Arca Prajnyaparamita

Pendahuluan

Pendahuluan

Salah satu masterpiece koleksi benda cagar budaya yang dimiliki Museum Nasional Indonesia adalah Arca Prajnyaparamita atau lengkapnya Arca Dewi Prajnyaparamita dan dikenal sebagai Ken Dedes, istri Ken Arok Raja Singasari. Arca Prajnyaparamita merupakan koleksi langka milik negara merupakan karya adiluhur dan bercirikan khusus, karena dikerjakan dengan kemahiran seni pahat yang tinggi yang merupakan ciri seni arca khas Singasari. Sebagai salah satu cagar budaya Nasional, Arca Dewi Prajnyaparamita layak untuk Anda ketahui sebagai upaya menjaga kelestarian salah satu warisan luhur Budaya Nasional.

Arca Dewi Prajnyaparamita merupakan salah satu masterpiece koleksi benda cagar budaya yang dimiliki Museum Nasional Indonesia. Arca Prajnyaparamita sering dikaitkan dengan tokoh Ken Dedes yang terkenal dengan kecantikannya dan merupakan istri dari Ken Arok, Raja Singasari.

Arca Prajnyaparamita merupakan koleksi langka milik negara merupakan karya adiluhur dan bercirikan khusus, karena dikerjakan dengan kemahiran seni pahat yang tinggi yang merupakan ciri seni arca khas Singasari. Arca Dewi Prajnyaparamita yang tercatat sebagai koleksi Museum Nasional dengan nomer inventaris 17774 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui SK Kemendikbud RI Nomor 251/M/2013 tanggal 27 Desember 2013.

Sejarah

Lokasi Penemuan Arca

Arca Dewi Prajnyaparamita pertama kali ditemukan di Desa Singasari, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur

|.

perjalanan arca

Ketika masih Belanda masih menduduki Indonesia, tahun 1822, Arca Dewi Prajnyaparamita pernah di bawa ke Museum van Oudheden (sekarang Museum of Antiquities) di Leiden. Pada tahun 1903, arca Prajnyaparamita bersama dua arca yang berasal dari Singasari lainnya dipindahkan ke Rijksmuseum voor Volkenkunde. Pada bulan Januari 1978 Proff Pott, direktur museum tersebut menyerahkan arca ini kepada Pemerintah Indonesia melalui duta besar Indonesia Sutopo Yuwono

|.

Lokasi Arca Dewi Prajnyaparamita Sekarang

Saat ini Arca Dewi Prajnyaparamita berada di Museum Nasional, Jalan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat10110. KelurahanGambir, KecamatanGambir, ProvinsiDKI Jakarta

BAGIAN & SIMBOL

Deskripsi Arca

Arca Prajnyaparamita terbuat dari batu Arca Prajnyaparamita dibuat pada masa Kerajaan Singasari abad XIII-XIV, ditemukan di Desa Singasari oleh asisten Residen Malang D. Monnereau pada tahun 1819. Arca ini dikenal juga sebagai arca Ken Dedes. Diduga arca ini ditemukan di Candi Papak atau biasa disebut Candi Putri.

Pendapat kedua mengatakan bahwa arca ini adalah perwujudan dari Rajapatni Gayatri, anak ke-empat dari Raja Kertanagara yang menikah dengan Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit dan nenek dari Raja Hayam Wuruk. Dia hidup pada masa akhir Singasari (berakhir pada 1292) sampai era Majapahit. Prajnyaparamita adalah seorang dewi yang mempunyai kedudukan tertinggi di dalam aliran Budha Mahayana. Ia dianggap sebagai istri Budha dan merupakan lambang ilmu pengetahuan yang sempurna.

|.

Arca menggambarkan seorang dewi yang duduk dengan sikap bersila atau dhyanasana Tangannya bersikap dharmacakra yaitu sikap tangan yang sedang memutar roda hukum. Tempat duduknya berupa Padmasana dengan sandaran polos berbentuk bulat telur, biasa disebut prabhamandala atau aureole. Di sebelah di kiri tubuh arca terdapat tumbuhan teratai dengan bunga dan daunnya yang tumbuh dari asana yang dipahatkan melekat pada dinding sandaran. Di atas teratai yang mekar terdapat segi empat yaitu Keropak (naskah kuno yang ditulis pada lontar) yang diikat bersilangan dengan tali dan di atasnya terdapat semacam sekrup seolah-olah supaya Keropak itu tidak jatuh. Bahan utama Arca ini terbuat dari batu andesit dengan warna abu-abu. Dari hiasan-hiasannya yang indah, arca ini menunjukkan aliran kesenian Majapahit.

Dimensi arca berukuran sebagai berikut :

Tinggi 126 cm, Lebar 55 cm, Tebal 55 cm. Prabha: tinggi 102 cm dan lebar 58 cm, Umpak: tinggi 24,5 cm, sisi depan 55,5 cm, sisi samping 48,3 cm Hiasan yang dipakai pada arca menyatakan tingkatan Bodhisattwa tetapi pada arca-arca batu dari Jawa dimana arca tersebut mengenakan kain yang bermotif Batik dapat menunjukkan peranan kebudayaan setempat. Dari hiasan, pakaian, serta gayanya dapat menunjukkan aliran yang dianut oleh seniman pembuatnya. Seperti halnya bentuk-bentuk arca yang terbuat dari batu yang terdapat di Indonesia di mana umumnya lebih mementingkan unsur seni sebagai benda monumental dari suatu kerajaan.

|.

A. Bagian Badan Arca

  1. Wajah/Kepala. Keseluruhan wajahnya menggambarkan ketenangan, bentuk kepala bulat telur, ukuran mahkota dan kepala adalah 28,5 cm. Mahkota terlihat indah dan kaya hiasan menimbulkan kesan yang agung.
  2. Urna. Urna berada di tengah dari berbentuk lingkaran bunga. Urna seperti ini dalam Ikonografi Hindu juga dikenakan oleh Siwa, Parwati dan Dewa lainnya yang kadang berbentuk sebagai mata ketiga.
  3. Dahi. Dahi dipahatkan halus dan agak lebar.
  4. Alis. Alis dipahatkan panjang dan melengkung yang saling bersambungan pada kedua ujung sebelah dalam. Alis dibentuk dengan menggoreskan alat pahatnya sehingga terbentuk 2 garis lengkung yang bertemu ditengah wajah tepat di atas pangkal hidung.
  5. Mata. Matanya setengah tertutup dan melihat kedalam (inlook) dengan sebagian bola mata tanpak dari luar. Sikap mata ini dilukiskan dengan pelupuk mata agak menonjol karena harus menutup bola mata yang ada di bawahnya.
  6. Telinga. Telinga dilukiskan agak besar dan agak panjang, memakai subang berbentuk bunga yang melekat pada daun telinga bawah seolah-olah subang dijepit. Sekeliling telinga penuh hiasan berupa tumbuh-tumbuhan dan manik-manik berangkai.
  7. Hidung. Penggambaran hidung berbentuk meruncing (mancung) dengan ujung yang tipis dan tajam.
  8. Bibir. Bibir arca digambarkan dengan kesan yang lembut, tidak terlihat kecil dan sempit tetapi serasi dengan bentuk hidungnya. Kesan yang lembut ini, seolah-olah menggambarkan sedang tersenyum. Sebenarnya arca ini memperlihatkan sikap samadhi yang tenang sekali.
  9. Pipi. Pipinya dipahat halus sekali dengan proporsi yang sesuai dengan wajahnya.
  10. Dagu. Bentuk dagu dipahatkan halus dan membulat.
  11. Leher. Penggambaran leher arca agak pendek dengan dua buah guratan pahat yang nyata serta sebuah garis yang agak samar.
  12. Bahu. Bahu arca berbentuk gemuk dan berisi, bentuknya segi empay yang lurus sisi-sisi ataanya, tegap ke depan.
  13. Lengan. Dari ujung bahu atas kiri dan kanan dilukiskan lengan yang halus berisi, sikunya dilipat dan ujung tangannya terletak di depan dada. Tangannya dilukiskan agak panjang dengan jari-jari yang lentik dengan sikap dharmacakra.
  14. Dada. Dadanya bidang dan tegap. Dada ini seperti tertutup oleh kain yang tipis semacam selendang tetapi kedua ujung buah dadanya tampak.
  15. Pinggang. Pinggang dan perut arca menjadi satu kesatuan tetapi nampak pinggangnya yang ramping agak tinggi. Ditengah pinggang dan perut ada pusar yang dibuat membulat.
  16. Pinggul. Pinggul arca hampir tidak tampak dari depan karena tertutup pleh kakinya yang bersila. Pinggul ini menunjukkan duduknya arca yang tegak Kaki. Kaki yang bersila dengan sikap kaki kiri dilipat ke dalam dan kaki kanan menutup lipatan kaki kiri.
  17. Kedua telapak kaki menghadap keatas. Pinggul dan kaki dalam sikap bersila ini merupakan suatu kesatuan. Sikap kaku ini disebut dhyanasana.

