Ketoprak

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Ketoprak merupakan jenis pertunjukan rakyat yang memiliki gabungan unsur-unsur tari suara, musik, sastra, drama, dan lain-lain, tetapi secara keseluruhan unsur drama paling menonjol. Ketoprak diperkirakan lahir di daerah Jawa Tengah termasuk Yogyakarta, Kapan dilahirkan, dimana, dan siapa penciptanya tidak dapat dinyatakan dengan pasti. Di Yogyakarta, jenis ketoprak dari daerah ini mempunyai gaya khas yang dinamakan ketoprak Mataram, lawannya adalah ketoprak pesisir yaitu, ketoprak yang tumbuh di luar Yogyakarta. Pada mulanya, ceritanya diambil dari kehidupan para petani dengan maksud untuk memajukan pertanian, cerita lainnya berlatar belakang sejarah.





|.

lokasi awal mula seni ketoprak muncul

 

Nama ketoprak sendiri diambil dari bunyi yang dihasilkan dari alat musiknya. Pada waktu itu ketoprak menggunakan alat musik lesung (alat untuk menumbuk padi), suling, terbang, kendang. Irama yang dihasilkan ..dung ..dung . .prak .prak... .pating ketuprak (bahasa Jawa) sehinga orang menyebutnya ketoprak. Lahirnya ketoprak di ilhami oleh permainan gejogan dan kotekan, yaitu permainan oleh gadis-gadis desa di waktu bulan purnama dengan menggunakan lesung dengan ritme yang teratur. Bunyi lesung ini biasanya juga diiringi oleh nyanyian-nyanyian. Dari gejogan dan kotekan inilah lahir ketoprak, yang peralatan musiknya ditambah dengan menggunakan kendang dan seruling, serta dibubuhi cerita pendek di sekitar tempat pertunjukan.






|.

Seperti yang sebelumnya telah disebutkan bahwa pada mulanya ketoprak merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama. Seiring dengan perkembangan zaman dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk teater rakyat yang lengkap dan waktu pelaksanaannya pun mengalami perubahan. Ketoprak dikatakan tradisional karena drama ini dipertunjukkan kepada penonton tanpa menggunakan teks sebagaimana yang berlaku pada drama modern. Di sini para pemainnya tidak perlu menghafalkan teks terlebih dahulu sebelum bermain. Para pemain mengucapkan dialog-dialognya secara improvisasi atau memakai pola-pola kalimat tertentu yang dikenal secara tradisi oleh masyarakat.

Ki Sugati, tokoh penting dalam dunia seni ketoprak

Tokoh-tokoh yang berperan penting di dalam dunia seni peran ketoprak adalah Ki Sugati. Ki Sugati tinggal di dusun Pajangan, Pandawaharja, Sleman. Mbah Gati adalah seniman yang memberikan diri sepenuhnya pada seni ketoprak. Jasa Ki Sugati takkan dilupakan oleh kalangan seniman Yogyakarta, kususnya seni tradisional ketoprak. Karena Ki Sugati orang yang sangat cinta akan seni tradisional ketoprak tersebut, salah satunya adalah usahanya yang tidak kenal lelah menghimpun dan menghidupi seniman ketoprak dalam wadah PS Bayu, sejak tahun lima puluhan. Selain Ki Sugati, tokoh lainnya adalah Bagong Kussudiardjo, Widjaja, dan Marsidah yang juga berperan dalam perkembangan du dunia ketoprak.

KEBERADAAN

KEBERADAAN KETOPRAK

Di tengah pesatnya perkembangan budaya-budaya yang saat ini masuk ke Indonesia, banyak kesenian-kesenian tradisional yang saat ini mulai terpinggirkan, salah satunya adalah ketoprak. Banyak penyebab yang membuat ketoprak pada saat ini mulai dianggap sudah ketinggalan dibandingkan dengan pertunjukan seni lainnya. Mulai banyaknya acara hiburan di televisi, ceritanya monoton, dan masih banyak hal lain yang menyebabkan mulai ditinggalkannya ketoprak pada masa sekarang ini.

Padahal jika kita mau melirik ketoprak sebagai sebuah seni pentas, banyak sekali filosofi yang terkandung dalam pertunjukan yang bisa kita jumpai ketika kita menonton pentas ketoprk. Banyak pesan-pesan dan kritik sosial, agama bahkan politik yang disampaikan dalam adegan-adegan tertentu yang dipertunjukan di dalam pementasan ketoprak. Tetabuhan lewat gamelan menjadi daya tarik sendiri, disaat harmoni musik bersatu dalam lantunan lagu-lagu Jawa, bahkan dalam beberapa pementasan mengadopsi lagu-lagu campursari yang lebih “up to date”, sehingga segmentasi hiburan dan seni bisa dipadukan dengan harmonis.

Jika kita cermati, keberadaan ketoprak telah banyak mengalami perubahan bentuk dari awal kemunculannya sampai tahun 1987, secara singkat perubahan bentuk tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ketoprak gejog/lesung (1887 - 1908)

pertunjukaan ketoprak lesung
Asal mula ketoprak ini terwujud dari permainan para pemuda di dusun yang sedang bermain sambil diiringi irama lesung pada saat bulan purnama.

2. Ketoprak Wreksadiningrat (1908 - 1925)

K.R.M.T.H Wreksadiningrat seorang abdi dalem Bupati Nayaka di Surakarta Hadiningrat melihat ada kandungan seni yang sangat bagus di dalam ketoprak tersebut, hal itu menggugah hatinya untuk mengangkat tontonan ketoprak menjadi salah satu bagian dari kesenian keraton. Pada saat itulah lakon ketoprak bergeser, dari yang semula dongeng, tutur rakyat legenda dan mite, menjadi bercampur dengan dongeng-dongeng kepahlawanan para kesatria dan kaum bangsawan, dan bahkan beberapa cerita Tiongkok disadur dan masuk dalam khazanah "lakon baku" ketoprak, seperti misalnya cerita-cerita "Sampek Engtay" dan "Sie Djin Kwie" (Jaka Sudira). Selain itu juga timbul lakon-lakon baru, yang selanjutnya dibakukan atau di-babon-kan, yaitu cerita-cerita babad

pertunjukan ketoprak sampek entay

3. Ketoprak Wreksatama (1925 – 1927)

Pada tahun 1925 di kampung Madyataman Surakarta berdiri grup ketoprak baru dengan nama ketoprak Wreksatama yang di dirikan oleh Ki Wisangkara bekas anggota ketoprak Wreksadiningrat. Di bawah kepemimpinan Ki Wisangkara ketoprak juga mengalami perubahan, musik iringan model Wreksadiningrat oleh ketoprak Wreksatama di perlengkap lagi dengan saron, biola, gitar, mandolin, kenong, kempul, gong. Nyanyian tetap seperti ketoprak Wreksadiningrat, tetapi lakon yang di tampilkan berubah, Ki Wisangkara sudah berani menampilkan lakon-lakon babad di antaranya cerita panji, ajisaka dan beberapa cerita-cerita berlatar belakang jaman kerajaan. Karena Ki Wisangkara terlalu berani menampilkan cerita dan pantun-pantun yang berisi sindirian kepada pemerintah atau keraton yang di kawatirkan bisa mengurangi kewibawaan kalangan keraton maka kesenian ketoprak ini akhirnya dilarang.

4. Ketoprak Krida Madya Utama (1927 – 1930)

Pada permulaan tahun 1927 seorang bekas pemain ketoprak sambeng bernama Ki Jagat Trunarsa mendirikan perkumpulan ketoprak baru bernama Krida Madya Utama. Disamping sebagai pendiri, Ki Jagat Trunarsa bertindak sebagai pemimpin merangkap dalang (sutradara) dari ketoprak tersebut. Krida Madya Utama telah mengambil bentuk baru dalam organisasi. Usaha yang dilakukan yaitu dengan memburu penggemar atau memperluas masyarakat penggemar ketoptrak. Krida Madya Utama melakukan pertunjukan kelilling sehingga akhirnya sampai di desa Demangan, yang merupakan titik tolak perkembagan ketoprak daerah Yogyakarta.

Gambar pertunjukan ketoprak keliling

5. Ketoprak Gardanela (1930 – 1955)

Setelah sampai di Yogyakarta, ketoprak lebih di sempurnakan lagi dengan iringan gamelan jawa lengkap laras pelog, tema ceritanya mengambil babad dan sejarah dengan catatan kostum yang di pakai untuk pementasan tidak di perbolehkan menyamai pakaian kebesaran keraton. Menurut tulisan karya mendiang W.S Rendra masa-masa itu di sebut Jaman ketoprak GARDANELA karena ketoprak pada waktu itu sudah mulai berkreasi menggarap cerita-cerita luar negeri seperti Sampek Engtay, Johar Manik, Jenderal Sie Jien Kwie.

seni pertunjukan ketoprak gardanela

6. Ketoprak modern (1955 – 1958)

Pada tahun 1955, ketoprak profesional/tobongan benar-benar menjamur, banyak grup ketoprak bersaing dalam berbagai hal terutama tentang kreasi cerita dan pementasan, sehingga pada masa itu banyak grup ketoprak yang menambahkan sebuah kalimat di depan nama grupnya dengan kata modern, misalnya Ketoprak Modern Krido Mardi, Ketoprak Modern S 3 Marem , dll

pertunjukan ketoprak modern

|.

7. Ketoprak Gaya Baru (1958 – 1987)

Bagaikan sebuah perlombaan yang akhirnya di menangkan oleh Ki Siswondo Harjo Suwito pada tahun 1958 ketoprak Siswo Budoyo dengan terobosan yang spektakuler berhasil menggulingkan ketoprak Moderen dan menggantikannya menjadi ketoprak Gaya baru Siswo Budoyo Tulungagung.

pementasan ketoprak gaya baru

8. Ketoprak Mataram

Ketoprak Mataram merupakan kesenian tradisi yang konsisten dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi yang merupakan roh kehidupan. Ketoprak Mataram merupakan ciri khas kesenian tradisi yang sangat lekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, yang sampai sekarang masih bisa dirasakan eksistensinya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Ketoprak Mataram telah menyatu dengan kehidupan, adat istiadat, bahasa, dan kejiwaan masyarakat Yogyakarta. Unsur tradisi yang tidak bisa terlepas dari perkembangan ketoprak Mataram di antaranya ontowecana, unggah-ungguh, tembang, keprak, serta iringanunsur busana atau kostum yang dipakai pemeran ketoprak juga mengandung ajaran watak dan kedudukan seseorang

|.

Ketoprak memiliki adegan pakem yang selalu ditampilkan dalam setiap pertunjukan. Adegan tersebut adalah adegan perang, adegan lawakan, dan adegan percintaan. Disamping adegan pakem yang selalu ada dalam pertunjukan ketoprak, ada empat unsur penting yang ada pada struktur dramatik Ketoprak, yaitu; tema, alur/plot, penokohan/karakteristik dan konflik.

Tema merupakan gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya disebut tema. Atau mudahnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu

Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu: Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear, berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal, Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami

|.

Tokoh merupakan individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Terakhir adalah konflik, konflik atau tikaian dalam pertunjukan Ketoprak ada dua yaitu konflik besar dan konflik kecil Konflik besar adalah kIimaks dari pertunjukan sedangkan konflik kecil adalah bumbu-bumbu atau trik untuk memberikan nilai estetik pada pertunjukan. Contoh konflik kecil adalah adegan perang. Konflik atau tikaian dalam pertunjukan Ketoprak seialu memberikan tekanan pada beburukanlkejahatan akan selalu kalah dengan kebaikan sehingga tiap ending dari pertunjukan adalah kebahagiaan

Cuplikan adegan pertikaian

Bentuk pemanggungan dalam pertunjukan Ketoprak dapat dilihat melalui bentuk estetik dari pertunjukan itu yang meliputi; cerita atau lakon, iringan yang dipergunakan baik alatnya maupun gendingnya, rim busana yang dipergunakan, pencahayaan dan tata panggunng/dekorasi yang dipergunakan mendukung adegan

|.

Bentuk pemanggungan dalam pertunjukan Ketoprak dapat dilihat melalui bentuk estetik dari pertunjukan itu yang meliputi; cerita atau lakon, iringan yang dipergunakan baik alatnya maupun gendingnya, pencahayaan dan tata panggunng/dekorasi yang dipergunakan mendukung suatu adegan. Seni pertunjukkan ketoprak juga tidak lepas dari pemilihan kostum yang nantinya akan digunakan oleh para pemain. Kostum yang digunakan diantaranya adalah:

1. Jenis Pakaian Kejawen

Kejawen merupakan jenis pakaian khas Jawa sejak zaman dahulu, kerajaan Demak, kerajaan Mataram sampai saat ini. Pakaian ini terdiri dari celana panji-panji (cinden), baju surjan, kebayak, teni atau blenggen, iket blankon, kemben, kuluk (untuk upacara raja dengan menteri-menterinya) dan lain sebagainya

pakaian kejawen

2. Jenis Pakaian Mesiran

Jenis pakaian ini biasanya digunakan untuk cerita–cerita dengan tema dari luar/ mesiran. Misalnya : dongeng dari cerita 1001 Malam, cerita Turki, dll

pakaian kejawen

|.

3. Jenis Pakaian Basahan

Yang dimaksud dengan pakaian basahan adalah jenis gabungan antara pakaian kejawen dengan mesiran, yaitu bagian bawah menggunakan kain batik atas menggunakan jubah

Pakaian Basahan

4. Jenis Pakaian Gedhog

Jenis pakaian ini terpengaruh dengan pakaian wayang orang, hanya disana sini ada perubahan – perubahan, biasanya dgunakan ketika tema yang diangkat seputaran tema-tema pewayangan.

pakaian gedhog gedho

TAHAP-TAHAP

TAHAP-TAHAP PEMENTASAN KETOPRAK

Guna mewujudkan ketoprak yang memiliki daya tarik sesuai selera masyarakat dalam setiap pementasannya, maka diperlukan totalitas dalam mengelola. Totalitas terhadap berbagai aspek, antara lain aspektema cerita, pemasaran, penentuan harga, penentuan tempat, bentuk promosi, kemasan, distribusi pertunjukan dan tradisi evaluasi setelah berlangsungnya pertunjukan Hal pertama yang dilihat adalah penentuan tema cerita. Penentuan tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

pertunjukan ketoprak dengan lakon Jendral Besar

Ketika memikirkan darimana lakon berasal, atau pun memperhatikan proses pemilihannya, muncullah pemahaman bahwa sebuah lakon tidak muncul begitu saja. Di samping pemilihan lakon sampai pada pementasannya yang dapat diketahui, masih ada juga unsur motivasi perlawanan yang dapat digali untuk menemukan fungsi dan makna sebuah pertunjukan. Hal ini didasarkan pada suatu pandangan tertentu yakni ketika sebuah pementasan dipandang sebagai sebuah drama sosial, maka di dalamnya dapat ditemukan ide yang melatarbelakanginya, atau-pun kegiatan pementasannya (Victor Turner, From Ritual to Theatre. The Human Seriousness of Play, New york, 1982, hal. 11). Di samping itu, dalam sebuah pertunjukan terkadang juga mengandung sebuah unsur perlawanan yang turut melatarbelakanginya.

|.

Ide yang melatar belakangi adanya sebuah pementasan akan memperhitungkan kapan dan di mana sebuah pementasan akan diselenggarakan. Sebagai contoh, sebuah pertunjukan ketoprak ringkes memilih judul Putri Cina, judul dipilih berdasarkan tujuan penyelenggaraan untuk memperingati sewindu reformasi. Dan tempat pagelarannya pun mengambil kota Jakarta. Dengan pilihan tempat dan waktu seperti itu, tentu kita dapat melepaskan diri dari tujuan memperingatkan peristiwa kekerasan massal 1998. Selain itu pertunjukan juga membawa pesan unsur perlawanan yang secara halus diketengahkan melalui pertunjukan tersebut. Demikian pun berlaku untuk lakon-lakon yang lain. Hal tersebut dapat dijadikan acuan yang bisa digali, mengapa dipilih sebuah lakon untuk dipentaskan. Demikian pun selanjutnya untuk lakon-lakon yang lain

lakon dalam ketoprak

MANFAAT

MANFAAT SENI PERTUNJUKAN KETOPRAK

Pada zaman dahulu seni pertunjukkan tradisional seperti Ketoprak mendapatkan tempat tersendiri di hati para masyarakat sebab pertunjukkan tradisional ini memberikan manfaat secara lahir maupun batin bagi para penikmat nya. Hal itu sama seperti fungsi kesenian yang terdapat dalam yakni kegiatan bersenang dan berhibur karena dengan berkesenian maka orang yang melakukan maupun yang menonton kesenian tersebut akan merasa senang dan terhibur (Sedyawati, 2010:366). Sebab para pemain kesenian akan merasa puas/senang apabila penonton terhibur dengan penampilannya di atas panggung.

masyarakat yang sedang menonton ketoprak sebagai sarana hiburan

Pertunjukan ketoprak menjadi media alternatif transfer cerita sejarah kepada masyarakat. Umumnya, lakon-lakon yang dipentaskan kesenian ketoprak seputar babad, legenda maupun sejarah yang terjadi di berbagai daerah. Cerita-cerita inilah yang kemudian menjadi kokoh dalam kehidupan warga. Selain itu ketoprak juga bisa dijadikan sebagai media hiburan bagi masyarakat karena lakonnya yang jenaka. Dan ini sangat menarik dinikmati, terutama apabila memang pertunjukan ketoprak yang disuguhkan mengangkat cerita humor yang dapat mengundang tawa

|.

