• Sinopsis


    Tari Pakarena merupakan salah satu kesenian tradisional dari Sulawesi Selatan yang sangat populer. Dari nama tariannya tentu dapat kita ketahui bahwa properti utama yang digunakan oleh para penari dalam mementaskan gerakan tarian tersebut berupa kipas. Banyak makna filosofis dan nilai budaya yang terkandung dalam tari Pakarena. Mari kita pelajari bersama hal-hal terkait Pakarena.

  • Pendahuluan


    Sulawesi Gowa   Tari Pakarena
    Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan
    Sumber : http://www.senitari.com

    Tari pakarena adalah jenis tarian tradisional yang menjadi tarian daerah provinsi Sulawesi Selatan. Tarian ini menjadi salah satu ikon kebudayaan provinsi yang beribukotakan di Makassar tersebut. Dalam pementasan nya tarian tradisional ini dimainkan oleh 4 penari dan diiringi dengan alat musik berupa gandrang dan puik-puik. Gandrang merupakan sebuah alat musik yang terbuat dari kepala drum sementara puik-puik merupakan alat musik tiup mirip dengan seruling.


    Pada masa lalu jenis tari klasik ini dipertunjukkan sebagai salah satu media pemujaan kepada para dewa. Keindahan serta keunikan gerak tari pakarena ini kemudian lambat laun menggeser fungsi dari tarian ini sebagai media hiburan. Menurut berbagai sumber sejarah tarian pakarena sudah dikenal oleh masyarakat Gowa Sulawesi Selatan pada masa kerajaan Gantarang. Dari gerakan dalam tarian yang dipentaskan oleh 4 penari wanita tersebut memiliki beberapa filosofi yang menceritakan mengenai kisah kehidupan.

    Adapun kisah yang disampaikan melalui tarian tersebut merupakan kisah seorang manusia dengan penghuni langit. Dimana penghuni langit yang entah digambarkan sebagai dewa atau pun bidadari kayangan memberikan pelajaran kepada manusia tentang cara-cara bertahan hidup di muka bumi mulai dari cara mencari makanan di hutan hingga bercocok tanam di tanah. Dari legenda tersebut kemudian tumbuh kepercayaan pada masyarakat Gowa bahwa gerakan-gerakan yang ditampilkan oleh para penari merupakan gerakan penuh makan sebagai ungkapan terimakasih pada para penghuni langit. Seiring perkembangan jaman, tarian khas dari sulawesi selatan ini sangat diminati oleh masyarakat sekitar dan akhirnya membuat tarian kipas pakarena menjadi salah satu media hiburan yang menarik hati para penonton.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

    Setelah mempelajari konten budaya mengenai tari Pakarena, pembaca diharapkan dapat:

      1. menjelaskan asal muasal tari Pakarena
      2. menjelaskan pakaian dan aksesoris yang dikenakan dalam tari Pakarena
      3. menyebutkan bagian-bagian tari Pakarena
      4. menyebutkan nyanyian pengiring tari Pakarena
      5. menjelaskan makna gerak tari Pakarena
      6. menyebutkan tokoh seni Pakarena
  • Uraian Materi

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • Asal Muasal Tari Pakarena

      Pakarena berasal dari bahasa Makssar karena yang artinya main. Dengan mendapatkan prefiks pa yang menandakan pelaku, jadi pakarena berarti si pemain. Kata karena dalam konteks ini diartikan sebagai tari sehingga pakarena bisa diartikan penari. Tidak diketahui dengan pasti kapan Pakarena ini mulai ditarikan untuk dan siapa yang menciptakannya, namun yang pasti kesenian ini sempat menjadi tarian resmi istana pada masa Raja Gowa ke-16.


      SLIDER
      Tari Pakarena menggunakan kipas

      Kehadiran tari pakarena seringkali dikaitkan dengan mitologi To Manurung (orang yang turun dari langit) yang berkembang pada masyarakat suku Makassar. Ada dua versi menyangkut hal ini, yaitu:


      1. Pertama adalah pada saat kerajaan Gowa Purba mengalami chaos dari 9 kelompok pendukungnya. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan seorang sosok pemimpin yang dapat menyatukan mereka. Hingga akhirnya terdengarlah kabar kedatangan seorang puteri yang turun dari langit dan menyatakan kemampuan dalam menyelesaikan persoalan Gowa. Dia berjanji akan menyatukan negeri dan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Sontak dia diangkat sebagai raja oleh mereka yang sebelumnya selalu berseteru. Sang putri kemudian mengajarkan aturan-aturan adat termasuk gerakan-gerakan tarian yang dijadikan tarian pada masa itu dan kemudian dikenal dengan tari pakarena.

      2. Versi kedua menceritakan bahwa tari pakarena bermula pada mitos perpisahan antara To Manurung. To Manurung yang telah mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan di bumi, antara lain bercocok tanam, beternak, menangkap ikan, mengurus rumah tangga, bermasyarakat, dan yang lainnya. Setelah To Manurung meninggalkan mereka, maka dibuatlah tarian untuk mengenangnya dan mengucapkan rasa syukurnya dengan menirukan gaya dan perilakunya saat bersama-sama di kerajaan Gowa.


      Halilintar Latif dalam Shaifuddin Bahrum (2011) mengemukakan bahwa asal tari Pakarena bermula dari tarian istana yang bernama sere jaga yang berfungsi sebagai bagian upacara ritual khususnya pada ritual sebelum menanam padi dan usai menanam padi. Dalam melakukan gerakan tarinya, penari memegang seikat padi benih yang telah dipilih melalui upacara ritual. Pada perkembangan selanjutnya tari sere jaga menjadi bagian upacara ritual yang dilakukan semalam suntuk. Upacara tersebut antara lain: Ammatamata Jene, Ammatamata Benteng, dan lain-lain. Taripun mengalami perkembangan dalam bentuk penyajian dan piranti. Padi yang dipegang sekarang diganti dengan kipas.

      SLIDER
      Alat musik pengiring tari Pakarena

      Tarian ini dulunya hanya ditarikan di dalam istana kerajaan Gowa oleh putri-putri bangsawan, menjadi pelengkap dan wajib dipertunjukkan pada saat upacara adat atau pesta-pesta kerajaan. Menggelar tarian pakarena dengan diiringi tabuhan ganrang (gendang) oleh masyarakat Gowa merupakan simbolisasi penghargaan kepada nenek moyang atau leluhur, sehingga tarian ini tidak boleh lalai dilakukan karena ditakutkan ada gangguan dari arwah leluhur yang merasa tidak mendapatkan penghormatan yang sepantasnya.

      SLIDER
      Tari Pakarena dibawakan di outdoor

      Tarian Pakarena dibawakan oleh 3, 4, 6 atau lebih penari perempuan yang memperlihatkan kelembutan perempuan suku Makassar. Tarian ini lebih banyak menampilkan gerakan tangan yang terayun ke samping (kiri-kanan) dan ke depan secara beraturan dan lamban. Namun gerakan tangan tersebut terangkat paling tinggi hanya sebatas bahu tidak pernah terangkat hingga setinggi kepala. Tangan kanannya memegang kipas. pandangan penari selalu tertuju ke lantai paling jauh dua atau tiga meter dari ujung kakinya. Gerakan kaki hanya bergeser (ke kanan, kiri, depan belakang) dan tidak terangkat dari permukaan lantai.Gerakan lembut si penari sepanjang tarian dimainkan, tak urung menyulitkan buat masyarakat awam untuk membedakan babak demi babak. Tari pakarena pada awalnya disajikan sebagai pementasan tari semalam suntuk, dimulai pada pukul delapan malam, dilanjutkan dengan babak kedua yang disajikan pada pukul 24.00 malam, hingga akhirnya sampai pada bagian penutup yang dilakukan pada waktu subuh. Panjangnya pementasan tarian ini menyebabkan dibutuhkan beberapa penari dan pemusik cadangan yang siap menggantikan penari pertama yang pentas.

    • Pakaian dan Aksesoris yang Dikenakan dalam Tari Pakarena Aksesoris-aksesoris yang dikenakan

      Pakaian:

        1. Baju bodo (warna merah dan hijau)
      Baju bodo adalah pakaian tradisional masyarakat Bugis Makassar. Baju bodo dibuat dari kain kasa yang transparan, dengan lengan yang pendek dan dijahit bersambung dengan bagian lengan bagian dalam. Ukuran panjangnya hingga mencapai bagian lutut manusia dan berbentuk persegi empat.Baju bodo memiliki warna-warna tertentu yang pada zaman dulu menjadi penanda stratifikasi sosial masyarakat. Misalnya, warna hijau dan kuning menunjukkan pemakainya adalah dari golongan bangsawan, warna putih menunjukkan indo pasusu (ibu yang menyapih), dan beberapa warna lainnya. Seiring perkembangan zaman, penggunaan baju bodo sudah bersifat umum dengan dipadukan dengan beragam warna lain sehingga membuatnya semakin menarik dan bahan kain yang dapat pula dibuat dari kain sutra.
        2. Sarung/top
      Sarung yang dipakai dulunya adalah sarung polos tidak bercorak dan hanya warna putih kuning, namun sekarang sudah dikenakan pula sarung yang memiliki motif beragam.
        3. Selendang
      Selendang ini diselempang di pundak sebelah kiri dan dimainkan dengan tangan kiri. Warnanya biasanya disesuaikan dengan warna baju bodo yang dikenakan.
        4. Kipas
      Kipas yang dipakai adalah kipas yang biasa tidak ada model khusus, dan dimainkan dengan tangan kanan.

      SLIDER
      Pakaian dan asesoris penari Pakarena

    • Bagian-bagian Tari Pakarena


      Tarian ini terbagi-bagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:

      1. Samboritta (berteman) Samboritta disebut juga paulu jaga yaitu kegiatan begadang semalam suntuk. Ada juga yang mengartikan samboritta sebagaiawal tarian yaitu memberi hormat kepada pengunjung. Bagian ini merupakan bagian pertama dalam pertunjukan.

      2. Jangang leak-leak (ayam berkokok) Tari pakarena dulunya dipentaskan semalam suntuk sehingga bagian penutupnya biasanya berlangsung sekitar jam 04.00 subuh, sehingga disebut jangang leak-leak yaitu saat ayam mulai berkokok.Tarian ini merupakan bagian ketiga dalam tari pakarena yang bermakna mencari jalan kembali ke asal mula.

      Video tarian pakarena

      video: https://www.youtube.com/watch?v=GXMvIa-Opsc



      Selain kedua jenis pakarena di atas, terdapat sebelas jenis pakarena yang lain, yaitu sebagai berikut:

      1. Ma’biring kassi, artinya mendarat ke pantai, disajikan pada babak kedua yang mempunyai makna permohonan yang terkabul.

      2. Bisei ri lau’(dayung ke timur), disajikan juga pada babak kedua, mempunyai makna bergerak ke arah timur yaitu arah terbitnya matahari sebagai sebuah spirit kehidupan di muka bumi.

      3. Angingkamalino (angin tanpa hembusan), tarian dalam babak kedua, sebagaimana angin yang tidak berhembus sehingga tidak membawa kesejukan, tarian ini menggambarkan rasa kecewa.

      4. Anni-anni (memintal benang), juga disajikan pada babak kedua. Bagian ini mempunyai makna bahwa sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan penuh ketekunan pasti akan membuahkan hasil kelak. Tari pakarena jenis ini biasanya ditarikan dalam upacara perkawinan.

      5. Dalle tabbua (meniti nasib dengan sabar), ditarikan pada babak kedua, mengandung makna filosofis bahwa hidup di muka bumi ini harus dijalani dengan penuh kesabaran.

      6. Nigandang (berulang-ulang), juga ditarikan pada babak kedua, bermakna bahwa segala sesuatu seringkali harus dilakukan secara berulang-ulang tanpa rasa putus asa, hingga pada akhirnya akan memberikan kesudahan yang baik.

      7. So’nayya (bermimpi), ditarikan pada babak kedua, mengandung makna bahwa sebagai seorang manusia kita tidak boleh mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi tanpa disertai usaha dan daya upaya yang setimpal dengan mimpi yang kita cita-citakan.

      8. Iyolle’, (mencari kebenaran), bahwa kebenaran haruslah terus dicari agar hidup menjadi tenang hati menjadi tenteram.

      9. Lambassari(kekecewaan), berarti apa yang kita usahakan dalam hidup ini seringkali berakhir dengan kekecewaan.

      10. Leko’ bo’dong (bulat sempurna), diumpamakan dengan bulan purnama yang dianggap memiliki bentuk bulat yang sempurna dan bersinar terang.

      11. Sanro beja’(dukun beranak), disajikan pada babak kedua, menampilkan pemaknaan tentang cara merawat diri bagi perempuan yang baru saja melahirkan. Sesuai dengan penamaannya, tarian ini umumnya dipentaskan dalam upacara kelahiran.




    • Nyanyian Pengiring Tari Pakarena


      Syair atau lagu yang diperdengarkan saat menarikan tarian pakarena ini tidaklah selalu sama akan tetapi disesuaikan dengan pesta yang diadakan. Misalnya jika tarian ini dipentaskan pada saat acara penyambutan pahlawan-pahlawan perang atau pada pesta bulan purnama. Salah satu lagu yang sudah dikenal di masyarakat sebagai lagu pengiring dalam tarian ini adalah lagu yang berjudul Dongang-dongang. Klik lagu di bawah ini untuk mendengarkan nyanyian pengiring tari Pakarena.


      lagu tarian pakarena

      sumber:https://drive.google.com/file/d/0B_JN6iizzTeaV3dvSTlkNjljY0k/view

    • Makna Gerak Tari Pakarena

      Gerakan dalam tarian ini sangat lembut dan gemulai kadang naik kadang turun, kadang meliuk dengan anggunnya dan diiringi tetabuhan gendang yang bertalu-talu. Sebuah tarian tradisional Makassar yang mencerminkan sikap teduh, hening, dan kontemplatif. Pakarena adalah sebuah tarian ritus yang mengungkapkan hubungan manusia dengan Tuhan dan bercerita tentang ritme kehidupan.

      SLIDER


      Sesungguhnya pola-pola tarian ini memiliki makna khusus. Gerakan pada posisi tegak berdiri dengan badan yang membusung ke depan merefleksikan bahwa sebagai manusia kita harus selalu tegak berdiri, tegar, dan tidak gampang rebah meski menghadapi berbagai persoalan dan kerumitan hidup. Gerakan pada posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir dalam tarian pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia.Sementara gerakan naik turun (mengeper) dalam tarian ini mencerminkan irama kehidupan. Alunan lagu dengan nada e..e..e.. yang mendayu-dayu menggambarkan irama perempuan Makassar yang lemah lembut dan menjadi pereda keberapi-apian laki-laki.




    • Tokoh Seni Pakarena

      Pada era tahun 1950-an, masyarakat Indonesia sedang diperhadapkan oleh masuknya budaya Eropa dengan gencarnya yang sedemikian berpengaruh. Melihat kondisi yang demikian, seorang perempuan bernama Andi Nurhani Sapada merasa prihatin dengan keberadaan kesenian di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar . Hal ini kemudian mendorongnya untuk membangkitkan kembali kecintaan kepada kesenian tradisional, dengan melakukan kerjasama dengan OSBM (Organisasi Seni Budaya Mangkasara) yang didirikan oleh sekelompok anak muda pada masa itu dan diketuai Fachrudin Daeng Romo, beserta beberapa kelompok-kelompok tari pakarena di beberapa tempat di wilayah Makassar, Gowa, dan Takalar.

      Andi Nurhani Sapada yang akrab dipanggil Anida, lahir di Kota Pare-pare pada 25 Juni 1929, merupakan seorang dari kalangan bangsawan yang mana ayahnya adalah seorang raja lokal yang ikut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Pada masa kecilnya dia pindah ke Makassar dan tinggal bersama kakeknya. Dia sempat pula berpindah ke Ambon mengikuti kakeknya yang bertugas ke sana, namun kembali lagi ke Makassar pada tahun 1946. Kecintaan dan minatnya pada bidang seni membuatnya bergabung dan menjadi penyanyi utama kelompok Badji Minasa di tahun 1948.Tidak hanya dalam bidang musik dan tari, dia pun pernah membuat sebuah naskah drama radio berjudul Majulah Puteriku.




  • Penutup

    Sikap yang perlu ditumbuhkembangkan pada generasi muda mengenai nilai-nilai budaya dari tari Pakarena adalah:

       1. menghargai budaya peninggalan generasi pendahulu
       2. mencintai peninggalan cagar budaya Indonesia
       3. mengenal sejarah bangsa


    Manfaat yang dapat diperoleh sebagai hasil dari selesainya mempelajari konten budaya yang berjudul tari Pakarena adalah :

       1. terciptanya perasaan atau keinginan untuk melestarikan peninggalan budaya
       2. meningkatkan minat pada dunia sejarah dan budaya dan
       3.membangkitkan rasa nasionalisme kebangsaan.
  • Daftar Pustaka/Tautan:

    • Tari Pakarena – Sulawesi Selatan, Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, 2015.
    • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmakassar/2015/05/29/tari-kipas-pakarena/
    • http://www.senitari.com/2015/08/sejarah-tari-kipas-pakarena-sulawesi-selatan.html
    • https://southcelebes.wordpress.com/2008/08/11/profil-tari-pakarena-makassar/