• Pendahuluan


    Daerah Mamasa yang lokasinya bersebelahan dengan Tana Toraja, merupakan daerah yang terletak di pegunungan dengan suhu dingin masih memiliki rumah tradisional yang masih terjaga di beberapa lokasi di sekitar kota Mamasa. Rumah adat Mamasa yang mempunyai kemiripan dengan rumah adat Toraja, terbagi menjadi empat jenis, banua layuk untuk ketua adat, banua sura untuk bangsawan, banua hitam untuk ksatria dan banua rapa untuk rakyat biasa. Objek wisata rumah adat sendiri berlokasi di bukit Rante Buda, Mamasa.

    Rambu Saratu
    Rumah Adat Rambu Saratu

    Salah satu yang akan dibahas dalam kesempatan ini adalah Rumah Adat Rambu Saratu. Rumah Adat Rambu Saratu adalah tempat tinggal pemangku adat (bangsawan tinggi) dari rambu saratu. Rambu Saratu berarti “’Asap Seratus”’, dapat diartikan sebagai serratus cara untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat. Dalam komplek rumah adat Rambu Saratu selain terdapat sebuah Banua Layuk yang besar, juga terdapat 3 buah bangunan alang yang terletak di depan, dan samping bangunan rumah. Sementara bangunan makam atau Batutu Saratu diletakkan di areal persawahan tidak jauh dari kompleks ini . Rumah adat Rambu Saratu ini berjenis banua layuk. Rumah ini berhiaskan 31 ukiran yang masing-masing memiliki arti berbeda-beda.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

      1. Menjelaskan tentang daerah asal Rambu Saratu
      2. Menjelaskan karakteristik bentuk Rambu Saratu
      3. Menjelaskan Kegunaan Rumah Adat Rambu Saratu
      4. Menjelaskan bagian-bagian dari Rumah Adat Rambu Saratu
  • Uraian Materi

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • Daerah Asal Rambu Saratu


      Lokasi Rambu Saratu

      Rumah adat Rambu Saratu berasal dari Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Rumah adat Rambu Saratu terletak di desa Rambu Saratu sekitar 2 km dari Kota Mamasa. Rumah adat Rambu Saratu ini adalah tempat tinggal pemangku adat (bangsawan tinggi) dari Rambu Saratu.

    • Karakteristik Rumah Adat Rambu Saratu


      Atap Rumah Adat Rambu Saratu menjorok kedepan dan dipikul oleh 2 (dua) tiang (eanulak) dan longa bagian belakang agak rendah dan pendek yang hanya dipikul oleh 1 (satu) tiang (panulak pada) dengan tinggi 15 meter dan berdiameter 280.

      Penulak
      Penulak Depan (gambar kiri), Penulak Belakang (gambar kanan)
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya

      Bangunan Banua Layuk terbagi atas tiga bagian; bagian kaki (kolong), bagian badan rumah dan bagian atas (atap). Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh meski terdapat pemisahan diantara ketiga bagian tersebut, Pemisahan tersebut mengandung arti bahwa masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Jumlah anak tangga yaitu tujuh buah. Pemasangan anak tangga yang bersusun dua berfungsi sebagai isyarat dari bunyi anak tangga yang diinjak maka tuan rumah dapat mengetahui bahwa mereka kedatangan tamu. Selain itu tangga dan anak tangga dibuat harus dari jenis kayu memungkinkan untuk tahan lama. Tangga yang demikian hanya terdapat pada rumah-rumah bangsawan.

