• Pendahuluan

    SLIDER

    Peta provinsi Sumatera utara

    Sumber: www.metrosiantar.com

    Suku bangsa Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang jumlahnya cukup besar. Suku bangsa Batak terbagi menjadi beberapa sub-etnik, yaitu: Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Adapun daerah asal mereka berada di Pulau Sumatera bagian utara, yang sebagian besar merupakan wilayah administratif Propinsi Sumatera Utara.

    Masyarakat Batak memiliki beraneka ragam tradisi. Kegiatan masyarakat Batak di dalam tatanan adat dan budaya benar-benar telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap memikirkan dan berlandaskan pada kelayakan dalam kewajaran yang berpedoman pada adat dan kebiasaan mereka. Keberadaan tradisi dan upacara adat dianggap memiliki makna dan diyakini di dalam kehidupan masyarakat Batak. Salah satu tradisi yang masih ada sampai sekarang adalah tradisi Manulangi Natua-tua.

    Manulangi Natua-tua dilakukan oleh masyarakat Batak yang berada di pesisir toba, Sumatera Utara, yakni suatu daerah yang memegang teguh tradisi dan adat istiadat dalam kehidupan mereka.


    Upacara manulangi natua-tua ini hanya dapat dilakukan jika orangtua tersebut sudah memiliki cucu, atau bisa juga orang tua yang sudah memasuki masa krisis (mendekati kematian). Pada umumnya, upacara adat ini dilakukan oleh masyarakat yang berada di daerah perantauan.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

      1. Memperkenalkan keragaman tradisi melalui upacara adat manulangi natua-tua;
      2. Meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap aspek-aspek tradisi yang berkaitan dengan upacara adat manulangi natua-tua;
      3. Menumbuhkembangkan sikap kepedulian terhadap warisan budaya bangsa yang berkaitan dengan upacara adat manulangi natua-tua;
      4. Melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam upacara adat manulangi natua-tua.
  • Pengertian

    Pengertian Manulangi Natua-tua

    SLIDER

    Upacara adat Manulangi Natua-tua

    Sumber: https://id.wikipedia.org/

    Istilah manulangi natua-tua berasal dari bahasa batak toba yang terdiri dari dua kata, yaitu: manulangi yang artinya menyuapi atau memberi makan dan natua-tua yang artinya ayah atau ibu yang sudah tua. Dengan demikian, manulangi natua-tua berarti menyuapi atau memberi makan kepada ayah atau ibu yang sudah tua untuk memohon atau meminta berkat.

    Selain manulangi natua-tua, masyarakat Batak juga mengenal upacara manulangi (menyuapi atau memberi makan) kepada Bapak dan Ibu tercinta. Upacara ini dilakukan oleh sepasang suami istri yang sudah lama menikah tetapi tidak kunjung mempunyai keturunan, atau seorang wanita yang sedang hamil untuk pertama kalinya. Apabila hal ini terjadi, maka si wanita itu beserta suaminya dengan ditemani para kerabatnya pergi ke rumah orang tuanya untuk melaksanakan upacara manulangi dengan tujuan agar diberkati dan dapat memepunyei keturunan. Selain memberi makan, yang bersangkutan juga memohon maaf dan memohon doa (berkat) dari orang tua agar diberikan keturunan.

    Adapun Maksud dan tujuan upacara adat Manulangi natua-tua adalah sebagai wujud bakti seorang anak terhadap orang tuanya, karena mereka sudah mengasuhnya dari sejak bayi hingga dewasa. Dalam kehidupan masyarakat Batak, Upacara adat ini sudah menjadi tradisi mereka karena telah dilaksanakan secara turun-temurun.

  • Unsur-unsur

    Unsur-unsur dalam upacara adat Manulangi Natua-tua


    SLIDER
    Daging Kerbau untuk upacara adat Manulangi natua-tua
    Sumber: www.borukaro.com

    Manulangi Natua-tua adalah upacara adat yang berkaitan dengan daur hidup (life cycle), yaitu peristiwa-peristiwa di sekitar hidup manusia. Hal ini bisa kita lihat misalnya peristiwa yang dialami seseorang pada masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, saat perkawinan, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh setiap manusia itu telah memperlihatkan adanya perubahan status sosial di dalam masyarakatnya dari kedudukan social yang satu beralih ke tingkat social yang lain yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, pada saat peralihan itu sering diadakan upacara-upacara yang maksudnya untuk menolak bahaya gaib yang dianggap mengancam individu, sebagaimana dengan upacara manulangi natua-tua yang dilaksanakan ketika seseorang sudah menginjak usia tua.


    SLIDER
    Daging Babi untuk upacara adat Manulangi natua-tua
    Sumber: https://dearmarintan.wordpress.com

    Syarat utama pelaksanaan upacara Manulangi Natua-tua adalah bahwa orang tua yang akan diupacarai harus sudah memiliki cucu. Selain itu, upacara ini juga bisa dilakukan terhadap orang tua yang mengalami masa krisis (crisis rites). Dalam kehidupan masyarakat Batak, upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada orangtua. Di samping itu, juga dimaksudkan sebagai upaya memberi dorongan moral kepada orangtua agar dijauhkan dari penyakit dan bencana.

    Pada hari pelaksanaan, semua keturunan dari orang tua itu akan memberi suapan, yang dimulai secara berurutan dari anak laki-laki paling tua beserta istrinya sampai yang paling muda beserta istrinya. Sebelum upacara adat Manulangi natua-tua dilaksanakan, biasanya terlebih dahulu dilakukan pembicaraan musyawarah mengenai kapan pelaksanaan waktu upacara tersebut. Setelah itu, barulah upacara adat Manulangi natua-tua dapat dilakukan.

    Kekhasan dari upacara adat Manulangi natua-tua adalah ketersediaan daging dalam acara makan. Daging ini harus disiapkan oleh mereka yang melakukan apacara. Ada dua jenis daging yang khas yang digunakan oleh masyarakat Batak dalam suatu upacara adat yaitu babi dan kerbau. Kerbau merupakan hewan yang dihargai karena membantu petani membajak sawah. Keunikan dari upacara adat masyarakat Batak ialah daging yang akan dimakan pada saat upacara bukanlah daging yang dibeli di pasar tetapi harus hewan yang disembelih sendiri.

  • Tata Cara

    Tata cara upacara adat Manulangi Natua-tua

    SLIDER
    Ritual upacara adat Manulangi natua-tua
    Sumber: www.gobatak.com

    Sebelum upacara Manulangi Natua-tua dilaksanakan, biasanya semua anak dan cucu-cucunya berkumpul di rumah orang tua. Hal ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka untuk dapat menikmati berkat dari orang tua mereka. Selanjutnya, anak-anaknya berembuk untuk mendapatkan kesepakatan perihal kapan upacara tersebut akan dilakukan, karena upacara ini baru dapat dilaksanakan setelah dihasilkan kesepakatan.

    Pada hari pelaksanaan, semua keturunan dari orang tua itu akan memberi suapan, yang dimulai secara berurutan dari anak laki-laki paling tua beserta istrinya sampai yang laki-laki paling muda beserta istrinya. Kemudian, dilanjutkan dengan cucu tertua dari anak laki-laki paling tua sampai cucu termuda dari anak laki-laki paling muda lalu dilanjutkan lagi anak permpuan paling tua beserts suaminya sampai anak perempuan paling muda. Sedangkan yang terakhir adalah cucu tertua dari anak perempuan paling tua sampai cucu terakhir dari anak perempuan yang paling muda. Setiap anak dan cucu akan menyuapi orang tua sebanyak tiga kali dengan iringan kata-kata kasih sayang.

    Pada akhir upacara adat Manulangi natua-tua terkadang juga digandengkan dengan pembagian harta warisan secara paruma tano, paruma gogo (artinya: harta warisan sudah dibagi, tetapi hasilnya masih tetap di tangan orang tua semasa hidupnya) dari orang tua kepada anak-anaknya. Biasanya, khusus untuk hal ini, acara pembagian warisan tersebut dilakukan terlebih dahulu secara intern dengan wasiat tertulis, dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat sebagai saksi sebelum upacara manulangi natua-tua dilaksanakan.

    Klik tombol video di bawah ini untuk melihat upacara adat Manulangi natua-tua.

    Upacara adat Manulangi natua-tua
    https://www.youtube.com/watch?v=g9nbYRLFonA
  • Penutup

    Sikap yang perlu ditumbuhkembangkan pada generasi muda mengenai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam dari upacara adat Manulangi natua-tua adalah:

      1. Nilai religius. Upacara adat Manulangi natua-tua disampaikan kepada kekuatan di luar kekuasaan manusia yang dianggap mampu memberikan perlindungan terhadap keselamatan manusia. Kekuatan di luar kekuasaan manusia itu dapat diartikan sebagai Tuhan YME, atau dapat pula kekuatan supernatural, seperti roh-roh nenek moyang, roh-roh leluhur, dan sebagainya;
      2. Nilai moral dan etika. Hal ini tercermin dari maksud diadakannya upacara adat Manulangi natua-tua, yaitu sebagai wujud bakti seorang anak terhadap orang tuanya, karena mereka sudah mengasuhnya dari sejak bayi hingga dewasa;
      3. Nilai kesepakatan untuk mencapai kata mufakat. Sebelum pelaksanaan upacara adat Manulangi natua-tua, didahului dengan pembicaraan dari anak-anaknya untuk berembuk mendapatkan kesepakatan perihal kapan upacara tersebut akan dilakukan, karena upacara ini baru dapat dilaksanakan setelah dihasilkan suatu kesepakatan;
      4. Nilai kebersamaan dan gotong royong. Upacara adat Manulangi natua-tua dapat terselenggara karena adanya kesepakatan bersama dalam suatu keluarga luas. Kesepakatan itu dapat terwujud karena adanya kebersamaan di antara anggota dari keluarga luas tersebut. Selain nilai kebersamaan, pelaksanaan upacara tersebut juga mengandung nilai gotong royong. Hal ini terlihat dari ketersediaan daging yang menjadi tanggung jawab penyelenggara.

    Manfaat yang dapat diperoleh sebagai hasil dari selesainya mempelajari konten budaya yang berjudul Manulangi natua-tua adalah:

      1. Dapat menjadi bahan informasi mengenai keberadaan upacara adat di Indonesia, khususnya upacara adat Manulangi natua-tua;
      2. Dapat menambah wawasan mengenai keberadaan upacara adat di Indonesia;
      3. Menumbuhkembangkan sikap ingin tahu terhadap berbagai upacara adat dari suku-suku bangsa lainnya.
  • Referensi

    Daftar Pustaka

    • https://id.wikipedia.org/wiki/Manulangi_Natuatua
    • http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.co.id/2012/06/suku-batak-toba-di-provinsi-sumatera_1739.html
    • https://id.wikipedia.org/wiki/Manulangi_Natuatua
    • http://id.voi.co.id/voi-pesona-indonesia/936-upacara-adat-manulangi-natua-tua