• Sinopsis


    Ammatoa merupakan pemimpin masyarakat Adat Kajang. Ammatoa ini mempunyai masa jabatan seumur hidup dan dipilih langsung oleh Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa) melalui proses ritual tertentu.


    SLIDER
  • Pendahuluan

    Indonesia yang terdiri 17 pulau terdiri dari 1300 suku bangsa atau kelompok etnik dengan keragaman etnik, bahasa dan dialek, serta adat dan tradisi masing-masing. Salah satu suku yang masih memegang teguh budaya dan adatnya adalah Masyarakat Adat Ammatoa Suku Kajang. Suku Kajang ini terletak Daerah Kajang, Kabupaten Bulukumba, Propinsi Sulawesi Selatan. Desa Adat Suku Kajang terletak sekitar 200 km arah timur kota Makassar. Berbeda masyarakat di daerah Kabupaten Bulukumba lainnya, Suku Kajang sampai saat ini masih sangat memegang erat dan menjunjung tinggi budaya dari nenek moyang. Masyarakat Adat Ammatoa Kajang merupakan masyarakat yang masih memegang teguh kehidupan yang harmonis dan selaras dengan lingkungan dan selalu menjaga hubungan relasi dengan alam dan leluhurnya. Sebuah cara-cara hidup yang merupakan tradisi dari suku-suku bangsa di Indonesia warisan budaya penutur bahasa Austronesia. Bahkan uniknya lagi, komunitas masyarakat sangat selektif terhadap penerimaan budaya luar seperti hasil teknologi masa sekarang yang sekiranya dapat mengganggu hubungan relasi dengan lingkungan alam.

    SLIDER
    Profil masyarakat suku Kajang
    Sumber: sajianberita.blogspot.com

  • Indikator

    Tujuan Pembelajaran:

    Setelah mempelajari materi ini pembaca diharapkan dapat menjelaskan tentang kepemimpinan ammatoa.

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • Apa itu Ammatoa?

      SLIDER
      Profil Amatoa ke-22
      Sumber: amatoa.com

      Secara etimologi, Ammatoa terdiri dari dua kata yaitu Amma (bapak) dan Toa (tua). Pengertian Ammatoa bukan hanya bapak yang sudah tua umurnya namun lebih kepada seseorang yang dituakan karena memiliki pengetahuan yang luas serta berperilaku baik dan bijak.


      Istilah Ammatoa dimulai sejak datangnya 'Tomanurung' (menurut kepercayaan; Tomanurung adalah cikal bakal masyarakat di Sulawesi Selatan). Ammatoa yang petama adalah Datuk Moyang dan sampai sekarang sudah Ammatoa yang ke-22 sejak Ammatoa yang pertama.

      Ammatoa merupakan pemimpin adat tertinggi dalam komunitas Adat Kajang dengan masa jabatan seumur hidup, artinya sampai orang yang sudah dilantik menjadi Ammatoa meninggal dunia. Pengangkatan Ammatoa tidak berdasarkan pilihan rakyat, bukan juga merupakan pewarisan dari orang tuanya ataupun penunjukan dari pemerintah. Masyarakat memahami dan mempercayai bahwa Ammatoa ditunjuk langsung oleh Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa) melalui proses ritual di dalam hutan keramat bernama hutan Tombolo.

      Yang paling penting adalah seorang Ammatoa haruslah orang yang jujur, tidak pernah menyakiti, menjaga diri dari perbuatan jahat, tidak merusak alam serta senantiasa mendekatkan diri pada Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa).

    • Desa Tana Towa Suku Kajang

      Peta Lokasi Ammatoa

      Ammatoa tinggal di Desa Tana Towa. Tana Towa merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa ini terletak di sekitar kawasan hutan lindung dan hutan adat milik komunitas adat Kajang. Tana Towa secara etimologi berarti Tana (tanah) dan Towa (tua) yang artinya tanah tertua atau tanah yang pertama kali muncul di dunia. Berdasarkan mitos yang berkembang dalam masyarakat Tana Towa, pada awalnya dunia ini hanyalah seonggok tanah yang berbentuk tombolo (tempurung kelapa) yang luasnya hanya sejengkal dan dikelilingi oleh lautan. Tanah itu kemudian melebar dan seiring berjalannya waktu hadirlah manusia pertama bernama Bohe Amma (Ammatoa pertama).

      Setiap hari, masyarakat adat Kajang menggunakan bahasa Konjo sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Konjo termasuk bahasa Makassar yang berkembang dalam satu komunitas masyarakat. Pada umumnya masyarakat Desa Tana Toa, tidak pernah merasakan bangku pendidikan secara formal. Maka tak heran, sangat sulit dan sedikit sekali menemukan sebagian masyarakat Adat Kajang yang mampu berbahasa Indonesia.

      slider
      Pintu gerbang memasuki kawasan adat
      Sumber: https://www.tripadvisor.com.ph/

      Desa Tana Towa terdiri dari 9 dusun, 13 RK dan 19 RT, diantara 6 dari 9 dusun tersebut termasuk dalam kawasan adat yang biasa disebut ilalangembaya. Batas antara kawasan adat dengan kawasan luar ditandai oleh pintu gerbang berarsitektur tradisional Kajang.

      Dalam keseharian ada larangan dan keharusan yang diterapkan di masyarakat, seperti Kendaraan bermotor dilarang memasuki wilayah kawasan adat, selain itu setiap orang diwajibkan memakai pakaian hitam dan tidak beralas kaki bila memasuki kawasan adat. Warna hitam adalah warna yang tua, sesuai dengan tanah ini yang juga merupakan tanah yang tua. Hitam adalah warna yang mampu melebur kesemua warna yang ada menyatu menjadi warnanya. Melepaskan alas kaki berarti kita langsung bersentuhan langsung dengan tanah, dengan begitu kita akan sadar tentang hakikat penciptaan kita yang dari tanah. Menyentuh tanah secara langsung akan senantiasa mengingat bahwa pada akhirnya kita pun akan kembali ke tanah dan menjadi sesuatu yang tak lagi hidup. Artinya, mengingatkan kita terhadap kematian yang akan dikuburkan di dalam tanah.

      SLIDER
      Pakaian masyarakat Adat Amatoa suku kajang bertelanjang kaki dan berbaju hitam
      Sumber: www.mongabay.co.id dan www.otomotif.kompas.com

      Dalam kawasan adat tidak diperbolehkan penggunaan penerangan listrik, pada malam hari penerangan hanya mengandalkan penerangan tradisional. Khusus di rumah Ammatoa dilarang menggunakan peralatan dari luar yang berkaitan dengan teknologi modern.

      Suku Kajang juga teguh untuk hidup sederhana sesuai adat. Masyarakat disini hidup berdampingan dan menjaga hubungan relasi dengan alam, dimana pohon dan makhluk yang ada dalam kawasan Tana Toa ini tidak boleh disakiti ataupun dirusak, begitupun dengan sesama manusia yang ada di daerah ini. Itu yang menjadi pesan ataupun ketentuan yang disampaikan Turiek Akrakna yang disampaikan kepada Ammatoa. Sehingga, kepemimpinan absolut dari Ammatoa semakin jelas menjadi sistem kehidupan masyarakat. Dimana setiap pesan adat, agama dan yang berkaitan dengannya harus bersumber dari Ammatoa yang diyakini sebagai penyampai (penghubung) pesan dari Turiek Akrakna.

      Sesungguhnya masyarakat Tana Toa adalah pemeluk agama Islam (SALLANG; bahasa Konjo. Tata cara pelaksanaan syariat Islam masih lekat dengan tradisi asli. Menurut sejarah pada waktu syiar pertama kali agama Islam di tanah adat ini dilakukan oleh Datuk Tiro, namun sang Datuk keburu berpindah ke Hila-hila kemudian meninggal dan dimakamkan di Hila-hila. Datuk Tiro sendiri adalah penyiar agama Islam yang datang dari Sumatera bersama Datu Patimang dan Datuk Ri Bandang. Oleh karena ajaran agama yang diberikan oleh Datuk Tiro masih jauh dari cukup, terutama soal syariat, maka masyarakat Kajang pun dalam menjalankan agama masih kental dengan sistem religi asli, yang kemudian mereka sebutnya sebagai agama Patuntung, yang sesungguhnya bercampuran kepercayaan leluhur dengan ajaran Islam.

      Ajaran tentang menjaga lingkungan dan kesederhanaan hidup tersebut tertuang dalam ajaran agama Patuntung, agama suku Kajang. Patuntung, secara bahasa, berarti penuntun. Penuntun untuk mencari sumber kebenaran.

    • Desa Tana Towa Suku Kajang(2)

      Ajaran utama agama Patuntung adalah jika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran maka manusia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama: menghormati Turiek Akrakna (Tuhan), tanah yang diberikan Turiek Akrakna (tana toa atau lingkungan secara umum), dan nenek moyang (To Manurung atau Ammatoa).

      Percaya pada Turiek Akrakna adalah hal mendasar dalam agama Patuntung. Suku Kajang percaya bahwa Turiek Akrakna adalah sang Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa.

      Turiek Akrakna menurunkan perintahnya kepada masyarakat Kajang melalui passang (pesan atau wahyu) yang diberikan kepada manusia pertama yang diturunkan ke dunia, To Manurung atau yang kemudian disebut Ammatoa.

      Passang berisi pengetahuan hidup yang harus ditaati. Kalau tidak ditaati maka akan terjadi hal-hal buruk. Salah satu contoh passang adalah: punna suruki, bebbeki. Punna nilingkai, pesoki (kalau kita jongkok, gugur rambut dan tidak tumbuh lagi. Kalau dilangkahi, lumpuh).

      Agar pasang tersampaikan dengan baik maka Turiek akrakna memerintahkan Ammatoa untuk menjaga dan menyebarkannya. Ammatoa juga berfungsi sebagai mediator antara Turiek Akrakna dengan manusia. Makanya, adat suku Kajang sering juga disebut adat Ammatoa

      SLIDER
      Rumah adat suku kajang yang tersusun rapi
      Sumber: hanageoedu.blogspot.com

      Rumah adat suku Kajang berbentuk rumah panggung (rumah kayu) beratap ijuk, ‘tak jauh beda bentuknya dengan rumah adat suku Bugis-Makassar. Bedanya, setiap rumah dibangun menghadap ke arah barat (kiblat). Membangun rumah melawan arah terbitnya matahari dipercayai mampu memberikan berkah.

    • Nilai-nilai Kepemimpinan Ammatoa


      a. Nilai Kejujuran
      Masyarakat Kajang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, kejujuran menjadi landasan pokok dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia. Seseorang yang berstatus sebagai karaeng (pemimpin) akan diakui keabsahannya jika memiliki sifat jujur. Hal ini sejalan dengan adanya ungkapan dalam masyarakat Kajang yaitu lambusunuji nukaraeng (karena kejujuranmu maka engkau jadi karaeng).

      b. Nilai Keteguhan
      Keteguhan dalam masyarakat Kajang adalah gattang yang artinya taat asas atau setia pada keyakinan, bisa juga diartikan sebagai kuat dan tangguh dalam pendirian. Keteguhan dan ketegasan tanpa membeda-bedakan kepada setiap orang ini sangat diperlukan dalam upaya memelihara dan menegakkan adat.
      Peradilan adat Kajang tidak membedakan dan memihak siapapun, sekalipun anak sendiri kalau bersalah tetap diputuskan bersalah. Sekalipun bicara anda kedengaran bagus, tetapi tidak benar maka tetap dinyatakan bersalah.
      Masyarakat Kajang sistem hukumnya diatur dalam pasang dan Ammatoa diberi amanah untuk melaksanakan pasang tersebut dengan pengawasan langsung dari Turiek Akrakna. Apabila terjadi pelanggaran dan tidak diselesaikan dengan pemberian sanksi maka Turiek Akrakna akan murka dan memberi teguran berupa bencana alam dan konflik dalam masyarakat.

      c. Nilai Demokrasi
      Ammatoa memang tidak dipilih dan diangkat langsung oleh rakyat, tetapi dalam pelaksanaan kepemimpinan Ammatoa dilaksanakan oleh rakyat. Semua kebijakan dan tindakan yang diambil oleh Ammatoa pasti berdasarkan masukan dari masyarakat. Semua yang menyangkut kepentingan masyarakat harus melalui abborong (musyawarah) untuk mufakat. Abborong merupakan sesuatu yang wajib dilakukan sebelum melakukan kegiatan bersama, misalnya dalam hal pertanian. Tidak ada seorangpun petani yang boleh menanam padi atau jagung sebelum acara abborong. Abborong bertujuan menentukan hari baik untuk memulai turun sawah.

      d. Nilai Persatuan
      Ammatoa senantiasa berupaya menjaga persatuan dan kebersamaan dalam masyarakat adat Kajang, serta hubungan dengan masyarakat yang tinggal di luar kawasan adat. Hubungan persatuan dan kebersamaan masyarakat Kajang disebut dengan assikajangeng (sama-sama orang Kajang). Wujud persatuan dalam masyarakat Kajang bisa dilihat dalam kebersamaan mereka dalam berbagai kegiatan yang didahului dengan abborong (musyawarah).

      e. Nilai Kesederhanaan
      Simbol ketaatan masyarakat adat Kajang terhadap Turiek Akrakna diwujudkan dalam bentuk kehidupan yang sederhana, yang disebut kamase-mase. Salah satu bentuk kesederhanaan masyarakat adat kajang adalah cara berpakaian mereka. Masyarakat adat kajang diwajibkan untuk berpakaian warna hitam dan tabu memakai pakaian berwarna-warni dan tidak memakai alas kaki. Mengenakan pakaian hitam yang seragam merupakan tindakan preventif terhadap adanya persaingan antar sesama warga dan warga dengan pemimpin.
      Pola hidup sederhana masyarakat adat Kajang lebih terlihat dalam kehidupan keluarga Ammatoa sehari-hari. Ammatoa haruslah mengutamakan kesejahteraan rakyatnya dibanding pribadi dan keluarganya. Salah satu buktinya, di rumah Ammatoa hanya tersedia nasi yang terbuat dari jagung, lauk pauk berupa sayur tibuang (kacang putih) dengan sedikit kuah dan rasanya asin serta ikan asin yang dibakar.

      f. Nilai Kesabaran
      Masyarakat adat Kajang mengartikan kesabaran sebagai kemampuan untuk mengendalikan diri, perasaan emosi dan keinginan berlebih untuk menerima takdir. Ammatoa sebagai pemimpin adat bertugas sebagai guru untuk menuntun, menasehati, dan mengajarkan pasang kepada warganya. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, Ammatoa harus memiliki kesabaran dan ketekunan supaya warganya dapat memahami dan mengamalkan isi pasang. Kesabaran yang dimiliki Ammatoa membuat Ammatoa tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengambil hak rakyat atau mengeksploitasi hutan demi kepentingan pribadi dan keluarganya.

      g. Nilai kebaikan dan tidak menyakiti orang lain
      Seorang Ammatoa walaupun memiliki kehidupan ekonomi yang relatif rendah, tidak pernah menginginkan hasil jerih payah orang lain dengan cara merampas atau menggunakan kekuasaannya. Ammatoa justru lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya dibanding kesejahteraan dirinya dan keluarganya

    • Nilai yang Terkandung Pada Rumah Bali

      Makna dari bangunan rumah Bali merupakan perwujudan tatanan nilai, aturan atau norma-norma yang berdasarkan manusia sebagai dasar ukuran atau biasa disebut dengan human scale.

      Hita Karana sebagai 3 unsur dalam aspek pembangunan rumah Bali. Memberi makna hubungan harmonis manusia dengan manusia lainnya, kedua: hubungan harmonis manusia dengan alam sekitar atau lingkungan dan yang ketiga: hubungan harmonis manusia dengan tuhan yang maha esa.

      Keharmonisan antar manusia, lingkungan dan sang Pencipta, tercipta dari makna setiap elemen bangunan rumah Bali

  • Penutup

    Kita wajib bangga dengan kearifan lokal dalam kebudayaan bangsa kita yang beragam sehingga menumbuhkan sikap cinta tanah air. Kita harus bisa mengambil banyak sekali hal-hal positif dari Kebiasaan dan sikap adat masyarakat Ammatoa suku Kajang. Masyarakat Ammatoa suku kajang selalu menjaga keseimbangan alam, selalu bersyukur dengan apapun yang disediakan Tuhan, mereka selalu hidup sederhana dan rukun dengan Alam, menjaga hubungan relasi dengan hewan, tumbuhan dan sesama manusia.

  • Referensi

    Daftar Pustaka:

    • Wibowo, Agus Budi & Faisal. 2014. Kepemimpinan Tradisional di Indoensia :Aceh Besar dan Kajang. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud.
    • http://ammatoa.com/mengenal-lebih-dekat-budaya-tana-toa-kajang-bulukumba/137/
    • http://wisatasulawesi.com/mengenal-lebih-dekat-budaya-tana-toa-kajang-bulukumba/
    • http://www.berdikarionline.com/pasang-ri-kajang-kearifan-lokal-masyarakat-ammatoa-bulukumba/
    • http://www.kompasiana.com/fajriimpezza/ammatoa-di-tanatoa-kajang-kab-bulukumba-sulawesi-selatan_55174922813311c9669de516
    • https://www.tripadvisor.com.ph/LocationPhotoDirectLink-g3373378-d4605837-i164936031-Tanatoa_Kajang-Bulukumba_South_Sulawesi_Sulawesi.html
    • https://www.youtube.com/watch?v=44bzK_u9F7A
    • https://www.youtube.com/watch?v=aRJTsrcabZQ