• PENDAHULUAN

    SLIDER

    Perahu Layar

    Nilai Sabangka Asarope merupakan spirit dan wujud budaya maritim orang Buton dalam berlayar mengarungi ruang samudra. Pelayaran dan perdagangan maritim terpatri dalam jiwa orang Buton sebagai suku bangsa pelaut. Keberanian Orang Buton mengarungi laut ini, sudah ada sejak ribuan tahun silam seiring dengan kehidupan budaya maritim penutur bahasa austronesia yang hidup di kepulauan nusantara. Orang Buton sebagai pewaris tradisi maritim menjadikan citra orang Buton sebagai suku bangsa maritim di mata dunia.

  • TUJUAN

    Kali ini kita akan membahas tentang Sabangka Asarope

    Tujuan :

    Setelah membaca topik Sabangka Asarope ini diharapakan dapat :
    1. Mengenal budaya maritim yang ada di Indonesia, khususnya tradisi pelayaran orang Buton yakni Sabangka Asarope
    2. Nilai kemaritiman Sabangka Asarope merupakan spirit dan wujud maritim orang Buton dalam berlayar mengarungi ruang samudra. Pelayaran dan perdagangan maritim terpatri dalam jiwa orang Buton sebagai suku bangsa pelaut. Keberanian mengarungi laut ini, telah dilakukan sejak ratusan tahun silam hingga saat ini. Tradisi ini menjadi citra orang Buton di mata dunia.

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • Nilai Sabangka Asarope

      Tebu Ireng

      Peta Pulau Buton

      Sumber: http://www.bakosurtanal.go.id/peta-provinsi

      Orang Buton adalah salah satu suku bangsa maritim Indonesia yang masih melestarikan nilai-nilai dan kearifan lokal mereka dalam kehidupan maritimnya. Kelangsungan tradisi ini telah berjalan pada berbagai zaman dan generasi.

      Keberanian mengarungi laut ini, telah dilakukan sejak ribuan tahun silam sebelum kedatangan bangsa eropa hingga saat ini. Tradisi ini menjadi citra orang Buton di mata dunia. Sebab itu, tak berlebihan jika orang Buton bersama suku bangsa lainya dibagian timur Indonesia (Bugis, Makassar dan Mandar) digolongkan sebagai suku bangsa pewaris tradisi Austronesia (Melayu-Ploneysia). Orang Buton tidak hanya bisa berlayar dan berdagang, tetapi mereka juga pandai membuat perahu (Bangka), mencari teman dalam berlayar (sabangka), dan membentuk jaringan dagang di setiap daerah yang didatangi. Pengenalan terhadap ruang kultural menjadi prestise sosial bagi orang Buton dalam berlayar. Sekali menancapkan layar untuk satu tujuan berlayar (Asarope), maka mereka pantang kembali ke kampung, sebelum membawa hasil dan berhasil dalam pelayaran itu. Semangat hidup di laut dengan Sabagka Asarope menjadi salah satu nilai yang harus dipegang oleh para pelayar-pedagang Buton.

      Kemampuan sebagai pelayar tidak mudah dilalui tanpa landasan nilai kehidupan yang kuat diyakini. Bahkan setelah kedatangan bangsa Eropa yang menjajah nusantara melalui segala upaya pemerintah kolonial di akhir abad ke-19 dengan mengoperasikan maskapai pelayarannya, Koninklijke Paketvaart Matschappij (KPM), tampak tidak mampu menutup ruang pelayaran pribumi. Pelaut Buton mampu menunjukan eksistensinya. Bagi mereka, laut dan perahu merupakan representasi kehidupan , seperti halnya di darat. Bagi orang Buton, perahu (Bangka/wangka) memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupannya. Bahkan, karena pentingnya, istilah perahu pun digunakan sebagai sapaan pada kehidupan di darat, untuk menyebut kawan/teman/sahabat, yakni sabangka.

      Kesatuan kata dan langkah dalam usaha pelayaran dan perdagangan maritim merupakan unsur utama penguat tradisi maritim. Dengan semangat selalu bersama atau satunya kata dan perbuatan, segala tantangan kehidupan di laut, baik yang bersumber dari ruang samudra maupun dari manusia, dapat dihadapi. Itulah sebabnya, ketika perahu telah dilayarkan dan meninggalkan pantai, pantang bagi pelayar Buton untuk mengubah haluan, apalagi kembali lagi ke pantai. Semangat yang dimaksud adalah asarope, diambil dari kata “rope” yakni bagian depan atau haluan perahu, diawali dengan kata “asa” yang bermakna satu atau sama.

