Candi Prambanan

SINOPSIS

SINOPSIS

Candi Prambanan adalah monument peninggalan kerajaan Mataram Kuna (Dinasti Sailendra) berupa candi-candi yang tersebar dan saling berdekatan. Masing-masing candi memiliki karakteristik yang unik dan khas, dan latar belakang keagamaan yang berbeda-beda. saat ini teridentifikasi sekitar 68 bangunan candi yang ada di kawasan Prambanan dan sekitarnya, Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

PENGANTAR

Tujuan :

Setelah membaca topik Candi Prambanan ini diharapkan dapat :

|.

PENGANTAR

Candi prambanan merupakan cagar budaya peninggalan kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sailendra), pada abad ke-9 adalah candi Hindu yang berada di Jawa Tengah , Indonesia.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi

|.

Lokasi

Candi Prambanan terletak sekitar 17 kilometer ( 11 mil ) timur laut dari kota Yogyakarta di perbatasan antara Jawa Tengah dan provinsi Yogyakarta:

a. Sisi utara : › Jalan Purwomartani-Selomartani, perempatan Tegalrejo, jembatan Tulung (kali Opak), jalan Manisrenggo, dusun Dengok, kali Dengkeng

b. Sisi timur : › Kali Dengkeng, kali Kongklangan, jembatan Pereng, jalan desa, pertigaan dusun Kotesan, dusun Guwo, desa Sengon, dusun Garutan, jalan dusun Gedang Atas

c. Sisi selatan : › Dusun Gedang Atas, jalan ke Candi Ijo, desa Sambirejo, jalan Piyungan, pertigaan dusun Jirak, jalan Yogya-Solo (pertigaan kantor kec Kalasan), dan kali Wareng

d. Sisi barat : › Kali Wareng, dusun Pundung, dusun Karanganyar, dan jalan desa Purwomartani- Selomartani

Wilayah ini berada pada koordinat : Koordinat UTM : 7º 45'06.92" S 110º 29'27.99" E

|.

Bukti Sejarah dari Prasasti Siwagrha

Candi Prambanan dibangun pada abad IX M. Hal ini diketahui dari temuan prasasti yang menyebutkan bahwa pada tahun 856 M Rakai Pikatan (salah seorang raja dari Kerajaan Mataram Kuna) meresmikan sebuah kompleks percandian yang disebut dengan Siwagrha (Rumah untuk Siwa), yang diidentikkan dengan kompleks Candi Prambanan. Sesuai dengan kata-kata yang terdapat di dalamnya, maka prasasti tersebut dinamakan Prasasti Siwagrha.

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa

ISI

Latar Belakang Sejarah

Kawasan Candi Prambanan merupakan monumen peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sailendra) berupa candi-candi yang tersebar dan saling berdekatan yang membuktikan kebesaran kerajaan ini (15 Kompleks candi yang telah dipugar). Kerajaan Mataram Kuna sendiri mencerminkan sebuah organisasi masyarakat yang telah mencapai peradaban tinggi dengan bentuk negara, sehingga kerajaan ini dapat dikatakan sebagai peletak dasar kehidupan Negara RI saat ini.

Candi-candi di kawasan ini mempunyai ciri arsitektur yang berbeda yang dapat mewakili keragaman gaya arsitektur candi khas Jawa Tengah atau gaya abad VII – IX M. Keragaman latar belakang keagamaan tiap candi dalam posisi yang berdekatan juga merupakan salah satu peletak dasar kehidupan bernegara yang nilainya telah diadopsi secara nasional, yaitu adanya sikap tenggang rasa dan toleransi antar umat beragama yang pada akhirnya mengkristal jadi semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”.

|.

Penelitian

Candi-Candi di Kawasan Prambanan masing-masing telah diteliti dan dikonservasi sejak Masa Kolonial secara terpisah-pisah dan tidak bersifat holistik sebagai suatu kawasan.

Dari Data Penyelamatan Berdasar temuan C.A.Loan (Belanda) pada tahun 1733, kegiatan penyelamatan ditindaklanjuti oleh J.W. Ijzerman tahun 1885. Sedangkan ekskavasi Penyelamatan Dilakukan pertama kali oleh Oudheidkundige Dienst in Nedherlandsch Indie (OD) tahun 1923.

Penelitian yang menitikberatkan pada segi kawasan percandian di Kawasan Prambanan pertama kali dilakukan oleh Mundardjito (1993) dengan disertasinya yang berjudul Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro.

|.

Penetapan sebagai Cagar Budaya

Kawasan Prambanan terdiri dari beberapa peninggalan monumental yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh UU No 5/1992 jo UU No 11/2010.

Candi Prambanan dan Candi Sewu telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia yang merupakan karya materpiece arsitektur pada zamannya yang membuktikan tingginya tingkat pencapaian teknologi, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal yang diwujudkan dalam suatu seni bangunan.

