• Pendahuluan


    SLIDER
    Penari Legong Kraton
    Sumber: http://www.mulpix.com

    Sebuah seni gerak tubuh berirama yang berasal dari daerah Gianyar Bali bertumpu pada sebuah Babad yang bernama Dalem Sukawati adalah tarian Legong Keraton. Dari Babad tersebut diketahui bahwa pada kisaran abad ke-17 Sang Raja Sukawati yang bernama Dewa Agung Made Karna mengutus kepada salah seorang tetua adat/ Bendese Ketewel untuk menciptakan sebuah tarian dengan properti penutup wajah atau topeng. Hal ini dilakukan Sang Raja karena beliau bermimpi melihat para bidadari yang sedang menari. Setelah topeng sebagai properti utama tarian berikutnya Bendese Ketewel menciptakan gerakan tari yang kemudian disebut dengan tarian Sang Hyang Legong.

    Provinsi Bali sebagai salah satu daerah kesenian dan budaya di Indonesia memiliki kesenian dan kebudayaan yang masih kental. Kesenian Tarian tradisional legong keraton adalah salah satu contoh kesenian khas Bali yang masih popular hingga saat ini. Tari Legong adalah sebuah tarian klasik Bali yang memiliki perbendaharaan gerak yang sangat komplek yang diikat oleh struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari Gambuh.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran :

      1.
      2.
      3.
      4.
      5.
  • Sejarah Legong Kraton

    Sejarah

    Tari Legong Keraton
    Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=w4n6uQbFKeE

    Terciptanya tarian Sang Hyang Legong yang diyakini untuk mewujudkan mimpi Raja I Dewa Agung Made Karna. Periode berikutnya terdapat seorang seniman yang bernama Gusti Jelantik mementaskan sebuah tarian yang bernama Nadir di pendopo keraton. Dari gerak dan gaya sang penari tarian yang dimainkan oleh para kaum lelaki tersebut secara kasap mata terlihat menyerupai tarian Sang Hyang Legong.

    Melihat pementasan tari Nadir Raja I Dewa Agung Made Karna memerintahkan pada para seniman untuk mengemas ulang tarian tersebut agar dapat dimainkan oleh para penari perempuan. Setelah para seniman utusan I Dewa Agung Made Karna berhasil mengemas ulang tarian Nadir maka sejarah tari Legong Keraton dimulai dan dapat diperagakan oleh para wanita.

    Sebagai tari hiburan keraton tari legong sangat cepat dikenal oleh para raja dari kerajaan lain di wilayah Bali. Tak heran jika pada abad berikutnya yakni abad ke-19 tarian ini menjadi salah satu hiburan khas hampir seluruh keraton di seluruh wilayah Bali.

    Keunikan dalam gerak dan gaya tari legong membuat banyak seniman yang antusias dalam melestarikan salah satu kesenian warisan nenek moyang ini. Hingga saat ini banyak para seniman di Bali mengajarkan dan memberikan pelatihan bagi generasi penerus guna melestarikan keberadaan tari legong keraton.

    Kata Legong Keraton terdiri dari dua kata yaitu legong dan kraton. Kata legong diduga berasal dari kata "leg" yang berarti gerak tari yang luwes, Lemah gemulai. Sementara "gong" berarti gambelan. "leg" dan "gong" digabung menjadi legong yang mengandung arti gerakan yang diikat, terutama aksentuasinya oleh gambelan yang mengiringinya.Jadi Legong Keraton berarti sebuah tarian istana yang diiringi oleh gambelan.

  • Perkembangan

    Perkembangan Tari Legong Keraton

    SLIDER
    Penari Legong
    http://www.balitaksu.com

    Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian Legong berkembang di keraton-keraton Bali pada abad ke-19. Tari Legong adalah berasal dari desa Sukawati, yaitu di Puri Paang Sukawati. Dari Sukawati legong berkembang keberbagai pelosok desa di Bali seperti; di Puri Agung desa Saba ( sekarang di Puri Taman Saba), di Peliatan, di Bedulu, di Benoh Denpasar, dan lain sebagainya. Di desa Saba yaitu di Puri Saba tari legong keraton, menurut I Gusti Gede Raka sudah ada sekitar tahun 1911, dibawah pimpinan serta asuhan I Gusti Gede Oka yang bergelar Anak Agung di desa Saba, yaitu kakek beliau sendiri.IGusti Gede Oka dengan membawa calon penari datang ke Sukawati, belajar tari legong di desa Sukawati yaitu di Puri Paang, dengan guru tarinya pada waktu itu adalah Anak Agung Rai Perit.

    Di atas tahun 1920-an kepemimpinan sekha legong di Saba yang juga merangkap sebagai pelatih dan pembina seka legong di Saba adalah putra beliau bernama I Gusti Bagus Jelantik sampai tahun 1940-an, yang mana beliau juga belajar di Puri paang Sukawati. Di atas tahun 1945-an kepemimpinan sekha legong yang juga merangkap sebagai pelatih dan pembina adalah I Gusti gede Raka yaitu keponakan dari I Gusti Bagus Jelantik, yang lebih dikenal dengan sebutan Anak Agung Raka Saba, karena beliau adalah orang Puri.

    Legong yang kita ketahui sekarang merupakan percampuran dari elemen-elemen tari yang berbeda sekali jenisnya. Elemen tersebut berasal dari kebudayaan Hindu Jawa yang dituangkan dalam bentuk tari klasik yang disebut Gambuh. Gambuh merupakan tipe drama tari yang berasal dari pra-Islam Jawa dan mungkin sudah dikenal di Bali sejak permulaan abad ke-15. Untuk Legong, cerita yang paling umum dipakai sebagai lakon ialah cerita Lasem yang bersumber dari cerita Panji. Elemen cerita bukan suatu hal yang paling menarik dalam tari Legong karena cara pendramaannya sangat sederhana dan abstrak. Kenyataannya orang tidak dapat mengerti tari Legong tanpa mendengarkan dialog dari juru tandak, penyanyi pria yang duduk di tengah-tengah gamelan.

  • Jenis Tari Legong Kraton

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • 7
    • Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta),Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista).

      Legong Lasem (Kraton)


      Sumber: www.youtube.com/watch?v=rYyuKtzqjzw


      Tari Legong jenis ini yang paling populer. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri).


    • Legong Jobog


      Tarian ini dibawakan oleh sepasang legong. Dan kisah tarian legong jobog diambil dari kisah Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

      Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=OgmmSwz4Tgk

    • Legong Legod Bawa

      Tari ini mengambil kisah dari persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tatkala mencari rahasia lingga Dewa Syiwa.

    • Legong Kuntul


      Legong ini menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang asyik bercengkerama.

    • Legong Palayon Candrakarta

    • Legong Sudarsana


      Legong ini mengambil kisah cerita semacam sudarsana (Calonarang).

    • Jenis Legong Lainnya


      Beberapa daerah mempunyai legong yang khas. Di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang dinamakan Andir (Nandir). Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

      Alat musik gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Lakon atau cerita yang biasa dipakai dalam Legong ini kebayakan bersumber pada

         1. Cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
         2. Cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
         3. Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
         4. Kuntul (kisah burung),
         5. Sudarsana (semacam Calonarang),
         6. Palayon,
         7. Chandrakanta dan lain sebagainya.

      Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari:

         1. Papeson,
         2. Pangawak,
         3. Pengecet, dan
         4. Pakaad

      Daerah-daerah yang memiliki tari Legong yang khas:

         1. Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir).
         2. Pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat Legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

      Daerah - daerah yang dianggap sebagai daerah sumber Legong di Bali adalah:

         1. Saba, Pejeng, Peliatan (Gianyar),,
         2. Binoh dan Kuta (Badung),
         3. Kelandis (Denpasar), dan
         4. Tista (Tabanan).
  • Lokasi

    Tari Legong Keraton berasal dari Kota Denpasar sebagai asalnya yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO.

    Lokasi Legong Kraton

  • Penutup

    Dalam perkembangan selanjutnya, tari Legong bukan lagi merupakan kesenian istana, melainkan menjadi milik masyarakat umum. Pengaruh istana makin lama makin melemah sejak jatuhnya Bali ke tangan Belanda pada 1906-1908 M. Di desa, kini Legong dipergelarkan jika diperlukan untuk kepentingan upacara keagamaan. Leluhurnya, Sang Hyang, dipentaskan berhubungan dengan kepercayaan animisme. Adapun nenek moyangnya yang lain, yaitu Gambuh mengungkapkan artikulasi idea dari Majapahit. Pada mulanya Legong juga berhubungan dengan agama Hindu istana yang tinggi nilainya, namun kini berhubungan dengan agama Hindu Dharma yang lebih bersifat sekuler. Tari Legong masih ditarikan oleh anak gadis dari desa tertentu pada sebuah kalangan yang sudah diupacarai sehubungan dengan upacara keagamaan. Kalangan sering-sering dibuat di luar halaman tempat persembahyangan walaupun masih diorientasikan dengan dua arah kaja dan kelod sebagai arah yang angker dalam kepercayaan orang-orang Bali. Yang paling pokok adalah Legong dipersembahkan sebagai hiburan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara keagamaan.

    Saat ini, Tari Legong Keraton dan para senimannya masih bertahan. Oleh karena itu, sebagai seni tari tradisional yang memiliki nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Bali, Tari Legong Keraton penting untuk dilestarikan, tarian ini sudah menjadi salah satu wujud identitas budaya orang Bali.

  • Referensi

    Daftar Pustaka:

    • http://www.senitari.com/
    • http://www.papasemar.com/
    • https://blingjamong.wordpress.com/2014/02/06/tari-legong-keraton/
    • http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2014/08/tari-legong-tarian-yang-berasal-dari-bali.html