      Semangat hidup tersebut, disebut sabangka-asarope. Nilai budaya inilah yang menjadi penopang utama kelangsungan tradisi maritim orang Buton dari waktu ke waktu dan dari satu tempat (ruang) ke tempat lain.

    • Jenis Perahu

      Perahu yang digunakan masyarakat Binongko (Wakatobi) untuk berlayar dan berdagang disebut bangka/bhangka atau wangka. Ada juga yang menyebutnya dengan kata boti (serapan dari kata boat).


      Jenis Perahu yang sering digunakan:

      1. Boti dengan berbagai ukuran yakni ukuran kecil (bertiang satu) yang biasanya digunakan Orang Buton untuk pelayaran antar pulau di sekitar Provinsi Sulawesi Tenggara, berukuran sedang (bertiang dua), digunakan untuk pelayaran antar pulau di nusantara bahkan ke luar negeri

      2. Sope-sope adalah perahu yang ukurannya lebih kecil dari boti, bertiang satu, layarnya berbentuk jajaran genjang atau segetiga. Jenis perahu ini umumnya digunakan untuk pelayaran antar pulau di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara.

      3. Jarangka adalah perahu yang lebih kecil dari sope-sope, mempunyai sayap pada kedua sisinya agar tidak mudah terbalik. Jenis perahu ini umumnya digunakan dalam aktivitas penangkapan ikan dengan jala dan pukat,

      4. Koli-koli adalah perahu terkecil (sampan) biasanya digunakan untuk memancing ikan, selain itu juga digunakan untuk sekoci pada jenis perahu boti.

    • Jenis Perahu

      Jenis Perahu Layar Tiang Dua dan Tiang Satu

      Perahu Layar Kabangu Gambar dari Adrian Horridge (1981:66)

      1. Bangka Kabangu

      Jenis perahu ini ditandai bentuk layarnya, berdiri atau kabangu.

      a. Kokombu : dua tiang layar utama (kokombu) yang dipasang pada bagian tengah-depan dan tengah-belakang perahu.
      b. Wana : ujung perahu
      c. Gapu : kayu/bambu yang dipasang melintang pada 2/3 tiang layar utama
      d. Jip/jipu : layar bantu di bagian depan perahu yang berfungsi sebagai pengendali gerak haluan perahu.
      e. Rope : bagian depan perahu
      f. Uli : kemudi
      g. Dapur : tempat memasak
      h. Pongawa : layar dianyam dari kulit kayu

      2. Bangka Nade

      Model layar utama merupakan aspek pembeda antara bangka kabangu dengan bangka nade.

      Pada model ini, tiang utama layar (kokombu) hanya satu di bagian agak depan. Bentuk layar nade lebih besar.

    • Jenis Perahu

      3. Perahu Layar Motor

      Perahu layar motor mulai diperkenalkan setelah pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kapasitas kecepatan perahu-perahu tradisional di Indonesia. Pada tahap awal penggunaan mesin, desain belakang perahu (wana Bangka) tidak berubah. Pada perkembangan berikutnya, bentuk belakang perahu sedikit dinaikan, dari bentuk semula panta kadera (bentuk kursi), menjadi panta bebe (pantat bebek). Namun tidak semua pemilik perahu memutuskan perubahan desain perahu ketika menggunakan mesin.

      Desain atap perahu pada masa ini ada tiga yaitu:

      a. atap segitiga piramida

      Bagian dalam atap menjadi tempat muatan dan kadang awak/penumpang jika muatan tidak penuh.

      Perahu Layar Motor (bentuk atap segitiga-piramida)

      Sumber : Tahara, Tasrifin dkk 2015. Nilai Budaya Maritim Sabangka Asarope Tradisi Pelayaran Orang Buton. Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

      b. atap trapesium

      Merupakan bentuk perkembangan dari atap segitiga. Bagian dalam atap digunakan sebagai tempat muatan dan penumpang (jika muatan tidak penuh). Atap tidak menutup seluruh bagian dek perahu.

