• Pendahuluan

    Masyarakat yang hidupnya masih menggantungkan diri dari hasil pertanian biasanya sangat mencintai dan menjunjung tinggi budaya spiritual. Ketakutan mereka terhadap bencana alam, masa paceklik, kematian, dan hal-hal lainnya yang mengancam kehidupan mereka telah menumbuhkan berbagai tradisi yang hingga kini masih tetap hidup (the living traditions). Itulah sebabnya, dalam kehidupan masyarakat petani biasanya terikat oleh tradisi yang menghargai pola-pola hubungan yang selaras dan serasi anatara manusia dengan Tuhan, lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Tradisi ini dikukuhkan dengan seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam sistem religi atau kepercayaan asli mereka yang antara lain terwujud dalam upacara adat. Demikian pula halnya dengan masyarakat adat atau komunitas adat di Jalawastu dalam melaksanakan upacara adat ngasa.

    SLIDER
    Suasana Tradisi Ngasa
    Sumber: http://ngadem.com/

    Upacara adat ngasa diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa atas karunia yang diberikan berupa hasil pertanian. Di samping itu, juga dimaksudkan untuk memohon berkah atas usaha yang akan dilaksanakan pada tahun selanjutnya. Upacara adat ngasa dilaksanakan setahun sekali, sedangkan pelaksanaannya dilakukan pada hari-hari tertentu,yaitu pada hari Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon. Sehari sebelum upacara tersebut dilaksanakan, masyarakat Jalawastu biasanya akan membuat nasi jagung dan mencari lalapan berupa daun-daunan. Nasi jagung dan lalapan ini merupakan hasil bumi yang akan dihidangkan sebagai menu utama dalam pelaksanaan upacara adat ngasa.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

      1. Memperkenalkan keragaman tradisi melalui upacara adat ngasa;
      2. Meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap aspek-aspek tradisi yang berkaitan dengan upacara adat ngasa;
      3. Menumbuhkembangkan sikap kepedulian terhadap warisan budaya yang berkaitan dengan upacara adat ngasa;
      4. Melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam upacara adat ngasa.
  • Sejarah Tradisi Ngasa


    SLIDER
    Acara Makan Bersama
    Sumber: http://www.7jiwanusantara.com/

    Upacara adat Ngasa merupakan kegiatan ritual masyarakat Dukuh Jalawastu yang dilaksanakan setahun sekali yakni pada mangsa kesanga. Siapa yang menciptakan kegiatan ritual ini, tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun yang jelas bahwa upacara adat ngasa telah dilaksanakan oleh masyaraakat Jalawastu secara turun-temurun sejak ratusan tahun yang silam. Sementara itu dalam artkel yang berjudul "Mengenal Kampung Budaya Jalawastu Brebes" yang dimuat dalam tabloid Brebesnesia (2015) dikatakan bahwa untuk pertama kalinya upacara adat ngasa digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9, yaitu Raden Arya Candranegara (1880-1885).

    Sebagaimana telah disampaikan oleh pemangku adat setempat bahwa masyarakat di daerah pantai mengenal tradisi sedekah laut, masyarakat di dataran rendah mengenal tradisi sedekah bumi. Masyarakat Dukuh Jalawastu yang lingkungan alamnya berupa daerah pegunungan juga mengenal sedekah gunung.

    Walaupun terdapat variasi dalam hal penyebutan nama upacara, akan tetapi setiap upacara adat pada hakekatnya memiliki kesamaan, yakni ditujukan kepada kekuatan diluar kemampuan manusia (gaib). Adapun yang dimaksud dengan kekuatan di luar manusia di sini dapat diartikan sebagai Tuhan YME atau kekuatan supernatural, seperti roh-roh nenek moyang, roh leluhur, atau kekuatan alam yang dianggap mampu memberikan perlindungan, dan sebagainya.

  • Lokasi Tradisi Ngasa Berlangsung


    SLIDER
    Wilayah Dukuh Jalawastu di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
    Sumber: maps.google

    Tradisi Ngasa merupakan tradisi masyarakat adat yang tinggal di Dukuh Jalawastu. Secara administratif, dukuh tersebut lokasinya berada di wilayah Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Walaupun Desa Ciseureuh lokasinya berada di Jawa Tengah, akan tetapi bahasa sehari-hari yang digunakan umumnya bahasa Sunda-Brebes.. Adapun akses jalan untuk menuju ke Dukuh Jalawastu masih berupa jalanan berbatu, walaupun jalan tersebut pernah diaspal tetapi sudah rusak berat dan becek apabila musim penghujan, karena merupakan daerah pegunungan yang terjal. Keadaan jalan berkelok-kelok dan agak sempit sehingga apabila dilewati mobil yang berpapasan, salah satunya harus mengalah agar dapat saling berpapasan.

