• SINOPSIS


    Charles Darwin

    Charles Darwin

    Ketika kita mendebatkan tentang asal mula manusia, maka yang terpikir pertama kali adalah teori evolusi Charles Darwin yang menjelaskan bahwa manusia pertama adalah kera, sedangkan yang tercantum pada kitab-kitab suci agama samawi dijelaskan bahwa manusia pertama adalah Adam. Namun, hingga saat ini para ilmuwan masih terus mencari bukti untuk memastikan asal mula manusia. Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya.

  • PENDAHULUAN


    Pertanyaan tertua sepanjang sejarah manusia adalah siapa diri kita? Berbagai jawaban religius, filosofis, dan tradisional dalam berbagai kebudayaan telah berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Masa Renaissance di Eropa yang kemudian membawa kebebasan kembali ilmu pengetahuan membawa revolusi pemikiran mengenai asal mula kehidupan di dunia termasuk asal mula manusia. Revolusi pemikiran tersebut menyatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang lebih sederhana (Darwin 1871). Kritik yang berarti terhadap teori evolusi terutama berasal dari kelompok pemikiran “kreasionisme” yang menyatakan mengenai peran “Tuhan” dalam sejarah Bumi dan sejarah manusia. Kelompok pemikiran yang umumnya merupakan kelompok religius ini bertentangan dengan pemikiran teori evolusi oleh seleksi alamiah yang nyata-nyata menyingkirkan keberadaan “Tuhan” dalam sejarah perjalanan alam semesta.


    Fosil Homo Erectus

    Gambar Fosil Homo Erectus

    Sumber gambar : http://whc.unesco.org/uploads/thumbs/site_0593_0003-750-0-20131017191747.jpg

    Asal mula manusia secara tradisional dijelaskan dalam kitab suci agama-agama dan cerita-cerita rakyat. Pada umumnya kisah asal mula manusia menceritakan bahwa manusia adalah makhluk sakral yang diciptakan atau berhubungan dengan kekuatan supranatural atau “Tuhan” dalam berbagai pengertian. Di dalam pandangan tradisional manusia selalu mendapatkan posisi khusus di atas makhluk hidup yang lain. Selama manusia di dunia, mereka bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya, dari mana asalnya, dan mengapa perilakunya seperti itu. Akan tetapi, di sebagian besar perjalanan sejarahnya, manusia tidak mampu mengumpulkan kelompok data yang luas dan dapat dipercaya mengenai perilaku dan latar belakangnya sendiri. Oleh karena itu, mereka berpegang pada sekumpulan mitos dan cerita untuk menjawab pertanyaan tersebut.


    Manusia adalah hasil proses evolusi dan penyesuaian adaptif terhadap seleksi alam yang menaunginya. Para ilmuwan sepakat bahwa struktur tubuh manusia secara biologis memiliki rancangan yang sama dengan kelompok kera besar, dan bahwa manusia berasal dari bentuk makhluk yang lebih sederhana. Darwin yang terkenal dengan Teori Evolusinya sangat mempengaruhi usaha menjawab pertanyaan asal mula manusia baik dalam ilmu pengetahuan alam maupun ilmu humaniora.


    Homo Erectus adalah spesies hominid yang berkaitan erat dengan asal muasal umat manusia di bumi. Teori evolusi Darwin menempatkan manusia sebagai hasil evolusi jutaan tahun dari makhluk yang lebih sederhana. Kumpulan data berupa fosil Homo Erectus yang berdasarkan pandangan umum dalam kajian asal mula manusia menunjukkan bahwa ia merupakan hominid yang paling menyerupai umat manusia masa kini dalam hal penguasaan kebudayaan dan persebarannya secara global.

    • Tentang Homo Erectus

      Menurut bahasa latin, Homo erectus memiliki arti manusia yang berdiri tegak. Manusia ini merupakan genus homo yang telah mengalami kepunahan. Penggunaan istilah “erectus” (Pithecanthropus erectus kemudian diklasifikasikan ke dalam genus Homo menjadi Homo erectus) pertama kali digunakan oleh Eugene Dubois untuk menyebutkan fosil temuannya di Kedungbrubus dan Trinil, Jawa Timur. Banyak temuan fosil yang ditemukan, namun tidak semua masuk dalam kategori Homo erectus. Temuan fosil dapat dikatakan masuk dalam kelas Homo erectus apabila memiliki kapasitas cranial atau volume otak ±1000 cc, memiliki tulang kening yang menjorok keluar, dan bagian atap tengkorak yang datar dan menurun di bagian belakang, tulang-tulang tengkorak yang masif terutama pada bagian sisi dan belakang, wajah erectus pendek dan menjorok keluar (dongos) dan memiliki tulang pipi yang lebar dan berisi, memiliki formasi gigi dan rahang yang solid, serta absennya pipi yang menjorok keluar menunjukkan ciri pengunyah yang kuat.