      Perahu layar Motor (bentuk atap trapesium)

      Sumber : Tahara, Tasrifin dkk 2015. Nilai Budaya Maritim Sabangka Asarope Tradisi Pelayaran Orang Buton. Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

      c. atap penuh

      Pada bentuk ini, tidak ada ruang kosong di bagian belakang, seperti jenis pertama dan kedua. Bagian atap paling belakang dibuat lebih tinggi dari bagian tengah/depan. Awak dan penumpang dapat menempati bagian dalam atap atau pun di atas sesuai kondisi/kebutuhan.

      Perahu Layar (bentuk atap penuh)

      Tahara, Tasrifin dkk 2015. Nilai Budaya Maritim Sabangka Asarope Tradisi Pelayaran Orang Buton. Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

    • Pola Pelayaran

      <

      Sistem pelayaran masih terpola oleh keadaan angin musim. Pada masa perahu layar, arah pelayaran sangat ditentukan oleh angin muson. Bulan Juni sampai Agustus dikenal sebagai musim timur (timbu) karena letak perairan laut bagian timur Pulau Buton yang berhadapan lengsung dengan Laut Banda, musim ini adalah musim ombak besar. Ketinggian ombak dan cuaca yang kurang bersahabat, sangat menyulitkan nelayan pada kawasan pantai timur Pulau Buton untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan. Karenanya pada bulan-bulan tersebut harga ikan di seluruh wilayah Pulau Buton cenderung mengalami kenaikan.

      Sebelum mengenal teknologi navigasi modern, pengetahuan lokal yang diperoleh lewat pengalaman mengarungi lautan sangat penting bagi pelayar. Mereka mengetahui dengan baik kondisi ruang samudra dengan memperhatikan tanda-tanda alam.

    • Aktivitas dalam pelayaran

      Nilai-nilai maritim sabangka asarope ditujukan pada berbagai aktivitas yaitu :

      1. kegiatan sebelum melakukan pelayaran. Kegiatan yang mendahalui dalam hal ini proses pembuatan perahu di darat.

      2. kegiatan pada saat pelayaran. Kemudian, kegiatan pada saat pelayaran, dalam hal ini bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan pada setiap kata dan perbuatan para pelayar di atas perahu.

      3. Akhir dari kegiatan pelayaran. Terakhir, bagaimana aplikasi nilai-nilai itu dalam pembagian hasil, baik keuntungan maupun kerugian. Ketiga domain kehidupan tersebut disorot dalam kerangka nilai budaya maritim sabangka-asarope.

  • PENUTUP

    Dalam kehidupan sehari-hari, nilai sabangka tampak dalam pergaulan, terutama dalam budaya maritim Orang Buton. Pada konteks yang lebih luas, nilai sabangka diwujudkan dalam kerja sama antara para pelayar dengan petani dan pedagang (pembeli). Semua usaha itu dijalin oleh harapan bersama untuk memperoleh keuntungan, sebagai wujud nilai asarope.

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya yang terkandung dalam Sabangka Asarope yaitu:
       1. Bangga terhadap kekayaan alam Indonesia terutama lautnya
       2. Semangat kemaritiman, kerjasama

    Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut:
       1. Pengayaan pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan dunia kemaritiman itu sendiri seperti perahu dan segala aspek pembuatannya, pengetahuan dan teknis pelayaran termasuk rute pelayaran dan komoditas yang dibawanya.
       2. Sebagai sumber belajar
       3. Mewariskan nilai budaya sampai pada generasi yang akan datang

  • Daftar Pustaka :

    Tahara, Tasrifin dkk. 2015. Nilai Budaya Maritim Sabangka Asarope Tradisi Pelayaran Orang Buton. Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Link Terkait materi :

    • http://www.kompasiana.com/kasmanrenyaan/sabangka-asarope-nilai-kebaharian-orang-buton_5594e12aa2afbd4e17cb192e
    • http://www.kompasiana.com/kasmanrenyaan/sabangka-asarope-nilai-kebaharian-orang-buton_5594e12aa2afbd4e17cb192e
    • http://amaholugeneration.blogspot.co.id/2015/01/pelayaran-tradisional-orang-buton-di.html
    • http://radiobuku.com/2012/01/etos-kerja-bangsa-maritim/