Properti yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada tahun 1998 dan hukum nasional yang dikeluarkan pada tahun 2010 juga mendukung perlindungan dan pelestarian properti. Pengelolaan Candi Prambanan secara terpadu ditampung dalam Keputusan Presiden Tahun 1992 yang menetapkan 77 ha yang meliputi properti di bawah kepemilikan pemerintah pusat.

|.

Tata Ruang

Tata ruang Kompleks Candi Prambanan terbagi atas tiga halaman yang memusat.

Ketiga halaman Kompleks Candi Prambanan tersebut dapat dijelaskan secara rinci, yaitu halaman I berukuran 110 m x 110 m, dimana di dalamnya terdapat 16 candi, yaitu : 3 (tiga) candi utama (Candi Brahma, Candi Shiwa, Candi Wisnu); 3 (tiga) candi wahana (Candi Garuda, Candi Nandi, Candi Angsa); 2 (dua) Candi Apit (Selatan dan utara); 4 (empat) Candi Kelir dan 4 (empat) Candi Patok.

Halaman II berukuran 222 m x 222 m dengan 224 candi perwara di dalamnya, dua diantaranya telah dilakukan pemugaran, yaitu candi perwara sisi timur dan candi perwara sisi timur laut. Sedangkan, halaman III berukuran 390 m x 390 m dan saat ini hanya menyisakan Gapura Pagar Halaman III sisi selatan. Ketiga halaman tersebut masing-masing dikelilingi pagar dan dihubungkan oleh empat pintu masuk (gapura) di setiap sisinya sesuai arah mata angin.

Untuk pagar keliling masing-masing halaman saat ini yang masih utuh, yaitu Pagar Halaman I dan Gapura Pagar Halaman III sisi selatan, sedangkan untuk Pagar Halaman II hanya menyisakan struktur sepanjang ± 10 m setinggi 3 lapis batu di sisi tenggara.

|.

Candi Brahma

Candi Brahma berdenah persegi berukuran 17,75 M x 17,74 M, dengan tinggi 32,86. Candi Brahma mempunyai satu bilik dengan di dalamnya terdapat arca perwujudan Dewa Brahma. Arca Dewa Brahma digambarkan berdiri di atas lapik yoni, mempunyai muka empat (Caturmukha), mempunyai 4 tangan yang masing-masing tangan membawa laksana/atribut kedewaan, berupa : utpala (teratai); wedha (Kitab Suci), katmandhu (kendi); aksamala (tasbih).

Pada pagar langkan terdapat panel-panel relief Ramayana yang merupakan kelanjutan dari panel relief cerita Ramayana di Candi Siwa.

|.

Candi Siwa

Candi Siwa berdenah persegi berukuran 27,25 M x 17,32 M, dengan tinggi 46,785 m. Pada pagar langkan terdapat panel-panel relief Ramayana yang merupakan awal cerita dan dilanjutkan panel-panel relief di Candi Brahma. Di kanan-kiri gapura masuk sisi timur terdapat relung yang berisi arca Mahakala dan Nandiswara. Pada bilik utama terdapat arca Dewa Siwa. Arca Dewa Siwa digambarkan, berdiri di atas lapik yoni, mempunyai trinetra (mata ketiga), hiasan kepala berupa ardha candra (bulan sabit), hiasan leher berupa ular kobra, mempunyai 4 tangan yang masing-masing tangan membawa laksana/atribut kedewaan, berupa : trisula (tombak bermata tiga); camara; katmandhu (kendi); aksamala (tasbih).

Selain bilik utama, C. Siwa mempunyai 3 bilik lagi yang berisi dewa-dewa pendamping, yaitu :

1. Bilik utara · Terdapat arca Dewi Durga · Arca Dewi Durga digambarkan berdiri di atas lapik dengan posisi mudra dan mempunyai banyak tangan dengan membawa banyak berbagai jenis senjata.

2. Bilik barat · Terdapat arca Dewa Ganesha Arca Dewa Ganesha digambarkan berbadan manusia berkepala gajah dalam posisi duduk bersila di atas lapik

3. Bilik Selatan · Terdapat arca Dewa Agastya (Siwa Mahaguru) Arca Dewa Agastya digambarkan berdiri di atas lapik berbadan tambun dan berjenggot dengan membawa katmandu (kendi)

|.

Candi Wisnu berdenah persegi berukuran 17,70 M x 17,71 M, dengan tinggi Tinggi 32,45 M. Pada pagar langkan terdapat panel-panel reilef Kresnayana bercerita tentang kehidupan Khrisna waktu kecil sampai remaja. Khrisna merupakan salah satu awatara Dewa Wisnu. Seperti diketahui Dewa Wisnu mempunyai 10 awatara(dasaawatara/mahaavatãr), yaitu:

  1. Matsya (ikan)
  2. Kurma (kura-kura)
  3. Waraha (babi hutan)
  4. Narasimha (manusia-singa)
  5. Wamana (orang cebol)
  6. Parasurama (Brãhmana-Kshatriya)
  7. Rama (pangeran)
  8. Kresna (pengembala) 9
  9. Budha (pemuka agama)
  10. Kalki (penghancur)

Candi Wisnu mempunyai satu bilik utama yang di dalamnya terdapat arca Dewa Wisnu.