|.

B. Pakaian Arca Prajnyaparamita

Jika ditarik garis tegak lurus pada bagian tengah arca, maka terdapat tanda-tanda yang sama kecuali beberapa hal yaitu hiasan pada upawita sebelah kiri, lipatan selendang yang letaknya miring, dan Teratai pada sisi kiri arca. Berikut adalah deskripsi keseluruhan pakaian arca:

Mahkota. Bentuk mahkota pada arca ini dinamakan jata makuta, biasanya mahkota tersebut dipakai oleh Dewa dan Dewi yang tinggi tingkatannya. Jata makuta dihiasi motif yang bermacam-macam dengan dibagi menjadi tiha bagian, yaitu:
  1. Sumping Telinga. Sumping telinga pada arca ini tidak tampak dengan jelas karena penggambaran telinganya sendiri yang agak besar dan panjang seolah-olah menunjukkan adanya sumping.
  2. Subang. Subang yang menghiasi telinga berbentuk bunga yang mekar, modelnya seperti subang jepit melekat pada daun telinga.
  3. Kalung. Kalung yang dipakai arca ini terdiri dari 2 macam kalung, antara lain: • Kalung berbentuk semacam manik-maik berukir bunga dengan urutan rangkaian besar dan kecil. Kalung ini dipakai pada bagian atas. • Kalung besar yang terdiri dari suatu lempengan berbentuk segitiga. Hiasan pada lempengan itu berupa ukiran permata yang menonjol. Ditengah lempengannya ada permata besar menonjol berbentuk jantung. Di bawah kalung besar ada rangkaian manik-manik halus serupa dengan yang terdapat pada mahkota. Kalung semacam ini banyak terdapat di arca-arca Majapahit dan disebut berasal dari aliran kesenian Majapahit. Lidah Pundak. Lidah pundak bentuknya sangat unik yang sepintas terlihat seperti susunan tanda pangkat tentara dengan bintang-bintang yang berbentuk bunga. Lidah pundak ini terdiri dari untaian manik-manik yang disusun berjajar menjadi satu, dengan bunga-bunga mekar yang diletakkan di atasnya berjumlah 5 buah dirangkai berderet ke bawah menutupi sebagian bahunya.diujung bawah rangkaian manik-manik ada jumbai-jumbai halus yang terletak di sisi lengan
  4. Kalung Panjang/Upawita. Kalung panjang atau Upawita tergantung didepan badan melalui kiri kanan dadanya dan menjepit di atasa pangkuannya. Upawita ini terdiri dari 3 rangkaian manik-manik halus yang dipilin menjadi satu. Pada beberapa bagian kalung ini dihias dengan ikatan sejenis tali halus dan diberi sekuntum bunga pada setiap ikatan. Di atas pundak arca terdapat buhul kalung yang agak tertutup oleh lidah pundak. Buhul ini seakan-akan memendekkan kalungnya. Kalung yang terdiri dari beberapa rangkaian manik-manik ini menunjukkan ciri keratuannya yaitu Ratu Singasari. Pada untaian sebelah kiri badan terdapat hiasan bunga yang rapat.
  5. Kelat Bahu. Perhiasan lengan yang sangat besar dan indah ini berbentuk gelang yang dipakai dilengan. Bentuk dasarnya adalah sebuah gelang yang agak besar dihiasi dengan semacam antefix besar berukir motif bunga dan daun serta permata yang menonjol ditengahnya. Rangkaian manik-manik juga terdapat pada kelat bahu yang digambarkan berangkai ke atas bergantungan pada antefix. Dibawaah kelat bahu terdapat gelang lain yang bentuknya lebih kecil. Gelang ini bermotif bunga yang menonjol seperti permata serta rangkaian manik-manik yang bergantungan. Letak gelang di atas lipatan lengan
