Karena percaya batu itu sangat bernilai maka batu tersebut disimpan baik-baik. Tamu-tamu yang berkunjung mengamati batu tersebut dan mulai menyenanginya. Pada awal Dinasti Shang (20 abad S.M) kegemaran terhadap seni batu mulai memasyarakat dan populer.

Peta Tiongkok (Cina)

KEUNGGULAN BATUAN AIR

KEUNGGULAN BATUAN AIR

Batuan air memiliki nilai keindahan dan nilai seni yang tinggi bagi para pecinta seni batuan air ini. Dalam satu batu dapat ditemukan beberapa bentuk yang berbeda tergantung dari sudut pandang penikmatnya. Dari satu batu suiseki dapat tampak seperti panorama alam, dan dengan sudut pandang berbeda akan tampak bentuk lainnya.

Bagi para pecinta suiseki, keindahan batuan ini tak hanya dari bentuknya semata, namun juga batuan air ini mewakili kesan mewah dan kekuatan yang dimiliki batu tersebut. Suiseki yang bernilai seni tinggi memiliki keunggulan karakteristik berupa bentuk yang menyerupai panorama alam dan binatang, warna yang hitam pekat maupun perpaduan warna lainnya, serta kekuatan batu yang menunjukan kualitas batu suiseki tersebut.










RAGAM BATUAN AIR

RAGAM BATUAN AIR

Secara umum, suiseki terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan bentuk tampilannya, yaitu batuan panorama, batuan objek, dan batuan berpola. Batuan panorama adalah batuan air yang tampilannya menggambarkan bentuk panorama alam seperti pegunungan goa, air terjun, danau, dan aliran sungai.

Bentuk yang ditampilkan tak selalu tampak sempurna, terkadang gambaran panorama tersebut terwujud dalam bentuk yang sedikit abstrak namun tetap membentuk tampilan panorama alam.

Suiseki Hitam Pekat

Selain batuan yang menggambarkan panorama alam, bentuk lainnya adalah batuan objek, yaitu batuan air yang bentuknya menyerupai beberapa objek seperti binatang, organ tubuh manusia, dan beberapa benda buatan manusia, misalnya kapal laut.

Semakin jelas bentuk yang ditampilkan, maka semakin tinggi nilai seni dan ekonomis suiseki tersebut

Suiseki Gunung
Suiseki Air Terjun
Suiseki Aliran Sungai
Bentuk katak
Bentuk wanita sedang duduk
Bentuk tengkorak manusia

Bentuk batuan air yang terakhir yaitu batuan berpola atau bercorak. Nilai lebih dari batuan air berpola ini adalah pada perpaduan warna yang membentuk corak indah batuan tersebut.

Terbentuknya pola pada batuan disebabkan oleh proses alam yang terjadi dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga ribuan tahun. Proses alam tersebut menghasilkan guratan warna yang indah dan menghasilkan nilai seni yang tinggi.

Batuan berpola hijau
Batuan berpola bebek
Batuan berpola biru-merah

KOMUNITAS BATU DI INDONESIA

KOMUNITAS BATU DI INDONESIA

Tak hanya Jepang, Tiongkok, dan Korea, saat ini suiseki semakin digemari di Indonesia. Pada tahun 1993 terbentuklah Komunitas Batu di Indonesia, yaitu komunitas yang terdiri dari para penggemar, kolektor, dan pemburu suiseki. Komunitas batu aktif dalam berbagai kegiatan berburu batuan air hingga ke daerah-daerah penghasil batuan air terbaik di Indonesia.

Dengan iklim tropis dan kondisi alam yang memungkinkan terbentuknya batuan air yang indah membuat Indonesia menjadi salah satu negara tempat berburu suiseki yang terkenal hingga mancanegara. Komunitas Batu juga bekerja sama dengan penggemar suiseki dan ahli geologi dari berbagai negara untuk meneliti dan mencari lebih banyak lagi jenis suiseki di Indonesia.

Selain dinikmati sebagai karya seni, batuan air juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat dijadikan bisnis penjualan suiseki. Sumatera Barat merupakan ladang emas suiseki. Mulai Sungai Ombilin, Batanghari, Sijunjung, Sawah Lunto sampai sungai di Payakumbuh, merupakan tempat paling kaya akan batu suiseki.

Namun dibutuhkan ketelatenan dan jiwa petualang yang tinggi untuk mendapatkan batu-batu yang memiliki bentuk seni yang tinggi. Bias anya batu-batuan ini banyak terdapat di alam terbuka dan daerah-daerah yang dekat dengan aliran sungai.

Peta Sumatera Barat

PENUTUP

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut : Kecintaan pada batuan air merupakan wujud kecintaan pada alam dan Sang Pencipta. Nilai yang dapat diteladani oleh generasi muda melalui Komunitas Batu alam di antaranya adalah jiwa yang mencintai alam serta jiwa petualang dan pantang menyerah melalui proses perburuan batuan air tersebut. Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut :

Mengamati suiseki bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan tersendiri. Dalam kekerasan bentuk dan kekuatan batu tadi terdapat kelembutan alami yang sangat memukau. Hati nurani terasa bergetar dan mampu membawa kedamaian dalam hati sanubari. Di sinilah, kita sadari betapa besarnya kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta.