• Sinopsis


    SLIDER
    Ilustrasi kehidupan di rumah Bali
    Sumber: agungraigallery.com

    Rumah adat Bali berdasarkan agama dan tradisi Bali, merupakan perwujudan dari Tri Hita Karana, sebuah konsep hidup manusia untuk hidup selaras dengan Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Kuasa, selaras dengan alam, dan selaras dengan sesama manusia, Hal ini bertumpu pada Asta Kosala-Kosali, sebuah aturan yang tertuang dalam ajaran agama Hindu Bali.


    Keywords

    Umah Bali, Bali Batuan, Konsep Asta Kosala Kosali, rumah adat Bali, Bangunan Bali

  • Pendahuluan

    Rumah Tradisional Bali

    Pernahkah Anda ke Bali?. Tentu sebagian kita sudah pernah ke Bali. Bali Bali bagi masyarakat luar lebih akrap sebagai destinasi wisatawan yang tidak terlupakan. Keindahan panorama alam dan kebudayaan di pulau dewata ini memberikan nilai tersendiri bagi yang sudah menikmatinya. Namun sudahkah anda melihat dan menilai rumah Bali?. Kehidupan masyarakat Bali tidak terlepas dengan budaya dan ajaran agama Hindu Bali. Hal ini salah satunya terlihat pada konsep bangunan rumah Bali yang syarat dengan makna dan filosofis.

    Konten ini memperkenalkan kepada masyarakat begitu indahnya rumah adat Bali dalam bentuk bangunan, ragam hias, tata letak bangunan serta filosofi setiap aspek elemennya. Keindahan rumah adat Bali merupakan perwujudan harmonisasi Sang Pencipta, lingkungan alam dan sesama manusia.

    Bali adalah salah satu pulau yang indah diantara 17.000 pulau yang ada di Indonesia. Setiap pulau di nusantara memiliki keindahan dan daya tarik masing-masing. Begitu halnya dengan Pulau Bali yang memiliki bentang alam dataran tinggi berupa pegunungan dan dataran rendah berupa tepian pantai. Secara geografis pulau Bali terbagi menjadi dua; Bali utara berupa dataran rendah yang sempit dan tidak landai, Bali selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai serta banyak dialiri sungai. Bentang alam dataran tinggi dan rendah di Bali, mempengaruhi pola kehidupan masyarakatnya yang selanjutnya mempengaruhi bentuk bangunan tempat tinggalnya.

    SLIDER
    Pulau Bali
    Sumber: wikimedia.org

    Umah Bali

    Agama Hindu merupakan agama mayoritas masyarakat Bali. Pada ajaran Hindu secara konseptual terbagi sebagai berikut:

       1. Kasta Brahmana (golongan pendeta)
       2. Kasta Ksatria (golongan bangsawan)
       3. Kasta Waisya (golongan pedagang dan pegawai)
       4. Kasta Sudra (golongan biasa)

    Sesuai dengan tingkatan kasta di atas, sebutan atau penamaan tempat tinggal di Bali berbeda-beda mengikuti kasta penghuni rumahnya. Rumah tinggal untuk kasta Brahmana disebut 'geria'. Rumah tinggal untuk kasta Ksatria disebut 'puri'. Sedangkan sebutan rumah tinggal bagi selain kasta Waisya dan Sudra yaitu 'umah'.


    Rumah bali di Batuan

    Rumah Adat Bali yang juga sebagai salah satu destinasi wisatawan nusantara dan asing adalah sebuah komplek rumah tradisional dengan arsitektur Bali yang masih terjaga dan terpelihara keasliannya adalah Rumah Adat yang terletak di Desa Batuan, Gianyar.

    Peta pulau Bali dan Kabupaten Gianyar
    Sumber: wikipedia.org

    Desa Batuan sebagai salah satu desa adat di Bali dan masyarakatnya masih menjalankan kehidupan secara tradisional Bali sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana tercermin dalam bangunan rumah tinggal yang dibangun menurut acuan dan konsep Asta Kosala Kosali. Konsep ini adalah ajaran religi asli masyarakat Bali yang kemudian diperkaya dengan ajaran dalam Wedha, kitab suci agama Hindu. Rumah Bali merupakan perwujudan ekspresi budaya dan keindahan dari manusia untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, alam sekitarnya, dan sesama manusia yang diwujudkan dalam bentuk bangunan, ragam hias, tata letak bangunan.

    SLIDER
    Sisi Rumah Bali di Batuan
    Sumber: baliholidayntrip.blogspot.com

    Desa Batuan berada di kecamatan Sukowati, kabupaten Gianyar. Untuk menuju desa ini memakan waktu hanya kurang dari 1 jam perjalanan dari kota Denpasar.

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

      1. Mengenal arsitektur, konsep dan filosofis Rumah Bali
      2. Melestarikan bangunan Rumah Bali sebagai kekayaan Bangsa
      3. Memupuk rasa cinta terhadap bangsa sendiri
    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • Umah Bali Sebagai Harmonisasi Kehidupan

      SLIDER
      Gerbang Pintu Rumah Bali
      Sumber: foto Hendra Wardhana

      Masyarakat Bali yang bermukim di pegunungan dan lereng-lerengnya merupakan sebagian besar penduduk asli yang berasal dari keluarga rumpun budaya masyarakat penutur bahasa Austtronesia. Dalam perkembangan kebudayaan Bali dikenal kehidupan masyarakat asli sebelum kedatangan pengaruh Majapahit melahirkan tipe perkampungan Apanaga dengan konsep Hindu. Sedangkan Kebudayaan pra Majapahit melahirkan konsep pemukiman Bali Aga yang menurut masyarakat Bali bahwa Bali Aga merupakan penduduk asli yang masih memegang teguh kebudayaan awal Bali (Bali Mula).


      Perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa sebagai penguasa Bali sebelum kedatangan orang Majapahit dan Mpu Kuturan yang hidup pada masa Majapahit pada abad ke-11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali. Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14, juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.

      SLIDER
      Masyarakat Bali Aga sedang melakukan sembahyang
      Sumber: foto Deva Graphy

    • Konsep Rumah Bali

      Penataa rumah tinggal pada masyarakat Bali berdasarkan bentuk proporsi tubuh pemilik rumah. Sehingga besaran pada pembangunan rumah disesuaikan kebutuhan keluarga yang tinggal di dalamnya.


      slider
      Penyesuaian sudut arah mata angin bangunan berdasarkan Asta Kosala kosali
      Sumber: Arifin dalam Hakim 2013

      Asta Kosala Kosali sebagai acuan dalam menentuka sudut dan arah bangunan rumah. Secara umum sudut utara-timur adalah area suci sehingga pura di dalam rumah harus berada di sudut tersebut atau sudut paling tinggi, sedangkan sudut selatan-barat yang lebih rendah.

      Arsitektur rumah Bali berpegang pada orientasi mengikuti sumbu Gunung dan laut. Letak dan Bentuk bangunan tersebut tampak dari banyak pintu yang disesuaikan arahnya menghadap ke gunung. Gunung dikenal sebagai simbol tempat bersemayamnya roh lelurhur dan dewa-dewa. Sehingga tempat tinggal selain sebagai tempat hunian manusia yang hidup juga sebagai tempat tinggal dan singgah para roh leluhur dan para dewata. Oleh karena itu rumah harus memberi energi suci, mendatangkan kemakmuran untuk kehidupan yang tenteram dan sejahtera lahir bathin. Filosofi Asta Kosala Kosali memberikan tiga aspek dalam pembangunan tempat tinggal, yang biasanya disebut Tri Hata Karana, yaitu; pawongan (Manusia atau penghuninya), pelemahan (lingkungan), dan parahyangan (Sang Pencipta). Ketiga unsur itu harus harmonis dan berkesinambungan dalam sebuah elemen tempat tinggal/ rumah Bali. Hal ini menjadikan setiap sebuah bangunan tempat tinggal harus mencerminkan keberadaan aspek tersebut yang diwujudkan dengan sebuah kompleks bangunan, yakni terdiri beberpa bangunan yang di kelilingi satu pagar sesuai dengan fungsi dan maknanya masing-masing.

      Video konsep angin bangunan rumah Bali berdasarkan Asta Kosala kosali

      Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=yBw0NLuaMQQ (Multimedia Kompas)

      Berikut ini nama dan fungsi setiap bangunan kompleks rumah tinggal Bali:

        1. Pamerajan adalah tempat persembhyangan pada rumah tradisional Bali. Letaknya berada pada area utama yang dianggap suci pada rumah tradisional Bali.
        2. Umah Meten/Bale Daja yaitu bangunan yang letaknya di utara pekarangan. Fungsinya sebagai tempat tidur dan juga sebagai tempat menjamu tamu yang berkunjung.
        3. Bale Dauh, bangunan ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih kecil.
        4. Bale Dangin biasanya digunakan sebagai tempat melakukan upacara, seperti pernikahan, potong gigi.
        5. Bale Delod biasanya dipakai untuk tempat tidur, dan melakukan kegiatan lainnya, seperti membuat alat-alat upacara.
        6. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.
        7. Paon (Dapur)yaitu tempat memasak bagi keluarga.
        8. Aling-aling berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.
        9. Angkul-angkul/ pemesuan yaitu sebagai tempat masuk dan keluar pekarangan
    • Konsep Rumah Bali(2)

      SLIDER
      Rumah Bali dan nama masing-masing elemen bangunan
      Sumber: wikipedia.org

      Keterangan Gambar:

         1. Natah atau halaman tengah
         2. Pamerajan
         3. Bale daja/meten
         4. Bale dangin/sikepat
         5. Bale dauh/tiang sanga
         6. Bale delod/sekenam
         7. Paon atau Dapur
         8. Lumbung
         9. Kandang Ternak
         10. Lawang
         11. Aling-aling
         12. Sanggah pengijeng karang

      Bangunan rumah Bali memiliki ciri khas pada elemen bangunannya biasanya dari unsur warna bata tanah, ukiran-ukiran dan relief yang berlekuk dan berundak.

    • Pelestarian Rumah Bali

      Rumah Bali sebagai salah satu aset budaya nusantara sangat penting untuk dilestarikan oleh bangsa Indonesia. Di Bali sendiri pelestarian rumah adat Bali dilakukan oleh Pemerintah daerah Bali yang diwujudkan dalam peraturan daerah Provinsi Bali nomor 5 tahun 2005, tentang persyaratan penggunaan arsitektur rumah tradisional Bali.

    • Nilai yang Terkandung Pada Rumah Bali

      Makna dari bangunan rumah Bali merupakan perwujudan tatanan nilai, aturan atau norma-norma yang berdasarkan manusia sebagai dasar ukuran atau biasa disebut dengan human scale.

      Hita Karana sebagai 3 unsur dalam aspek pembangunan rumah Bali. Memberi makna hubungan harmonis manusia dengan manusia lainnya, kedua: hubungan harmonis manusia dengan alam sekitar atau lingkungan dan yang ketiga: hubungan harmonis manusia dengan tuhan yang maha esa.

      Keharmonisan antar manusia, lingkungan dan sang Pencipta, tercipta dari makna setiap elemen bangunan rumah Bali

  • Penutup

    Rumah adalah faktor penting dalam kebutuhan hidup manusia yang merupakan tempat tinggal, sebagai wujud harkat, martabat dan kesejahteraan hidup manusia. Dalam masyarakat bali yang dimaksud rumah atau tempat tinggal, secara tardisional yaitu suatu kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan yang dikelilingi pagar/tembok.

    Rumah tradisional bali merupakan kearifan lokal dan aset budaya nusantara yang harus dilestarikan oleh bangsa.

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap Rumah Bali :
       1. Bangga akan kekayaan budaya Indonesia.
       2. Tetap melestarikan bangunan tradisional bangsa Indonesia dengan mempelajari konsep dan bentuk bangunanya
       3. Mengenal Rumah Bali dari sejarah dan cara pelestariannya


    Manfaat yang diperoleh bangunan Rumah Bali

    Rumah Bali adalah aset budaya bangsa yang harus dilestarikan. Adanya bangunan ini memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat umum. Diantara manfaat yang diperoleh dari bangunan ini yaitu;

      1. Memperoleh ide baru dan inspirasi tentang bagaimana cara memahami makna keharmonisan kehidupan.
      2. Memupuk rasa cinta bagi generasi terhadap budaya Bali, terkait bangunannya yang didalamnya penuh dengan makna keharmonisan kehidupan, keselarasan dan kedinamisan setiap elemen alam.
      3. Membangkitkan dan menumbuhkan rasa bangga dan patriotisme terhadap budaya yang dimiliki Indonesia khususnya yang berasal dari Bali.
      4. Dapat memahami sejarah dan konsep filosofi yang disampaikan dari bangunan yang banyak memberikan contoh kesantunan pada alam.
      5. Mewujudkan generasi di masa depan dapat mengetahui bahwa seni bangunan berasal dari Bali yang patut dilestarikan, dikembangakaan tetap dipertahankan agar mereka dapat memberitahukan kembali pada keturunannya kelak, sehingga model Rumah Bali tidak mudah punah atau diklaim negara lain.
      6. Agar generasi muda bisa mengerti bahwa mencintai budaya tardisional bangsa sendiri termasuk seni Rumah Bali, berarti telah mampu mencintai negara sendiri dengan jiwa nasionalisme yang kuat.

  • Daftar Pustaka :

    • Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia Seri 2 (Sulawesi, Bali dan Kalimantan) 2015 Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
    • Balinese traditional house, https://en.wikipedia.org