  • Waktu Pelaksanaan Tradisi Ngasa


    SLIDER
    Suasana Tradisi Ngasa
    Sumber: http://www.7jiwanusantara.com/

    Upacara adat Ngasa merupakan salah satu tradisi masyarakat Dukuh Jalawastu yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, dan biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu yakni Selasa kliwon dan Jumat kliwon. Tempat penyelenggaraan upacara adat ngasa dilakukan di Pesarean Gedong Makmur, sedangkan waktu pelaksanaannya adalah mangsa kasanga.

    Mangsa kasanga adalah salah satu nama mangsa (musim) dalam Pranatamangsa (sistem penanggalan Jawa) yang umurnya mencapai 25 hari (1-25 Maret). Pranatamangsa ini berbasis pada peredaran matahari dan siklusnya serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu

    Pengaruh mangsa kasanga terhadap semesta alam maupun manusia adalah sebagai suatu pertanda kehidupan. Selain itu, mangsa kasanga berada dalam penguasaan Batara Bayu yang mempunyai kekuasaan mengendalikan angin, dan bertepatan dengan musim penghujan sehingga memberikan harapan tersiarnya berita bahagia dalam kehidupan umat manusia.

  • Makna dan Tujuan Tradisi Ngasa

    SLIDER

    Makanan yang disajikan dalam tradisi ngasa

    Sumber: http://www.7jiwanusantara.com/

    Masyarakat Dukuh Jalawastu merupakan sebuah komunitas adat yang hingga kini masih tetap mempertahankan tradisi-tradisinya, di antaranya adalah ketaatan mereka terhadap pantangan-pantangan yang telah diwariskan secara turun-temurun, seperti tidak memakan nasi beras, daging dan ikan. Makanan pokok mereka adalah nasi jagung yang ditumbuk halus dan lalapan berupa dedaunan. umbi-umbian, pete, terong, sambal, dan daun reundeu yang diyakini hanya tumbuh di gunung kumbang, lingkungan alamnya Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan. Selain itu, mereka juga pantang menanam bawang merah, kedelai serta memelihara ternak seperti kerbau, domba dan angsa. Mereka meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar akan mendatangkan musibah.


    SLIDER

    Rumah masyarakat dusun Jalawastu

    Sumber: Image from Google.com

    Hal yang unik di Dukuh Jalawastu, bahwa seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Sumber penerangan masih menggunakan kincir air bahkan masih ada yang menggunakan lilin. Mereka meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar akan mendatangkan musibah

    Adapun upacara adat ngasa yang mereka lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Sang Batara mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. Ajudan ini semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. Semua itu dilakukan sebagai perwujudan rasa bhaktinya kepada Batara.


    Dalam upacara adat ngasa, warga masyarakat Jalawastu juga melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Burian Panutus. Mereka makan bersama dengan nasi jagung dan lalapan yang merupakan hasil bumi sendiri. Dengan demikian, makna yang terkandung di dalamnya adalah kebersamaan dan kesederhanaan hidup yang penuh dengan kedamaian, sedangkan tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur terhadap karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.

  • Alur Pelaksanaan Tradisi Ngasa


    SLIDER
    Tamu kehormatan disambut dengan permainan egrang
    Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

    Upacara adat ngasa dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada hari Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon di Pesarean Gedong Makmur. Biasanya upacara ini dimulai dari pukul. 06.00 WIB sampai selesai. Alur pelaksanaannya diawali dengan masyarakat dukuh Jalawastu dan masyarakat sekitar, seperti dukuh Garogol dan dukuh Salagading serta pata tamu undangan berjalan bersama-sama menuju Pasarean Gedong yang dipimpin oleh juru kunci pasarean dan para pemuka agama yang berpakaian putih-putih yang diikuti oleh ibu-ibu yang membawa makanan yang akan disajikan dalam ritual Ngasa.

    Setelah sampai di tempat upacara, biasanya acara Ritual Ngasa segera dimulai. Acara ini dihadiri oleh para perangkat pemda kabupaten Brebes, para kepala desa tetangga dan perangkatnya, Pemerintah Pusat dalam hal ini dihadiri oleh perwakilan dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud serta beberapa awak media baik media cetak maupun elektronik. Biasanya acara ini diawali dengan sambutan-sambutan, seperti sambutan dari pemuka adat dukuh Jalawastu, perwakilan daerah sekitar dukuh Jalawastu, dan sambutan terakhir dari perwakilan Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Kemdikbud.

