Budaya Jawa Tondano

Pendahuluan

Pendahuluan

Danau Tondano

Komunitas Jawa Tondano, atau disebut juga sebagai Jaton, merupakan suatu kelompok masyarakat baru yang berada di Kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara di Indonesia. Wilayah pemukiman masyarakat Komunitas Jawa Tondano berada di sebelah utara Danau Tondano dan berjarak sekitar 65 km arah selatan Kota Manado. Komunitas Jawa Tondano memiliki perkampungan yang bernama Kampung Jawa Tondano.

Sejarah

Sejarah

Pada awal kehadiran masyarakat Jawa di Kampung Tondano ini adalah sekelompok masyarakat Jawa yang ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1828 beserta Panglima Perang mereka ketika berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830), dan pada tahun 1829 menyusul Kyai Mojo beserta 63 orang pengikutnya, mereka semua ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara.

Penduduk Kampung Jawa Tondano sendiri, sebenarnya bukanlah seluruhnya masyarakat dari Pulau Jawa, tapi berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Sumatra (Palembang, Sumatra Utara dan Aceh), Kalimantan (suku Banjar), Maluku dan Suku Arab Indonesia. Masyarakat komunitas Jawa Tondano adalah hasil dari percampuran etnis dan saling mempengaruhi dalam budaya dan kesenian di Kampung Jawa Tondano. Karena mayoritas dari mereka awalnya adalah masyarakat dari Pulau Jawa, oleh karena itulah kampung mereka pun lebih dikenal dengan nama Kampung Jawa Tondano.

Penduduk Kampung Jawa Tondano

|.

Sejarah

Pada mulanya Kyai Mojo dan kawan-kawan ditempatkan di daerah kawah, sedangkan dahulu daerah kawah merupakan tanah rawa yang tandus dan ganas, tapi berkat keuletan rombongan Kyai Mojo yang semuanya laki-laki, tanah yang awalnya tandus, kini dapat dibangun menjadi daerah persawahan yang subur. Kondisi ini menjadikan daerah ini kebanggan bagi masyarakat asli Tondano khususnya dan Minahasa umumnya, dan sekaligus menaruh hormat kepada Kyai Mojo. Sebagai penghargaan masyarakat Tondano dan Minahasa, maka mereka merelakan putri-putri terbaik mereka untuk dipersunting oleh rombongan Kyai Mojo, dari titik inilah terjadi pembauran dan integrasi.

Bertani
Sapi sebagai alat transportasi

Budaya Masyarakat

Budaya Masyarakat Jawa Tondano

Dengan bentuk bangunan yang beragam diluar etnis Tondano, terdapat budaya seni yang berbau daerah asalnya misalnya saja tradisi selamatan adat jawa yang berasal dari Jogjakarta. Di Jogjakarta sendiri seni ini masih hidup tapi selamatan jawa yang ada di Kampung Jawa Tondano sudah melalui proses perkembangan sehingga tidak sama dengan asalnya, baik peralatan yang dipakai ataupun pembacaan tembangnya. Selain itu terdapat pula salawatan melayu (Hadrah) yang mirip dengan salawatan jawa. Dan kesenian tari disebut samra atau dana-dana, diperkenalkan oleh Sayyid Abdullah Assagaf dari Palembang pada awal abad 20.

Selamatan Adat Jawa
Tari Dana-dana

|.

Budaya Masyarakat Jawa Tondano

Bahasa yang digunakan bukan Bahasa Jawa melainkan Bahasa Tondano. Penggunaan Bahasa Jawa terbatas pada nama makanan dan beberapa jenis larangan,budaya Jawa asli terbatas pada perkawinan, kenduri dan khitan. Selain dari adat-adat tersebut itu, menggunakan adat Minahasa. Terdapat 9 sub etnis di Minahasa yang beragama Kristen, namun di kampung Jawa Tondano, sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam.

Tradisi Lebaran Ketupat yang diambil dari adat Jawa

Peninggalan Sejarah

Peninggalan Sejarah Jawa Tondano

Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo, sebagai masjid tertua di Sulawesi Utara dibangun oleh Kyai Mojo dan rombongannya pada tahun 1830. Selain untuk beribadah, masjid agung ini digunakan untuk pelestarian budaya setempat yang berkaitan dengan islam. Hingga saat ini, makam Kyai Mojo dan Mesjid Agung Al-Falah Kyai Mojo dijadikan peninggalan bersejarah yang terletak di Kampung Jawa Tondano.

Mesjid Agung Al-Falah Kyai Mojo
Makam Kyai Mojo

Penutup

Penutup

Budaya Jawa Tondano kaya akan nilai-nilai budaya dan sejarah. Menghadapi era globalisasi, generasi muda seharusnya mempelajari banyak budaya lokal. Tujuannya untuk memperkuat jati diri bangsa. Dari Komunitas Jawa Tondano, kita dapat mengambil pelajaran bahwa perbedaan suku bangsa tidak mengurangi nilai-nilai dari budaya. Akulturasi budaya yang terjadi di Komunitas Jawa Tondano, justru dapat memperkaya nilai budaya tersebut.

Dengan menghormati dan menghargai budaya yang berbeda, maka kita dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Selain itu juga kita dapat menciptakan budaya baru dari menggabungkan beberapa budaya yang berbeda.


Referensi: