• PENDAHULUAN

    SLIDER

    Abdurrahman Wahid

    Sumber gambar : http://stat.ks.kidsklik.com/

    Gus Dur memperoleh tempat istimewa di hati rakyat Indonesia terutama golongan minoritas. Sikapnya yang penuh perlindungan terhadap golongan minoritas dan kecenderungannya membela kelompok-kelompok tertindas membuktikan kecenderungan tingkah lakunya yang tidak lazim dan sukar dipahami sebagaimana disebutkan di atas. Tapi kita juga tahu, ketidaklazimannya itu merupakan tanda keistimewaannya sekaligus menunjukkan kalibernya sebagai pemimpin yang selalu punya waktu dan hati untuk orang lain. Gus Dur orang yang murah hati, akomodatif, dan humanis. Watak ini ditampilkannya bertahun-tahun sebelum masa kepresidenannya, hingga ketika menjabat presiden dan sesudahnya. Dalam Sidang Umum MPR, Gus Dur terpilih sebagai presiden, yang dilantik pada 20 Oktober 1999 dan Megawati Soekarnoputri sebagai wakil presiden. Ini adalah era baru yang dianggap sebagai kemajuan demokrasi Indonesia.

  • TUJUAN

    Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan dapat :
    Memahami dan mendapatkan inspirasi dari Presiden ke-4 RI yakni Abdurrahman Wahid


    SLIDER

    Presiden Abdurrahman Wahid

    Sumber gambar : http://rony.r07.alumni.ipb.ac.id/


    Indikator :

      1. Mengetahui biografi Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid
      2. Mengetahui peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan tokoh yang mengantarkannya menjadi presiden
      3. Mengetahui peristiwa penting yang terjadi karena kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya
      4. Mengetahui tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting dalam kehidupannya, dan mempengaruhi kebijakannya.
    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • 7
    • 8
    • 9
    • 10
    • 11
    • Kelahiran dan Masa pencarian jati diri di berbagai pesantren

      Tebu Ireng

      Pesantren Tebu Ireng

      Sumber gambar : http://www.pesantrenpedia.org


      Gus Dur adalah putera sulung dari pasangan K.H. Wahid Hasyim dan Solichah, lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940, dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti sang penakluk. Nama itu diambil dari nama pahlawan di masa Dinasti Umayyah yang membawa Islam ke Spanyol. Dilihat dari silsilah keluarganya, Gus Dur termasuk golongan "darah biru" pesantren. Ayahnya adalah putera dari Hadratu al-Syaikh Hasyim Asy'ari, pendiri pesantren Tebuireng, Jombang, dan sekaligus peletak dasar berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Sementara ibunya, adalah anak dari K.H. Bisri Syansuri, pendiri pesantren Denanyar, Jombang. Baik dari kakek pihak bapak maupun Ibu, keduanya merupakan pendiri NU.


    • Patung Gusdur

      Patung Gusdur Kecil

      Sumber gambar : http://beritajakarta.com/

      Gus Dur kecil meniti kehidupan awalnya, saat Indonesia berada di masa sulit dan genting. Pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang dan pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia adalah peristiwa yang dialami pada masa kanak-kanak Gus Dur. Hidup dalam suasana perang dirasakan langsung oleh Gus Dur dari perjuangan sang ayah sebagai pemimpin santri-pejuang. Ayahnya, pada masa perjuangan pernah turut bergabung dengan gerilyawan Republik yang dipimpin Panglima Besar Jenderal Soedirman.

      Setelah Indonesia merdeka, ayahnya diberi mandat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, sepeninggal ayahnya, Gus Dur lebih banyak dididik dan dibesarkan dalam kasih-sayang kakek dan ibundanya, Solichah. Pendidikan formal Gus Dur dimulai sejak kepindahannya ke Jakarta. Tradisi di kalangan pesantren, putra-putri kiai dimasukkan ke sekolah yang berbasis agama atau biasa dikenal dengan Madrasah Ibtidaiyah (MI), tetapi lain bagi keluarga Kiai Wahid Hasyim. Putra pertamanya ini justru sekolah di SD KRIS di Jakarta Pusat, lalu pindah ke SD Perwari di Matraman. Setelah itu, ia melanjutkan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), namun tidak naik kelas karena lebih sering menonton pertandingan sepakbola daripada ke sekolah.

    • Menimba ilmu di pesantren hingga berbagai pencarian jati diri di berbagai belahan dunia

      PP-Al-Munawwir-Krapyak

      Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak

      Sumber gambar : http://jogjadaily.com

      Pada di tahun 1954, Gus Dur pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi di SMEP. Selama di pesantren, Gus Dur banyak menghabiskan waktunya untuk menimba ilmu dari para guru-gurunya. Antara lain KH Ali Maksum di Al Munawwir Krapyak, KH Khudori di Pesantren Tegalrejo Magelang, Pesantren Denanyar Jombang, KH Abdul Fatah Yasin di Tambakberas Jombang, KH Masduki dan KH Bisri Syansuri. Selama tinggal di Kota Yogyakarta, Gus Dur terlibat secara aktif dalam pergulatan intelektual dengan membaca buku-buku bacaan umum bermutu dan novel-novel dari pengarang dunia dari pelbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, dan Belanda. Sebagai remaja, Gus Dur mulai membaca novel Andre Gide seperti La Potre Etroite. Atau karya Ernest Hemingway, The Old Man and The Sea dan karya Turgenev Captain's Daughter. Karya-karya pengarang terkemuka Rusia juga dibaca Gus Dur, seperti karya Pushkin, Tolstoy, Dostoyevsky, Gogol, dan Sholokov. Gus Dur juga gemar melakukan kegiatan-kegiatan kebudayaan, dengan menonton berbagai jenis film di gedung-gedung bioskop yang ada di Yogjakarta pada waktu itu.


    • Tumpukan Buku

      Presiden BJ Habibie menerima konsep reformasi di tubuh ABRI dari Jenderal TNI Wiranto,yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI

      Sumber gambar : https://arumsekartaji.files.wordpress.com

      Gus Dur memiliki kemampuan "melahap" isi buku tebal baik dalam bahasa Arab maupun Inggris, baik dalam ilmu-ilmu agama maupun nonagama dalam waktu sangat pendek. Santri lain memerlukan waktu berhari-hari untuk memahaminya, Gus Dur hanya memerlukan waktu semalam. Tidak mengherankan apabila dalam usianya yang masih sangat muda, Gus Dur telah menguasai gramatika bahasa Arab dan fasih pula dalam pengucapannya. Kitab gramatika Bahasa Arab, Alfiah, yang tersohor itu (1.000 bait), dipelajari Gus Dur di Pesantren Tegal Rejo dengan melakukan puasa “ngrowot” (hanya boleh memakan umbi-umbian).

      Perjumpaan antara ajaran-ajaran dunia pesantren yang disebut "elemen tradisional" dan pendidikan di sekolah umum, yang disebut "elemen modern dan Barat", telah berhasil membangun watak dan sikap kosmopolitan di dalam diri Gus Dur. Dengan begitu tidak mudah untuk memisahkan Islam, nasionalisme, dan kemanusiaan di dalam diri Gus Dur, karena keislaman memang penuh dengan kemanusiaan dan nasionalisme yang begitu kental. Unsur - unsur inilah yang kelak, sesudah memasuki perjuangan kebangsaan di zaman Orde Baru, merupakan "special stamp" yang melekat di dalam pribadi Gus Dur.

      Gus Dur adalah seorang peziarah yang tekun dan gigih. Peziarah melakukan perjalanan dengan niat awal mencari pemenuhan dahaga ruhaniah dan pengetahuan lewat pengalaman. Gus Dur misalnya, untuk bisa menghapalkan teks Arab klasik melakukan peziarahan dengan berjalan kaki ke makam-makam kiai di daerah selatan Jombang. Agar tak banyak orang mengenalinya sebagai cucu pendiri NU, Gus Dur menempuh rute yang tak biasa. Ia menghabiskan beberapa hari lamanya menempuh peziarahan puluhan kilometer.


      Gusdur Masa Kuliah

      Gusdur Masa Kuliah

      Sumber gambar : http://kebudayaanindonesia.net/

      Pada tahun 1964 Gus Dur mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, mengambil spesialisasi bidang Syari'ah, berkat beasiswa dari Departemen Agama. Pada masa itu usianya baru 22 tahun. Perjalanan pada tahap ini merupakan lembar baru baginya untuk menyerap kebudayaan dunia. Di Kairo ini, Gus Dur bukan hanya menempuh sekolah formal di universitas, melainkan juga menyusuri dunia buku secara intens dan memburu kantong-kantong diskusi di kafet-kafe, menikmati budaya pop yang ditawarkan bioskop, maupun memenuhi kegemarannya menyaksikan sepakbola secara leluasa. Di Mesir, setiap kali Gus Dur pergi bersama temannya Mustofa Bisri (yang kini dikenal sebagai Gus Mus atau Kyai Mustofa Bisri dari Rembang) menuju ke kampus. Tetapi faktanya mereka berdua tidak turun di kampus, melainkan pergi ketempat lain atau nonton bioskop. Jadi keduanya tidak mengikuti kuliah. Gus Dur memang memiliki suatu naluri yang kelak dirumuskan dalam pemikiran bahwa menempuh pendidikan tidak harus lulus dan tidak harus memiliki ijazah. Baginya, sekolah itu merupakan usaha untuk menjadi orang pandai, syukur pula bila sesudah menjadi orang pandai juga dapat menjadi orang bijaksana. Patut dicatat di sini, sebagai bukti kebenaran akan ucapannya, dia memang tidak punya selembar ijazah pun, tetapi sebelum dan selama masa kepresidenannya Gus Dur diakui dunia dan memperoleh setidaknya tujuh penghargaan keilmuwan berupa gelar doctor honoris causa dari berbagai universitas di luar negeri. Satu di antara ketujuh universitas itu ialah Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

    • Gusdur Menikah

      Gusdur Masa Kuliah

      Sumber gambar : http://ikhwansaputera.com/

      Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah melalui cara yang unik. Keduanya telah melakukan surat-menyurat selama beberapa tahun ketika Gus Dur berada di luar negeri. Korespondensi yang intens mengantarkan keduanya ke kursi pelaminan. Lantaran Gus Dur masih berada di luar negeri, pernikahan itu diwakilkan kepada kakeknya dari pihak ibu, yaitu KH. Bisri Syansuri. Resepsi pernikahan baru digelar ketika Gus Dur tiba kembali di Indonesia pada tahun 1971. Dari hasil pernikahannya ini mereka dikaruniai empat orang putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Anita Hayatunnufus, Inayah Wulandari.

      Demikianlah, gagal di Kairo, Gus Dur kembali mendapat beasiswa ke Baghdad, Irak. Di Universitas Baghdad, Gus Dur mengambil spesialisasi Sastra dan Ilmu Humaniora. Di sinilah Gus Dur berkenalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Emile Durkheim, dan di sinilah ia memperdalam ilmu-ilmu kebudayaan secara intens. Bagi Gus Dur, Baghdad adalah kota yang terbuka untuk pencarian dan elaborasi gagasan lantaran telah mengadopsi sistem pendidikan di Barat. Di masa lampau, kota Baghdad menjadi tempat tumbuhnya tradisi sufisme. Dari sini pula nama-nama sufi besar lahir dan berkembang di tingkat dunia. Rabi’ah al-Adawiah, sufi besar wanita itu, berasal dari Basrah di negeri ini juga. Empat tahun di Baghdad, Gus Dur lulus dengan baik. Ia pun pindah ke Belanda untuk mencoba kesempatan melanjutkan studinya di jenjang pascasarjana. Namun ia kecewa, karena Universitas Leiden yang ia tuju tidak mengakui studi perbandingan agama yang diperolehnya dari Baghdad. Ia bisa saja diterima di universitas itu asalkan mau mengulang tingkat sarjana. Gus Dur menolak tawaran itu. Ia memilih melakukan pengembaraan di negeri itu dengan menyerap ilmu-ilmu sosial Barat yang kritis dan pemikiran Barat pada umumnya di pelbagai tempat di luar kelas formal.

    • Aktif di dunia organisasi keagamaan dan sosial


      Gusdur Muda

      Gusdur Masa Muda

      Sumber gambar : https://upload.wikimedia.org/

      Tanggal 4 Mei 1971 Gus Dur kembali ke Indonesia, saat itu terjadi peralihan dari masa Orde Lama ke Orde Baru. Hal itu membuat para ilmuwan muda Indonesia yang baru pulang dari luar negeri terdorong untuk melakukan diskusi tentang kebangsaan, Gus Dur kemudian bergabung dengan Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES) di Jakarta. Di lembaga yang sangat bermutu ini Gus Dur mengembangkan pemikirannya tentang politik dan keislaman. Gus Dur juga menuangkan pemikiran-pemikirannya melalui jurnal ilmiah Prisma yang sangat prestisius. Gus Dur pula yang memperkenalkan pemikiran khas Kyai dari dunia pesantren sehingga organisasi NU menjadi lebih terkenal dan memiliki daya tarik tingkat dunia bagi para pengkaji keislaman dan keindonesiaan. Selain itu Gus Dur juga mengejutkan media massa dengan essai-essai yang cerdas dan kocak, penuh humor dan dengan konten keilmuan dan keislaman yang belum pernah dijamah pihak lain. Kritik-kritiknya yang tajam tapi humoris dan berani membuatnya dikenal sebagai cendekiawan yang disegani di Indonesia. Tidak mengherankan bila kemudian Gus Dur dipilih sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1982 – 1985.

      Gus Dur mencoba menggalang kekuatan dengan ikatan sosial yang melintasi sekat-sekat keagamaan dengan mendirikan Forum Demokrasi (Fordem). Fordem berdiri dengan tujuan untuk menguatkan posisi masyarakat sipil yang diperlemah oleh kebijakan politik Orde Baru. Selanjutnya Fordem dan NU merupakan dua kendaraan bagi Gus Dur untuk memperjuangkan dan membumikan pemikiran pluralisme dan penguatan masyarakat sipil di Indonesia. Beliau memprakarsai beragam dialog yang membuka ruang terciptanya toleransi beragama dan otonomi sipil.


    • Aktif di dunia organisasi keagamaan dan sosial


      Gusdur Organisasi

      Gusdur & Organisasi

      Sumber gambar : http://assets-a2.kompasiana.com/

      Reformasi 1998 merupakan tonggak sejarah bagi lahirnya politik di Indonesia yang demokratis. Mundurnya Presiden Soeharto dan para pendukungnya membuka kesempatan lahirnya tata pemerintahan yang diharapkan mampu menjawab aspirasi politik seluruh rakyat Indonesia. Segenap rakyat Indonesia mengharapkan terwujudnya pemerintahan yang demokratis, transparan, partisipatif, dan memiliki akuntabilitas politik sebagaimana layaknya pemerintahan demokratis. Menghadapi situasi yang seperti itu Gus Dur bersama para tokoh politik yang lain, media massa dan kekuatan civil society mengadakan pertemuan koordinasi untuk merumuskan jalan keluar dari kemungkinan yang tidak terduga. Pertemuan tersebut seringkali dilakukan di kediaman Gus Dur di Ciganjur, hadir pada saat itu empat tokoh penting yaitu : Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Amin Rais. Pertemuan para tokoh di Ciganjur tersebut - yang kemudian dikenal dengan pertemuan Ciganjur - menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain :

        1. Konsisten pada kesatuan dan persatuan bangsa,
        2. Memberdayakan lembaga perwakilan,
        3. Desentralisasi pemerintahan sesuai dengan kemampuan daerah,
        4. Pelaksanaan reformasi diletakkan dalam perspektif generasi baru.
        5. Pemilu dilaksanakan oleh pelaksana independen. Pemilu ini untuk mengakhiri pemerintah transisi yang dipimpin B.J. Habibie dan selambat-lambatnya tiga bulan sesudahnya pemerintah baru sudah terbentuk.
        6. Penghapusan dwifungsi ABRI paling lama enam tahun dari sekarang,
        7. Pengusutan pelaku korupsi dimulai dari Soeharto,
        8. Serta mendesak Pengamanan Swakarsa SI MPR agar membubarkan diri.
    • Masa pemerintahan di Era Reformasi


      Sumpah SBY

      Pengambilan Sumpah Presiden SBY

      Sumber gambar : http://www.suaramerdeka.com/

      Tahun 1999 Abdurrahman Wahid mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjadikan Matori Abdul Jalil sebagai ketua umum. Dalam Pemilu yang digelar pada tanggal 7 Juni 1999, Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) keluar sebagai pemenang. PDIP yakin Megawati Soekarnoputri dapat merebut kedudukan sebagai presiden. Akhirnya Gus Dur terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI yang ke-4, sedang Megawati Soekarnoputri menjadi Wakil Presiden RI yang ke-8. Naiknya Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden dan Wakil Presiden diterima dengan lega karena mereka merupakan pejuang demokrasi dan pluralisme yang gigih dalam menghadapi kekuatan otoriter-otoriter baru. Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai Presiden dan wakil presiden pada tangal 20 Oktober 1999.

      Dalam masa pemerintahannya konflik politik yang terjadi di Aceh maupun di Papua masih belum selesai. Konflik di kedua tempat tersebut diselesaikan dengan cara militer sehingga menutup penyelesaian melalui jalan dialog terbuka. Pemerintah menggunakan kekuasaannya secara dominan kepada masyarakat di kedua daerah tersebut. Aspirasi masyarakat tidak didengar, sehingga konflik tidak pernah dapat diselesaikan secara tuntas. Secara sepintas konflik kelihatannya sudah selesai, tetapi kelompok yang oleh pemerintah disebut elemen radikal melakukan perlawanan secara diam-diam. Mereka ini diberi 'stigma' sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).


      Gusdur

      Abdurrahman Wahid

      Sumber gambar : http://www.rmol.co/

      Aceh sebagai daerah operasi militer untuk waktu lama merasa sangat tertekan. Mereka merasa takut, cemas, dan ketidakpastian masa depan. Untuk menjawab persoalan-persoalan keamanan di kedua daerah tersebut Gus Dur mencoba menggunakan pendekatan kebudayaan yang memungkinkan bagi kedua belah pihak untuk melakukan dialog secara terbuka. Cara yang ditempuh Gus Dur seperti ini, membawa kesejukan dan kelegaan bagi masyarakat Aceh dan Papua. Bahkan mempunyai dampak yang luas dalam pandangan politik dunia. Gus Dur juga mengeluarkan Kepres No 88 Tahun 1999 mengenai Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh. Langkah ini pun memberi harapan baru bagi masyarakat Aceh, sehingga Gus Dur dikenal sebagai presiden yang kaya akan pendekatan kebudayaan dan semangat humanis. Langkah ini juga dipergunakan oleh Gus Dur untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat Irian Jaya yang menginginkan tanah tumpah darah mereka diberi nama Papua.

    • Masa pemerintahan di Era Reformasi


      Gusdur di Tionghoa

      Gusdur di kalangan Tionghoa

      Sumber gambar : http://www.suaramerdeka.com/

      Sejak tahun 70-an Gus Dur selalu berpidato tanpa teks baik dalam forum nasional maupun internasional. Tradisi yang tertanam sejak lama itu memudahkan baginya untuk tetap berpidato tanpa teks ketika ia menjadi presiden. Dengan begitu gangguan penglihatan tidak lagi menjadi hambatan dalam urusan berpidato di tengah masyarakat. Gus Dur mendesakralisasi istana presiden yang selama ini kelihatan resmi dan angker menjadi demikian merakyat. Masyarakat bisa berkunjung ke istana tanpa harus melalui aturan protocol yang berelit-belit karena bagi Gus Dur, istana presiden adalah dari rakyat dan untuk rakyat.

      Pada masa kepemimpinan Presiden Gus Dur, politik luar negeri Indonesia cenderung mirip dengan politik luar negeri Indonesia yang dijalankan Presiden Sukarno, yaitu penekanan pada peningkatan citra Indonesia pada dunia internasional. Lawatan ke luar negeri selama satu tahun awal pemerintahannya adalah implementasi dari tujuan Gus Dur untuk mengembalikan posisi tawar Indonesia di mata internasional. Dalam setiap kunjungan luar negeri yang ekstensif selama masa pemerintahannya yang singkat, Gus Dur kerap membicarakan isu-isu dalam negeri Indonesia dengan kepala negara yang dikunjunginya termasuk isu Timor Timur dan juga soal integritas teritorial Indonesia seperti kasus Aceh dan Isu perbaikan ekonomi.

      Gusdur

      Abdurrahman Wahid

      Sumber gambar : http://www.rmol.co/


      Gus Dur melontarkan gagasan "ekonomi rakyat" ini saat ia menjadi presiden. Rizal Ramli yang ditugasi Gus Dur menangani ekonomi menerjemahkan pemikiran Gus Dur dalam kerangka ekonomi rakyat dan nasionalisme ekonomi. Program alternatif yang dikembangkan adalah pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM). Program ini bertujuan meningkatan kecerdasan masyarakat dalam pengembangan ekonomi. Selain itu, untuk menetralisasi dampak krisis ekonomi yang masih tetap terasa di zaman pemerintahannya, Gus Dur membentuk Badan Keamanan Ekonomi Nasional.
      Jika dipadatkan dalam poin-poin penting, paling tidak inilah kebijakan ekonomi terpenting yang dijalankan saat Gus Dur menjadi Presiden RI:

      (1) diberlakukannya otonomi daerah dan pembagian keuangan daerah dengan pusat pada tahun 2001;
      (2) penajaman visi ekonomi;
      (3) merevitalisasi hubungan dengan insitusi keuangan dunia seperti Bank Dunia, IMF, ADB, dan beberapa Negara donor lainnya;
      (4) penajaman restrukturisasi perbankan;
      (5) Penajaman restrukturisasi BUMN;
      (6) penajaman restrukturisasi sektor riil; dan
      (7) relokasi subsidi dengan memprioritaskan pada sektor rawan krisis, termasuk kesehatan.

      Reformasi terhadap lembaga pemerintahan terjadi secara mengejutkan di awal pemerintahan Gus Dur, dua departemen yang kuat sejak bertahun-tahun dilikuidasi Gus Dur, yaitu Departemen Penerangan (Deppen) dan Departemen Sosial (Depsos). Demikian pula dengan Departemen Pekerjaan Umum yang kemudian diubah menjadi Kementerian Permukiman dan Prasarana Wilayah. Gus Dur memiliki argumen kuat mengenai pembubaran dua departemen tersebut. Menurutnya, tugas-tugas yang dibebankan kepada Deppen dan Depsos mestinya dikerjakan oleh pemerintah daerah sehubungan dengan otonomi daerah. Selain itu, persoalan yang menyangkut kewenangan kedua departemen tersebut bisa diatur langsung oleh masyarakat, dan bukan lagi dikendalikan pemerintah maupun departemen tertentu.


    • Masa pemerintahan di Era Reformasi


      Presiden Gus Dur berpidato

      Presiden Gus Dur berpidato

      Sumber gambar : http://cdn.klimg.com/

      Sebelum menjabat sebagai presiden, Gus Dur dikenal di tingkat dunia sebagai tokoh Pluralisme. Dalam pandangannya setiap warga negara tanpa memperhatikan etnisitas, agama, dan aliran politiknya memiliki hak dan kedudukan yang sama di depan hukum. Pandangan ini merupakan esensi dari ajaran Islam yang tidak membedakan siapapun, dari golongan manapun maupun agama apapun, karena Islam merupakan rahmat bagi semesta alam. Gus Dur mengamalkan prinsip ajaran ini melalui berbagai tindakan pribadi maupun tindakan-tindakan institusional baik di dalam NU maupun dalam LSM semenjak masih aktif sebagai tokoh pergerakan. Sikapnya yang penuh pengayoman kepada kaum minoritas, baik minoritas etnis maupun minoritas agama dan minoritas dalam segmen-segmen kultural lainnya, merupakan perwujudan dari ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Di sini Gus Dur menunjukkan sebagai tokoh Islam yang konsisten dengan keyakinannya. Dalam perjuangannya untuk kemanusiaan, pluralism dan pembelaan terhadap hak-hak kelompok minoritas, Gus Dur seringkali menghadapi berbagai rintangan dan hambatan, dicekal, difitnah, dicaci, bahkan sampai pada ancaman fisik. Namun ketulusan dan kesabaran beliau mengalahkan berbagai hambatan dan tekanan tersebut.

      Ketika menjabat sebagai Presiden, gagasan tentang pluralism dan pembelaan terhadap hak-hak kelompok minoritas, direalisasikan dengan cara mencabut Inpres No.14 tahun 1967 yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Selanjutnya Gus Dur mengeluarkan PP Nomor 6 tahun 2000 tentang penetapan Imlek sebagai Hari Libur Nasional. PP Nomor 6 Tahun 2000 ini diberlakukan sejak 31 Maret 2000. Disamping itu, Konghucu juga diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Sebagai ungkapan rasa terimakasih yang tak terhingga, masyarakat Tionghoa mengangkat Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa Indonesia.


      Gusdur

      Gus Dur lawatan ke Luar Negeri

      Sumber gambar : http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/

      Pada 26 Oktober 1999 atau enam hari setelah diambil sumpahnya, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden No.355/M Tahun 1999 yang berisi pembentukan Departemen Eksplorasi Laut (DEL) beserta rincian tugas dan fungsinya melalui Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen. Ini sangat tepat mengingat 85 % Wilayah Indonesia merupakan kawasan laut. Kekayaan laut yang berlimpah harus dieksplorasi dengan serius demi meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.


      Pada November 1999, Gus Dur mengunjungi negara-negara Asia Tenggara, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, Gus Dur melawat ke Republik Rakyat China. Januari 2000, Gus Dur melanjutkan perjalanan dinas luar negerinya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste. Selanjutnya pada bulan April, Gus Dur mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri pertemuan G-77. Pada tahun 2001, Gus Dur mengunjungi Negara-negara di Afrika Utara dan juga Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji. Gus Dur melakukan kunjungan terakhirnya ke luar negeri sebagai presiden pada Juni 2001 ketika ia mengunjungi Australia.

      Bagi Gus Dur, tujuan perjalanan dinas ke luar negeri adalah untuk mengembalikan nama baik Indonesia, beliau berharap para investor asing menanamkan modal kembali di Indonesia. Juga untuk mencari dukungan internasional terhadap Aceh agar Aceh tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Republik Indonesia.

      Gusdur

      Gus Dur lawatan ke Luar Negeri

      Sumber gambar : http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/

      Perjalanan dinas luar negeri Gus Dur juga bisa kita artikan sebagai panggung terbuka untuk memainkan berbagai diplomasi dan dialog antarperadaban. Diplomasi peradaban ini bertumpu pada negosiasi nilai-nilai sosial budaya suatu masyarakat. Dengan pembawaan dan sikapnya yang cenderung tidak formal dan penuh humor dalam berbagai diplomasi Gus Dur mempertaruhkan kapasitas pribadinya untuk memperoleh dukungan dan simpati dunia. Tidak mengherankan, dalam menghadapi gerakan bersenjata di Aceh yang menginginkan kemerdekaan, banyak negara yang mendukung perjuangan Gus Dur agar Aceh tetap berada di bawah NKRI.

    • Masa pemerintahan di Era Reformasi


      Asean China

      ASEAN - CHINA

      Sumber gambar : https://posrondadotnet.files.wordpress.com/

      Hasil dan prestasi yang dicapai dari perjalanan dinas luar negeri Gus Dur antara lain : perjanjian kerangka kerja sama ASEAN mengenai pemberian kemudahan atas barang-barang transit sebagaimana tertulis dalam Kepres No 169 Tahun 1999; protokol promosi dan proteksi investasi antara Indonesia, Brunei, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand sebagaimana tertuang dalam Kepres No 167 Tahun 1999; dan perjanjian kerjasama perdagangan dengan Rusia dan kerjasama atas pajak berganda dan pencegahan penggelapan pajak seperti terwujud dalam Kepres No 148 Tahun 1999 dan Kepres No 137 Tahun 1999.

      Peran Gus Dur bagi perdamaian di tanah Papua cukup besar. Bagi Gus Dur, Papua bukan hanya persoalan domestik, melainkan pintu bagi Indonesia untuk membangun hubungan dengan negara-negara di kawasan Pasifik Selatan. Begitu pula pada kunjungan-kunjungan kenegaraan yang dilakukan Gus Dur mengarah pada penguatan kawasan Pasifik.

      Selanjutnya Gus Dur menugaskan Menteri Muda Kawasan Timur Indonesia Manuel Kaisiepo untuk ambil bagian dalam Pertemuan Tingkat 16 Negara Pasifik Selatan ke 32 di Aiwo, Nauru. Hasil yang dibawa oleh Kaisiepo adalah negara-negara Pasifik Selatan mendukung Otonomi Khusus Papua. Kerjasama di bidang lain seperti pendidikan, olahraga, dan budaya juga dilakukan. Bahkan, Indonesia mengusulkan adanya pusat kajian tentang negara-negara Pasifik Selatan di Universitas Cendrawasih Papua.


      Gusdur

      Gus Dur

      Sumber gambar : http://cdn-2.tstatic.net/

      Walaupun sudah tidak lagi menjadi presiden, pamor Gus Dur secara politik maupun kebudayaan tidak redup. Peran politik-kebudayaannya tetap memiliki pengaruh yang besar di dalam maupun di luar negeri. Kepemimpinannya di bidang kebudayaan terutama yang behubungan dengan perjuangan membangun pluralisme, pemikiran inklusif, gagasan harmonisasi negara dan agama, dan kecintaannya pada kalangan minoritas tetap merupakan teladan bagi semua kalangan.

      Semangat dan sikap hidup Gus Dur sehari-hari yang tampak tidak formal dengan humor-humor yang segar bukan berarti bahwa Gus Dur menghadapi masalah-masalah itu dengan sikap santai. Tetapi pemikiran, sikap dan tindakannya sering mandahului zaman dan melampaui batas kapasitas pemikiran orang pada umumnya. Dalam idiom orang Barat Gus Dur bisa disebut 'is larger than life'. Sang Presiden yang dibanggakan semua lapisan masyarakat menutup usia pada 30 Desember 2009.

  • PENUTUP

    Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap tokoh tersebut
       1. Egaliter
       2. Pengakuan HAM
       3. Demokratis


    Manfaat yang diperoleh dari tokoh tersebut :
       1. Mengetahui biografi Abdurrahman Wahid
       2. Mendapatkan inspirasi dari perjalanan hidup sang presiden
       3. Menjadikan suri tauladan dari perjuangan dan keberhasilan dalam membangun bangsa
       4. Mengambil hikmah peristiwa sejarah

  • Daftar Pustaka :

    Disarikan dari Restu Gunawan, Taufik Rahzan (eds.). 2014. Presiden RI. Jakarta : Kemendikbud.


    Link Terkait materi :


    • http://kebudayaanindonesia.net/sosok/65/abdurrahman-wahid
    • https://books.google.co.id/books?id=v_AtaM4F04sC&pg=PA260&source=gbs_selected_pages&cad=2#v=onepage&q&f=false
    • http://cdn-2.tstatic.net/pontianak/foto/bank/images/GUS-DUR.jpg
    • https://posrondadotnet.files.wordpress.com/2014/06/asean-china_asean-investorcom.jpg