• PENDAHULUAN

    Tahukah Anda apa itu Warisan Budaya Tak Benda?

    Menurut Konvensi UNESCO 2003 mengenai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menyebutkan bahwa warisan budaya takbenda mengandung arti berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu, perorangan sebagai warisan budaya mereka.

    Sasi merupakan kearifan lokal masyarakat Maluku dan Maluku Utara dalam pengelolaan sumber daya alam. Sasi memuat kewajiban dan sanksi sehingga lingkungan mereka menjadi lebih baik. Untuk lebih tau tentang sasi dan bagaimana nilai-nilai di balik tradisi sasi akan di paparkan selanjutnya.

  • TUJUAN

    Setelah membaca topik sasi diharapkan dapat:
    1. Mengenal salah satu Warisan Budaya Tak Benda yang ada di Indonesia yaitu sasi.
    2. Mengetahui nilai dan makna budaya sasi dalam pengelolaan lingkungan oleh masyarakat di Indonesia.
    3. Melestarikan lingkungan yang ditandai dengan ritual tutup dan buka sasi.

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • 7
    • Lokasi

      Sasi merupakan bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai kemaritiman tersebar di beberapa wilayah Indonesia bagian timur khususnya di Pulau Seram dan Pulau Haruku di Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.

      Peta persebaran Sasi di Maluku

      Secara astronomis Kabupaten Maluku Tengah terletak di antara 2,300 – 7,300 Lintang Selatan dan 2500 – 132,300 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Maluku Tengah sekitar 275.945 Km2 yang terdiri dari:

      wilayah lautan : 264.312,13 Km2 atau 95.71%
      wilayah daratan : 11.632,87 Km2 atau 4.29%

      dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

      Utara :Laut Seram
      Selatan :Laut Banda
      Barat :Kabupaten Seram Bagian Barat, Pulau Buru
      Timur :Kabupaten Seram Bagian Timur dan perairan Papua
    • Sejarah Sasi

      Apa itu Sasi?

      Sasi adalah satu adat yang melarang masyarakat sebuah negeri di Maluku untuk mengambil hasil alam di darat maupun di laut dalam jangka waktu tertentu. Sasi merupakan larangan yang dikenakan kepada semua orang, dan terus dikembangkan secara dinamis dan kontekstual mengikuti perkembangan jaman.

      Dalam Bahasa Wamala, sasi digunakan untuk menyatakan orang meninggal, misalnya ‘mater meira peneka toneke sia yake pia batai sa merelo supu’ (keluarga sudah mati jangan ganggu di tempat pekerjaan). Kata sasi ada yang mengatakan asalnya dari tasi (garam) yang mengalami proses asimilasi. Sasi juga berasal dari kata ‘sasiha’ artinya “perkara yang terselubung”. Pelanggaran terhadap sasi dapat dijatuhi hukuman seperti dipermalukan di depan umum, kerja untuk negeri, atau denda uang.

      Selain itu ada pendapat yang mengatakan bahwa sasi berasal dari kata “saksi” (witness) untuk mematuhi kesepakatan tentang kewajiban atau larangan terhadap panen, penangkapan, pengambilan tanpa izin baik secara subsisten atau komersial terhadap sumber daya alam tertentu yang bermanfaat bagi masyarakat.

    • Jenis Sasi

      Sasi negeri yang berperan adalah tuan tanah, raja, maweng dan kewang. Dalam perkembangannya, Sasi Negeri sering direkacipta untuk memenuhi kepentingan-kepentingan praktis, misalnya hak sasi diberikan kepada siapa saja yang mau berbagi hasil atau yang mau disasi melalui lelang. Pemenangnya wajib menegakkan adat sasi dan mengangkat kewang khusus untuk mengawasi pelaksanaan sasi.

      Sasi gereja atau sasi masjid lebih ditaati karena ada dimensi magis keagamaan di dalamnya.

    • Contoh Sasi di Pulau Haruku

      Struktur Masyarakat Adat Haruku

      Keterangan:
      LATU-PATI: Dewan Raja Pulau Haruku, yakni badan kerapatan adat antar para Raja seluruh Pulau Haruku. Tugas utama lembaga ini adalah mengadakan pertemuan apabila ada keretakan antar negeri (kampung/desa) mengenai batas-batas tanah atau hal-hal lain yang dianggap sangat penting. Tetapi, para Raja ini tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri dan harus mengambil keputusan atas dasar asas kebersamaan dan dengan cara damai.

      RAJA: pucuk pimpinan pemerintahan negeri (pimpinan masyarakat adat).