      Jumlah tiang Banua Layuk 107 buah dan dibuat sangat sederhana karena peralatan yang digunakan sangat sederhana pula, lantai Rumah Adat Rambu Saratu dibagi atas dua bagian dan pembagian ini mempunyai fungsi masing-masing yaitu; salipollo (bagian lantai sebelah bawah) tempat duduk rakyat biasa dan Sali panguluan (lantai sebelah atas) tempat duduk para bangsawan. Kedua lantai tersebut dibatasi oleh balok kayu yang disebut pata. Fungsi utama dari pata adalah sebagai tempat membuang sampah, selain itu berfungsi sebagai pembatas antara bangsawan dengan rakyat biasa dalam mengadakan musyawarah. Dinding Rumah Adat Rambu Saratu mempunyai ukuran yang besar karena pada zaman dahulu masih sangat mudah mengambil bahan-bahan tersebut dari alam sekitar. Bentuk ventilasi rumah adat ini yang sangat kecil bila dibandingkan dengan besarnya ukuran rumah, ukuran jendela dibuat kecil dengan maksud agar anak gadis yang berada di atas rumah tidak dilihat oleh orang lain. Rumah Adat Rambu Saratu terdiri dari empat ruangan yaitu; Tado sebagai ruang penerima tamu; Ba’ba sebagai ruang tidur untuk tamu; Tambing ruang tidur untuk tuan rumah, dan tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka; Lombon yang berfungsi sebagai dapur.

      Pada awal produksi tahun 1997 "Hasta Karya sentra Industri Kecil Bide" di jalan Raya Risau Kec. Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat hanya membuat satu motif. Seiring perkembangan bisnis yang meningkat pada awal tahun 2000-2009, perajin membuat beberapa kreasi motif pada Bide' itu sendiri.

      SLIDER
      Ragam Hias dan Ornamen bentuk binatang pada Rumah Adat Rambu Saratu
      Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/2014/06/18/evaluasi-hasil-konservasi-rumah-adat-rambu-saratu-kabupaten-mamasa-sulawesi-barat

      Pintu Banua Layuk ada dua yaitu pintu masuk (pintu tado) dan pintu dapur (pintu lombon) letaknya berada disamping rumah. Para ba'ba berfungsi menahan angin, tempat bertumpuhnya kaso sule dan memperindah rumah. Para-para terletak pada samping rumah yang terdiri dari empat bagian dan keempat bagian ini tidak sama rata makin ke belakang makin tinggi. Bila kita perhatikan antara ruangan rumah dan para-para adalah sama (adanya peninggian ruangan) maka dapat disimpulkan bahwa para-para adalah merupakan maket dari ruangan rumah. Fungsi praktis para-para adalah tempat beristirahat, tempat bertumpunya tangga dapur disamping itu berfungsi sebagai jalan menuju dapur.

      Ragam hias yang terdapat pada Rumah Adat Rambu Saratu ada 31 dan masing-masing mengandung arti yang berbeda yaitu; Tolobeko, melambangkan Bhineka Tunggal Ika artinya rantai merantai tidak pisah satu sama lain. Palawa maksudnya mengusir yang tidak baik. Toalo sebagai dasar dari ukiran dan dilambangkan dengan penghidupan manusia bahwa harus berusaha barulah dapat hidup sempurna.

      Balambang melambangkan dapat menjaga keamanan masyarakat. Pamalin dengan maksud sebagai penjaga bila ada orang yang akan menyerang. Pamalin baranak maksudnya hampir sama dengan Pamalin, hanya boleh dipakai oleh bangsawan. Bulintong melambangkan bahwa manusia di bumi ini akan berkembang secara terus menerus dan menjadi pewaris dari generasi sebelumnya. Dotiilangi melambangkan kebangsawanan. Doti lipa melambangkan bahwa manusia dalam hidup bermasyarakat mempunyai tingkat yang berbeda-beda.

      Doti wai melambangkan suatu kepercayaan bahwa kerbau asalnya dari air. Paetong melambangkan segala yang dijadikan tuhan atau yang ditakdirkan mempunyai hubungan. Tekken api melambangkan pakaian adat perang. Rante bati melambangkan bahwa kita saling membutuhkan dan sesuatu yang hendak diputuskan harus melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Tida-tida, melambangkan bahwa bangsawan itu mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan dengan rakyat biasa. Sura seleng, melambangkan cara mempersunting seorang wanita. Bai-bai melambangkan bahwa babi itu dianggap binatang yang paling baik.