      Pohon Keluarga Homo.

      Pohon Keluarga Homo.

      Sumber gambar : humanorigins.si.edu

      Perbandingan Tengkorak Homo Erectus.

      Perbandingan Tengkorak Homo Erectus.

      Sumber gambar : Encyclopaedia Britannica, Inc., 2012

    • Kala waktu dan persebaran

      Charles Darwin

      Charles Darwin

      Berdasarkan gambaran besar penelitian fosil-fosil dan data-data pendukung lainnya dalam kajian asal mula manusia, hingga saat ini terdapat dua spesies hominid yang tersebar secara global, yakni Homo erectus (±1,89 juta – 143.000 tahun yang lalu) yang ditemukan di Afrika bagian Utara, Timur, and Selatan, Asia Barat (Dmanisi, Republik Georgia), dan Asia Timur (Cina dan Indonesia), serta Homo neanderthal (±200.000 – 40.000 tahun yang lalu) yang ditemukan di Eropa, Asia Tengah, dan Asia Baratdaya. Teori menyatakan bahwa Homo erectus berevolusi dari Homo habilis di Afrika dan kemudian bermigrasi ke Asia dan mungkin Eropa dan kemudian berevolusi menjadi Homo sapiens arkaik (awal/tua). Oleh karena itulah Homo erectus diyakini oleh para pakar berasal dari Afrika yang bermigrasi dan menyebar ke seluruh dunia hingga mencapai Asia Tenggara.


      Pola makan pada Homo erectus menjadi faktor penting dalam memberikan penjelasan mengenai kemampuan mereka memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Berdasarkan hal ini, diduga kuat Homo erectus telah menguasai sumber daya dan lebih lanjut berada di puncak rantai makanan, hal inilah yang menyebabkan Homo erectus dapat bermigrasi ke lokasi-lokasi yang berjauhan dan tersebar di benua Afrika, Eropa dan Asia. Pola makan lebih lanjut menjadi salah satu variabel kebudayaan dalam genus Homo yang kemudian menjadi salah satu pemicu kemajuan kemampuan kognitif dalam evolusi manusia.


      Meskipun para paleoantropolog pada umumnya sepakat mengenai teori bahwa Homo erectus berevolusi menjadi Homo sapiens, namun para paleoantropolog tidak sepakat mengenai bagaimana, dimana, dan kapan transisi ini berlangsung. Di lain pihak, terdapat juga teori yang menyatakan bahwa Homo sapiens berevolusi di Afrika kemudian bermigrasi ke seluruh dunia. Bagaimanapun, variasi interpretasi-interpretasi yang saling berkompetisi satu sama lain akan terus berkembang dalam kajian asal mula manusia.


      Pada tulisan ini akan dicantumkan mengenai tiga teori interpretasi besar mengenai evolusi Homo sapiens yang diambil dari artikel yang dipublikasikan di :
      http://www.pearsonhighered.com/assets/hip/us/hip_us_pearsonhighered/samplechapter/0205158803.pdf.


      A. Teori Evolusi Multiregional


      Homo erectus merupakan genus Homo pertama yang telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Berdasarkan teori evolusi multiregional, Homo erectus berevolusi menjadi Homo sapiens arkaik hingga kemudian Homo sapiens modern di berbagai tempat di Asia, Afrika, dan Eropa pada masa yang hampir bersamaan. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh para antropolog pada tahun 1940an hingga tahun 1980an. Menurut teori ini, keragaman manusia pada saat ini telah dimulai sejak masa Homo erectus yang disebabkan oleh persilangan gen oleh kawin silang.



