• Pendahuluan

      SLIDER

      Peta Bali

      Bali. Sebuah pulau kecil bagian dari Indonesia yang namanya sudah tersohor di dunia. Bali terkenal sebagai daerah tujuan wisata karena berbagai wisata alamnya, terutama wisata pantainya. Selain pantai, Bali yang masih kental dengan budaya dan tradisinya menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

      Komunitas Adat Batur berada di Desa Batur, yang secara geografi terletak di sebelah selatan Desa Kintamani kurang lebih berjarak 27 kilometer dari ibu kota Kabupaten Bangli, atau kurang lebih 65 kilometer dari kota Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Pura Ulun Danu Batur sendiri terletak di desa Batur Selatan. Desa Batur merupakan bagian dari kesatuan administratif Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

      SLIDER

      Peta lokasi menuju Desa Adat di Bangli dari Denpasar

      Dalam konten budaya mengenai Komunitas Adat Batur ini, Anda akan diajak untuk mengenal lebih banyak kepada Desa Batur dengan beragam tradisi yang masih dianut. Desa Batur memiliki tradisi yang masih memegang nilai-nilai local genius, hal ini tampak dari keseluruhan pengaturan sistem kepemerintahan adat dan sistem religi atau kepercayaan masyarakat desa Batur. Dalam sistem kepemerintahan tapak kepemimpinan gaya tradisional masih dipegang dan dijalankan secara baik walaupun tidak menampik dalam kenyataannya telah mengalami komodifikasi atau perubahan yang sifatnya penyesuaian terhadap zaman kekinian. Namun regenerasi dalam sistem tersebut masih berjalan baik dalam mengemban jalannya prosesi adat dan agama yang terdapat di desa adat Batur.

    • Desa adat Batur selain menyimpan banyak tradisi yang masih dipertahankan, kini juga menjadi salah satu ikon wisata di Bali. Ada banyak obyek wisata di dalamnya, seperti Pura Ulun Danu dan Danau Batur Kintamani. Selamat mempelajari Desa Adat Batur beserta segala macam keunikannya.

      SLIDER

      Peta lokasi menuju Desa Adat di Bangli dari Denpasar

      SLIDER

      Danau Batur Kintamani

    • 1
    • 2
    • Sejarah Komunitas Adat Batur

      SLIDER

      Pura Ulun Danu Batur

      Masyarakat Batur percaya bahwa penyembah Pura Ulun Danu Batur yang berjumlah 45 buah desa itu bermula dari tuturan yang berkembang secara turun temurun. Di sampung itu, terdapat pula bukti arkeologis tentang tuturan tersebut yakni sebuah labu yang dipakai menjual air. Di Batur tuturan tersebut terkenal dengan nama Ida Bhatari Batur Madolan Toya. Secara singkat ceritanya seperti yang diceritakan oleh Jro Mangku Kridit, Ketut Samua, dan Nengah Tekek berikut ini.

      Tersebutlah Batari Batur setelah menetap di Batur, dan memiliki air cukup besar, berupa sebuah danau. Beliau berkeinginan menjual atau menukar airnya ke desa-desa tetangganya. Karena merasa canggung sebagai putri, beliau merubah dirinya menjadi seorang laki-laki yang kudisan, berbau dengan pakaian compang-camping. Beliau memikul dua buah labu besar berisi air, menuju arah Timur Laut, melewati Pura Balingkang. Setibanya di perbatasan Desa Blandingan, beliau merasa kecapaian dan mengaso/istirahat. Karena merasa terlalu berat maka sebagian airnya ditumpahkan di sana sehingga menjadi Manik Muncar, yang letaknya di sebelah Barat Laut Belandingan.

      Setelah agak kuat, beliau kembali melanjutkan perjalanan sampai ke Munti, Pedahan, dan Puseh Meneng. Di sana beliau menjajakan air, dan penduduk Munti serta Pedahan menghina beliau mengatakan sebagai seorang minta-minta dan menolak serta mengusirnya. Karenanya, beliau mengutuk agar penduduk di sana menjadi peminta-minta (idih-idih). Karena kesal beliau kembali melanjutkan perjalanan, dan sampai di pinggir pantai. Untuk bukti perjalanan, maka sedikit airnya ditumpahkan di sana sehingga menjadi tirta yang tempatnya di Pura Pegonjongan.

    • Setelah itu, kembali beliau melanjutkan perjalanan dan sampai melewati beberapa desa tetapi tidak ada yang membeli. Akhirnya tiba di Desa Panjingan, dan penduduk desa di sana membeli air dengan dua kepeng, namun baru membayar sekepeng itu pun karena menggadaikan sabit besar (Tah) sehingga ada air terjun Yeh Tah. Beliau berpesan agar air itu disebut Yeh Mampeh sesuai namanya di Batur, serta setiap tahun harus membayar pajak ke Batur. Kembali beliau melanjutkan perjalanan, setibanya di desa Hiliran, penduduk di sana akan membeli air serta menukarnya dengan kerbau. Penduduk ini merupakan orang buangan dari Sukawana, dan dengan kekuatan beliau mereka diangkat normal sehingga desa itu diganti menjadi Tejakula yang artinya penduduk yang bersinar, dan tempat beliau mengadakan dialog disebut Banjar Batur.

      Kembali perjalanan dilanjutkan dan tibalah di sebuah desa yang akan membeli air dengan tiga kepeng. Karena mau membeli dengan jumlah yang besar, maka diambilkan air sampai ke dasarnya, namun berisi jentik nyamuk. Mereka tidak terima dan batal membeli air, sehingga dikutuk agar jika membuat sumur airnya sangat dalam. Desa itu disebut Buhun Dalem yang artinya ’sumur dalam’, sekarang menjadi desa Bondalem. Perjalanan dilanjutkan dan sebagian airnya ditumpahkan di Pura Ponjok Batu serta seluruhnya dituang di pantai bukti disebut Air Sa Inih yang sekarang menjadi Air Sanih.

      Setelah itu, beliau kembali menjadi seorang putri cantik sambil menjungjung bambu menjajakan kerbau. Penduduk Cemara, Bungkulan, dan Sangsit tidak yakin bahwa yang dibawa itu kerbau, karena tempatnya bambu. Tempatnya lalu dirampas, dan kerbaunya dilepas. Ternyata benar bahwa itu kerbau normal. Karena jengkel, maka kerbau itu sengaja diusir, setelah sore ternyata kerbaunya kurang seekor dan kerbau itu telah dipotong. Beliau mengutuk bahwa yang memotong kerbau itu secara bergilir mengganti tiap tahun ke Batur, serta desa-desa bekas injakan kerbau itu harus menyembah ke Batur. Akhirnya, beliau kembali ke Batur lewat desa Tajun.

    • 1
    • 2
  • Lokasi Komunitas Adat Batur

    SLIDER

    Peta Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli


    Desa Batur secara geografis terletak di sebelah selatan Desa Kintamani kurang lebih berjarak 27 kilometer dari ibu kota Kabupaten Bangli, atau kurang lebih 65 kilometer dari kota Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Pura Ulun Danu Batur sendiri terletak di desa Batur Selatan. Desa Batur merupakan bagian dari kesatuan administratif Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

    Desa Batur dibagi dalam tiga kewilayahan desa administratif atau dinas, yaitu Batur Utara, Batur Tengah, dan batur Selatan, yang dikepalai oleh seorang kepala desa atau perbekel. Pada setiap banjar, kepala desa dibantu oleh kelian dinas. Kepala desa dan Kelian dinas mempunyai tugas yang bersangkutan dengan kedinasan seperti kartu penduduk, surat keterangan, keamanan, ketertiban, dan hal-hal yang bersifat kedinasan lainnya.


    SLIDER
    adat-ku.blogspot.com

    Desa Batur terletak pada ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut, di sebuah dataran yang relatif sempit kurang lebih 1 x 5 kilometer di pinggiran jurang kaldera gunung Batur. Di sebelah timur, terletak gunung Batur dengan tinggi 1717 meter dari permukaan laut. Ditilik dari morfologi geografis Desa Batur terletak pada salah satu perbukitan yang melingkar di daerah Kintamani. Desa Batur dan Pura Ulun Danu Batur seolah-olah terletak pada sebuah punggung kuda (tundun jaran), karena di kiri kanannya terdapat jurang yang terjal, terlebih pada bagian yang menghadap ke gunung Batur. Demikian juga, Desa Batur adalah sebuah desa berposisi pada bukit yang sempit. Karena letak dan luasnya yang sempit, pemukiman penduduk dan perumahan penduduk diperkenankan merapat dengan komplek Pura Ulun Danu Batur. Hal ini menyebabkan antara pemukiman penduduk dengan areal suci di Pura Ulun Danu Batur tidak menerapkan aturan batas yang ketat seperti lazimnya di areal Pura Sad Kahyangan lainnya di Bali.

    Kawasan Batur ramai dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara dan Nusantara. Kunjungan yang paling menonjol sekitar bulan Agustus, Desember, saat menyambut Tahun Baru dan suasana Tahun Baru. Demikian pula pada hari-hari Raya Galungan, Idul Fitri dan Hari Raya Natal, bahkan sering dikunjungi oleh tamu Negara baik dari pusat maupun tamu dari luar negeri.

  • Karakteristik Komunitas Adat Batur


    Mata Pencarian Penduduk Desa Batur

    Luas tanah pertanian di daerah desa Batur berupa tanah tegalan seluas 1.244.484 Hektar. Tanah pertanian ini sebagian ditanami jeruk (kurang lebih 240 Hektar), kebun kopi seluas 56,17 Hektar. Disamping kopi dan jeruk tanah pertanian di kawasan desa Batur ditanami aneka budi daya pertanian seperti: jagung, sayur-sayuran, dan palawija.