      Doti sirue, melambangkan bahwa bangsawan memilih jodoh tidak boleh sembarang. Batalauan melambangkan bangsawan itu terdiri dari keluarga besar. Sura mawa melambangkan pakaian kerajaan dalam rangka pesta kematian dan pesta perkawinan. Sura To’sadan, melambangkan antara Toraja dan Mamasa masih satu rumpun. Batalauan dua randanan, perkawinan yang terjadi antara bangsawan akan melahirkan keluarga besar dan luas. Sora-sora, melambangkan pada masyarakat Mamasa terdapat stratifikasi sosial.

      Somba-somba melambangkan orang yang suka bermalas-malasan. Buah barelu melambangkan bahwa sirih dipakai untuk menjemput tamu (suguhan pertama bagi para tamu). Kadang-kadang melambangkan bahwa masyarakat Mamasa mempunyai persatuan yang tinggi, gotong-royong dan tolong menolong satu sama lain. Tanduk siluang melambangkan kekuatan melawan musuh. Sassang marobei melambangkan bangsawan yang sangat kaya. Barana, melambangkan bangsawan pintar. Bawan-bawah melambangkan bangsawan yang pintar dan bijaksana. Bura sengkang melambangkan tempat menyimpan hal-hal yang penting. Barrio allo melambangkan kebangsawanan.

    • Kegunaan Rumah Adat Rambu Saratu


      Banua Layuk Rambu Saratu ini selain digunakan sebagai tempat tinggal pemangku adat, juga digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah membicarakan berbagai hal menyangkut kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Mamasa atau yang dikenal sebagai Messalu Lembang. Dalam komplek rumah adat Rambu Saratu selain terdapat sebuah Banua Layuk yang besar, terdapat juga 3 bangunan alang yang terdapat di depan dan samping bangunan rumah. Sementara bangunan makam atau Batutu Saratu diletakkan di areal persawahan tidak jauh dari kompleks ini.

      SLIDER
      Alang Manuruk
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 97

      Lumbung atau alang yang terletak di depan rumah adalah alang manuruk yang digunakan sebagai tempat menyimpan padi untuk para pekerja sawah dan kebun serta anggota masyarakat biasa.

      SLIDER
      Alang Bolong bagian barat (kiri) rumah
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 97

      Sementara lumbung yang terletak di sebelah kanan rumah digunakan untuk menyimpan padi yang dimakan oleh pemilik rumah dan tamu-tamu terhormat.

      SLIDER
      Alang Bolong bagian timur (kanan) rumah
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 97

      Lumbung yang terletak di sebelah kiri rumah digunakan untuk menyimpan bibit padi berkualitas baik untuk ditanam pada musim tanam berikutnya.

    • Bagian-bagian dari Rumah Adat Rambu Saratu


      SLIDER
      Alang Bolong bagian timur (kanan) rumah
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 99

      SLIDER
      Gambar Atap Banua Saratu
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 100

      SLIDER
      Penulak Depan
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 101

      SLIDER
      Penulak Depan
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 101


    • Bagian-bagian dari Rumah Adat Rambu Saratu(2)


      SLIDER
      Penulak Depan
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 102

      SLIDER
      Rinding Depan
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 104

      SLIDER
      Rinding Belakang
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 104

      SLIDER
      Rinding Samping
      Sumber : Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia hal 104


  • Penutup


    Rumah adat Rambu Saratu merupakan salah satu rumah adat suku di pulau Sulawesi yang perlu dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya Bangsa Indonesia.


    Sikap yang perlu ditanamkan: Menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan cagar budaya bangsa Indonesia;

    Manfaat yang diperoleh: Dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang ingin mengetahui tentang Rumah Adat Rambu Saratu di daerah Mamasa(1); Dapat menjadi salah satu sumber belajar yang sudah ada (by utilization)(2).

  • Referensi

    Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, kemendikbud RI, Desember 2015.

      Link Terkait

        - http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/2014/06/18/evaluasi-hasil-konservasi-rumah-adat-rambu-saratu-kabupaten-mamasa-sulawesi-barat
        - https://www.triptrus.com/destination/1671/rumah-adat-dan-peralatan-tradisional-polmas