Semua seni budaya adalah medium dari perubahan kebudayaan. Seniman menciptakan bentuk yang memungkinkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Partisipasi memerlukan komunikasi dan komunikasi memerlukan bentuk ekspresi. Lewat bentuk-bentuk itu seniman memelihara kehidupan perasaan dari makna serta tujuan yang melampaui adat kebiasaan (dalam Purwaraharjo, 1997:5). Seni ketoprak sebagai salah satu karya seni budaya masyarakat memiliki fungsi sebagai media untuk menyampaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat.

R.K. Marton mengatakan bahwa ada 3 hal mengenai fungsi terkait dengan masyarakat, yaitu

(1) Kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi interval yang memadai tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diukur,

(2) Fungsionalisme universal beranggapan bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif, dan

(3) Setiap kebiasaan, ide, objek material dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting serta memiliki sejumlah tugas yang harus dijabarkan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan (dalam Poloma, 1991:35-38 ).

Ketoprak sebagai suatu seni tradisional secara umum memiliki empat fungsi, yaitu;

(1) Fungsi ritual, kesenian teater tradisional yang ditampilkan berfungsi untuk melaksanakan upacara atau ritual keagamaan untuk para leluhur dan nenek moyang yang berguna untuk meminta perlindungan,

(2) Fungsi hiburan; Teater tradisional ini memang dipentaskan untuk dinikmati oleh para penonton yang mungkin untuk menghilangkan rasa lelah atau mengendurkan urat syaraf setelah bekerja seharian,

(3) Fungsi media penerangan atau kritik sosial, pesan-pesan yang disampaikan melalui pertunjukan ini akan dengan mudah dimengerti oleh penonton, dimana pesan-pesan tersebut dapat berupa program-program pemerintah keagamaan dan lain sebagainya, dan

(4) Fungsi pendidikan atau media tuntunan, cerita yang dimainkan mengandung unsur pendidikan kepada masyarakat. Baik itu tentang sejarah masa lalu maupun kejadian terkini.

Teater tradisional khususnya ketoprak merupakan sebuah wujud seni pertunjukan yang mengajak masyarakat untuk mengenal sejarah bangsa, sejarah kerajaan yang pernah ada, dan sejarah para pemimpinnya yang pemah ada dengan lebih mudah. Sehingga dengan adanya pengenalan terhadap sejarah yang diangkat ke dalam pertunjukan maka masyarakat akan tetap mengtahuinya, hal ini menambahkan manfaat lain ketoprak sebagai pelestari nilai-nilai histori sejarah bangsa. Guna mewujudkan ketoprak yang memiliki daya tarik sesuai selera masyarakat dalam setiap pementasannya, maka diperlukan totalitas dalam mengelola. Totalitas terhadap berbagai aspek, antara lain aspek pemasaran, penentuan harga, penentuan tempat, bentuk promosi, kemasan, distribusi pertunjukan dan tradisi evaluasi setelah berlangsungnya pertunjukan

UPAYA PELESTARIAN

UPAYA PELESTARIAN

Memang benar, eksistensi ketoprak pada saat ini mulai menyusut akibat ketidakberdayaan ketoprak di dalam menghadapi banyaknya alternatif hiburan. Jika hal tersebut dibiarkan lama kelamaan ketoprak hanya tinggal menjadi sebuah kenangan saja. Media yang mampu memberikan sejenis hiburan yang kian menarik perhatian masyarakat yakni televisi menjadikan masyarakat kehilangan nilai etika tradisi (Irwan Abdullah, 2006: 59). Banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan, teknologi modern bisa kita kolaborasikan dengan ketoprak, misalnya dengan cara kita manfaatkan teknologi yang ada untuk mempercantik tata panggung saat pementasan ketoprak. Selain itu banyak pula di beberapa sekolah yang menyediakan seni pentas menjadi salah satu kegiatan ekstra kulikulernya.

Dalam instrumen musik misalnya, kita juga bisa menambahkan instrument-instrumen musik masa kini dalam mengiringi pementasan ketoprak. Sedangkan dari sisi media sosialisasi kita bisa memanfaatkan teknologi internet untuk memperkenalkan ketoprak kepada masyarakat luas, mengajak mereka untuk bersama-sama melestarikan kesenian dan kebudayaan kita, termasuk ketoprak. Dengan memaksimalkan secara positif teknologi yang berkembang saat ini, diharapkan kita dapat mengangkat kembali ketoprak kepermukaan agar tidak semakin tenggelam dan tergerus arus hiburan modern. Anehnya, bagi pemerintah daerah maupun pusat ketoprak ini belum diperhatikan sebagai salah satu unsur wisata.

Upaya pementasan ketoprak yang dilakukan anak sekolah