Arca Dewa Wisnu digambarkan, berdiri di atas lapik yoni, mempunyai 4 tangan yang masing-masing tangan membawa laksana/atribut kedewaan berupa : cakhra ; gadha; lotus; sangkha.

|.

Candi Wahana berada di depan setiap candi utama. Penamaan Candi Wahana berdasarkan pada temuan arca Nandi di bilik candi Nandi (depan Candi Siwa), sehingga dimungkinkan di depan Candi Brahma merupakan Candi Angsa dan di depan Candi Wisnu merupakan Candi Garuda. Candi Wahana ada 3, yaitu:

1. Candi Angsa berada di depan (timur) Candi Brahma. Candi Angsa berdenah persegi dengan luas 14,37 M x 14,37 M. Tinggi ± 24,20 M. Dalam mitologi Hindu, Angsa merupakan wahana Dewa Brahma. Di dalam bilik tidak ditemukan arca (hilang).

2. Candi Nandi berada di depan (timur) Candi Siwa. Candi Nandi berdenah persegi dengan luas 16,70 M x 15,19 M. Tinggi 26,785 M. Dalam mitologi Hindu, Nandi merupakan wahana Dewa Siwa. Pada bilik Candi Nandi terdapat arca Nandi dengan posisi “mendekam”. Di belakang arca Nandi terdapat arca Dewa Surya dan Dewa Chandra. Dewa Surya (matahari) digambarkan posisi berdiri di atas lapik berbentuk kereta dengan ditarik 7 kuda. Dewa Chandra (bulan) digambarkan posisi berdiri di atas lapik berbentuk kereta dengan ditarik 10 kuda

3. Candi Garuda berada di depan (timur) Candi Wisnu. Candi Garuda berdenah persegi dengan luas 14,37 M x 14,37 M. Tinggi ± 24,288 M. Dalam mitologi Hindu garuda merupakan wahana Dewa Wisnu. Di dalamnya tidak ditemukan arca (hilang).

|.

Candi Kelir

Candi Kelir secara umum berdenah persegi berukuran 2,21 M x 2,21 M, tinggi 4,3 M. Ada 4 Candi Kelir yang berada di depan setiap gapura masuk Halaman I. Candi Kelir berfungsi sebagai penolak bala dari sesuatu yang sifatnya jahat.

|.

Candi Patok

Candi Patok secara umum berdenah persegi berukuran 2,21 M x 2,21 M, tinggi 4,385 M. Ada 4 Candi Patok yang ditempatkan di setiap sudut Halaman I. Candi Patok berfungsi sebagai pembatas setiap sudut Halaman I.

|.

Candi Perwara yang telah dipugar ada 2, yaitu :

1. Candi Perwara sisi timur, berukuran denah 7,26 M x 7,25 M dengan tinggi 13,69 M. Candi Perwara ini mempunyai satu pintu tangga menghadap ke timur.

2. Candi Perwara sisi timur laut, berukuran denah 6,85 M x 6,84 M dengan tinggi 13,335 M. Candi Perwara ini mempunyai dua pintu tangga menghadap ke timur dan utara.

|.

Bangunan Candi

Sebagai tempat pemujaan agama Hindu, Komplek Candi Prambanan dibangun berdasarkan konsep keagamaan. Di dalam agama Hindu, candi digambarkan sebagai replika dari Gunung Meru yang merupakan simbolisasi alam semesta. Sebagai replika Gunung Meru, semua bentuk candi di Komplek Candi Prambanan terbagi dalam tiga bagian yang sesuai dengan lingkungan alam semesta, yaitu bhurloka diwujudkan dengan kaki candi yang melambangkan alam semesta, bhuvarloka diwujudkan dengan tubuh candi yang melambangkan alam manusia yang telah mati dan svarloka diwujudkan dengan atap candi yang melambangkan alam para dewa. Candi-candi tersebut memiliki pola tapak persegi dengan bentuk semakin ke atas semakin meruncing dan berakhir pada puncaknya yang berbentuk ratna.

Ragam hias di Candi Prambanan dipahatkan dengan megah dan halus. Motif hiasnya antara lain berupa motif tubuh manusia, motif setengah manusia setengah binatang, motif binatang dan motif tumbuh-tumbuhan. Keunikan di Candi Prambanan dapat dilihat pada hiasannya yang spesifik yaitu relung singa yang diapit pohon kalpataru dengan bunga-bunga teratai yang di bawahnya terdapat kinara-kinari (makhluk manusia setengah dewa). Motif ini merupakan ciri “motif prambanan” karena tidak ditemukan di candi lain.

|.

Pelestarian

Nilai-nilai Budaya

PENUTUP

PENUTUP

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya yang terkandung dalam Candi Prambanan yaitu:

Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut: