• Sinopsis


    Istana Kadriyah
    Istana Kadriyah


    Sebelum berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, negeri ini merupakan kumpulan dari berbagai kerajaan. Tidak hanya di Pulau Jawa, kerajaan maupun kesultanan juga terdapat di berbagai pulau dan wilayah lain di berbagai penjuru nusantara. Salah satu kerajaan tersebut adalah kerajaan bercorak Islam yang ada di kota Pontianak provinsi Kalimantan Barat, yaitu Kesultanan Kadriyah. Ada beragam hal menarik yang dapat kita pelajari dari situs budaya Istana Kadriyah ini.

  • Pendahuluan


    Pontianak adalah kota multikultur yang memiliki bentangan sungai terpanjang di Indonesia yaitu sungai Kapuas. Keragaman budaya daerah Pontianak terlihat dari banyaknya suku, baik pendatang maupun asli, yang berbaur secara harmonis dan memberi warna indah kota ini. Ada dua peninggalan bersejarah di kota ini yang memiliki latar budaya berbeda, yaitu Istana Kadriyah beserta Masjid Jami' Sultan Abdurrahman, dan Tugu Khatulistiwa.

    Bangunan-bangunan Bersejarah di Kota Pontianak

    Kesultanan Kadriyah Pontianak ini memiliki sejarah terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan memproklamirkan diri menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesultanan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang putra ulama keturunan Arab Hadramaut dari Kerajaan Mempawah, pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan pembukaan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar, untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Kesultanan ini berlangsung selama hampir dua abad, yaitu sejak tahun 1771 hingga tahun 1950. Selama kesultanan ini masih eksis terdapat 8 (delapan) sultan yang pernah berkuasa. Pada tahun 1950 terjadi perubahan sistem administrasi pemerintahan dari kesultanan menjadi pemerintahan kota, ketika kerajaan-kerajaan yang bersifat kedaerahan menyatukan dirinya di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya sistem pemerintahan kesultanan Kadriyah. Ketika rakyat di Jawa dan Sumatera gencar melawan kolonialisme Jepang di Indonesia pada kurun waktu 1943-1945, pun demikian dengan rakyat Kalimantan Barat. Perjuangan ini mencapai puncaknya pada tanggal 16 Oktober 1943 di Gedung Medan Sepakat, ketika pertemuan rahasia berlangsung antara tokoh masyarakat dari berbagai golongan. Dalam pertemuan ini tercapai kesepakatan untuk merebut kekuasaan dari pemerintah kolonial Jepang, untuk kemudian mendirikan Negeri Rakyat Kalimantan Barat lengkap dengan 18 menterinya.


    Peta
    Wilayah Negeri Rakyat Kalimantan Barat
    Sumber : https://saripedia.files.wordpress.com/

    Kesultanan Kadriyah Pontianak memiliki peninggalan bersejarah, salah satunya adalah Istana Kesultanan Kadriyah yang terletak di Pontianak. Belum lengkap rasanya mengunjungi Pontianak apabila belum mengunjungi istana bersejarah ini, yang juga merupakan saksi berdirinya kota Pontianak. Istana ini berada di dekat sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Sangat disarankan mengunjungi Istana Kesultanan Kadriyah pada sore hari agar bisa menikmati suasana sore dan senja di tepi sungai Kapuas.

    Arsitektur tradisional istana Kadriyah tak hanya memiliki nilai sejarah, namun juga mencerminkan tradisi atau budaya Melayu Pontianak sehingga kemudian istana ini dianggap sebagai ikon yang mampu menyuguhkan identitas budaya Pontianak. Sebagai living heritage, otentisitas bangunan ini tidak diragukan lagi. Bangunan ini seakan mampu membawa pengunjungnya terbang ke masa lalu. Sejarahnya yang memukau dan keindahan arsitektur yang menyiratkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, layaknya museum yang dapat mengajak pengunjungnya melintasi waktu dan beragam memori yang bersemayam di dalamnya.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

    Setelah mempelajari konten budaya mengenai Istana Kadriyah, pembaca diharapkan dapat:

      1. Menjelaskan sejarah singkat kesultanan Kadriyah Pontianak
      2. Menjelaskan proses awal pembangunan istana Kadriyah
      3. Menjelaskan perkembangan yang terjadi pada istana Kadriyah
      4. Menjelaskan ciri khas dan pemanfaatan istana Kadriyah
  • Istana Kadriyah

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • Sejarah Singkat Kesultanan Kadriyah Pontianak

      Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah kesultanan Melayu di daerah muara Sungai Kapuas yang termasuk kawasan yang diserahkan Sultan Banten kepada VOC Belanda. Kesultanan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang putra ulama keturunan Arab Hadramaut dari Kerajaan Mempawah, pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan pembukaan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dinobatkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahannya ditandai dengan berdirinya Masjid Jami Pontianak (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadriyah.

      Lambang
      Lambang Kesultanan Pontianak
      Sumber: http://farm6.static.flickr.com/
    • Mengunjungi Istana Kadriyah

      Istana Kadriyah berada di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Pontianak, dan dapat dijangkau melalui jalur sungai dan jalur darat. Di sekitar kawasan peninggalan Kesultanan Pontianak ini terdapat pemukiman yang cukup padat, dengan rumah-rumah panggung yang tersebar di dataran banjir Sungai Kapuas.

      Sekitar 25 menit dari Istana Kadriyah menuju Mempawah terdapat tugu bersejarah yang dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda untuk menunjukkan letak nol derajat garis khatulistiwa. Tugu ini dikenal sebagai "Tugu Khatulistiwa", dan menjadi ikon Kota Pontianak. Letaknya berada di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Di tugu ini diselenggarakan peringatan Hari Kulminasi Matahari setiap 21-23 Maret dan 21-23 September, yaitu ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini hilang.

      Peta
      Peta Lokasi Istana Kadriyah Pontianak
      Sumber: https://www.google.co.id/maps/

    • Istana Kadriyah Dulu dan Sekarang


      Tidak jauh dari istana, kira-kira 100 meter arah barat ada sebuah mesjid tua yang juga didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tahun 1771 M. Limapuluh tahun kemudian Sultan Syarif Usman (Sultan Kadriyah Ketiga) melakukan penyempurnaan sehingga terlihat seperti masjid yang dapat kita lihat sekarang. Masjid itu diberi nama Masjid Jami Sultan Abdurrahman.

      Letak istana dan masjid berada di satu garis di pinggir Sungai Kapuas. Konsep pembangunan kedua bangunan bersejarah itu tidak berbeda dengan konsep istana dan masjid di kawasan lain di Nusantara. Istana, masjid, dan ruang publik (alun-alun) menyatu dalam satu kawasan. Tiga area ini menyimbolkan kekuasaan politik, aktivitas ekonomi, dan keagamaan. Dalam konsep Islam, tiga aspek tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

      Depan Istana
      Di depan Istana Kadriyah
      Sumber: http://2.bp.blogspot.com/

      Secara keseluruhan, kondisi fisik istana Kadriyah masih terawat dengan baik. Sebagian besar bangunannya masih asli, meskipun telah beberapa kali direnovasi. Tapi sayang nilai-nilai historis yang terkandung di dalam warisan sejarah ini tampak telah memudar karena beberapa sebab. Salah satunya karena sistem kesultanan di beberapa daerah tidak lagi berlaku, sehingga istana pada akhirnya hanya menjadi tempat tinggal kesultanan.


      Gapura
      Pintu Masuk (Gapura) Istana Kadriyah
      Sumber: https://lh3.googleusercontent.com/

    • Kekhasan Istana Kadriyah


      Bangunan Istana Kadriyah ini sangat mencirikan gaya melayu, terutama dari warna kuning yang mendominasi arsitektur bangunannya. Dalam budaya Melayu, warna kuning melambangkan kejayaan dan budi pekerti. Istana yang keseluruhan materialnya terbuat dari kayu ini dibangun pada tahun 1771 oleh Sultan Al-Kadrie. Di muka istana ini, ada sebuah tulisan arab bertuliskan Istana Kadriyah, sementara bagian depan istana dijaga oleh sebuah meriam berwarna kuning. Bentuk istana ini sendiri juga sangat mencirikan budaya Melayu yaitu dengan gaya rumah panggung. Kontras dengan tampilan luarnya yang sederhana, pengunjung akan disuguhi kemegahan bangunan yang menggambarkan kejayaan Melayu pada masa lalu ketika memasuki istana ini. Walaupun terbuat dari kayu dan terkesan rapuh, istana ini memiliki empat tingkat dan luasnya tidak kalah dengan keraton dan istana lain. Jika dilihat dari depan, maka anda hanya akan menemui sebuah gerbang rumah besar yang sederhana. Jika dilihat dari samping, maka anda akan menemukan betapa besarnya sebenarnya Istana Kadriyah.

      Istana Kadriyah memiliki koleksi antara lain foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan, lampu hias, kipas angin, keris, meja giok, serta singgasana sultan dan permaisuri. Di belakang ruang istana terdapat satu ruangan yang cukup besar. Di ruangan ini terdapat benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca. Di sisi kanan, tengah, dan kiri depan istana, ada 13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis.

      Di dalam istana juga terdapat cermin pecah seribu yang dikatakan ajaib karena bisa melihat 1000 wajah kita. Selain itu ada foto perahu Lancang Kuning milik Kesultanan Istana Kadriyah. Dilengkapi dengan foto Sultan Muhammad Al Kadrie mengenakan pakaian kesultanan warna putih. Terdapat juga kursi di istana ini yang sangat tegap, kukuh dan kuat hingga kini. Ada pula hierarki raja-raja yang bertakhta pada zaman kejayaan kesultanan Kutaringin. Yang paling menarik lainnya yaitu Al-Quran bertuliskan tangan baginda Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadrie yang disiapkan sempurna hingga 30 juz. Dan ada pula harta-harta yang dipamerkan oleh Istana Kadriyah ini.

      Dari kutipan tersebut dapat "ditangkap" makna yang ada di baliknya. Di antaranya ada meja giok yang langsung mengajak kita "terbang" ke Asia Timur, atau bahkan langsung muncul di benak kita kata 'Cina'. Juga dengan kalimat "13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis", yang tentu tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi. Lancang Kuning pun seolah tidak kalah. Keberadaannya menggambarkan bagaimana penguasaan transportasi air telah dimiliki oleh Kesultanan Pontianak.

      Video Sejarah Singkat Istana Kadriyah

  • Penutup

    Sikap yang perlu ditumbuhkembangkan pada generasi muda mengenai nilai-nilai budaya dari istana Kadriyah adalah:

       1. Menghargai budaya peninggalan generasi pendahulu
       2. Mencintai peninggalan cagar budaya Indonesia
       3. Mengenal sejarah bangsa

    Manfaat yang dapat diperoleh sebagai hasil dari selesainya mempelajari konten budaya yang berjudul Istana Kadriyah adalah (1) terciptanya perasaan atau keinginan untuk melestarikan peninggalan budaya, (2) meningkatkan minat pada dunia sejarah dan budaya, dan (3) membangkitkan rasa nasionalisme kebangsaan.

  • Daftar Pustaka/Tautan:

    • http://melayuonline.com/ind/history/dig/326/istana-Kadriyah-pontianak
    • http://infopontianak.org/keraton-kadariyah-pontianak/
    • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/2015/04/24/istana-kadriyah-pontianak/
    • http://tritamarentcar.com/2015/12/02/istana-Kadriyah-pusat-kesultanan-pontianak/
    • http://pusakapusaka.com/menyusuri-sejarah-kota-pontianak-melalui-istana-kesultanan-kadariah.html
    • http://www.sridianti.com/sejarah-kerajaan-pontianak.html