      Tugas-tugas utamanya adalah:
      (a) menjalankan roda pemerintahan negeri;
      (b) memimpin pertemuan-pertemuan dengan tokohtokoh adat & tokoh-tokoh masyarakat;
      (c) melaksanakan sidang pemerintahan negeri;
      (d) menyusun program pembangunan negeri.

      SANIRI BESAR: Lembaga Musyawarah Adat Negeri, terdiri dari staf pemerintahan negeri, para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Tugas utamanya adalah sewaktu-waktu mengadakan pertemuan atau persidangan adat lengkap kalau dianggap perlu dengan para anggotanya (tokoh adat dan tokoh masyarakat).

      KEWANG: lembaga adat yang dikuasakan sebagai pengelola sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan aturan-aturan atau disiplin adat dalam masyarakat.

      Tugas-tugas utamanya adalah:
      (a) menyelenggarakan sidang adat sekali seminggu (pada hari Jumat malam);
      (b) mengatur kehidupan perekonomian masyarakat;
      (c) mengamankan pelaksanaan peraturan sasi;
      (d) memberikan sanksi kepada yang melanggar peraturan Sasi Negeri;
      (e) meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga;
      (f) menjaga sertamelindungi semua sumberdaya alam, baik di laut, kali dan hutan sebelum waktu buka sasi;
      (g) melaporkan hal-hal yang tidak dapat terselesaikan pada sidang adat (Kewang) kepada Raja dan meminta agar disidangkan dalam Sidang Saniri Besar.

      SANIRI NEGERI: Badan Musyawarah Adat tingkat negeri yang terdiri dari perutusan setiap soa yang duduk dalam pemerintahan negeri.

      Tugas-tugas utamanya adalah:
      (a) membantu menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah negeri;
      (b) hadir dalam sidang-sidang pemerintahan negeri;
      (c) membantu Kepala Soa dalam melaksanakan pekerjaan negeri yang ditugaskan kepada soa.

      KAPITANG: Panglima Perang Negeri. Tugas utamanya adalah mengatur strategi dan memimpin perang pada saat ada perang.

      TUAN TANAH: kuasa pengatur hak-hak tanah petuanan negeri. Tugas utamanya adalah mengatur dan menyelesaikan masalah-masalah dengan desadesa tetangga yang menyangkut batas-batas tanah serta sengketa tanah petunanan yang terjadi dalam masyarakat.

      KEPALA SOA: pemimpin tiap soa yang dipilih oleh soa masing-masing untuk duduk dalam staf pemerintahan negeri.

      Tugas-tugas utamanya adalah:
      (a) membantu menjalankan tugas pemerintahan negeri apabila Raja tidak berada di tempat;
      (b) memimpin pekerjaan negeri yang dilaksanakan oleh soa;
      (c) sebagai wakil soa yang duduk dalam badan pemerintahan negeri;
      (d) menangani acara-acara adat perkawinan dan kematian.

      SOA: kumpulan beberapa marga (clan) yang menjalankan tugas:
      (a) melaksanakan pekerjaan negeri bila ada titah (perintah) dari Raja melalui Kepala Soa masingmasing;
      (b) membantu Kepala Soa menangani dan mempersiapkan semua keperluan bagi keluarga keluarga anggota soa dalam upacara-upacara perkawinan dan kematian.

      MARINYO: pesuruh/pembantu Raja, sebagai penyampai berita dan titah melalui tabaos (pembacaan maklumat) di seluruh negeri kepada seluruh warga masyarakat.

    • Prosesi Sasi (Buka dan Tutup Sasi)

      Prosesi sasi diawali dari pusat sasi disebut batu kewang dipimpin oleh kewang desa bersangkutan. Di sini dibacakan siriwei (ucapan tekat) oleh kapitan, memberikan nasehat dan disebarluaskan oleh marinyo (pembantu Raja yang bertugas menyampaikan berita kepada seluruh masyarakat) dengan menggunakan tabaos. Larangan itu dinyatakan dengan matakao sebagai simbol kepemilikan.

      Secara adat, pelaksanaan sasi ditentukan oleh hasil Rapat Dewan Adat (Saniri) yang wajib dilaksanakan Kepala Kewang (Latukeang, Kewano). Kewang yang bertugas di darat disebut Kewang Darat dan yang bertugas di laut disebut Kewang Laut. Dalam menjalankan tugas mereka dibantu oleh sekel masing-masing untuk lingkunagan darat dan laut, serta 40 kewang yang lain. Kewang dipilih oleh Malesi, Pela, Denia, Waelo, Luhukay, Tuhepory Sela, Maujet Tung, Toyanate Latu.

      Kegiatan sasi diawali dengan proses tutup sasi, yaitu masa berlakunya larangan. Pada waktu yang telah ditentukan kepala kewang (petugas keamanan desa) dan para pembantunya menanam tanda-tanda sasi di sekeliling perbatasan desa di darat dan di laut. Tanda-tanda sasi adalah potongan-potongan kayu bakar atau bambu yang dibungkus menggunakan anyaman daun kelapa mirip ketupat.

      Pada malam hari sepanjang sasi yang biasanya berlangsung 3 sampai dengan 6 bulan, kewang dan pembantu-pembantunya memeriksa dengan meniup kulit bea (siput) besar serta meneriakan kata Sill eee! yang sama artinya dengan sasi! Teriakan itu disambut warga dengan meneriakkan Seke eee!, berarti “semoga menjadi kuat!”. Upacara yang sama dengan acara buka sasi, dilakukan pada malam hari karena pada waktu malam arwah leluhur akan berkumpul di baileu. Kesaksian leluhur dianggap penting untuk melegitimasi pelaksanaan sasi.

      Sasi biasanya berlangsung 3 sampai dengan 6 bulan dan pada malam hari sepanjang sasi para kewang dan pembantu-pembantunya memeriksa dengan meniup kulit bea (siput) besar serta meneriakkan kata Sill eee! Yang sama artinya dengan sasi! Teriakan itu disambut warga dengan menerikkan Seke eee!, berarti “semoga menjadi kuat!”

      Kemudian, setelah tutup sasi dalam jangka waktu tertentu secara adat maka dilakukan ritual buka sasi.

    • Pelanggaran dan Besarnya Denda

      Tabel : Jenis Pelanggaran dan besarnya Denda di Pulau Saparua

      No.Jenis PelanggaranBesarnya Denda (Rp)
      1.Memancing belut (morea) di dalam sungai/kali2000 dan dinasehati
      2.Meracun menggunakan bahan peledak untuk menangkap udang dan ikan di sungai/kali10.000 dan dinasehati
      3. Memotong pohon bakau (mangrove)5000/pohon
      4.Mengambil kulit pohon bakau untuk bahan penguat jaring berakibat musnahnya tanaman1.500
      5.Mengambil karang hidup (terumbu karang) di laut5000
      6.Menangkap ikan dengan jaring yang ukuran mata jaringnya terlalu kecil seperti jaring redi10.000 dan dinasehati
      7.Menangkap ikan di dalam lagoon (bariier riff) atau kolam di laut pada siang hari dengan memakai jaring insang5000
      8.Mencari/menagkap ikan di laut dengan menggunakan boreh (racun) atau bahan peledak10.000 dan dinasehati atau ancaman lain
      9.Menjaring ikan dari atas perahu pada saat kawanan ikan sedang memasuki lagoon (barrier riff-labuhan)10.000 dan peringatan
    • Sanksi

      Tabel: Jenis Pengaturan Sanksi Pelanggaran Sasi Berdasarkan Jenis Pelanggaran dan Besarnya Denda

      No.Jenis PelanggaranBesarnya Denda
      1.Buang jaring atau kegiatan lain yang mengharskan berenang dan menyelam25.000/orang
      2.Mengambil bia lola7.500/buah
      3.Mengambil batu laga25.000/buah
      4.Mengambil caping-caping2.500/buah
      5.Mengambil tripang1.000/ekor
      6.Mengambil akar bahar dan bunga karang5.000/pohon
      7.Mengambil batu5.000/m3
      8.Mengambil pasir7.500/m3
      9.Mengambil krikil10.000/m3
      10.Menangkap ikan dengan racun100.000
  • PENUTUP

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut

       1. Nilai menghargai, melestarikan dan meningkatkan upaya – upaya masyarakat adat walaupun secara tradisional namun memberikan kontribusi yang tidak kalah dengan penggunaan ilmu dan teknologi yang semakin cangih.
       2. Sasi telah terbukti kebermaknaannya secara budaya, sosial, hukum, lingkungan, dan ekonomi.
       3. Sasi telah dijadikan salah satu rujukan model pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional.

  • Daftar Pustaka :

    Lizza Laelatul Izzah Zaen. Dilema Sistem dat Sasi dan Kuasa Pemerintah Menjaga Sumber Daya Alam Pulau Maluku. Tugas Paper Kajian Etnografi Indonesia Timur. Jurnal yang diunduh dari https://www.academia.edu/6439646/Adat_Sasi_di_Maluku_Studi_Literatur

    Link Terkait materi :

    • https://id.wikipedia.org/wiki/Sasi
    • http://www.kompasiana.com/suchaini/adat-sasi-kearifan-lokal-pulau-kei_552e5cfd6ea834d1538b4597