  6. Gelang tangan. Pada masing-masing tangan terdapat 3 buah gelang yang menjadi satu kesatuan dengan hiasan bunga kecil yang tidak nyata. Dipinggir gelang ada pelipit polos yang halus.
  7. Cincin. Cincin yang dipakai ada 2 macam a. Cincin pada jari tangan yang dikenakan pada ibu jari dan telunjuk. Bentuknya sederhana dengan permata menonjol berbentuk bunga, disekelilingnya terdapat rangkaian bunga-bunga yang sangat halus melingkari jarinya. b. Cincin pada jari kaki dikenakan di ibu jari kedua kakinya. Bentuknya hampir sama dengan yang dipakai ditangan.
  8. Ikat pinggang. Ikat pinggang arca ini ada 3 buah yang berlainan bentuknya, ketiganya diikat oleh pita. Susunan ketiga ikat pinggang tersebut adalah a. Atas: ikat pinggang ini bermotif setengah lingkaran dan seperti matahari b. Tengah: ikat pinggang polos dengan gesper didepan bermotif segiempat dan ditengahnya ada medalion berbentuk jantung dan hiasan sulur-suluran c. Bawah: bentuknya hampir sama dengan kalungnya yang besar tetapi ikat pinggang ini jauh lebih beras. Di bagian depan terdapat segitiga yang berhiaskan beberapa relief dan permata.
  9. Kain Panjang. Kain yang dipakai oleh arca ini menutup seluruh bagian bawah tubuh dari pinggang sampai mata kaki. Motif kain semacam kawung besar dengan hiasan sulur-sulur dan rosetta didalam lingkaran. Wironnya berlapis-lapis agak tebal dan terletak didepan kakinya yang bersila
  10. Sampur. Sampur arca ini terdapat dipinggang kiri dan kanan agak ke belakang badan berbentuk suatu ikatan selendang yang disimpulkan kemudian diselipkan pada ikat pinggang. Sampur ini terdiri dari 2 lembar selendang yang panjang bermotif bunga yang distilir dan sulur-sulur halus. Ujung sampur terletak teratur didepan kaki berbentuk ekor burung walet.
  11. Uncal. Uncal berbentuk semacam pita dengan bunga-bungaan di atasnya. Uncal digantung dipinggang dan terletak di atas kedua lipatan kaki kiri dan kanan. Bunga di atas pita berjumlah 7 buah pada masing-masing pita. Pada arca lain umumnya berupa selembar pita yang berhiaskan motif-motif geometris dan bunga samar, sedangkan pada arca ini pitanya polos dengan hiasan bunga berderet dan dipahat agak menonjol.
  12. Baju Arca. Di bawah kedua tangan arca ini terdapat suatu relief yang halus sekali berupa lipatan pinggiran kain yang tipis. Relief yang halus tersebut adalah lipatan pinggir selendang yang bermotif bunga. Selendang ini dibelitkan dimuka dada kiri lalu kebawah ketiak kanan berputar kebelakang kemudian kemudian naik kembali kebahu kiri. Dada kanan tetap terbuka seperti kebanyakan arca-arca Buddhis. Penggambaran selendang yang kurang jelas ini hampir menduga arca tidak mengenakan baju.
  13. Gelang Kaki. Gelang kaki yang dipakai kelihatan besar dan longgar dengan mata gelang berupa permata bulat panjang bersusun ke atas dan ke bawah serta ke sisi kanan dan kiri.

|.

C. Laksana

  1. Dharmacakra mudra. Sikap tangan dharmacakra mempunyai arti gerakan tangan memutar roda hukum yang bisa juga disebut Vyakhya mudra. Sikap pada arca ini memperlihatkan perputaran roda lingkaran hidup sebagai hukum sebab akibat. Jari-jari tangan yang lentik memperlihatkan keindahan geraknya.
  2. Teratai. Tumbuhan Teratai dipahatkan di sisi kiri badan arca dengan satu bunga mekar, satu setengah mekar, 2 bunga kuncup dan selembar daun menghadap kiri. Tangkai-tangkainya panjang tampak menjulur dengan jelas sedang umbinya tidak tampak. Teratai ini tumbuh dari asana dan melekat pada prabha. Bunga yang mekar terletak disebelah kiri arca disamping pundaknya, tumbuh dari tangkai yang melilit dan terselip di antara tangan kiri dan badan arca. Bunga ini menghadap keatas menyangga sebuah ikatan Keropak Naskah Suci Prajnyaparamita. Bunga Teratai ini adalah jenis Padma yang mempunyai teratai ganda karena mempunyai kelopak bunga yang menghadap keatas dan kebawah atau disebut juga Visvapadma. Jumlah kelopak bunga adalah 17 lembar yang terdiri dari 14 lembar menghadap keatas dan 3 menghadap ke bawah. Bunga setengah mekar mempunyai benangsari yang digambarkan muncul keatas terletak di lengan kiri. Bunga ini seolah-olah memperlihatkan jenis Utpala. Bagian bunga yang masih kuncup ada 2 buah, yang satu ada di bawah bunga yang mekar dan satu lagi berada di bawah bunga yang setengah mekar. Daun Teratai dipahatkan hanya sebuah saja, miring dan menghadap ke kiri.
  3. Keropak. Keropak yang dipahatkan terlihat seperti terikat dengan tali yang saling bersilangan dan terletak di atas Teratai mekar. Keropak pada arca ini adalah sebuah Naskah Suci yang berisi Ilmu Pengetahuan Kerohanian yang diciptakan oleh Nagarjuna yang disebut Prajnyaparamita. Digambarkan berbentuk segiempat panjang dengan ukuran panjang 6,7 cm, lebar 1,7 cm dan tinggi 1,8 cm. Di atas keropak terdiri atas lembar-lembar lontar, terdapat semacam sekrup yang seolah-olah menjaga dan memegang Keropak agar tidak jatuh.
  4. Asana Teratai (Padmasana). Berbentuk sebuah Teratai yang besar dan mekar dan berjenis Visvapadma yang kelopaknya menghadap dan kebawah. Kelopak bunga seluruhnya berjumlah 55 lembar terdiri atas 36 lembar yang menghadap atas dan 19 lembar menghadap bawah. Bakal biji yang ada ditengah bunga, apabila dilihat dari sisi digambarkan sebagai garis lengkung yang berbentuk tapal kuda yang kecil-kecil. Bentuk keseluruhan asana ini menyerupai trapesium yang sudutnya membulat. Bagian belakang yang diduduki arca melekat pada prabha dengan tinggi asana 14 cm. Di bawah asana ada bantalan lain yang lebih tipis dan berbentuk sama dengan lingkaran asana. Pinggirnya berhiaskan motif kawung dan hiasan lainnya. Arti Teratai pada arca tersebut mempunyai arti lambang dari kelahiran mahluk dan pemunculan yang tidak henti. Dalam arca ini, Teratai diartikan sebagai penggambaran dari 2 alam yaitu dunia dan surga.
  5. Prabha. Prabha adalah sandaran pada arca dengan ukuran tinggi 102 cm dan lebar 58 cm. Ada 2 buah sandaran arca yang terdapat dibelakang arca tersebut. Bentuk-bentuknya antara lain: a. Sandaran besar yang meliputi seluruh badan. Bentuknya kurawal yang besar, tegak dengan bagian yang rucing dipuncaknya. Sandaran ini terdiri dari dua bagian yaitu: • Bagian atas yang berbentuk kurawal tegak, berhiaskan jvala dipinggirnya, disusul dengan 2 garis pelipit kemudian ditengah bidang sandaran terdapat suatu lingkaran polos berbentuk bulat telur. Didekat kedua kaki kurawal ada hiasan yang menggambarkan tumbuhan yang lebat tetapi menyerupai makara yang distilir seperti daun-daunan. • Bagian bawah berbentuk segi empat yang bersambung dengan kaki dari sandaran bagian atas yang berbentuk kurawal. Pada sisi kanan dan kiri dihias jvala dan garis-garis pelipit yang berbentuk semacam tiang-tiang tebal dan garis-garis pelipit tipis. Bidang tengahnya polos. b. Sandaran polos yang berbentuk bulat telur terdapat dibelakang kepala hingga punggung. Lingkaran bentuk bulat telur ini menggambarkan suatu keadaan yang telah kosong yang dicapai oleh Dewi dalam samadhinya yang sempurna. Lingkaran suci ini ada juga yang menyebutnya sebagai aureola.
  6. Landasan/Umpak. Landasan atau pitha dari arca ini adalah suatu umpak (pedestal). Bentuk umpak segi empat dengan hiasan pelipit-pelipit, rosetta, dan bidang-bidang hias yang berbentuk segi empat. Umpak terbagi atas 3 bagian: a. Kumai atas: terdiri dari birai kepala, mahapatha, birai kana, birai gana. b. Stambha: bagian badan Umpak terdiri atas patika atas dan patika bawah, ditengah terdapat teerling dan bidang hias yang berbentuk segi empat dan ditengahnya terdapat rosetta. Setiap bidang hias dan Rosetta dipisahkan oleh tiang tang berukir. c. Kumai bawah: terdiri dari basement (kebalikan birai kepala), mahapatha, birai padra dan birai gana. Umpak ini berukuran tinggi 24,5 cm, sisi depan 55,5 cm, sisi samping 48,3 cm.
Arca Prajnyaparamita merupakan tonggak perkembangan seni arca pada zaman Singhasari. Sebagai salah satu cagar budaya Nasional, Arca Dewi Prajnyaparamita merupakan warisan luhur Budaya Nasional yang wajib diketahui sebagai upaya menjaga kelestariannya. Dengan demikian masyarakat luas menjadi lebih memahami dan mencintai sejarah dan perkembangan seni arca di Indonesia.

Penutup

Penutup

Arca Prajnyaparamita merupakan tonggak perkembangan seni arca pada zaman Singhasari. Sebagai salah satu cagar budaya Nasional, Arca Dewi Prajnyaparamita merupakan warisan luhur Budaya Nasional yang wajib diketahui sebagai upaya menjaga kelestariannya. Dengan demikian masyarakat luas menjadi lebih memahami dan mencintai sejarah dan perkembangan seni arca di Indonesia.

|.

Kepustakaan