    Sistem Kepemimpinan

    Desa Batur dibagi dalam tiga kewilayahan desa administratif atau dinas, yaitu Batur Utara, Batur Tengah, dan batur Selatan, yang dikepalai oleh seorang kepala desa atau perbekel. Pada setiap banjar, kepala desa dibantu oleh kelian dinas. Kepala desa dan Kelian dinas mempunyai tugas yang bersangkutan dengan kedinasan seperti kartu penduduk, surat keterangan, keamanan, ketertiban, dan hal-hal yang bersifat kedinasan lainnya.

    Organisasi Sosial

    Organisasi desa Batur secara adat dapat dilihat sebagai berikut:
    1. Organisasi Roban (laki-laki) dan Debunga (Perempuan)
    2. Organisasi Pecalang (polisi desa)
    3. Organisasi Pengampel (terdiri dari masyarakat Batur yang berada di luar daerah yang tidak bisa hadir apabila desa Batur melaksanakan suatu kegiatan adat).
    Berdasarkan tempekan terdapat organisasi sosial, yaitu:
    1. Jero Baris
    2. Jero Gambel
    3. Jero Undagi (pertukangan)
    4. Jero Batu dangin dan dauh

    Pola Pemukiman

    Struktur perkampungan penduduk Desa Adat Batur dapat dipersonifikasikan sebagaimana struktur anatomi tubuh manusia yang secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki. Struktur perkampungan seperti itu dilandasi oleh konsep Tri Angga atau Tri Mandala.

    Sistem Penanggalan

    Desa Batur telah mengenal Wewaran (Eka Wara, Dwi Wara, Tri Wara, Catur Wara dan seterusnya) yang merupakan perhitungan hari secara tradisional. Dalam wariga diatur tentang tanggal baik, hari baik, hari buruk, pantangan, dan sebagainya yang berkaitan dengan keadaan hari atau penanggalan tradisional Bali. Di samping itu orang Bali di Desa Batur juga mengenal tahun caka (tahun baru agama Hindu) dan tahun Candra (perhitungan tahun berdasarkan bulan purnama dan tilem).

    • Upacara Komunitas Adat Batur

      SLIDER

      Masyarakat Trunyan melakukan Upacara di Danau Batur, 1957. Foto dari Tropenmuseum

      Upacara Daur Hidup (life cycle) :

      1. Manusia yadnya meliputi: upacara daur hidup dari masa anak sampai dewasa.
      2. Pitra yadnya merupakan upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur, meliputi: upacara kematian sampai upacara penyucian roh leluhur.
      3. Dewa yadnya merupakan upacara pada pura maupun kuil keluarga atau sanggah.
      4. Resi yadnya merupakan upacara yang berhubungan dengan pentasbihan pendeta.
      5. Bhuta yadnya meliputi upacara yang ditunjukan kepada bhuta dank ala, yaitu roh-roh di sekitar manusia yang dapat mengganggu.

      Upacara daur hidup pada Komunitas Adat Batur diantaranya :

      1. Upacara kehamilan (tirta beling)
      2. Upacara kelahiran
      3. Upacara kepus pungsed
      4. Upacara tiga bulanan atau nyambutin
      5. Upacara satu oton atau enam bulan
      6. Upacara meningkat dewasa
      7. Upacara potong gigi
      8. Upacara perkawinan

    • Upacara Bakti Penyangkep :

      Desa adat Batur memiliki struktur pimpinan tradisional, salah satunya adalah Jero Guru. Jero Guru (kesinoman) dalam desa adat Batur bertugas sebagai juru arah atau pelaksana dalam pelaksanaan semua kegiatan yang berhubungan dengan adat. Masyarakat yang termasuk krama (warga) desa Batur yang ingin melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat seperti upacara terlebih dahulu melapor kepada Jero Guru. Pergantian Jero Guru bertugas (piket) selama satu bulan. Kemudian setiap satu bulan atau tilem ada pergantian kesinoman. Dalam pergantian itu dilaksanakan upacara yang disebut bakti penyangkep.

      SLIDER

      Jero Guru Kesinoman melakukan persembahyangan bersama

      SLIDER

      Jero Wayan Karda salah seorang Kesinoman memulai kegiatan upacara Bakti Penyangkep

    • 1
    • 2
  • Penutup

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya dari Komunitas Adat Batur tersebut adalah perlunya menjaga sikap dan perilaku yang baik antar sesama manusia dan menjalin hubungan baik dengan lingkungan alam.

    Modernitas dapat menggerus kearifan lokal serta tradisi yang menjadi ciri bangsa. Mempelajari tradisi dan adat dapat menanamkan rasa cinta kepada budaya serta menumbuhkan kesadaran akan identitas kebangsaan. Modernitas tidak selamanya berbahaya apabila dimanfaat yang diperoleh dari budaya Komunitas Adat Batur adalah terjalinnya hubungan yang harmonis antara sesama manusia dalam hidup bermasyarakat.