• Pendahuluan


    Kompleks Percandian Gedongsongo terletak di kaki Gunung Ungaran, pada ketinggian antara 1200 - 1400 m di atas permukaan laut, Kecamatan Bandungan dan Sumowono, Kabupaten Semarang, dan Provinsi Jawa Tengah. Kompleks candi ini dibangun berderet dari bawah hingga puncak perbukitan di lereng gunung Ungaran. Hal ini menunjukkan karakter Candi Gedongsongo yang sangat spesifik yaitu sebuah perpaduan antara dua religi yang bersifat lokal dan global. Sejak dahulu, nenek moyang kita percaya bahwa gunung adalah tempat persembahan kepada roh leluhur. Kepercayaan ini merupakan tradisi masyarakat lokal pra Hindu. Kebudayaan Hindu memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan secara global hampir di separuh dunia, sehingga kepercayaan mengkultuskan gunung sebagai tempat tinggal para dewa juga dipercayai oleh para penganut agama Hindu pada masa itu. Perhatikan gambar kompleks percandian Gedongsongo berikut ini!

    SLIDER
    Kompleks Percandian Gedongsongo
    Sumber: https://widiantigunawan.wordpress.com/

    Ciri khas candi-candi Gedongsongo juga ditunjukkan dengan posisi candi yang berderet dari bawah hingga atas. Seluruh bangunan candi pada Kompleks Percandian Gedongsongo didirikan di puncak bukit yang berbeda. Pola keletakan pada lansekap seperti ini bisa dikaitkan dengan konsep Triloka dalam tradisi Hindu. Meskipun nama Gedongsongo secara leksikal berarti "sembilan candi", namun saat ini hanya terdapat lima kelompok candi yang masih utuh. Kelima kelompok candi tersebut letaknya tersebar, dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah hingga Candi Gedong V yang terletak paling atas.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

    Setelah mempelajari materi ini Anda diharapkan dapat:

      1. Mengetahui sejarah Kompleks Percandian Gedongsongo
      2. Mengetahui lokasi Kompleks Percandian Gedongsongo
      3. Mengetahui bangunan Kompleks Percandian Gedongsongo
      4. Mengetahui waktu dan pendiri dibangunnya Kompleks Percandian Gedongsongo
      5. Mengetahui bagaimana perkembangan Kompleks Percandian Gedongsongo
  • Uraian Materi Kompleks Percandian Gedongsongo

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • Sejarah Kompleks Percandian Gedongsongo

      Candi Gedongsongo merupakan kompleks percandian yang berlatar belakang agama Hindu. Berdasarkan seni arsitektur bangunan terutama pada bagian bingkai kaki candi, bangunan ini diperkirakan sezaman dengan Kompleks Percandian Dieng di Wonosobo/Banjarnegara. Candi ini dibangun pada abad VIII Masehi pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya.

      SLIDER
      Kompleks Percandian Gedongsongo
      Sumber: http://databudaya.net/

      Keberadaan candi-candi ini diungkapkan pertama kali oleh Loten pada tahun 1740 M. Kemudian tahun 1840 dilaporkan kepada Th. Stamford Raffles sebagai Candi Banyukuning. Namun demikian di dalam bukunya yang berjudul The History of Java (1817), Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama "Gedong Pitoe" karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Van Braam membuat publikasi pada tahun 1825 M melalui karya lukisannya yang saat ini disimpan di Museum Leiden. Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedongsongo pada 1865 M. Penelitian terhadap candi ini kemudian banyak dilakukan oleh arkeolog-arkeolog Belanda, antara lain Van Stein Callenfels (1908 M) dan Knebel (1911 M). Dalam penelitian tersebut ditemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo (dalam bahasa Jawa berarti sembilan bangunan).

      Pada tahun 1928 - 1929 M, kantor Dinas Purbakala pada zaman pemerintahan Belanda melakukan pemugaran terhadap Candi Gedong I. Kemudian pada tahun 1939-1931 dilakukan pemugaran lanjutan terhadap Candi Gedong II.

      Pada tahun 1977-1978 Candi Gedong II, Candi Gedong IV, dan Candi Gedong V dipugar oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. Pemugaran candi dan penataan lingkungan juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia selama hampir 10 tahun dari tahun 1972 hingga 1982 M. Tahun 1997 dilakukan penataan dan pengembangan Kompleks Percandian Gedongsongo oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. Kompleks Percandian Gedongsongo ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Nomor 195/M/2015 pada 26 Oktober 2015.

    • Lokasi Kompleks Percandian Gedongsongo

      Kompleks Percandian Gedongsongo terletak di kaki Gunung Ungaran, pada ketinggian antara 1200 - 1400 m di atas permukaan laut dan secara astronomis terletak pada 110 derajat 19' 46" Bujur Timur dan 07 derajat 12' 6" Lintang Selatan.

      Berikut ini letak geografis yang lebih lengkap:

        Desa: Candi (Kecamatan Bandungan) dan Jubelan (Kecamatan Sumowono)
        Kec: Bandungan dan Sumowono
        Kab: Semarang
        Provinsi: Jawa Tengah
        Koordinat: Masing-masing situs:
      Candi Gedong I 7 derajat 12'29.35"S - 110 derajat 20'30.44"E
      Candi Gedong II 7 derajat 12'17.63"S - 110 derajat 20'26.52"E
      Candi Gedong III 7 derajat 12'14.22"S - 110 derajat 20'24.80"E
      Candi Gedong IV 7 derajat 12'13.26"S - 110 derajat 20'17.56"E
      Candi Gedong IV a 7 derajat 12'11.75"S - 110 derajat 20'19.86"E
      Candi Gedong V 7 derajat 12'19.35"S - 110 derajat 20'16.70"E
      Runtuhan I 7 derajat 12'17.69"S - 110 derajat 20'9.15"E
      Runtuhan II 7 derajat 12'12.65"S - 110 derajat 20'11.08"E
      Runtuhan III 7 derajat 12'8.05"S - 110 derajat 20'15.38"E
      Batas Selatan : 7 derajat 12'31.3"S - 110 derajat 20'30.9"E
      Batas Barat : 7 derajat 12'18.5"S - 110 derajat 20'12.1"E
      Batas Utara : 7 derajat 12'08.3"S - 110 derajat 20'16.2"E
      Batas Timur : 7 derajat 12'31.3"S - 110 derajat 20'32.2"E
        Batas: Utara : Hutan lindung Perhutani
      Selatan : Dusun Ndarum, Desa Candi
      Barat : Hutan lindung Perhutani
      Timur : Hutan lindung Perhutani

      Berikut adalah animasi lokasi Kompleks Percandian Gedongsongo:

      Lokasi Kompleks Percandian Gedongsongo

    • Kompleks Percandian Gedongsongo


      Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat yang berasal dari bahasa Jawa, "Gedong" berarti rumah atau bangunan, "Songo" berarti sembilan. Jadi arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.

      Walaupun Gedongsongo disebut sebagai "Sembilan Candi", pada kenyataannya saat ini hanya terdapat lima kelompok candi yang masih utuh. Kelima kelompok candi tersebut letaknya berpencar, dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah hingga Candi Gedong V yang terletak paling atas.

      Semua candi terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah (alas candi) yang menggambarkan alam manusia, bagian tengah candi menggambarkan alam yang menghubungkan alam manusia dan alam dewa, dan bagian atas (puncak candi) yang menggambarkan alam para dewa.

      Seluruh bangunan candi pada Kompleks Percandian Gedongsongo didirikan di puncak-puncak bukit yang berbeda. Pola keletakan pada lansekap seperti ini bisa dikaitkan dengan konsep Triloka dalam tradisi Hindu. Batas masing-masing situs memanfaatkan pagar yang dibuat oleh Belanda yang sekarang menjadi pagar kawat berduri atau tanaman.

      Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing Candi Gedong beserta reruntuhannya. Arahkan kursor dan klik pada masing-masing foto candi di bawah ini!

    • Waktu dan Pendiri dibangunnya Kompleks Percandian Gedongsongo


      Kawasan Cagar Budaya Gedongsongo diperkirakan oleh para ahli dibuat semasa dengan Candi Dieng yang dibuat pada kurun waktu abad ke 7 sampai 9 Masehi pada masa Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Lama.

      SLIDER
      Dinasi Sanjaya Abad 7-9 Masehi
      Sumber: https://fadliyanur.wordpress.com/

      Dinasti Sanjaya adalah suatu dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno). Wangsa ini, bersama-sama dengan Wangsa Sailendra memerintah Kerajaan Medang.

    • Perkembangan Kompleks Percandian Gedongsongo


      Pada Kawasan Cagar Budaya Gedongsongo terdapat beberapa candi dalam keadaan rusak. Di antara candi-candi tersebut, tujuh diantaranya telah dipugar, yaitu Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gedong III, Candi Gedong IV, Candi Gedong IVA, Candi Gedong IVB dan Candi Gedong V. Pada lembah yang menyempit di sebelah utara, di antara Candi Gedong III dan Candi Gedong IVB telah dibangun sebuah kolam pemandian air hangat. Pada dataran yang lebih rendah di bagian selatan terdapat tempat hiburan, taman parkir, pintu masuk, dan loket retribusi.

      Di kompleks Percandian Gedongsongo ini juga terdapat kolam pemandian air hangat. Tepatnya di antara Candi Gedong III dan Candi Gedong IV, terdapat sebuah kepunden gunung dengan sumber air panas yang mengadung kadar belerang cukup tinggi. Sehingga dengan menyiram atau mandi dengan air hangat yang mengandung belerang ini bisa mengobati penyakit gatal-gatal maupun penyakit kulit lainnya.

      SLIDER
      Kolam pemandian air hangat Candi Gedongsongo
      Sumber: http://www.semarangplus.com/

      Keindahan alam, suasana sejuk hawa pegunungan yang terbebas dari polusi udara, menjadikan kompleks Percandian Gedongsongo ini menjadi kawasan wisata. Disamping merupakan tempat wisata alam juga menjadi salah satu tempat wisata sejarah di kabupaten Semarang.

      Saat ini Kompleks Percandian Gedongsongo dimiliki oleh Negara, dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, PT. Perhutani, dan Pemerintah Kabupaten Semarang.

      SLIDER
      Pintu masuk Kompleks Candi Gedongsongo
      Sumber: https://dolanotomotif.com/

  • Penutup

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya tersebut mengenal dan merasa bangga dengan karya adiluhung yang mencerminkan kekhasan kebudayaan bangsa Indonesia, yakni pola penempatan candi-candi di puncak-puncak bukit yang berbeda ketinggiannya, semakin ke atas, memiliki jumlah candi yang semakin banyak, sebagai bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk menggabungkan antara budaya asli dengan budaya luar menjadi sesuatu yang khas.

    Manfaat yang diperoleh dari budaya tersebut yaitu sebagai upaya untuk melestarikan cagar budaya Indonesia dengan melihat teknologi bangunan dan arsitektur yang terjadi pada masa itu dengan pengaruh budaya dan agama yang terjadi di masyarakat. Selain itu dengan melihat kompleks percandian Gedongsongo dapat mempelajari lanskap budaya dan pemanfaatan ruang yang bersifat khas.

  • Daftar Pustaka:

      - Tim Ahli Cagar Budaya Nasional. 2015. Kompleks Percandian Gedongsongo Sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional, 27 Juni 2015. Dokumen Nomor Ka-0051/TACBN/27/06/2015
      - Iriyani, Dania. 2015. Candi Gedongsongo, Sebuah Bukti Ketahanan Budaya. http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1923/candi-gedongsongo-sebuah-bukti-ketahanan-budaya, diakses 9 Juni 2016.
      - http://www.semarangplus.com/obyek-wisata-candi-gedong-songo-semarang, diakses 9 Juni 2016.
      - https://dolanotomotif.com/2015/04/17/jalan-jalan-di-kompleks-candi-gedong-songo-memang-menyehatkan/, diakses 9 Juni 2016.
      - https://fadliyanur.wordpress.com/2013/01/09/kerajaan-mataram-kuno/, diakses 9 Juni 2016.
      - Alamsyah, Amir, S.Pd. Candi Gedong Songo dalam Perspektif Sejarah dan Geografi. http://buletinsmpn1bandungankabsemarang.blogspot.co.id/2014/02/candi-gedong-songo-yang-dekat-namun.html, diakses 15 Agustus 2016
      - http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_gedongsanga_50. Candi Gedongsongo, diakses 15 Agustus 2016