    SLIDER
    Perjalanan menuju tempat ritual Ngasa
    Sumber: http://www.brebesnesia.com/

    Puncak ritual Ngasa adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh 3 orang pemuka adat dukuh Jalawastu. Pembacaan doa dilakukan sekitar 10 menit, doa dibacakan dalam bahasa Sunda. Setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang telah dipersiapkan oleh ibu-ibu. Makanan disiapkan dalam bakul-bakul yang secara umum berisi nasi yang terbuat dari jagung, sayur dari daun-daunan atau rebung, sambal dan lalapan. Para peserta makan dengan alas daun pisang atau piring dari anyaman bambu. Ritual Ngasa berakhir setelah makan bersama. Anehnya sebelum acara dimulai tadi tidak boleh makan nasi terlebih dahulu dan setelah acara selesai harus membawa sadukun yaitu segenggam nasi jagung yang dibungkus daun pisang. Sadukun tersebut nantinya disebarkan disawah masing-masing agar tanamannya tumduh subur.

    Dalam upacara adat ngasa biasanya juga diadakan pengukuhan kepada Tokoh Adat Kehormatan kepada seseorang yang telah membantu mengembangkan tradisi Ngasa. Selain itu, penyelenggaraan upacara adat ngasa juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di dukuh Jalawastu

  • Penutup

    Penutup

    Penduduk dukuh Jalawastu, desa Ciseureuh pada umumnya menganut agama Islam. Sungguhpun demikian, mereka dikenal sebagai masyarakat yang taat terhadap berbagai tradisi warisan leluhurnya. Salah satu tradisi tersebut adalah upacara adat ngasa.

    Upacara adat ngasa dapat digolongkan sebagai upacara yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Upacara ini tidak hanya bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur, tetapi juga harapan keberhasilan hasil panen mendatang kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam semesta. Adapun suasana yang tersirat dalam pelaksanaan upacara tersebut mencerminkan adanya kebersamaan dan kesederhanaan dalam kehidupan warga masyarakat di Dukuh Jalawastu.


    Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat ngasa:

      a. Nilai religious, hal ini terlihat dari tujuannya, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
      b. Nilai kebersamaan dan gotong royong. Pelaku upacara adat ngasa adalah dari berbagai lapisan dari warga masyarakat dukuh Jalawastu dan sekitarnya. Selain itu, upacara ini biasanya juga diikuti oleh para pejabat dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Dari sinilah terlihat adanya nilai kebersamaan dan gotong royong daalam pelaksanaan upacara dimaksud.
      c. Nilai kesederhanaan. Upacara adat ngasa diakhiri dengan makan bersama dari hasil bumi yang dipanen. Nasi yang dihidangkan adalah nasi jagung hasil panenan sendiri, sedangkan lauk-pauk yang digunakan juga dari hasil panenan sendiri, seperti dedaunan, pete, terong, sambal. Disinilah yang mencerminkan bahwa warga masyarakat Dukuh Jalawastu hidupnya penuh dengan kesederhanaan.

    Manfaat yang diperoleh:

      a. Upacara adat ngasa merupakan bagian integral dari kebudayaan nasional yang dapat memberikan identitas tentang keragaman budaya di Indonesia sehingga keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
      b. Sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional, maka keberadaan Upacara adat ngasa dapat dimanfaatkan sebagai aset pariwisata di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.
  • Referensi

    Daftar Pustaka

    Link Terkait:

    • http://www.7jiwanusantara.com/2015/03/ngasa-upacara-tradisi-di-dukuh.html
    • http://ngadem.com/8-tempat-wisata-brebes-yang-bisa-kamu-kunjungi-kapan-saja/
    • https://nursidiq75.wordpress.com/2015/01/30/tradisi-ngasa-kampung-budaya
    • http://jatengprov.go.id/id/newsroom/unik-dan-terjaga-tradisi-%E2%80%98ngasa%E2%80%99-di-dukuh-jalawastu-ciseureuh
    • http://www.brebesnesia.com/2015/11/mengenal-kampung-budaya-jalawastu-brebes.html
    • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpkt/2016/03/02/upacara-ritual-ngasa-di-dukuh-jalawastu-desa-ciseureuh-kec-ketanggungan-kab-brebes-jawa-tengah/