      B. Teori Penggantian/replacement


      Teori ini menyatakan bahwa Homo sapiens berevolusi di salah satu daerah di dunia untuk kemudian bermigrasi ke seluruh dunia dan menggantikan Homo erectus atau Homo neanderthal yang telah lebih dahulu menempati daerah migrasinya. Berdasarkan teori ini, data yang tumpang tindih antara Homo sapiens dan Homo erectus atau Homo neanderthal yang ditemukan di beberapa situs merupakan bukti bahwa Homo sapiens datang kemudian. Walaupun “bertetangga” namun Homo sapiens dan spesies hominid lain tidak memiliki kesamaan genetik dan tidak menurunkan satu sama lain. Teori yang sering juga disebut “teori Hawa” ini menyatakan bahwa terdapat hubungan langsung secara genetika antara seorang wanita atau kelompok wanita di Afrika pada 200.000 tahun yang lalu dengan populasi Homo sapiens modern, teori ini berdasarkan kepada bukti-bukti genetik (pengambilan sampel-sampel genetika ibu/Mother DNA dari wanita-wanita di seluruh dunia).



      C. Teori Hibrid dan Asimilasi


      Terdapat kemungkinan bahwa tidak ada di antara kedua teori di atas yang sepenuhnya benar mengenai evolusi manusia. Kenyataan bahwa populasi manusia kontemporer memiliki keberagaman fisik selain keberagaman budaya menimbulkan pandangan bahwa Homo sapiens merupakan percampuran dari berbagai jenis hominid pada masa yang jauh lebih tua. Lebih jauh, teori migrasi (Out of Africa) sangat mungkin tidak bisa disederhanakan, karena terdapat kemungkinan bahwa terdapat arus balik, atau rute yang berbeda, kolonisasi ulang, dan aliran genetika (kawin silang). Teori interpretasi ini merupakan teori terbaru dan menyatakan bahwa terdapat kemungkinan yang besar bahwa pada masa lalu terdapat kawin silang antara populasi Homo sapiens dan hominid-hominid yang bertetangga dengan mereka.


    • Hubungan Homo Erectus dengan Kebudayaan Indonesia


      Kebudayaan tradisional tidak pernah mencetuskan pemikiran bahwa manusia berasal dari makhluk yang lebih sederhana atau katakanlah binatang. Akan tetapi terdapat masyarakat tradisional seperti dalam beberapa kebudayaan Indian Amerika yang melakukan penghormatan terhadap jenis binatang tertentu bahkan menganggap binatang tersebut merupakan nenek moyang mereka (totemisme) (Haviland 1985:34). Pada perkembangan ilmu pengetahuan, terdapat pemikiran bahwa manusia dan makhluk hidup berkembang dari bentuk yang sederhana menuju ke bentuk yang lebih kompleks sebagai upaya menyesuaikan diri dengan keadaan alam atau proses seleksi alam.


      Mata pencaharian merupakan salah satu dari unsur kebudayaan manusia yang dianggap paling universal. Kebutuhan dasar manusia akan makanan membuat ia selalu berpikir dan melakukan banyak cara agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Sebagai temuan fosil yang memiliki posisi penting dalam perangkaian sejarah asal mula umat manusia, perlu kiranya Homo erectus dengan segala rekonstruksi aktivitasnya menjadi informasi penting dalam memberikan penjelasan “produk budaya” seperti apa yang dihasilkannya.


      Homo erectus sebagai salah satu genus hominid ini dianggap telah memiliki kemampuan untuk melakukan perburuan dan peramuan makanan. Bukti artefaktual memberikan data bahwa mereka telah memiliki kemampuan dalam perburuan hewan dan penguasaan api. Hal inilah yang akhirnya membuat kita sepakat bahwa Indonesia memilki serangkaian sejarah kebudayaan panjang dan kompleks yang memberikan sumbangsih cukup besar dalam proses evolusi umat manusia.


      Diorama Aktivitas Manusia Purba

      Diorama Aktivitas Manusia Purba

      Sumber gambar : Museum Nasional

      Diorama Aktivitas Manusia Purba

      Diorama Aktivitas Manusia Purba

      Sumber gambar : Museum Manusia Purba Sangiran

    • 1
    • 2
    • 3
  • PENUTUP


    Homo erectus sebagai salah satu genus hominid ini dianggap telah memiliki kemampuan untuk melakukan perburuan dan peramuan makanan. Bukti artefaktual memberikan data bahwa mereka telah memiliki kemampuan dalam perburuan hewan dan penguasaan api. Hal inilah yang akhirnya membuat kita sepakat bahwa Indonesia dengan temuan Homo erectusnya memilki rangkaian sejarah kebudayaan begitu panjang dan kompleks yang memberikan sumbangsih besar dalam proses evolusi umat manusia.